
Tirai dibuka setelah pemeriksaan usai, zara pun mendekati para dokter yang keluar sambil berbincang, perbincangan itu usai ketika zara sudah berada dihadapan mereka.
“dokter bagaimana keadaan suami saya?” tanya zara cemas
“ Maaf anda istrinya? “ tanya seorang dokter yang paling tua
Zara hanya mengangguk,
“ apa sakitnya serius? “ tanya zara lagi
“ tidak usah khawatir nyonya, suami anda baik-baik saja, Ia hanya kelelahan” ucap dokter muda dengan name tag dr.rizal
“ Prof kami permisi”
Ketiga dokter yang berdiri dibelakang profesor dio pamit undur diri, tatapan dan senyum mereka saat berjalan melewati zara begitu membingungkan, mereka seolah menuding zara sebagai pelaku yang membuat arroy jatuh sakit.
“ sebenarnya apa yang terjadi pada arroy?” tanya dokter yang paling tua, name tag-nya prof. Dio
“ Dokter kenal suami saya?” tanya zara sedikit terkejut
“ tentu saja, kami masih ada hubungan saudara jauh” ucap dokter itu seraya menepuk pelan kaki arroy, ia duduk diatas tempat tidur setelah menggeser sedikit kaki arroy.
Profesor dio memberi isarat pada suster dan susterpun mengangguk mengerti, ia mengambil kursi dan mempersilahkan zara untuk duduk.
Zara menghampiri arroy dan memperhatikannya, wajahnya yang pucat semakin membuat zara cemas, ia mebantu suster untuk memakaikan pakayan pasien pada arroy.
“ Prof saya sudah menyelesaikan semuanya, termasuk luka cakar di punggung dan lengannya sudah saya beri salep” ucap perawat
“ Kau boleh pergi” sahut prof. Dio
Zara semakin cemas setelah mengetahui arroy memiliki luka bekas cakaran ditubungnya, ia duduk sambil termenung.
“Maaf, harusnya aku membiarkanmu masuk, jika kau tidur dikamar mungkin kau tidak akan seperti ini” ucap zara pelan seraya menggenggam punggung tangan arroy,
“tidak perlu khawatir, seperti yang dikatakan dokter rizal, dia hanya kelelahan, kurang tidur, dan dehidrasi, buat dia minum banyak setelah ia sadar” Ucap prof. Dio seraya menepuk pundak zara
“ Terima kasih prof”
“jangan sungkan, oh ya! Kau bisa memanghilku om dio saja, jangan terlalu formal”
“Nama saya zara” ucap zara memperkenalkan diri
__ADS_1
“ Baiklah zara aku harus kembali, jaga suamimu dengan baik, lain kali kau harus bisa mengontrolnya, jangan membuat dia olahraga berlebihan. arroy kan orang sibuk, jangan lupa berikan dia makanan bergizi secara teratur dan berikan vitamin, itu juga penting” ucap prof. Dio
Zara hanya mengangguk, ia ikut berdiri saat profesor dio bangun, senyum manisnya mengiringi langkah kaki profesor dio yang berjalan semakin jauh.
“ Ahhh... Astaga... Kepalaku...”
Zara menoleh begitu mendengar keluhan arroy yang perlahan mulai sadar, ia menghampiri arroy dengan senyum lega.
“ Aku dimana?”
“ dirumah sakit”
Usai menjawab pertanyaan arroy wajah zara berubah kesal ia mencubit pinggang arroy seraya berkata
“ Ihhh... Dasar menyebalkan, kenapa kau membuatku cemas”
Tanpa mengeluh kesakitan arroy bertanya “ memangnya apa yang terjadi padaku? “
“ Semalam kau habis berbuat apa sampai mimisan begitu? “
“ mimisan? Siapa yang mimisan zara?”
“ bercak darah? “
Sejenak arroy berpikir, setelah mengingat kejadian yang dialaminya semalam pipi arroy pun merona, ia menyembunyikan wajahnya karna merasa malu.
“ Iya kan! Kenapa kau menutupi wajahmu? Apa yang kau sembunyikan? Lihat aku arroy, aku sedang bicara”
Zara berusaha menyingkirkan tangan arroy yang menutupi wajahnya sendiri, taingin zara melihat wajah merahnya, arroy bahkan sampai memutar tubuhnya membelakangi zara.
Karna tak mampu mengimbangi kekuatan arroy zara pun mulai bermain kata-kata, tujuannya hanya satu, melihat wajah arroy dan menatapnya.
“ hai kupingmu merah tuh, apa demammu tinggi lagi? Aku panggilkan dokter ya!” tanya zara sambil menahan tawa,
Zara bangun dari duduknya, saat hendak melangkah arroy menoleh dan memegang tangan zara, sekilas ia melihat wajah sang suami dan mulai menduga-duga
“ Tidak usah, kau duduk saja, aku hanya...
Arroy bicara sambil terus memegang tangan zara, ia masih tetap dengan posisinya, berbaring membelakangi zara.
Mendengar ucapan suaminya yang menggantung zara pun merasa yakin dengan dugaannya, untuk lebih memastikannya zara bertanya secara langsung
__ADS_1
“ Apa kau sedang malu dihadapanku sayang?” tanya zara, senyumnya mereka, pertanyaan itu justru membuat arroy semakin malu-malu.
“ sial... Kenapa aku malah tumbang setelah menghabiskan malam pertama si, huh... Memalukan...” gerutu arroy pelan
“ Kau bialang apa? Aku tidak bisa mendengarnya?” tanya zara penasaran
“ tidak ada, lupakan saja“
“ Arroy.... Berbaliklah,,, lihat aku, kau belum menjawab pertanyaanku” pinta zara sambil menggoyang-goyangkan tubuh arroy.
“ tanyakan saja, aku bisa mendengar dengan jelas meski membelakangimu, aku tidak ingin kau melihat wajahku, jangan paksa aku”
“ baiklah... Tapi kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur”
“hmm, katakan”
“Kau habis olah raga apa semalam sampai mimisan begitu dan kenapa ada luka cakar di lengan dan punggungmu”
“ahhh... “ arroy semakin malu, bayangan kejadian semalam pun teringat dengan jelas, seperti kaset yang kembali diputar.
“ arroy... Kau sudah janji, cepat jawab pertanyaanku” desak zara seraya memukul tempat tidur dihadapannya
“ Semalam aku habis push up dengan kucing liar, luka cakar itu aku dapatkan darinya, darah itu juga miliknya, kau puas”
Zara menampar pundak arroy seraya berkata “ dasar kurang kerjaan, katanya kau lelah tapi kenapa malah berkelahi dengan kucing liar” tegur zara
“ kucing liar itu yang menyerangku duluan” jawab arroy cepat
“ Apa kau tidak bisa mengabaikannya, kau tahu tidak betapa khawatirnya aku melihat kau tiba-tiba pingsan, sekalipun kau tahu kau tidak akan mengerti, dasar... Menyebalkan... “
Keluhan zara membuat arroy terdiam, senyumnya menyeringai, pertahanannya pun runtuh, ia kembali berbaring.
Arroy menggenggam tangan istrinya dengan lembut seraya mengucapkan kata maaf
“ Maaf zara, aku tidak akan mengulanginya lagi” ucap arroy tersenyum,
“ Kau benar-benar senang ya membuatku khawatir?” Ucap zara geram
Arroy tersenyum lebar, mengangkat kedua alisnya seperti memberi kode, satu detik, dua detik zara pun luluh, ia ikut tersenyum meski sambil mengumpat
“ Dasar pria menyebalkan”
__ADS_1