Diary Of Zara

Diary Of Zara
Siapa kamu sebenarnya ( Bagian 4 )


__ADS_3

Zara kembali meletakan kunci-kunci itu ditempat semula, tanpa sengaja ia melihat kotak hitam kecil di rak meja tempat vas bunga diletakan. Iseng zara pun mengambil dan membuka kotak hitam itu.


“ Presdir Dream Grup, A. Dylan alfarizki, 08217722****, wah hebat juga pria itu, dia bisa mengenal tuan A bahkan menyimpan kartu namanya”


Zara membaca kartu nama yang berada dalam kotak hitam itu, sedikit berkomentar kemudian meletakannya kembali ketempat semula.


Setelah lelah menggeledah ruang kerja suaminya ia merasa kelaparan, karna hari sudah malam zara memesan makanan online. Usai makan malam zara duduk disofa mengistirahatkan tubuhnya, bersatai sambil menonton telvisi.


“ keterlaluan, saat dia menghabiskan waktu dengan wanita yang dia suka, dia langsung lupa segalanya, dia bahkan tak mencariku, jangankan untuk minta maaf, tunggu!!! Tapi kenapa dia harus datang dan meminta maaf padaku? Ahhh... Kenapa juga aku memikirkan pria itu, hanya membuatku pusing saja, dasar pria menyebalkan” zara mengumpat kesal


Meski duduk dihadapan televisi yang menyala, matanya tidak beranjak dari pintu, ia menunggu kepulangan seseorang,


“ aku tidak ingin kau pulang arroy, apa kau dengar itu? Tetaplah tinggal dengan wanita yang kau cintai, untuk apa kau pulang kerumah, biarkan aku hidup dengan damai tanpamu” umpat zara kesal sambil menunjuk-menunjuk kearah pintu masuk.


Malam semakin larut namun arroy tak kunjung pulang, mata zara tak kunjung melihat apa yang ingin dilihatnya, sampai layar telvisi berubah menjadi berwarna pelangi pun jadi pelampiasan kekesalan zara.

__ADS_1


“ Apa lagi sekarang, bahkan telvisi pun tidak mau menemaniku, apa saja yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja distasiun televisi, tidak adakah chanel yang menanyangkan acara 24jam, mereka hanya makan gajih buta, bikipn kesal saja”


Zara terus bicara sendiri menumpahkan kekesalan dan rasa sesak di hatinya, apa yang keluar dari mulutnya tidak disaring terlebih dulu, ia hanya sembaranagn bicara.


Zara beranjak dari tempatnya, ia melempar remot televisi ke sofa, kemudian pergi duduk diruang tamu, ia terus memainkan ponselnya sambil sesekali melirik kearah pintu hingga tertidur disana.


Paginya bi rani datang dan melihat zara tertidur di sofa ruang tamu,


“ zara,,, zara,,,,” Ucap bi rani sambil menggoyangkan tubuh zara untuk membangunkanya.


Mendengar namanya dipanggil berkali-kali zara pun akhirnya membuka mata perlahan, ia mengucek matanya sambil menguap.


“ Bibi kenapa datang? Bukankah zara sudah mengirim pesan agar bibi istirahat, beberapa hari ini biar aku saja yang membereskan rumah, lagi pula aku tidak ada pekerjaan”


“Aku juga bosan karena tidak ada pekerjaan, bagaimana kalau kita sarapan pagi bersama di taman?”

__ADS_1


Zara hanya menganggukan kepala, sambil menguap ia berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap. Zara dan bi rani pergi menuju taman dengan berjalan kaki, setibanya disana mereka memilih untuk sarapan nasi uduk.


Usah menghabiskan sarapan bi rani menarik zara pergi ke pasar tradisional untuk menemaninya membeli keperluan rumah tangga.


“ Kenapa bibi membeli sayuran, dikulkas sudah banyak sayuran”


“ Yang dikulkas sudah tidak layak untuk dikonsumsi, jadi sudah bibi buang ke tong sampah”


“zara tidak pandai memasak bi, kalau soal makan zara akan pesan online saja, tidak usah belanja sayuran sebanyak ini”


“arroy suka kelaparan kalau malam, jika bahan makanan tidak lengkap dia akan kesulitan saat memasak makanan sendiri dimalam hari”


“sia-sia saja belanja banyak bi, lagi pula keponakan kesayangan bibi tidak akan pulang”


Bi rani hanya tersenyum mendengar keluhan zara sepanjang jalan menyusuri pasar, ia bisa memaklumi kekesalan zara karna ditinggal pergi oleh suaminya, memahami alasn zara belum mengenal dan mengetahui detail kebiasaan suaminya.

__ADS_1


Bahkan setelah pulang kerumah zara masih tidak tersenyum juga. Zara dan bi rani membereskan rumah bersama dan selama itu entah sudah berapa kali zara menghela nafas, bukan karna ia lelah tapi karna suasana hatinya sedang buruk.


Bi rani tidak tahan melihat kegelisahan zara, sebelum pulang ia berkata “ tidak usah gelisah, besok juga arroy pulang ra, bibi tahu kebiasaannya, dia tidak pernah pergi dinas lebih dari 3 hari” ucap bi rani sambil mengelus punggung zara, ia berpamitan lalu pulang.


__ADS_2