
Arroy bersiap untuk kembali setelah didesak oleh kimmy dan zulfan, ia akan langsung ke hotel karna pekerjaan yang ia tinggalkan sudah menumpuk.
Didepan hotel semua staf penting sudah bersiap untuk menyambut kedatangannya. Agni juga ada diantara mereka, ia sudah siap dengan menggenggam agenda yang telah ia susun.
Di sudut kursi tunggu zara sudah suduk manis, rencananya ia ingin bertemu dengan tuan A atau sekadar melihatnya, disamping itu ia juga berharap bisa bertemu dengan arroy.
Di tempat valet, tiffani sudah siap menunggu kedatangan tuan A, ia masih belum menyerah, apa lagi wawancara eksklusif itu akan membawanya menuju puncak ketenaran. Karna tuan A tak kunjung menghubunginya, ia berencana untuk menemui dan berusaha membujuknya lagi.
Ini pertama kalinya, 3 sekawan berada di tempat yang sama, mengincar orang sama, itu pun tanpa mereka sadari.
Mobil tuan A berhenti tepat didepan pintu, dengan cepat agni membuka pintu untuk bosnya. Arroy keluar dari mobil kemudian melempar kunci ke petugas valet, senyumnya menyeringai ketika ia melihat tiffani berdiri dibelakang petugas valet sambil melambaikan tangan.
“ Kenapa kau membawa temanmu saat bekerja” bisik arroy
Agni terkejut mendengar ucapan bosnya, ia langsung menoleh menatap tiffani dengan tatapan tajam. Melihat agni mengkerutkan dahinya arroy pun tahu bahwa agni tidak tahu apa-apa, ia menggelengkan kepala dan matanya terbelalak. Arroy terkejut ketika melihat sosok zara berdiri dibalik dinding kaca.
Ya! Zara langsung bangun ketika melihat deretan mobil berhenti, ia berusaha melihat wajah tuan A dari balik dinding kaca, namun saat ia melihat arroy turun dari mobil, zara tidak ingin percaya, zara merengek seperti anak kecil, telapak tangan dan pipinya ia tempelkan didinding kaca, berharap ia salah lihat, tapi kenyataan tidak berubah.
Arroy tak bisa menahan tawanya ketika melihat zara persis seperti cicak yang terlempar.
Semua orang memperhatikan tinggah aneh bos mereka, meski tidak tahu apa yang membuat arroy tertawa dengan lepas tanpa sadar mereka ikut tersenyum bahagia.
Zulfan yang baru turun dari mobil memperhatikan keadaan disekitarnya, ia mencari alasan dari gelak tawa itu.
Zulfan melihat zara tengah merengak sambil menghentakan kakinya ke lantai, ia menghembuskan nafas kasar sambil menggelengkan kepala, ia tak habis pikir dengan sikap zara yang persis seperti anak kecil yang kehilangan mainanya.
Arroy merangkul agni, sambil menunjuk kearah zara ia berkata “ agni kau urus cicak yang merusak pemandangan itu”
‘ matilah aku’ gumam agni dalam hati, ia terkejut melihat zara yang bengong seperti mumi.
Arroy masuk diikiti dengan staf lain, mereka berjalan menuju ruang metting.
Agni masih berdiri terpaku ditempatnya, bagaimana tidak! Ia dirangkul oleh pria idaman seluruh kota, jantungnya berdebar dengan kencang sampai rasanya mau lepas. Rasa kesal melihat kedua sahabatnya pun lenyap tak berbekas.
Tiffani memukul bahu agni seraya berkata “ Bagaimana rasanya dirangkul pria tertaman senegara?”
Agni menarik tangan tiffani begitu tersadar dari lamunannya, meski tiffani meringis kesakitan ia terus berjalan mendekati zara.
Zara duduk bersandar dikursi tunggu sambil mendongakan kepala menatap langit, ia mencoba menghubung-hubungkan potongan fazel dalam otaknya.
Nana yang ayah zara kenalkan arroyan, teman-teman kuliah memanggilnya dylan, segudang harta karun, dan kartu dalam kotak hitam yang bertuliskan A. Dylan alfarizki.
Zara berdiri kemudian berkata“ ahhh.... Kenapa aku begitu bodoh, kalau gini caranya habislah aku” gerutu zara
__ADS_1
“ kau memang akan habis zara” sahut agni kesal
Agni memerintahkan zara dan tiffani untuk duduk dan mereka pun menurut, sambil melipat tangan didada, agni berdiri memperhatikan kedua sahabatnya.
“ apa yang kalian lakukan? Tolonglah teman-teman, jika kalian terus mengganggunya aku bisa dipecat, apa pun yang kalian rencanakan tolong lupakan saja”
Agni memarahi kedua sahabatnya seperti seorang ibu yang tengah memarahi anak-anaknya yang nakal.
“ Kau tidak tahu apa yang harus aku alami” ucap zara dan tiffani serentak, keduanya mendongakan kepala menatap agni dengan wajah yang memelas, sambil saling melirik.
Dengan cepat tiffani berdiri dan mengungkapkan isi hatinya
“ Kau tidak tahu, aku dicemooh oleh rekan kerjaku yang lain hanya karna aku langsung duduk didepan kamera, mereka bilang aku menggunakan tubuhku yang seksi ini untuk bisa sukses, wawancara ini penting untukku”
Zara juga ikut berdiri, dengan lentang ia berkata “ tiffani benar agni”
“ Hai zara, jangan ikut-ikutan denganku” bisik tiffani tegas
Zara menempelkan tubuhnya seraya berbisi “ baiklah, tapi apa pria yang memakai celana pendek dan kaos tadi itu adalah tuan A?”
“ kenapa kalian bisik-bisik?” sahut agni kesal, ia sudah berusaha mencuri dengar namun tidak mendengar apapun
Tiffani dan zara kembali duduk
“ Apa pria itu benar-benar tuan A?” Tanya zara
“ iya, beliau memang berbeda, ya seperti itulah dia, tuan hanya akan memakai pakayan rapih saat rapat penting” ucap agni sambil ikut duduk
Kini ketiga sahabat itu duduk bersama, sesaat mereka sibuk dengan pikiran masing-masing
‘ itu berarti suamiku benar-benar tuan a, padahal aku sudah berencana mengadu domba tuan a dan arroy karna berpikir mungkin dia adalah tangan kanan tuan A, tapi ternyata mereka adalah orang yang sama, sekarang aku harus bagaimana?’ gumam zara dalam hati, menggigit bibir bawahnya karna cemas.
‘ hem... Sepertinya aku tahu siapa yang sedang dikejar tuan A, dan aku rasa agni juga menyimpan rasa pada tuan A, keduanya saling tertarik tapi takut untuk mendekati, kalau begitu jalanku akan mulus’ guman tiffani dalam hati, tersenyum.
‘ aku masih tidak percaya, tuan a merangkulku, tangannya begitu kekar, aroma tubuhnya pun wangi, setelah merangkap jadi asisten pribadinya waktuku dengan tuan akan semakin banyak, asik.... aku pasti akan mendapatkanmu tuan A’ gumam agni dalam hati, tersenyum
Zara mengacak-acak rambutnya prustasi, tiffani dan agni memperhatikan tingkah zara.
“ Kau itu sebenarnya kenapa si ra?” tanya agni heran
“ Kalau ada masalah tuh cerita, jangan di pendem sendiri” sahut tiffani
“ teman-teman haruskah aku menggoda tuan A dengan tubuhku” ucap zara prustasi
__ADS_1
“ Hai, jangan main-main ya za!” tegur agni kesal
Zara menatap langit kemudian tersenyum.
“ Ra jangan aneh-aneh deh! Kamu bikin kita taku tahu ga? ” tegur tiffani
Zara merengek sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya “ kalian harus membantuku” ucap zara dengan wajah memelas
“ Apa masalahnya?” Tanya agni malas
“ kau ingat tidak pria yang aku minta bantu carikan tempo hari itu” ucap zara sambil menatap agni
“ ia aku ingat, si arroy arroy itu kan! Kenapa memangnya?” ucap agni
“ agni, jaga bicaramu, kautahu tidak arroy itu tuan A” ucap zara
“ Oh... Pantas saja namanya tidak terdaftar di catatan karyawan” ucap agni santai
“ Jadi ra nama tuan A itu arroy dylan alfarizky, arroy itu bukan nama yang buruk tapi kenapa disingkat jadi A saja ya!” sahut tiffani
“ Apa?”
Agni yang baru sadar langsung berdiri karna terkejut, ia mencengkram lengan zara
“ Ra ada masalah apa kau dengan tuan a, cepat katakan” ucap agni sambil menggoyangkan tubuh zara, memaksanya untuk bicara
Zara menepis lengan agni kasar karna ia merasa kesakitan, zara menjauh dari kedua sahabatnya karna takut mendapat serangan lagi
“ dia itu suamiku” Ucap zara sambil membelakangi kedua sahabatnya
Agni dan tiffani terkejut, tapi kemudian mereka tertawa, keduanya tak percaya dengan ucapan zara
“ kenapa kalian malah tertawa” protes zara
“ Ya ampun ra.... ( berjalan mendekati zara) ga gitu juga kali! (Merangkul zara) Kalau kau juga suka sama tuan a, ayo! Bersaing secara adil denganku” ucap agni, tiffani tersenyum
“ kau menyukai pria kejam itu ni, astaga... (Menepuk dahi sendiri) pria kejam itu sudah menyembunyikan orang tuaku, sebaiknya kau menjauh darinya” ucap zara, agni melepas tangannya yang merangkul zara
“ jangan mempropokasi aku ya ra! Aku kan udah bilang bersaing secara adil” ucap agni kesal
“ Aku tidak sedang mempropokasi, ( menghembuskan nafas kasar) aku suka sama dia, kau ambil saja untukmu” ucap zara kesal
“ sudah-sudah, jangan bertengkar, sebaiknya kita pulang yu ra! Biarkan agni melanjutkan pekerjaannya” ucap tiffani menengahi
__ADS_1
Zara setuju untuk pulang dengan tiffani, mereka pun berjalan meninggalkan agni yang masih berdiri mematung.
Melihat dua sahabatnya bersaing tiffani pun jadi berfikir keras, berkali-kali ia melihat kebelakang hingga agni pergi dan tak lagi terlihat, ia khawatir persahabatannya akan hancur hanya karena satu orang pria.