
Dan ke tiba ketika tiba saatnya untuk istirahat, zara mampir ke sekolah lili karena ia berjanji untuk datang menemuinya. Zara dan lili makan siang bersama di kantin sekolah. Lili menyerahkan selembar kertas yang berisi daftar nama teman-teman yang ingin iya undang ke pesta ulang tahunnya.
Sejenak perhatian lili teralihkan ketika seorang anak laki-laki lewat tepat di belakang zara. Zara menoleh dan melihat anak laki-laki itu, ia memegang tangan anak laki-laki itu untuk menghentikannya agar Ia tidak pergi jauh.
“Maaf siapa namamu? tanya zara sambil tersenyum
“saya vinot kak, ada apa ya?” tanya vinot, ia bingung karna tiba-tiba dihentikan.
Zara berbohong kepada vinot dengan mengatakan bahwa wajah vinot sangat mirip dengan keponakan yang sudah lama tidak dijumpainya. Padahal zara sama sekali tidak punya keponakan. Zara sebenarnya hanya ingin meminta vinot untuk ikut duduk bersama.
Lili terkejut mendengar permintaan zara, begitupun juga dengan vinot, mereka saling melirik satu sama lain. Vinot takut kehadirannya akan mengganggu, sementara lili justru berharap vinot akan setuju.
“ sudah tidak apa-apa, tidak usah sungkan begitu” ucap zara sambil menarik vinot dan memaksanya duduk
__ADS_1
“kalian satu sekolah dan aku harap kalian tidak bermusuhan” Ucap zara memecah keheningan ketika lili dan vinot saling diam.
Lili dan vinot menyangkal dengan kompak, lalu kembali terdiam.
“Apa kalian sudah saling mengenal?” tanya zara
keduanya memalingkan pandangan kearah yang berbesa seperti tengah merasa malu.
Zara meminta nomor ponsel vinot, awalnya vinot menolak dengan alasan ia tidak diizinkan untuk memberikan nomor ponselnya ke sembarang orang. Zara bisa mengerti karna mereka juga baru saling mengenal, namun zara tidak ingin menyerah
“ berapa hari lagi lily berulang tahun, Aku butuh nomor ponsel mu karena aku ingin mengundangmu dan juga ayahmu, lagi pula aku tidak tahu di mana rumahmu” bisik zara
Vinot langsung merebut ponsel dari tangan zara dan memasukkan nomornya kedalam ponsel itu. Zara pun tersenyum senang. Selama makan siang lily dan vinot terlihat saling melirik satu sama lain, mereka terlihat saling menyukai tapi enggan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
__ADS_1
Melihat percintaan dua anak kecil yang masih malu-malu itu membuat zara gemas. Zara mencari alasan agar mereka berdua bisa saling bicara, dengan alasan ingin ke toilet ia meninggalkan kedua anak yang tengah puber itu.
Dari jauh zara melihat vinot yang mulai mengajak lili bicara dengan malu-malu, naasnya ia tertangkap basah tengah memperhatikan kantin oleh seorang guru, alhasil ia di introgasi ditempat dengan tegas.
“Maafkan saya pak, saya hanya menemui teman kecil saya, lihatlah lily dan vinot, mereka berdua adalah teman kecil saya, bapak tenang saja saya tidak akan mengganggu mereka dalam pelajaran, saya hanya ingin makan siang bersama mereka”
Tanpa menaruh rasa curiga guru itu memberi tahu zara bahwa bel masuk akan segera berbunyi dan memintanya untuk segera pergi. Zara pun kembali mendekati lili dan vinot untuk berpamitan. Tanpa zara sadari guru itu terus memperhatikan zara.
Zara menghentikan langkahnya dan berbalik, ia meminta vinot untuk mengantar lili ke kelas. Vinot mengangguk setuju dan zara kembali melangkahkan kakinya berjalan pergi. Zara melihat guru itu masih berdiri dan memperhatikan dirinya,
“ Masih muda sudah jadi guru, hebat. Semangat ya! guru tampan, jangan galak-galak sama anak-anak” ucap zara sambil berlalu dihadapannya.
Zara tidak tahu apa yang sudah diucapkannya membuat guru muda itu tersipu malu, tanpa sadar zara sudah menarik perhatiaannya, ia terpesona pada senyum zara yang manis.
__ADS_1