Diary Of Zara

Diary Of Zara
Perjalanan part 2


__ADS_3

Arroy duduk ditepi bagasi dengan back door yang terbuka, lama ia menunggu tapi agni tak kunjung kembali, arroy yang mulai bosan merebahkan dirinya, membiarkan kepalanya berada diantar kepala tiffani dan zara yang masih tertidur.


Arroy membalikkan tubuhnya menghadap ke arah zara, seketika bibirnya yang berwarna kecoklatan itu menyentuh pipi zara yang masih tidur dengan posisi berbaring.


Arroy memundurkan kepalanya kemudian mendongak dengan cepat, matanya tak sengaja melihat ponsel zara yang tergeletak diatas kepala, senyumnya menyeringai ketika sebuah ide pun muncul di kepalanya.


Arroy mengambil ponsel zara, ia semakin senang karna layar ponselnya tidak dikunci dengan sandi.


Arroy membuka aplikasi kamera, ia kembali ke posisi semula kemudian berselfi ria.


Arroy kembali duduk sambil melihat beberapa gambar foto dirinya yang tengah mencium pipi zara, ia terus menatap layar ponsel dengan begitu serius, memperhagtikan satu foto yang menurutnya paling bagus.


“Tuan, bukankah itu ponsel zara?” tanya agni yang sudah duduk disamping arroy,


Arroy hanya mengangguk sambil tersenyum, ia bergegas mematikan layar ponsel zara dan menaruhnya ketempat semula.


Arroy bangun dari duduknya, dengan cepat agni pun ikut bangun, setelah menutup pintu belakang mobil keduanya mengambil jalan berlawanan untuk kembali masuk mobil.


Perjalanan pun berlanjut, arroy yang merasa suntuk pun memutar musik melayu yang romantis, alunan musik yang mendayu-dayu membuat agni tertidur dan yang berpura-pura tidur di kursi belakang pun jadi benar-benar tidur.


Setelah menempuh 7 jam perjalanan akhirnya mereka pun tiba di resort, ketiga wanita yang ikut dengannya pun bersiap untuk turun dari mobil.

__ADS_1


“sesuai rencana, kalian akan pura-pura jadi istriku, jadi jangan panggil aku tuan a, gunakan saja nama keduaku dylan, mengerti! ” Ucap arroy memberikan instruksi


Agni dan tiffani pun mengangguk, mereka turun dan berjalan masuk dengan barang bawaan mereka masing-masing.


“ Ra dimana tasmu?” Tanya tiffani heran


Zara menggandeng tangan arroy seraya berkata “ Suamiku kan orang kaya, aku tidak perlu bawa baju, dia yang akan membelikannya, ia kan sayang!”


“ Cih... Menyebalkan” umpat agni pelan


Wajah agni masam setelah mendengar ucapan zara, sementara itu senyum manis mereka diwajah arroy membuatnya semakin terlihat tampan.


Arroy mengambil buku not kecil disakunya, menuliskan keluhan atas kelalayan pegawai receptionis.


Mereka duduk di lantai karna merasa lelah berdiri menunggu terlalu lama, untung saja setelah 20 menit berlalu suara langkah kaki terdengar, jika tidak mungkin resort itu akan hangus terbakar emosi sang pemilik.


Semuanya pun berdiri dengan cepat kecuali arroy, ia masih duduk dilantai dengan wajah malas


“ Selamat datang di resort kami” ucap seorang wanita yang masuk dari pintu depan, senyumnya begitu ramah namun belum mampu meredam emosi sang penguasa.


“ Kau receptionis di sini?” Tanya arroy, mendongakan kepala, tatapannya begitu dingin

__ADS_1


Lagi, wanita itu hanya tersenyum, ia kemudian berjalan masuk dan berdiri di depan meja receptionis, ia memasang name teg dibajunya, kemudian mengulangi sapaannya dengan ramah.


“ selamat datang diresort kami, saya petugas receptionis yang baru saja bertugas, ada yang bisa kami bantu” ucap wanita itu dengan sopan


“ iya nona mona, kami pesan 4 kamar presidental Suit” ucap zara sambil tersenyum manis, zara tau nama petugas receptionis itu setelah membaca name tag-nya


“ tidak, kami pesan 4 kamar yang paling murah sajah” ucap agni


“ Iya yang standar room saja ra, presidental suit terlalu mahal” sahut tiffani menambahkan


“ maaf jadinya mau pesan kamar yang mana?” Tanya mona


“ 3 kamar single room, atas nama tuan dylan” ucap arroy final


“ Kenapa hanya pesan 3 kamar” bisik zara pada arroy


“ kita akan sekamar sayang, lagi pula aku kan suamimu” bisik arroy sambil tersenyum.


Zara membuang muka menghindari tatapan sang suami, ia bahkan menghela nafas dengan kasar saat mengambil kunci yang diberikan petugas receptionis.


“ sudah dimadu pun tidak bisa bersenang-senang, menyebalkan....” keluh zara seraya berjalan menuju kamar

__ADS_1


__ADS_2