
“Ini sudah yang ke-50, kenapa semua buku yang kubaca isinya sama, pemeran wanita jatuh cinta kepada ceo yang sombong, presdir yang angkuh dan dingin, kenapa tidak ada yang jatuh cinta kepada presdir yang manis dan juga baik hati”
Arroy mengeluh sambil melempar buku yang telah ia baca keatas meja. Sudah tiga hari sejak ia tidak pulang ke rumah ia terus membaca novel romantis, menghabiskan waktu di perpustakaan di pedalaman desa yang sepi dan jarang dikunjungi, menenangkan diri sambil mencari cara untuk menaklukan sang istri.
“ presdir yang dingin lebih banyak diminati, karna saat wanita merasakan kehangatan ia akan tahu bahwa dirinya spesial” ucap tuan radi yang duduk disebrang meja
“ mia mengatakan bahwa setiap istri akan sangat mencintai suami yang baik dan tenang saat menghadapi masalah” Ucap zulfan
Arroy terkejut ketika mendengar suara zulfan, ia menoleh dan melihat zulfan yang kala itu tengah duduk disamping rak no 1, lebih terkejut lagi ketika ia melihat kimmy muncul diantara rak buku no 1 dan 2.
“ jika untuk memikat hati seorang wanita kau harus bersikap baik dengan penuh karisma” sahut kimmy menambahkan
Kimmy bersandar dirak buku tanpa mengalihkan pandangannya dari biku yang tengah ia baca.
“ Jangan pernah mencoba untuk berubah”
Arroy, kimmy, zulfan dan tuan radi terkejut mendengar suara yang entah milik siapa.
“ terkadang dunia memang tak ramah, tapi bukan berarti kau harus berubah”
__ADS_1
Arroy, kimmy, zulfan dan tuan radi tidak tahu bahwa ada orang lain dalam perpustakaan itu, namun mereka mendengarkan dengan serius.
“ Saat seorang wanita ditakdirkan untuk jatuh hati, tidak peduli kau presdir yang baik, presdir yang dingin atau presdir yang sombong, cinta itu akan datang menghampirimu, kau cukup jadi dirimu sendiri”
Arroy, kimmy, zulfan dan tuan radi mulai penasaran setelah mendengar sedikit kata-kata bijak, mereka berjalan mencari arah sumber suara. Terlihat seorang wanita yang tengah berdiri sambil meletakan buku dibalik rak no 3
“ kau... “ ucap arroy, kimmy, zulfan dan tuan radi serentak ketika melihat gadis itu menoleh sambil tersenyum.
“ Kau masih belum menyerah juga rupanya” ucap arroy
“ tunjukan padanya siapa kau sebenarnya, dan katakan bahwa kau mencintainya dihadapan dunia, aku yakin wanita itu akan bertekuk lutut dihadapanmu tuan” ucap tiffani sambil berjalan mendekat kemudian menepuk pundak arroy, tatapan matanya seolah berusaha meyakinkan arroy
“ Masalahnya tidak semudah itu nona” ucap arroy sambil menyingkirkan tangan tiffani dari pundaknya
“ Seperti judul buku ini, baginya uang dan kekuasaan bukan segalanya” ucap arroy tegas
Yang lainnya menganggukan kepala seolah membenarkan ucapan arroy, tapi tiffani belum mau mengalah, senyumnya menyeringai ketika ia melangkahkan kaki mendekati arroy
“ bagaimana kalau kita kerja sama?” Ucap tiffani menawarkan
__ADS_1
Arroy tidak menjawab ucapan tiffani, namun rasa ingin tahunya terlihat jelas dimatanya.
“ 1 “ ucap tiffani ambigu
Semua orang menatap tiffani dengan penuh tanya, belum ada yang mengerti maksud dari ucapannya
“ 1 kesempatan 1 bulan untuk membuat wanita idamanmu jatuh cinta padamu” ucap tiffani menawarkan.
Arroy mengabaikan tiffani dan hendak melangkah pergi namun ucapan tiffani menghentikannya.
“ kau harus tau tuan, aku bukan orang yang pantang menyerah” ucap tiffani dengan percaya diri
Arroy berbalik menatap tiffani dari kejauhan “ jika saranmu yang tidak berguna itu gagal apa kau akan berhenti mengejarku?” Tanya arroy
Satu menit, dua menit, tidak ada jawaban dari tiffani, arroy pun kembali melangkahkan kakinya, semakin jauh dari tiffani,
“Baiklah, jika aku gagal aku akan berhenti mengejarmu tuan, jika kau setuju hubungi aku” ucap tiffani sedikit berteriak
Arroy mendengar ucapan tiffani namun ia hanya melambaikan tangan dan terus berjalan menuju keluar dari perpustakaan diikuti oleh zulfan dan kimmy.
__ADS_1
“ Kau tau nak! Kau satu-satunya wanita yang berani bermain dengan putraku, berhati-hatilah, karna jika rencanamu gagal mungkin saja putraku akan menghancurkanmu hingga jadi debu” ucap tuan radi memperingatkan
“ Terima kasih sebelumnya, aku akan mengingat ucapan anda, kalau begitu aku permisi” ucap tiffani sambil tersenyum, ia juga melangkahkan kaki dari sana namun ia berkali-kali berbalik dan melihat tuan radi, ia merasa familiar dengannya namun tidak dapat mengingatnya.