
Setelah melewati malam penuh gairah arroy yang biasa bangun dini hari kini masih terlelap, padahal matahari sudah menampakan sinarnya.
Zara duduk disamping arroy, kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya amat gelisah.
Jika malam itu tidak ada yang terjadi bukankah seharusnya ini yang pertama bagiku?
Kenapa aku tidak merasakan sakit yang luar biasa?
Kenapa aku bisa lebih menikmatinya?
Dan lagi, kenapa tidak ada darah yang keluar?
Gimana kalau arroy bangun dan bertanya?
Aku harus bilang apa?
Zara begitu sibuk dengan pikirannya hingga ia tidak sadar arroy sudah bangun dan tengah menatapnya.
“ bagus ya! Pagi-pagi udah ngelamun, miririn siapa sapai serius gitu?”
Satu pertanyaan itu membawa air mata zara jatuh membasahi pipi zara
“ Kenapa kamu nangis? Kamu nyesel udah bercinta sama aku? Ingat ya ra, aku tidak memaksamu, kalaupun aku memaksa itu bukanlah kesalahan, itu hak ku“
“ Ga gitu arroy”
“ ga gitu gimana ra? Semuanya sudah jelas”
“ Arroy... “ panggil zara lembut seraya memeluk arroy dengan erat
Arroy terkekeh melihat zara yang menanggapi candaannya dengan begitu serius. Namun dalam pelukannya tangisan zara justru semakin kencang.
“ Hei zara, kenapa kau menangis, aku hanya bercanda sayang” ucap arroy seraya memegang wajah zara
“ kau bercanda tapi aku serius, maafkan aku, kumohon” ucap zara dengan wajah memelas
“ sebenarnya ada apa denganmu? Dan kau meminta maaf untuk apa? “
“ hiks... Aku... Aku menikmatinya semalam” ucap zara diiringi tangisan yang tersedu-sedu
“ aku juga begitu sayang, lalu apa masalahnya? “ tanya arroy sambil tersenyum,
“Tatap mata aku zara, jangan palingkan pandanganmu” ia menadahkan wajah zara yang tertunduk agar bisa menatapnya
“ hiks... Hiks.. Aku tidak kesakitan... Hiks... Dan aku tidah berdarah.... Hiks.... Maafkan aku arroy, aku tidak...
__ADS_1
Arroy menyentil kening zara, jerit kesakitan memotong ucapannya,
“ bodoh... Ini kan bukan yang pertama kalinya bagi kita zara, tentu saja kau bisa menikmatinya dengan lebih baik”
Zara terkejut dengan ucapan arroy, dengan cepat ia menyeka air mata diwajahnya dan menatap arroy dengan tajam
“ Aku mau mandi” ucap arroy baru tersadar, ia mencoba melarikan diri,
“Tunggu” ucap zara seraya meraih tangan arroy, ia memegangi tangan suaminya dengan erat agar arroy tidak kabur
“ Kau bilang apa tadi? Ini bukan yang pertama kalinya bagi kita? Itu artinya kita pernah melakukannya? Kapan? Dimana? kenapa aku tidak mengingatnya”
“zara ini sudah siang, aku mau mandi”
Arroy berusaha melepaskan tangan zara namun dengan cepat zara kembali meraih tangan arroy dan menahannya
“Tidak bisa, jawab dulu pertanyaanku”
“zara aku harus kekantor”
“ Ini akhir pekan arroy”
“ aku harus tetap bekerja, ada rapat penting siang ini” ucap arroy, ia sudah berhasil melepaskan diri hinnga turun dari tempat tidur, namun tangan zara kembali meraih tangan arroy
“ setidaknya jawab dulu pertanyaanku, ini mungkin tidak penting bagimu, tapi ini penting untukku”
Zara hanya menganggukkan kepala. Arroy menceritakan tentang malam itu, saat dimana zara meminum obat perangsang yang disebut vitamin oleh petugas hotel, bagaimana zara menempel pada arroy dan menggodanya hingga mereka bercinta didalam mobil.
Awalnya zara hanya diam mendengarkan dengan serius, namun ia kesulitan menahan tawa saat teringat cerita arroy dirumah sakit, tentang bercak darah ditisu, luka cakar, olah raga malam, dan kucing liar.
Akhirnya zara tertawa terbahak-bahak, arroy yang melihatnya langsung berdiri dengan tegak seraya memperingatkan zara
“ Zara berhenti tertawa, aku sudah bilang jangan tertawa” Ucap arroy dengan tegas
Zara meraih telunjuk arroy yang mengarah padanya, dengan cepat ia berhenti tertawa, ia berdiri diatas tempat tidur dengan lutut sebagai tumpuannya, mensejajarkan tubuhnya dengan arroy, kemudian membelai lembut wajah suaminya
“ Kau tumbang setelah malam pertama” ucap zara dengan serius
Zara kembali tertawa sambil menjatuhkan tubuhnya memeluk arroy. Mendengar tawa sang istri yang begitu renyah ditelingga membuat arroy terkekeh, namun ia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya kemudian berkata
“ Sepertinya kau sangat senang menertawaiku, sekarang berhenti tertawa dan lepaskan aku, aku mau mandi” ucapnya dengan ketus, namun ia tersenyum begitu manis
Zara melepaskan pelukannya, ia mendekap mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak kembali tertawa,
“ jangan tertawa lagi! Jika tidak aku tidak akan memaafkanmu” titah sang raja dengan tegas
__ADS_1
“ Bodoh... Harusnya aku tidak menceritakan kejadian itu padanya” keluh arroy pelan seraya berjalan masuk kedalam kamar mandi
“ Aku mendengarnya sayang, kau tidak bodoh, hanya sedikit lemah” ucap zara sedikit berteriak, ia masih terkekeh
Arroy yang sudah masuk kedalam kamar mandi kembali keluar setelah mendengar ucapan zara, ia menghampiri zara yang sedang berdiri baru turun dari tempat tidur
“ sedikit lemah kau bilang, aku akan tunjukan apa yang kau bilang sedikit lemah” ucap arroy seraya mendekatkan dirinya pada zara
Zara mengambil langkah mundur hingga terduduk, arroy terus menyudutkan zara hingga zara terbaring, dengan kedua tangannya arroy mengangkat tubuh zara dan melemparnya hingga kepala zara jatuh diatas bantal, dengan cepat pula ia mengunci tubuh zara agar tidak kabur
“arroy... “ sapa zara dengan lembut
“hmm...” sahut arroy
Mereka saling pandang bak pasangan kekasih yang baru bertemu setelah sekian lama....
“Arroy... “
“ia zara... “
“ponselmu bergetar” ucap zara seraya menunjuk ponsel arroy diatas nakas
Arroy melirik ponselnya yang memang bergetar, ia menghela nafas kemudian melepaskan sang istri.
Arroy meraih ponselnya kemudian duduk disamping zara, ia melihat sebuah panggilan masuk dari agni.
Zara bangun kemudian memeluk tubuh arroy seraya menenggerkan kepalanya diatas bahu kekar suaminya, ia melihat arroy hanya menatap layar ponselnya kemudian bertanya “ siapa yang menelpon sayang? Kenapa tidak diangkat? “
“ agni” jawab arroy malas
Ia menghela napas kemudian menerima panggilan dari agni. Satu telpon dua telinga, ya! Zara mendekatkan telinganya agar ia juga bisa ikut mendengarkan
Arroy : katakan?
Agni : maaf saya mengganggu tuan, saya hanya ingin mengingatkan, setengah jam lagi akan ada rapat, saya sudah pernah mengundur rapat ini jadi tidak bisa diundur lagi
Arroy: hmm...
“ Haruskah aku meliburkan pegawai dihari sabtu sayang... Muah”
Sambungan telpon terputus saat arroy menyingkirkan ponsel dari telinga kemudian menciun pipi zara.
“ tidak perlu seperti itu, cepat sana mandi” ucap zara seraya melepas pelukannya
Arroy mandi dan bersiap dengan cepat, zara membantunya memasangkan dasi, sebelum pergi arroy mengecup kening zara
__ADS_1
“ aku pergi ya sayang” ucap arroy dengan mesra
“ ia hati-hati di jalan, oh ia jangan lupa janjimu denganku jam 11 nanti” sahut zara dengan senyum ceria.