Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Kesedihan setelah kepergian kakek Wijaya


__ADS_3

Kakek Wijaya tersenyum melihat kedatangan cucunya. " Kemari lah kalian.. " Ucap Kakek Wijaya tersenyum.


Mereka bertiga pun berbaris menghadap kakek mereka." Andi. sekarang kamu sudah dewasa. dan punya tanggung jawab besar juga. banyak hal yang harus kamu lakukan setelah kepergian kakek.. " ucap Kakek Wijaya terbata.


Feby menangis tersedu mendengar ucapan kakeknya. " Kek.. jangan ngomong begitu. aku tinggal dengan siapa.. aku nggak mau sendiri.. " Tangis Feby.


" He. gadis bodoh. kenapa kamu tinggal sendiri. kan ada mereka berdua. Setelah kepergian kakek. kalian berdua harus tinggal di rumah lagi. temani Feby. lagi pula. tanggung jawab mu ada di sana Andi. Dari dulu kakek minta kamu belajar, tapi kamu selalu menolak. sekarang tidak ada lagi penolakan. Kakek percaya pada mu." Kakek Wijaya diam. menenangkan nafasnya yang agak berat.


" Kek. baiknya istirahat, jangan bicara lagi. nanti kalau kakek sudah sembuh. kita lanjutkan. " Ucap Andi pelan. Karena hatinya terasa berat. dadanya terasa sesak, ia belum sanggup kehilangan kakeknya saat ini.


" Kakek sudah nggak kuat. nenek kalian sudah lama menunggu. Nisa. bantu suami mu ya agar kuat menghadapi semua nya. banyak hal yang akan kalian lalui setelah kepergian kakek. tapi kakek yakin kalian mampu menghadapi nya. Feby.. belajar lebih rajin untuk mu sudah kakek siapkan juga. Jaga diri kalian baik-baik. titip pesan buat orang tua kalian." ucap Kakek Wijaya. yang di sambut tangis Feby


Setelah itu Kakek Wijaya memejamkan matanya. ia pergi dengan wajah tersenyum. Andi terduduk di lantai. Anisa hanya mampu memeluk suaminya, mengusap punggung suaminya yang menangis tertahan.


Dokter Reyhan masuk mendengar tangisan Feby. ia segera mengecek kondisi Kakek Wijaya. ia pun menggeleng. Feby makin histeris.. Dokter Reyhan mendekati Feby mencoba menenangkan. " Sabar nak. kakek kalian orang baik. pasti ia di tempatkan di tempat yang baik. amin..! " Jawab mereka.


Feby mulai tenang, sorenya. jasad kakek Wijaya pun di kebumikan. Pak Handoko dan istrinya sampai.


Banyak yang hadir. semua rekan bisnis Wijaya hadir, serta semua majlis guru dan siswa hadir di pemakaman. hingga menjelang sore baru pelayat satu persatu pergi. hanya tinggal keluarga inti.


Andi duduk di pusara kakek nya, ia masih belum percaya kepergian kakeknya. ia menyesal, telah lama ia tidak datang ke rumah menemui kakeknya. karena ia sedang sibuk menghadapi ujian dan juga Olimpiade.


"Kita pulang ya.. hari sudah sore, sepertinya mau hujan.. besok kita ke sini lagi.. " Bujuk Anisa. karena dari tadi keluarga nya membujuk namun tak di hiraukan nya.


Andi pun menoleh, ia pun bangkit. karena ia mendengar perut istrinya yang keroncongan.


" Ayok. maaf kan aku. kebodohan ku membuat mu lapar.. ' Ucap Andi mengajak pulang.


Akhirnya mereka pulang ke rumah. Sampai di rumah. ternyata banyak wartawan yang menunggu. Andi langsung membawa istrinya masuk. takut nanti salah sasaran gosip.


Karena selama ini. kakek Wijaya tidak pernah mempromosikan cucunya, agar tidak di kejar awak media.


Jakson asisten kakek Wijaya segera menghadang wartawan, selama ini Jakson selalu bisa di andalkan Wijaya.


" Maaf. ..! sebaiknya tunggu beberapa hari ke depan. kami akan membuka sesi pertanyaan." ucap Jakson memberi kabar. Wartawan pun pergi meninggalkan rumah kakek Wijaya.


Andi terpaku di kamarnya, ada rasa sesal di hatinya. ia sudah berjanji untuk sering menengok kakeknya. walau Ia tidak tinggal dengan kakeknya. Tapi apa. semenjak kepergian ayahnya. ia belum pernah lagi menemui kakeknya.


Anisa mendekati suaminya yang duduk di tepi kasur. ' Sayang mandilah dulu. biar segar. " Bujuk Anisa. namun tak mempan.


Akhirnya Anisa yang masuk kamar mandi tubuhnya sudah terasa lengket. Namun baru saja ia masuk. Tiba-tiba perutnya terasa mual. ia muntah hingga kedengaran ke luar. Andi yang melamun tidak menyadari kondisi istrinya. Hingga Anisa pun terduduk di lantai karena rasa pusing yang dahsyat. Ia berusaha memanggil suaminya, lama baru ia ditanggapi suaminya.


Andi mendengar sayup-sayup suara istrinya, Ia pun menengok ke kamar mandi. betapa terkejutnya ia. saat menemui istrinya yang terduduk di lantai. Andi mengangkat tubuh istrinya ke kasur.


" Sayang.. maaf kan aku, aku tadi nggak dengar kamu memanggil."ucap Andi di sela isak tangisnya. Ia benar menyesal telah mengabaikan istrinya. Karena kesedihan.


Feby ingin memanggil ke dua kakaknya untuk makan. namun di dapatinnya, Andi sedang menggendong Anisa dari kamar mandi dengan kondisi pucat.


' Kakak. ada apa dengan kakak ipar. aku panggilkan dokter dulu ya." Ucap Feby berinisiatif. Feby pun menelpon dokter keluarga nya yang tak lain adalah dokter Reyhan. Tak lama dokter Reyhan pun sampai. Andi tidak mau meninggalkan istrinya barang sedetik pun.


" Bagaimana keadaan istri saya dok. apa parah.. ? " Tanya Andi saat dokter Reyhan selesai memeriksa.


Dokter Reyhan tersenyum, membuat semua orang yang ada di dalam kamar tersebut bingung. Dan dokter Reyhan pun memberi selamat ke pada Andi.


" Selamat Reyhan istri anda hamil. tapi untuk memastikan lebih baik periksa dengan dokter spesialis kandungan..." Ucap dokter Reyhan serius.


" Apa.. apakah dokter Reyhan tidak bercanda" Tanya Andi antusias. dokter Reyhan pun menganggukkan kepalanya.


Semuanya pun bahagia mendengar kabar dokter Reyhan. Rasa sedih yang melanda keluarga itu pun bisa di hibur ke datangan calon penerus mereka. Andi memeluk istrinya ia bahagia sekali.


dokter Reyhan pun pamit di antar Handoko. Ia bahagia mendapat kabar tersebut." Terima kasih dokter, Saya harap berita ini kita simpan dulu untuk sementara. Takutnya jadi masalah dan akan mengganggu ketentraman Anisa menantu saya." Ucap Handoko pada dokter Reyhan.


" Saya paham pak. apalagi sekarang bapak sekeluarga sedang berduka kehilangan Tuan Wijaya. Semoga di Terima disisi Nya. amin. " yang juga di amin kan Handoko.

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi pak kembali ke Rumah Sakit." pamit dokter Reyhan.


" Oh ya baiklah. nanti masalah Rumah Sakit biar Andi yang mengurusnya. Tapi saya minta tolong bantu Andi. apalagi sekarang kondisinya begini. Dan juga kami ingin USG Anisa nanti malam saja. agar tidak heboh" Mohon Handoko.


" Oh kalau itu bapak nggak usah cemas. Tuan Wijaya sudah bicarakan pada saya jauh sebelumnya. Saya sangat tersanjung kalau bapak kembali mempercayakan kembali pada saya. kalau masalah dokter kandungan akan saya atur. " Jawab dokter Reyhan sungkan.


"Oh baiklah... " Jawab Handoko. dokter Reyhan pun kembali lagi ke Rumah Sakit.


Sedangkan Andi malah menjadi suami yang protektif. gerakan sedikit saja. Anisa sudah di larang.


" Waduh... bakal jadi ayah yang protektif nih, Oh ya selamat ya kak. moga kehadiran Calon beby menambah kebahagiaan keluarga ini. Kakek pasti bahagia di alam sana mendengar berita ini. " Ucap Feby terharu.


" Iya. sayang.. kakek pasti bahagia. kakek kalian orang baik. pasti ia di tempatkan di tempat yang baik. amin..! " ucap Felisha. yang juga di amin kan mereka.


Handoko kembali ke kamar Andi. " Oh ya.. kalau menurut papa. baiknya kita periksa kandungan malam ini saja. Jika sekarang jadi heboh. karena kondisi sekarang. " Ucap Handoko yang di setujui semuanya.


" Mana bagusnya saja pa. maaf aku ingin istirahat dulu" Ucap Andi seolah mengusir keluarga nya secara halus.


" Eh jangan begitulah sayang nggak enak. Tapi besok boleh sekolah ya. kasihan sudah dua hari aku nggak lihat kalian latihan." Rengek Anisa.


" Kalau masalah guru pendamping Olimpiade biar saya bicarakan dengan Pak Burhan. " Kata Andi melarang.


"Jadi bosan dong. aku di rumah saja yang.. " Rengek Anisa.


" Jangan merayu. nggak mempan lagi. udah terbaca." ucap Andi tegas.


" Eh jangan sedih kak. aku kan ada yang nemani kakak. Kita drakor aja, biar aku izin beberapa hari ini. " ucap Feby semangat.


" Ah nggak ada. kan mama ada sayang... jangan sedih ya." Jawab Felisha semangat.


" Benar itu, Feby kamu tetap kuliah saja. jangan kecewakan kakek mu." sarkas Handoko.


Feby merenggut. " Bukan begitu pa. aku kan mau berdua saja dengan kakak ipar" Jawab Feby dengan nada kesal.


" Ih menyebalkan.. " Kesal Feby lagi.


" Nanti makanan kalian biar di antar ke sini ya nak," Ucap Felisha sambil menutup pintu. yang juga di anggukan Andi. Mereka pun keluar, ingin memberikan ruang pada anak dan mantunya.


Andi mendekati istrinya setelah menutup pintu." Terima kasih sayang. mau mengandung anakku. kesedihan ku terobati dengan kehadiran kalian. Kalian orang yang paling berharga buat ku. " Ucap Andi mencium perut istrinya yang masih datar.


Anisa membelai rambut suaminya terharu. ada air mata yang menetes di pipinya.


" Sayang.. kenapa nangis...? " Tanya Andi saat ia melihat istrinya.


" Ini tangis bahagia sayang.. " Jawab Anisa manja. Andi mencium kedua pipi dan berakhir di bibir istrinya mesra.


Malamnya . rombongan keluarga Handoko pun ke rumah sakit untuk USG. Semuanya semangat ingin melihat langsung kebenarannya. karena dokter kandungan bertugas Karena waktu untuk pemeriksaan Nisa sudah di atur, makanya di ambil waktu kosong.


Sampai di rumah sakit. ternyata ada seorang wartawan sedang mencari informasi. Wartawan yang biasa memberitakan keluarga nya. Handoko pun menelpon Jakson agar menyelesaikan masalah tersebut.


Jakson yang baru pulang harus kembali lagi. ia tidak ingin keluarga majikannya jadi topik hangat hari ini.


Tak lama. Jakson pun datang menghampiri wartawan tersebut. entah apa yang di bicarakan Jakson. wartawan tersebut pun pamit. Jakson sedikit lega. namun ia tetap siaga dengan anak buahnya.


Setelah wartawan itu pergi, Handoko dan Felisha duluan ke ruangan dokter kandungan memastikan ke adaan.


Setelah aman. baru di telpon agar membawa Anisa ke dalam. Andi dan Feby pun berjaga di samping kanan kiri Anisa. berjalan menuju dokter kandungan.


Pemeriksaan kandungan Anisa pun di lakukan. Semuanya masuk ke ruangan tersebut. karena penasaran. namun awalnya Andi melarang papanya masuk.


" Eh anak nakal. aku mau lihat cucuku. ngapain kamu larang. " Jawab Handoko kesal. Dokter Viona tersenyum melihat keposesifan Tuan mudanya yang tak lain pemilik Rumah Sakit ini. Akhirnya dokter Viona pun memeriksa nya.


" Selamat ya pak Buk. Buk Anisa hamil sudah 6 minggu. dan kandungannya bagus. tidak ada masalah." Terang dokter Viona.

__ADS_1


" Oh.. beneran ini dok..? " Tanya Andi dan Handoko bersamaan.


" Ih nggak seru.. kalian heboh sekali. ini kan calon ponakan aku.. " ucap Feby tak mau kalah.


dokter Viona hanya tersenyum melihat kebahagiaan orang penting tersebut.


"Kalau begitu. aku beneran akan jadi oma" Antusias Felisha tak mau kalah.


Kebahagiaan mereka membuat Anisa terharu, Ia tak menyangka akan di beri kepercayaan secepat itu. ia berjanji akan menjaga.


" Nak. lihatlah... mereka menanti ke hadiran mu kelak. baik-baik ya dalam sana. ibu akan menjagamu." Ucap Anisa lirih memegang perut nya.


Andi yang berdiri di sebelah nya tersenyum. Ia pun respek mencium pipi istrinya. membuat Anisa malu dengan semua orang.


Anisa memukul tangan suaminya jengkel. mukanya memerah karena malu.


" Hm.. jangan menodai pikiran orang jomblo ini.. " Sindir Feby kesal.Anisa dan Andi terkekeh melihat kejengkelan gadis itu.


Setelah pemeriksaan, semuanya pun kembali pulang. baru saja mereka mau naik mobil. tinggal Feby yang akan naik. seorang wartawan datang memberi pertanyaan. Jakson yang melihat menarik tangan wartawan tersebut agar menjauh dari mereka.


Jakson memberi kode pada Andi agar menjalankan mobil yang sudah di kawal oleh anak buah Jakson.


Feby yang belum naik, hampir terjatuh. Namun dengan sigap seorang dokter muda menyangga punggung Feby hingga ia tidak terjatuh. karena Andi segera menjalankan mobil sesuai instruksi Jakson.


Feby kesal, namun Jakson membisikan sesuatu padanya, hingga dia diam. dokter yang memegangnya masih belum di sadari Feby. hingga suara batuk Jakson dokter tersebut melepaskan pegangannya. Karena Feby sudah berdiri tegak.


" Maaf.! Saya tadinya hanya respek kebetulan lewat sini." Ucap dokter tersebut.


" Oh nggak apa. terimakasih dokter sudah membantu saya. kalau dr nggak bantu mungkin saya sudah jatuh tadinya.


" Oh sama-sama. panggil saja saya Vino." ucap Vino sungkan.


" Oh. nama saya Feby." Jawab Feby tersenyum.


Kembali Jakson batuk." Nona baiknya ikut dengan saya pulang. nanti tuan marah pada saya." ucap Jakson tegas.


" Iya. sabar dikit.. Sampai ketemu lagi dokter Vino yang ganteng. " Ucap Feby menggoda.


Vino tersenyum. namun mata Jakson melotot keduanya. Feby terkekeh melihat wajah asisten kakeknya yang dingin ibarat es balok.


Feby selalu memanggilnya dengan sebutan Es balok,Jakson tak mempermasalahkan panggilan nona cucu majikannya.


Jakson pun naik ke mobilnya dengan tatapan dingin." Nona. baiknya jaga sikap dikit kenapa. kok ganjen begitu dengan lelaki yang baru kenal." Ucap Jakson dengan nada mengejek, setelah mobil jalan.


" Hai es balok lu itu asisten kakek. bukan asisten aku. ngapain ngatur hidup ku.. " Kesal Feby dia membuang muka ke luar.


Jakson sudah memberi pesan pada Handoko. kalau Feby sudah bersamanya, dan menuju rumah.


" Apakah nona mau ngopi dulu menghilang kan kesal.. ? " Tanya Jakson pelan. Karena Feby tidak mau melihatnya.


Feby diam saja. bahkan ia tak mau sedikitpun ingin melihat Jakson. Jakson menarik nafas dalam, maklum ia tidak pernah dekat dengan gadis. hidupnya di habiskan dengan mengabdi pada keluarga Wijaya yang sudah berjasa. Pak Wijaya dulu memungut nya di jalanan.


Flashback..*


12 tahun yang lalu. Jakson di tuduh mencuri oleh seorang pedagang di pasar. kebetulan Wijaya dan istrinya ke pasar belanja. namun ada seorang anak remaja bersembunyi di balik punggung Wijaya. wajahnya pucat.


Tak lama datang segerombolan orang datang mengejar tapi nggak tahu apa. " Kemana larinya anak itu. dasar pencuri.. awas kalau ketemu kita bunuh saja.." Ucap seseorang diantara mereka.


Wijaya mendengar hal tersebut paham apa yang terjadi. rombongan tersebut pergi. Kemudian remaja tersebut keluar.


" Terima kasih pak. saya tau bapak orang baik. makanya nggak bilang kalau saya ada di belakang bapak. sekali lagi terimakasih." ucap remaja tersebut dan menyentuh sepatu Wijaya.


Wijaya tertegun. ia pun mengajaknya pulang. sampai ia di sekolahkan dan di percaya menjadi asisten nya. Jika Jakson mengingat hal tersebut. ia tersenyum mengingat kebaikan Tuan Wijaya padanya. makanya sampai sekarang ia tidak mau memikirkan cewek selain pekerjaan. Dan ia tinggal di paviliun yang di buat Tuan Wijaya untuk seluruh asisten. baik asisten rumah tangga. satpam dan juga asisten pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2