
Esoknya. mereka kembali pulang. begitu juga keluarga Anisa. " Bapak ibu nggak mau tinggal di sini.." Tanya Anisa pada orang tuanya.
" Maaf ya nak. kehidupan kami bukan di sini. kami kurang nyaman dengan kebisingan kota. di kampung lebih adem dan udaranya masih alami." Jawab pak Harun menenangkan anaknya.
" Ya maaf Pak bu. nggak bisa antar kalian pulang.." Ucap Anisa sedih.
" Sayang.. nanti kalau kondisi kamu sudah baik. kita jalan- jalan ke kampung..jangan sedih ya.. " Bujuk Andi lembut.
" Benar sayang..? " Tanya Anisa yang di anggukan suaminya.
Keluarga Anisa pun pulang kampung di antar sopir. Andi memberi tahu kan pada sopirnya agar meninggalkan mobil tersebut di rumah orang tua Nisa. karena jika perlu apa-apa tidak perlu lagi susah mencari kendaraan. Andi pun meminta Jakson untuk mengurus semuanya beserta sopirnya sekalian.
****
Setelah beberapa hari. Andi masuk kampus untuk pertama kali. ia dengan santai masuk ke kampus yang di antar Jakson. awalnya ia tidak mau, namun Jakson memaksa. karena kebetulan arah kampus dengan kantor searah. akhirnya ia mengalah. Andi memilih kampus Unisba. biar dekat juga dengan kantor.
Baru saja turun dari mobil. cewek - cewek yang melihat pesona Andi langsung teriak bahagia. " Oi ada cowok ganteng.. keren.. mobilnya bagus.. mau dong jadi pacarnya.. " Goda beberapa cewek yang dekat Andi.
Andi hanya pasang wajah cuek. dia terus berjalan ke kelasnya. Ia meminta Roby juga ikut kuliah bersamanya. Roby pun ikut. tapi dia duluan sampai di kelas. Roby terpaksa mengikuti Andi. karena sudah di bayarin dengan syarat jadi pengawalnya.
" Udah sampai bro.." Tanya Roby senang. Andi cuman mengangkat bahunya saja. itulah kebiasaannya dengan Roby.
" Gimana ke adaan Buk bos..? " Tanya Roby basa-basi.. Namun Andi melihatnya heran.
" Kenapa lu nanyain istri gue..? " Selidik Andi.
Roby cengengesan salah tingkah.
" Maksud gue. Buk Bos kan lagi hamil. jadi gue nanya. gimana kondisi calon ponakan gue. apa aman.. kan lu ke kampus.." Terang Roby..
" Oh..baik. kita nggak tinggal di apartemen. jadi ada banyak orang yang ngawasin di rumah. " Jawab Andi menjelaskan.
Percakapan mereka terhenti saat gerombolan cewek menghampiri.
"Halo cowok - cowok tampan. kenalin kita dong..? " Goda cewek-cewek di depannya.
" Oh dia saja. saya udah punya istri." Jawab Andi to the points.
Seorang cewek **** menghampiri Andi dan rencana membelai dada bidang Andi namun di tepis Andi.
" Oh gue suka dengan cowok maco. kenalkan nama gue Gita Nirwana. panggil Gita Aja" Goda Gita bicara mendesah di dekat telinga Andi dan menggesekkan gunung kembarnya yang membusung.
Muka Andi memerah mendapatkan perlakuan begitu. jika tidak di kampus, rasanya ia ingin membanting cewek di depannya. Sementara Roby juga khawatir. karena ia tahu gimana dinginnya Andi pada cewek. kecuali pada Nisa.
" Jaga sikap anda. jika memang nggak tahan baiknya anda pergi tuh di bar sana banyak cowok nganggur yang siap pakai.. " Ucap Andi segera menghindari Gita.
Gita bukannya marah malah makin tersenyum." Waw gue suka dengan cowok garang.. " Ucap Gita mendayu.. saat Andi beranjak keluar dengan Roby.
Roby mengikuti langkah Andi, ia melihat Andi yang menahan marah. " Tenang bro. itu nasib punya wajah ganteng.." Ucap Roby. Andi berhenti. dan menatap Roby.
" Ah sudahlah.. kita ke kantin, gue mau minum yang dingin dulu untuk menentramkan jiwa." Ucapnya berlalu.
Roby mengangguk dan mengikutinya. niat hati menenangkan jiwa. eh malah di kejar beberapa cewek yang entah datang dari mana. Andi dan Roby melongo menatapnya bingung.
" Rob. kita nggak salah kampus kan? " Tanya Andi yang ambigu. yang di geleng kan Roby.
" Kalau begitu kita langsung ke lapangan saja. tuh sudah ada pengumuman." Ucap Roby yang di ikutin Andi.
Mereka berdua langsung ke lapangan dan batal ke kantin. di awal masuk kampus saja sudah begini.. gimana kelanjutannya apa ia akan betah.
Sampai di lapangan, sudah agak mulai penuh. namun ada beberapa kosong.. itu dekat dengan Gita. Andi meminta Roby yang berdiri di sebelah Gita. Sedangkan Gita pun meminta temannya pindah agar ia bisa berdampingan dengan Andi.
Acara pembukaan di awal kuliah sangat kurang nyaman buat Andi, karena Gita selalu menggoda nya dengan berbagai cara. Hingga acara di tutup.
Setelah selesai pembukaan. Andi mengajak Roby untuk menemui ketua jurusan. Yang sebelumnya sudah ia hubungi Jakson.
" Assalamu'alaikum pak.. " Ucap Andi saat pintu telah di buka.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam. silahkan duduk. Pak Jakson sudah memberitahu saya. besok anda sudah bisa pindah kelas, Tapi Roby tidak bisa pindah. karena tidak mungkin sekaligus. apa alasan saya nanti sama pimpinan." Jawab ketua Jurusan.
" Oh. terimakasih pak kalau begitu. permisi.." Ucap Andi sungkan.
Andi pun memahami. mereka berdua kembali keluar." Hm.. gimana Bro kita pisah jadinya." Tanya Roby.
" Hm..! nggak apalah, yang penting sekarang kita aman dulu..
Ospek pertama membuat Andi sangat bosan, Ia lelah menghadapi cewek-cewek ganjen. bahkan kakak angkatan sebagai pembina pun ikut ngerjainnya.
" Hai cowok ganteng.. kalau mau minta tanda tangan saya harus cium dulu.." Ucap seorang kakak pembina bernama Sisi.
" Oh. baik. kalau begitu bisa kah kakak tutup matanya, karena saya belum pernah cium cewek.." Alasan Andi tersenyum.
" Ok. ! " Jawab Sisi semangat.
Andi mencari cowok yang kebetulan di dekatnya. ia berbisik pada cowok tersebut dan di setujui nya.
Cowok tersebut mendekati Sisi. dan tiba-tiba menciumnya bibir cewek tersebut dengan rakusnya. Sisi terkejut namun ia nikmati, ia tidak sadar. Setelah terasa cukup, cowok tersebut segera pergi. Sementara Andi tersenyum melihat Sisi puas. ia langsung memberikan tanda tangannya.
" Nanti pulang bareng ya.. " Ucap Sisi menggoda.
Andi hanya diam, ia pura-pura lihat hpnya dan pamit. Andi berlalu mencari Roby. Namun ia di hadang cowok yang menggantikan nya tadi.
" Terimakasih bro. transfer nya" ucap Cowok tersebut.
"lu jangan bilang-bilang sama orang." Ucap Andi sedikit menekan.
" Oh. nggak masalah. jika ada objek baru, gue siap. oh ya perkenalkan nama gue Bagas.. jika lu ada perlu bisa cari gue." Ucap Bagas senang. Karena ia mendapatkan keuntungan hari ini. dapat ciuman dan juga uang tips dari Andi.
" Ok.. gue cari teman gue dulu. makasih untuk hari ini." Ucap Andi dan berlalu.
Siangnya saat jam pulang, Anisa menunggu di parkiran. ia menjemput Andi dengan di antar sopir, dari jauh Andi melihat istrinya dan tersenyum senang.
" Assalamu'alaikum suamiku" Ucap Anisa lirih saat mereka sudah dekat dan mencium tangannya.
" Waalaikumsalam sayang. hm udah kangen ya. sampai di jemput segala.." Tanya Andi menggoda istrinya. Karena ia tahu. Anisa semenjak hamil. sedikit manja. berbeda dari sebelumnya. Namun Andi menyukainya.
" Eh selamat siang buk bos... " Ucapnya menyalami tangan Anisa. Andi menjentikkan tangan ke kepala Roby hingga ia kesakitan.
" Main nyosor aja lu.. " Kesal Andi. namun Anisa terkekeh melihat keduanya berselisih seperti itu.
" Ah sudahlah. Rob kamu mau ke kafe kan. sekalian aja.." Ucap Anisa dan masuk mobil. Andi malah melarang.
" Ah. nggak.. dia bawa motor sayang.. ngapain ajak dia.." Kesal Andi.
Roby tertawa senang menggoda sobatnya yang bucin tersebut. Gita dan rombongan melewatinya.
" Hallo cowok ganteng. ikutan bareng dong.." Godanya mendekati mobil...
Andi cuek saja, ia terus masuk ke mobil. namun di halangi Gita. ia berdiri di depan pintu mobil hingga Andi terhalang untuk masuk.
" Kita jalan bareng ya... " Ucapnya mendesah. Anisa yang melihat cewek yang ada di depannya menggoda suaminya. Anisa turun kembali dari mobil. Ia mendekati suaminya. dan memegang lengan suaminya.
" Halo gadis cantik. kenalkan saya istrinya Mas Andi... " Ucap Anisa memperkenalkan diri. Andi melongo mendengar ucapan Istrinya yang memanggilnya Mas.
" Ih.. jangan mimpi situ, mana ada si ganteng Andi punya istri. mimpi kali ya.." Jawab Gita menarik tangan Andi. Namun Andi menghempaskan tangan Gita hampir ia terjatuh.
" Eh.. tadi udah bilang kan. .. kalau lu nggak tahan. bukan sama gue. gue udah punya istri. Dia istri gue yang gue cinta.. dan awas lu sana kita mau pergi." Ucap Andi mendorongnya. Gita pun beranjak. namun ia belum puas. Ia berencana menarik rambut Anisa yang akan masuk pintu sebelah.
Roby dengan cepat menarik tangan Gita, Gita pun spontan memeluknya, karena posisi Gita yang tidak siap. saat Roby menariknya.
Andi tersenyum. melihat adegan tersebut." Hm menang banyak bro.." Ucap Andi meledak dan mengajak Anisa masuk mobil. ia pun menepuk pundak Roby yang masih nggak sadar berpelukan.
Mereka pun meninggalkan Roby yang masih terpesona. Ia sengaja membunyikan klakson mobilnya, hingga Roby tersadar dan melepaskan nya. dadanya sesak menahan nafas.( gila.. .. ) Bisik nya dalam hati. melihat ke dada Gita. Ia pun pergi.
Anisa di mobil diam membisu, mendengar ucapan suaminya yang ambigu menegur Roby yang berpelukan.
__ADS_1
" Sayang.. kita ke kantin dulu ya... oh ya anak papa gimana? sehat kan.? " Tanya Andi membelai perut istrinya.
Anisa hanya diam, tak menanggapi ucapan suaminya. Andi tidak tahu masalahnya. ia seolah berbicara dengan anak nya.
" Mama kenapa diam ya sayang. apa tadi dedek nakal sama mama..? " Tanya Andi lagi pada calon bayinya.
" Bukan dedeknya yang nakal. tapi papanya.. " Jawab Anisa ketus. Andi tertawa mendengar jawaban istri nya.
" Oh.. jadi mama nya cemburu sayang.. kenapa tadi nggak bilang sama papa.. kalau mamanya cemburu.. " Ucap Andi melihat istrinya sekilas dan tersenyum.
" Siapa yang cemburu.. kamu mungkin nyesel ya. dan mungkin rugi nggak di peluk balon besar.." Anisa menangis sesegukkan.
Andi segera menepikan mobilnya, ia nggak tahu apa masalah sebenarnya. hingga tiba-tiba istrinya menangis.
Andi mendekati istrinya, dan memeluknya. namun di tepis Anisa. " Sayang... kenapa.. apa aku ada salah..? tolong bicaralah yang jelas." Ucap Andi lembut membelai rambut istrinya.
Anisa bukannya menjawab, malah makin kencang tangisnya. Andi segera memeluk istrinya, walau Anisa mencoba memberontak. ia menggosok punggung istrinya lembut.
" Sayang. jika ada kata dan tindakan ku yang salah. tolong maafkan ya. kasihan anak kita, mungkin ia sedih juga lihat mamanya seperti ini." ucap Andi lembut.
Anisa pun diam. Andi melepaskan pelukan nya, dan menatap istrinya." Bicaralah.. apa kesalahanku..? " Tanya Andi membelai pipi istrinya.
" Itu saat Roby peluk cewek gatel tadi. Mas bilang menang banyak.pasti mas merasa rugikan nggak kebagian meluk balon besar." Cerita Anisa yang membuat Andi tertawa mendengarnya.
" Balon besar.. maksudnya apa sih sayang..? " Tanya Andi di sela tawanya.
" Itu.. gunung kembarnya cewek tadi. kayak balon besar.. Kalau aku kan nggak segede itu.." Jawab Anisa lirih.
" Hm.. sayang.. mau segede balon, atau apalah. milik orang. Mas mu ini nggak akan tertarik. karena hatinya sudah terkunci di sini" Ucap Andi menunjuk dada istrinya dan mengecupnya pelan.
Anisa diam dia tidak lagi menangis, Andi mengelap sisa air mata di pipi istrinya. Ia tahu, wanita hamil hormonnya tidak stabil. makanya ia berusaha menjaga dan mencoba mengerti. Baginya kebahagiaan istrinya yang utama. Akhirnya mereka langsung pulang, mungkin istrinya butuh istirahat.
Sementara Roby langsung ke kafe, ia langsung tanya pada Boby apakah Andi sudah sampai. ia tidak tahu kalau Andi tidak jadi ke kafe.
" Eh Bob. apa Pak Bos sudah sampai..? " Tanyanya pada Boby yang di temui nya di depan pintu.
" Ah. nggak. Pak Bos nggak ke sini.. kenapa nanya gue. kan tadi lu kuliah sama Pak Bos.." Tanya Boby balik.
Roby mengerutkan keningnya, awalnya ia bingung, namun dia sadar. mungkin Andi langsung pulang. ia akhirnya kembali kerja setelah makan siang.
Andi memberikan kebebasan pada karyawan nya untuk makan asalkan tahu kewajiban. Namun para karyawan menghargai nya, mereka pun tak seenak nya saja makan di saat sedang sibuk. para karyawan bergantian. makan. jika kondisi tidak mengizinkan, bahkan mereka kadang telat makan. hingga kondisi telah stabil.
Saat jam makan siang, Jakson menemui tunangannya, ia ingin makan bersama pujaan hatinya. walau Feby masih bersikap cuek padanya.
Dia sudah ada di kampus. sebelumnya ia sudah membuat pesan pada Feby. namun tidak di balas Feby.
Ia segera menelpon. satu kali tidak di angkat Feby, hingga panggilan ke tiga baru di angkat nya.
" Ia. tunggu sebentar, aku lagi jalan ke parkiran.. "Jawab Feby dan mematikan telepon.
Jakson menggelengkan kepalanya" Ah tidak sopan. main matiin telpon saja." Gerutunya.
Dari jauh ia melihat Feby yang jalan menghampirinya.
" Kemana. siap ini, aku masih ada kuliah. " Ucapnya ketus saat ia sudah di depan Jakson. Jakson membukakan pintu untuk Feby.
" Masuklah.. kita cari Restoran atau kafe dekat sini saja. agar kamu tidak telat.. " Ucapnya lembut.
Feby terkejut melihat sikap Jakson yang lembut. berbeda pada saat dulu. makanya dia beri gelar es balok. karena kakunya.
Setelah mereka sampai dan mendapatkan tempat yang agak jauh dari keramaian. Feby penasaran dan bertanya setelah mereka memesan makanan.
" Hm. rasanya aneh sekali. es balon berubah lembut seperti itu.. " ucap Feby. Jakson tersenyum mendengarkan ucapan calon istri nya.
" Hm.. hanya khusus pada orang tertentu." Jawab Jakson santai dan tersenyum. Feby makin penasaran melihat Jakson yang akhir-akhir ini sering tersenyum.
" Dulu kamu tuh nggak pernah tersenyum bahkan dingin kayak es balok. sekarang kenapa sering tersenyum..? " Tanya Feby penasaran.
__ADS_1
"Dulu gimana nggak kaku, aku menahan perasaan. jika kamu datang ke Indonesia. jantungku selalu berpacu. jika kamu kembali ke London hati ku cemas. Takut kehilangan mu. namun aku tak berani. rasanya nggak mungkin, ibarat pungguk merindukan bulan, Tapi sekarang aku sudah mendapatkannya. gimana nggak bahagia, maka nya aku terus tersenyum.. kakakmu emang hebat. Dialah yang membantuku mendapatkan mu." Cerita Jakson panjang lebar hingga pesanan mereka sampai.
Feby mengangguk paham, ia ingat dulu saat pertama kali ke Indonesia. ia baru tamat SMP. dan yang Kedua kali saat liburan semester waktu ia kelas satu SMA. Semenjak itu setiap liburan semester. selalu datang. Karena permintaan kakeknya. Hingga ia memutuskan kuliah di Indonesia.