
Azizah terpaku melihat senyuman itu. sudah beberapa kali senyuman itu, tapi bukan untuk sembarangan orang. hanya khusus untuk keluarganya saja. Benar kata Bambang, kalau Anrez ramah dan manis pada keluarganya saja.
" Ini buat Abang." Seru Xena menghampirinya sambil berjalan tanpa melihat. ada kaki tenda yang harus di lompati. namun Xena tidak melihatnya. alhasil menyebabkan Xena hampir jatuh
Anrez dan Azizah yang memperlihatkan Xena lari menuju ke arah Azizah duduk sedangkan Anrez berdiri dekatnya.
Azizah akan menangkap tubuh Xena yang juga spontan di sambut Anrez. alhasil keduanya sama-sama menyambut tubuh Xena yang hampir jatuh tersandung kaki tenda.
Xena tersenyum melihat keduanya saling menatap. ia bukannya menangis karena hampir jatuh. tapi malah tertawa melihat Abang nya yang menolong bersama Azizah.
" Hm.! Sudah belum muhrim. jangan terlalu lama. kalau nggak halalkan saja lagi" Goda Bambang yang masih di sekitar mereka.
Anrez pun melepaskan pegangannya spontan. Untung Azizah masih menopang tubuh Xena, kalau nggak mungkin beneran jatuh.
Anisa yang rencana mengambil cemilan buat Bu Aisyah yang duduk bersamanya. tersenyum melihat keadaan tersebut. namun ia pura-pura marah.
" Ad apa ini. apa ada terjadi sesuatu.?" Tanya Anisa yang tegas. Anrez tertunduk, ia tidak berani menatap mamanya.
" Ma. bukan salah siap. aku yang tidak lihat jalan, hingga aku hampir jatuh. Untung aja Abang sama kakak cantik menyambut ku. jadinya nggak jatuh." Bela Xena pada keduanya.
" Benar kah. ya udah Azizah, tolong ambilkan cemilan buat bunda nya ya.dan Anrez ikut mama sebentar.
" Ya Tan." Jawab Azizah gugup.
Anrez hanya diam, ia mengikuti langkah mamanya. Xena juga ikut. takut abangnya di marahin.
" Xena mau ngapain.?" Tanya Anisa yang tau mengekor bersamanya.
" Aku nggak mau mama marahin abang.kan yang salah aku!" Bela Xena kembali.
" Oh. baiklah. mama Hanya mau bicara sama Abang. bukan marahin Abang. Ok! balik sana ya manis mama " perintah Anisa lembut.
Xena pun akhirnya kembali pada Bambang. Bambang pun heran melihat Xena kembali. " Ada apa princess kok sedih.?" Tanyanya.
" Aku takut mama marahin Abang. kan yang salah aku bang Bam." Rengek Xena pada Bambang.
__ADS_1
" Oh. nggak mungkin mamanya marahin Abang An. mungkin mama kangen bicara sama Abang An. kan kita baru beberapa hari ini balik.kangen kali." ucap Bambang menasehati.
" Oh.. beneran ya bang. Abang An nggak kena marah.?" Tanya Xena percaya. Dan di anggukan Bambang. sebenarnya ia nggak tahu benar atau nggak nya.yabg penting Xena aman dulu.
****
Sementara Anisa masuk ke kamar Anrez. ia tidak ingin orang lain mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
" Sayang duduklah..." Perintah Anisa. walaupun Anisa memintanya duduk dengan nada lembut. namun Anrez merasa tidak nyaman. jantungnya dah Dig duh tidak karuan.
"I i Ya ma." Jawabnya gugup.
Annisa terkekeh melihat ke gugupan anaknya. " Kenapa kamu gugup sayang. mama cuman nanya. Apa benar anak bujang mama sudah dewasa.?" Tanya Anis pada anaknya
Anrez sudah paham maksud pertanyaan mamanya." Ma.. ini salah paham, kami tidak sengaja berpegangan. kan tadi spontan menyambut Xena." Ucap Anrez membela diri. benar dugaannya, kalau mamanya pasti menginterogasi masalah ini.
Anisa kembali terkekeh." Sepertinya benih-benih cinta sudah merasuki anak mama. Mama senang kok kalau akhirnya anak mama suka dengan seorang gadis. namun mama juga khawatir." Ucap Anisa yang berubah-ubah.
Anrez bingung dengar ucapan mamanya." Aku kurang paham ma." Jawab Anrez apa adanya
"Semenjak kapan kamu menyukainya. atau tepatnya saling menyukai.?" Tanya Anisa. Anrez tertunduk, kenapa mamanya menanyakan kan tersebut.
" Salah paham apa ?" Tanya Andi yang masuk tiba-tiba. Anisa memukul jidatnya, Anisa khawatir kalau nanti Andi malah mengacaukan.
" Ah nggak mas. baiknya mas keluar dulu. aku mau cerita sama Anrez dulu." Sarkas Anisa.
" Jadi aku nggak boleh tahu tentang anak ku. anakku jauh di seberang sana. aku tidak bisa melihatnya setiap hari. apa yang ia lakukan. aku khawatir sayang.." Bentak Andi.
Anisa kaget. yang ia tahu selama ini Andi diam dan tenang saja, tentang masalah anaknya.
" Maksud mas.?" Tanya Anisa penasaran.
Anrez makin merasa bersalah, ulahnya mama dan papanya bertengkar. kali ini ia melihat keadaan seperti ini. biasanya keduanya saling bermesraan setelah kejadian salah paham dulu. yang sempat membuat mamanya di usir papanya. menuduh mamanya selingkuh dengan ayah Jackson.
" Semenjak penyanderaan dulu. aku khawatir sekali dengan anak ku. apalagi sekarang Edo sudah berkeluarga. dan mungkin Edo tidak bisa lagi mengontrol anak kita. aku khawatir, apalagi kamu bilang Anrez dekat Azizah." Ucap Andi melunak.
__ADS_1
" Pa. ma.. ini salah paham. aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Azizah." Ucap Anrez yang tidak ingin orang tuanya bertengkar karena ini.
Ini hari bahagia harusnya. hari kemenangan umat Islam. tapi kenapa semuanya terjadi.
" Nak.. benar kata papa. kita jauh, mama dan papa khawatir. gimana kalau kami meminang Azizah untuk mu pada Bu Aisyah.?" Tanya Anisa pada intinya.
" Tapi ma. aku punya mimpi. aku tidak ingin mengecek kalian berdua. aku hanya sekedar mengaguminya ma. tak lebih." Ucap Anrez tetap membela diri.
"Papa tidak percaya. ini apa ?" Tanya Andi yang memperlihatkan foto dirinya dan Azizah yang saling tersenyum malu saat di pesawat dan juga di minimarket. saat mereka telah lama tidak ketemu. Setelah kejadian penyanderaan dulu
" Jadi papa meminta Bambang jadi mata-mata aku selama ini.?" Tanya Anrez tidak percaya. pantas saja papanya terlalu dekat dengan Bambang.
" Kamu marah sama papa.?" Tanya balik Andi pada anaknya.
" Nggak. aku tidak menyangka saja. pantas saja papa dekat sekali dengan Bam." Ucap Anrez langsung.
" Benar. semenjak kejadian itu. papa sampai tidak bisa tidur kalau menginy kejadian tersebut. Kau tumpuan kami nak. Saat papa tidak ada lagi. kau lah yang akan menggantikan papa melindungi mereka. terutama adik-adik mu." lirih Andi.
Karena ia merasakan sendiri beban Tersebut, sangat berat. bukan hanya perusahaan dan tanggung jawab yang lainnya. namun yang utama adalah keluarganya.
Anrez memeluk papanya. ia tidak menyangka, kalau papa sekhawatir demikian. sebab yang ia lihat papanya tenang saja. hanya mamanya yang malah heboh.
Anisa juga ikut memeluk keduanya. "itulah sebabnya mama menanyakan ini nak. jika memang kamu menyukai Azizah. baiknya kalian tunangan dulu. Tapi ingat jika kalian berbuat macam-macam. kamu tanggung resikonya." Ancam Anisa.
" Tapi ma." Ucap Anrez yang melepaskan pelukan tersebut.
Andi dan Anisa pun saling menatap. dan mengangkat bahu tanda tidak mengerti.
" Tapi apa.?_ Tanya Anisa.
" Aku tidak mau heboh ma. satu lagi. aku juga tidak mau Azizah terpaksa ma.pa. kalau ia setuju, aku setuju juga.." Jawabnya malu-malu.
Andi memukul lengan anaknya cukup kencang. membuat Anrez menggosoknya.
" Sakit pa." Lirihnya.
__ADS_1
Andi rencana akan memukulnya lagi. tapi Anisa sudah berdiri di depan anaknya. tentu saja Andi tidak bisa berbuat banyak. jika sudah ibu negara yang bertindak. ia bisa pasrah.
Jangan lupa like dan komentar nya ya