
Anrez dan Azizah kembali ke Jerman. mereka melanjutkan studinya. Mereka tidak lagi tidur di kamar terpisah. Anrez pun terang-terangan di depan temannya kalau Azizah adalah istrinya.
"Sayang. nanti kuliah sampai jam berapa.?" Tanya Anrez pada istrinya pagi saat mereka sarapan.
"Matkul cuma dua bang. dan jam siang aku sudah selesai. ada apa ya bang?" Tanya Azizah menatap suaminya.
"Hm! Aku Oh Nanti aku jemput ya. Abang ada perlu dengan ayah. Abang jam 10 sudah selesai. Jadi telpon Abang ya kalau sudah selesai." Jawab Anrez lembut.
"Ya bang." Mereka pun melanjutkan sarapan dan berangkat kuliah setelah selesai.
Anrez membawa mobil ke kampus. karena ia akan langsung ke kantor ayah Jackson. Yang telah berpesan padanya tadi malam.
Hanya lima menit mereka sudah sampai. " Jangan lupa ya Zah." Ucap Anrez mengingatkan saat mereka berpisah.
"Ya bang. sebelum aku pulang, aku kabari." Jawab Azizah sopan
Anrez pun mengangguk setuju. ia pun Keluar dari mobilnya setelah parkir di bagian tepi, karena ia hanya sebentar kuliah.
*****
Selesai kuliah. Anrez langsung ke kantor Ayah nya. Dia berangkat bersama Bambang.
"Hai bro. suaramu makin ganteng saja. setelah 100% jadi suami." Goda Bambang yang telah lama tidak meledeknya.
"HM.! Jawab Anrez singkat.
Bambang memukul lengan Anrez." Idih gila. Eh. gimana kabarnya om dan Tante. aku kangen sama beliau." ucap Bambang yang mengalihkan pembicaraan.
Ia merasa percuma bicara dengan laki-laki di sampingnya, kalau urusan rumah tangganya. Karena Anrez bukan tipikal orang yang mau berbagi tentang masalah keluarga kecilnya.
"Alhamdulillah baik. Oh ya. selama kami pulang ke Indonesia, kamu nggak pernah ke Apartemen.?" Tanya Anrez menyelidik.
__ADS_1
"Nggak. ngapain.. aku bengong sendiri. baik di kantor,. ada teman yang bisa aku goda." Jawab Bambang santai.
"Tapi. apartemen kelihatan bersih. siapa yang bersihkan ya.?" Tanya Anrez sedikit penasaran.
"Oh. itu. Om Edo yang minta orang yang bersihkan. sekali seminggu, mereka ke Apartemen mu bersama Tante Zaenab. sampai orang yang membantu selesai. baru mereka ke Apartemen mereka. kenapa? ada yang hilang?" Tanya Bambang menatap sahabatnya.
"Ah nggak sih. hanya saja. aku heran saja Apartemen sangat bersih.
"Oh. baguslah. Om Edo mengerti ke adaan kalian. kami di sini saja sangat khawatir dengan kondisi kalian yang sempat di kepung itu. Aku sampai nggak bisa nafas saat itu. rasanya aku pengen sekali terbang melindungi kalian." Ucap Bambang serius.
Baginya keluarga Anrez sudah jadi tanggung jawabnya. karena begitu banyak kebaikan yang ia terima. tapi belum bisa satu pun ia membalasnya.
"Ih. lebay. sok pahlawan.!" Ledek Anrez menatap lurus ke depan membawa mobilnya.
"Benar An. aku serius kamu bilang bercanda. Kamu tahu nggak. aku sudah banyak hutang pada keluarga mu. tapi aku belum bisa membalasnya. saat kalian sedang kesulitan aku di sini tidak bisa apa-apa. rasanya aku seperti pecundang tau." Kesal Bambang yang meledeknya.
"Ya deh. percaya. Eh jadi enak ya kamu tinggal di kantor. penasaran aku lihat kamarmu." Ucap Anrez mengalihkan pembicaraan.
"Jadi. ketiganya Orang Indonesia.?" Tanya Anrez penasaran.
"Kok tiga." Tanya Bambang ambigu.
Anrez memukul keningnya sendiri. dan mereka Tah sampai di kantor Jackson. Ia langsung turun tidak menghiraukan Bambang yang masih bengong.
"Eh. kamu nggak mau kerja. mau makan gaji buta?" Tanya Anrez yang melihat Bambang yang masih bengong dalam mobilnya.
"Ya kerja lah. Ah sudahlah. aku langsung ke kantorku. kamu tau kan ruangan Om Jack eh maksudnya Pak Jackson.?" Tanya Bambang meralat. ia tidak mau orang tau hubungannya dengan Jackson.
Padahal Jackson tidak pernah memintanya begitu. namun ia tahu diri, takut nanti para karyawan lain merasa curiga. apalagi teman se kamarnya. Ia tetap menyembunyikan. Ia tidak mempercayai semua orang sesuai pesan Jackson saat kedua temannya itu mau tinggal bersama nya di mes yang di sediakan.
"Ya tau. aku kan pernah di ajak Ayah." Jawabnya pada Bambang yang kemudian masuk beda Life.
__ADS_1
Anrez terus ke ruangan ayahnya. Jackson tak sabar menunggu anaknya tersebut. Karena ada hal yang harus di ketahui dan tanda tangani anaknya tersebut. Dalam kegelisahannya ada ketukan pintu dari luar.
"Assalamualaikum ayah." Ucap Anrez muncul di depan ayahnya.
"Waalaikumsalam nak. duduklah.!" Perintah Jackson.
Anrez pun duduk tepat depan ayahnya. Ia mengamati raut wajah ayahnya yang tidak jasa. apakah ada lagi yang akan terjadi di luar dugaannya. Ia agak gugup.
"Ada apa ayah. kok wajah ayah agak panik begitu.?" Tanya Anrez yang tidak biasa melihatnya. karena yang tahu, Jackson selalu tenang.
"Ini nak. ada surat yang harus kamu tandatangani. surat ini kepemilikan kamu sepenuhnya semua kekayaan kakak Wijaya. yang ayah khawatirkan
kamu tinggal berdua saja, dimana kamu simpan surat ini. ayah sangat khawatir nak." Ucap Jackson yang menyadari keadaan anaknya yang hanya tinggal berdua di apartemen.
"Kenapa di serahkan pada ku ayah. kan ada papa yang lebih berhak. dan l bih tua dari aku." Tanya Anrez heran.
"Ayah dan papa hanya sebagai saksi nak. dan surat ini sengaja ayah bawa kemaren duluan. karena takut situasi di sana masih belum aman." Ucap Jackson mengingatkan.
"Kenapa tidak kita masukkan saja ke asuransi atau apa itu ayah. agar ada jelas penjaminnya. di sana kita buat. yang berhak mengambilnya tentukan. biar lebih aman.
"Nah. itu. ayah pikirkan. ayah harap kamu cepat dapat anak. biar anakmu nanti yang akan mendampingi." Jawab Jackson.
Anrez terpaku."Yah. kenapa nggak adik-adik. Kan ada ketiga adik ku." Tanya Anrez heran.
"Nggak bisa nak. harus keturunan dari yang laki-laki. jika benar tidak ada baru di hibahkan ke anak perempuan. nah kamu kan satu-satunya. makanya kami serahkan pada mu." Jawab Jackson menjelaskan.
"Tapi yah. aku masih belum mampu punya anak. siapa yang akan mengurusnya. kamu sama-sama kuliah,kasihan kalau kamu selalu meninggalkannya." Jawab Anrez yang masih menolaknya.
'Kalau masalah itu. kami yang akan membantu. kan ada bunda dan adik-adik mu. Ayah telah menyiapkan apartemen yang ada di rumah opa. jadi kami bisa jaga ayah bisa jaga kalian semuanya." ucap Jackson.
Anrez hanya bisa pasrah. ia tidak bisa lagi mengelak. "Tapi aku tidak janji jika harus secepatnya yah. kan semuanya kehendak Allah." jawab Anrez.
__ADS_1
Jackson pun mengangguk. menyetujui pernyataan anaknya. benar semuanya ke hendak yang di Atas.