Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Terpaksa Tumbuh Dewasa.


__ADS_3

Jakson sampai di rumah, Namun Feby masih diam. hingga di depan pintu utama. Feby masih kesal, Felisha sengaja mengunggu putrinya takut terjadi apa-apa.


" Waduh putri mama kenapa cemberut nih. kamu apakan putri saya Jakson..? " Tanya Felisha menggoda putrinya.


" Tuh. asisten kakek. kesal.. dikirain aku cewek apaan. di bilang ganjen". jawab Feby kesal.


" Ha.. apa benar Jakson. emang putri saya menggoda kamu? " Tanya Felisha tersenyum.


"Ah.. nggak.. nyonya, tadi pas Nona Feby akan jatuh terdorong mobil. kebetulan ada dokter lewat. nah mereka sempat kenalan


tapi nona Feby nggak menjaga sikap, jadi saya peringatkan, maaf kalau saya lancang." jawab Jakson tertunduk.


" Oh.. nggak apa Jakson. sekarang kamu istirahat.." Jawab Handoko yang baru datang. karena ada suara heboh di luar kamarnya. Yang kebetulan kamarnya dekat dengan pintu utama.


" Baiklah Tuan, saya pamit." ucapnya sungkan.


Jakson pun pamit.


Tapi Feby malah marah-marah.." Tuh kan ma


masak aku di bilang begitu.. ih sebel... " Teriak Feby yang masih bisa di dengar Jakson. Ia tersenyum. dari dulu ia memang suka melihat Feby kesal begitu.


"Ah sudahlah... ini sudah malam, istirahat, kasihan terdengar Anisa. ia juga butuh istirahat dengan kondisinya yang begitu." Jawab Handoko dan Felisha kemudian berlalu ke kamarnya.


Feby pun terpaksa masuk kamarnya yang di atas yang bersebelahan dengan Andi. ia menghentakkan kakinya. hingga Andi keluar mendengar tangga yang heboh.


" Hm. kamu udah pulang dek. kamu baik-baik aja kan. maaf tadi keadaan memaksa." Ucap Andi lembut.


" Nggak apa.. kak! " Jawab Feby pelan.


" Oh. tapi kenapa kamu keliatan kesal tadi.? " Tanya Andi penasaran.


" Nah itu kak. masa aku di bilang ganjen, sama es balok.! " Ucap Feby agak meninggi. keliatan masih kesal.


" Ganjen? . emang kamu goda es balok. apa dia meleleh..? " Tanya Andi yang mengerutkan keningnya nggak. percaya. sebab ia tahu gimana Jakson.


Dan Andi sudah tahu kalau Feby selalu panggil Jakson es balok. pernah di tegur Andi dan kakek. Tapi mau gimana, Jakson memang kaku kayak es balok. ia dulu juga begitu sama cewek lain.


" Nggak lah, ngapain aku goda es balok. waktu kakak jalankan mobil aku kan hampir jatuh tersenggol pintu mobil, nah kebetulan ada dokter Vino yang bantu aku.Aku tentu terimakasih dong. karena sudah bantu.. Nah di bilang aku ganjen " Jawab Feby menjelaskan.


" Oh sudahlah. besok kakak tanya ya.. sekarang istirahat. Kakak tadinya mau minum. tapi kakak dengar tadi ada kayak pemberontakan makanya kakak keburu lihatnya. " Goda Andi. yang membuat Feby mencubitnya.


Andi pun nggak mau kalah, ia pun mencubit hidung adiknya gemes. Dan lari ke dapur mencari air minum.Feby hanya mampu berdecak kesal. Karena ia tak bisa membalas. ia pun masuk kamar.


Paginya sebelum sarapan, Andi sudah rapi. Anisa yang melihat suaminya sudah berpakaian seragam yang rapi. ia heran.


" Hm suamiku ternyata sudah rapih. eh ini nggak mimpikan.? " Tanya Anisa.


Andi memeluk istrinya yang sudah bangun, ia nggak berani membangunkan istrinya terlalu pagi. kasihan melihat istrinya yang kelelahan.


" Udah sayang, ada misi pagi ini.. " Jawab Andi tersenyum mencubit pipi istrinya gemes. dan mencium nya.


" Ada misi. apaan tuh..? " Tanya Anisa penasaran.


" Oh.. Interogasi es balok.. " Jawab Andi santai.


" Hah.. emang ada es balok yang bisa di interogasi..? " Tanya Anisa makin penasaran.


Andi kembali mencium pipi istrinya. " Ada sayang. ini es balok bisa bicara.. mandi gih. sholat nanti keburu siang" Jawab Andi dan berlalu keluar mencari es balok. Anisa nggak bisa mengejar suaminya. karena takut telat sholat.


Andi mengetuk pintu kamar Jakson setiba di depan kamarnya. Jakson keluar. karena ini terlalu pagi. kenapa sudah ada yang ngetuk pintu kamarnya. Dan ia terkejut saat mendapati Tuan mudanya.


" Maaf Tuan Muda kenapa nggak telpon saja. saya jadi nggak enak jika Tuan yang langsung menemui saya." Ucap Jakson sungkan.


" Oh nggak apa. kebetulan saya ada perlu dengan mu.. " Jawab Andi tegas. Ia pun menuju gazebo yang ada di taman belakang.


depan kamar para asisten.


" Saya mau tanya. tentang Feby..? " Tanya Andi santai. Jakson agak sedikit gugup. namun ia mengikuti Andi duduk.

__ADS_1


" Oh maaf Tuan, bukan maksud saya bilang begitu pada nona. hanya saja saya nggak mau orang memandang nona rendah.. " Jawab Jakson tertunduk.


" Kamu suka dengan adik saya..? " Tanya Andi yang membuat Jakson terkejut.


" Maksud Tuan, saya nggak berani, Andai pun ada. itu hanya dalam mimpi saja.. " Jawab Jakson pelan.


"Terima kasih atas jawaban mu. jika kamu ingin meraih hatinya harus berjuang. apakah kamu layak atau tidak, itu tergantung perjuanganmu. selamat berjuang. . " Jawab Andi yang kembali mengejutkan Jakson. Jakson tersenyum malu mendapatkan lampu hijau dari Tuan mudanya.


" Terima kasih Tuan, akan saya perjuangkan. apakah saya layak buat adik Tuan Muda.. " Jawab Jakson mantap. Andi mengangguk dan tersenyum.


" Oh ya hari ini mau ke sekolah. tapi saya nggak mau bawa motor atau mobil sendiri. kamu tahukan sebabnya..? " Tanya Andi.


" Siap kakak ipar." Jawab Jakson tegap.


" Belum boleh.. sebelum lampu merah. Ok! " Ucap Andi dan berlalu.


" Siap..! " Jawab Jakson semangat.


Andi pun pergi ke ruang keluarga, karena ingin sarapan dulu. di ruang makan. semuanya sudah duduk.. Namun tempat duduk kakek masih kosong. ada rasa sedih saat Andi melihatnya.


Anisa yang melihat suaminya datang meminta untuk duduk. " Sayang duduk lah. kami sudah menunggu mu dari tadi.. " Ucap Anisa semangat.


Andi pun duduk di sebelah istrinya. Namun ia di larang papanya. "Andi mulai hari ini kamu pemimpin di keluarga ini. jadi kamu duduklah di kursi yang biasa di duduki kakek mu. " Ucap Handoko yang di setujui Felisha.


" Papa saja. kan papa lebih tua, kenapa aku pa.. nggak pantas lah pa.. " Jawab Andi kurang setuju.


' Nak.. ini emang harusnya. karena kakek mu cerita sebelum papa pergi terakhir kemaren. semua Aset kakek mu yang ada di sini. itu atas nama kamu kecuali butik milik nenekmu untuk Feby. Kamu kan tahu papa di London." Jawab Handoko.


" Tapi pa. ! "Bantah Andi keberatan.


" Nak. mau tidak mau. kamu harus mau. dan tidak bisa di bantah. kalau mau protes sana sama kakek mu. dan kami di sini hanya beberapa hari lagi. Jakson siap membantu mu. kalau Rumah Sakit di bantu dokter Reyhan. " Terang Handoko.


" Iya pa. jawab Andi lirih. rasanya ia belum siap. pantas kakek dulu marah-marah saat ia menolak permintaan kakeknya untuk belajar. Sekarang apa lagi cara ia menolak. beban sudah di pundaknya. Yang harus siap ia pikul.


Ada rasa canggung, saat ia duduk di kursi yang biasa kakeknya duduki. lalu mereka sarapan. Anisa mengambilkan sarapan buat suaminya. Ia paham beban pikiran suaminya. saat ini ia juga harus bersiap untuk Olimpiade. Benar berat tanggung jawab suaminya. ia harus membantunya agar suaminya kuat.


Hari berlalu tak terasa sudah tiba saatnya Andi ikut lomba Olimpiade antar sekolah, Anisa ikut mendampingi. walau di bantu oleh Buk Ayu. Karena pak Burhan yakin, di balik ke jutek kan Buk Ayu. tapi ia pro pada siswa yang ingin maju.


" Semangat ya.." Ucap Anisa dengan mimik mulutnya melihat ke arah suaminya. Andi membalas dengan senyuman.


Melihat interaksi Anisa dengan Andi. Buk Ayu merasa aneh. namun ia tak berani bertanya. Karena pak Burhan memberi tahu. kalau Andi itu pemilik Ketua Yayasan tempat ia mengajar sekarang.


Setelah ujian selesai, Andi mendekati istrinya. ia mengambil minuman bekas Anisa. tanpa ia sadari Buk Ayu melihatnya.


" Moga kalian berhasil ya. ibuk optimistis pada kalian." Ucap Anisa semangat. Para siswa pun mengangguk semangat.


Mereka kembali ke sekolah, Andi mengajak Anisa naik ke mobil yang di bawanya. dan yang lain naik ke mobil sekolah yang juga ada Buk Ayu.


" Buk Anisa sama saya saja. kasihan ibuk kan lagi hamil muda.." Ajak Andi. yang di anggukan Anisa.


" Buk Ayu nggak apa kan.. sama siswa yang lain..? " Tanya Andi menyelidiki.


" Ah nggak apa.. ibuk sama mereka saja. lagian nggak ada yang mengawasi mereka nanti." Jawab Buk Ayu gugup.


Mobil sekolah yang di naikin Buk Ayu langsung ke sekolah. sementara Andi naik ke mobilnya. ia mengajak istrinya makan dulu di kafe miliknya. Ia menggantikan pakaian sebelum berangkat.


"Sayang.. seperti nya buk Ayu mulai curiga deh..? " Tanya Anisa.


" Biarlah.. lagian dia nggak bisa julik sama suami mu ini. kalau masih ingin mengajar di sekolah kita.." Jawab Andi santai.


' Maksudnya gimana sayang..? " Tanya Anisa penasaran..


Andi mengusap perut istrinya lembut. " Sepertinya ibumu sekarang sudah suka kepo ya nak..? " Tanya Andi pada calon bayi mereka yang masih berumur 3 bulan lebih.


" Ih.. lain di tanya jawabnya apa. kebiasaan.. " Kesal Anisa..


Andi menghentikan mobilnya pelan." Sayang.. nggak usah pikirkan yang hanya akan mengganggu mental anak kita. banyak heppy saja. ingat nih yang di dalam. ia butuh ibunya. ok..! " Nasehat Andi dan mencium bibir istrinya lembut.


Anisa terpaku. umur suaminya memang lebih muda darinya Empat tahu. tapi pikiran suaminya lebih matang dari dia. yang akhir-akhir ini malah manja.

__ADS_1


" Maaf. aku terlalu merepotkan mu.. " Jawab Anisa lembut dan tersenyum. Andi membelai rambut istrinya, dan tersenyum. ia pun melajukan mobilnya yang sebentar lagi sampai di kafe.


Mereka memilih duduk di gazebo taman. karena konsep kafe yang di buat Andi dulu telah di buka. ini minggu ke dua setelah restoran nya buka. Semenjak di buka tidak pernah sepi. Karena harga yang bervariasi. Tergantung pesanannya. harga makan luar agak mahal dengan makanan lokal. Jadi semua kalangan bisa saja makan di sana. Jika ingin privasi ada di sediakan tempatnya.


" Tuan. kenapa nggak di dalam saja. di sini rame.. dan banyak... " Belum siap Boby kaki kanan Andi untuk mengelola Restoran yang di beri nama Kafe AAN. ( Andi dan Anisa ).


" Saya ingin melihat situasi sambil menikmati makan.. " Jawab Andi yang di anggukan sopan oleh Boby.


Tak lama makanan mereka sampai. Namun setelah pelayan meletakkan makanan mereka. Tiba-tiba dari gazebo di sebelah protes.


" Hai pelayan. mereka kan baru datang. kami dari tadi yang harusnya duluan di antar pesanannya. Kami sudah lama menunggu." protes laki-laki yang berdiri di depan Boby.


" Eh. ka.. " Lagi -lagi Andi memotong ucapan Boby.


" Maaf ya pak. kami memang baru datang.. tapi sudah pesan duluan, jadi kalau bapak mau cepat boleh pesan online sebelum sampai di sini... " Jawab Andi ramah.


Anisa tertegun dengan jawaban Andi yang tidak memojokkan siapa pun.


" Oh.. saya nggak tahu.. maaf kalau begitu.." Jawab laki-laki tersebut.


Andi memberi kode pada Boby. ia pun paham. " Pesanan bapak mau sampai.. " Jawab Boby yang di anggukan laki-laki tersebut.


" Sayang.. aku terharu.. " Jawab Anisa lirih. yang masih di dengar suaminya.


' Sudahlah. ayok makan. nanti kasihan si cabang tuh. atau mau aku suapin sayang. " Jawab Andi menggoda.


Anisa tersenyum malu. tak lama pelayanan datang membawa pesanan orang yang protes tadi.


Setelah selesai makan. Andi pun mengajak istrinya ke ruangannya. Yang masih terlihat oleh laki-laki yang protes tadi. ia terkejut. Karena di situ tertulis ruangan bos.


Laki-laki tersebut mengerut kan kening nya. dia menghampiri pelayanan yang kebetulan lewat di depannya.


" Eh maaf. itu ruangan bos kalian. tapi saya lihat sepasang pemuda masuk ke sana. apa itu boleh..? " Tanya laki-laki tersebut penasaran.


" Oh. itu bos kami. Pak Andi dan Buk Anisa... " Jawab pelayanan yang membuat laki-laki tersebut terkejut. ia pun kembali duduk. karena anaknya masih main dengan nyaman. di bagian taman tersebut. Andi sengaja buat tempat main buat anak-anak yang kebetulan bawa anak. hingga pembeli yang bawa anak tidak terganggu dan nyaman.


Sementara Boby menemui Andi di ruangannya. dan duduk menunduk di depan meja.


"Maaf Pak. kesalahan saya tadi.. " ucap Boby lemah.


" Ah kamu nggak salah.. oh ya.. apakah kalian merasa kerepotan. jika ia baiknya kita tambah pelayanan. tapi adakan seleksi dulu. saya tidak ingin anak muda yang pemalas.. Dan utamakan kenyamanan tamu..! " Ucap Andi lembut namun tegas.


" Baik Pak.. terimakasih pembelaan bapak.. " Jawab Boby sungkan.


" Nggak perlu terimakasih. oh ya apakah kita perlu buka pesanan online.? " Tanya Andi mengingat ucapannya sendiri.


" Itu ide bagus. Kita juga bantu ojek online. berarti menambah lowongan kerja.. " Jawab Anisa mantap.


" Goodjob buat istri ku yang cantik ini.. " Ucap Andi mencium pipi istrinya yang duduk di sebelah nya. Boby merasa malu melihat pasangan yang di depannya.


" Ya buk. saya setuju juga.. Tapi apakah bapak punya rekomendasi untuk seseorang yang melakukan panggilan khusus pesanan online.. " Tanya Boby.


Andi tampak berpikir..... Tiba-tiba Anisa mengagetkan nya." Sayang.. kan sudah siap ujian akhir. kenapa kamu nggak ajak Roby. kan ia santai saja tuh. lagian ia ahli di bidang ini.." Usul Anisa...


" Mantap istri ku. ok aku telpon dulu ya sayang.. " Ucap Andi dan segera menghubungi sobatnya.


Roby ( Apa kabar bro.. masih ingat gue..? )


Andi ( Yah terpaksa.. istri ku yang mengingatkan).


Roby ( Jangan bilang kamu cemburu. ha.. ha..)


Andi ( Nggak level..)


Roby ( Ada apa sih..)


Andi. ( Kamu libur nggak. datang ke kafe gue sekarang, ntar gue sherlock).


Roby ( Ok.. tapi...)

__ADS_1


Andi audah memutuskan sambungan teleponnya. Sementara Roby kesal. " Kebiasaan belum selesai sudah matiin saja." Sungut Roby. Namun ia tetap menemui sobatnya tersebut ke KafeAAN. Karena Andi sudah mengirim lokasinya.


Jangan lupa like dan komentar nya ya


__ADS_2