
Sampai di rumah. Sudah satpam membuka pintu. di rumah ada beberapa orang satpam. Anrez dan Azizah terkejut. apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka tidak memberitahu.
"Pa.." Anrez langsung mencegat tangan papanya yang hendak kembali naik mobil.
"Sebentar ya nak. tanya mama dulu. papa mau ke tempat Pak RT dulu ya." Jawab Andi dan di anggukan Anrez.
Anisa telah menyambut kedatangannya di depan pintu. ia segera memeluk Azizah yang duluan masuk.
"Kalian nggak apa-apa nak. mama tegang sekali saat pengawal Jo menelpon." Anisa sangat khawatir. mereka pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam. Viona dan Ratu telah duduk di ruang keluarga. menunggu mereka. Ratu berlarian mengejar abangnya.
"Bang. aku takut sekali.." Ratu memeluk erat abangnya. Anrez pun balas memeluknya
"Aku belum sempat tanya papa. dan aku tak mau mama menolaknya lagi. aku bingung ma. saat ayah mengantar kami semalam. Ada apa sebenarnya ma. Dan apa yang di titipkan ayah untuk papa.?" Tanya Anrez yang tidak tahan menahan penasarannya.
Anisa menarik anaknya duduk."Sebenarnya. situasi perusahaan sedang goncang nak. perusahaan sedang di retas oleh orang kepercayaan Papa. dan dokumen yang kamu bawa itu. adalah dokumen penting. Dan tidak bisa di kirim melalui email. papa dan ayah takut kalau bocor juga.maaf telah melibatkan kalian." Jawab Anisa membuat Anrez dan Azizah paham.
"Untuk sementara. kita akan pindah dulu ke kampung nenek. dan kita akan berangkat nanti malam. dan ayah sudah mengirim pengawal kepercayaan Ayahmu. Ayah mu tidak tenang di sana. mungkin ia akan ke sini menyelesaikan semuanya. sebab hanya ia tahu kunci rahasia perusahaan yang masih bisa di selamatkan nak." Cerita Anisa.
Anrez mengangguk."Pantas ayah kesannya khawatir sekali, dan berpesan. tidak boleh melepas ransel yang berisi dokumen tersebut. dan Papa sempat memberikannya pada pengawal ayah. dan untung waktu ada pemboikot jalan. aku langsung menyambar kembali tasnya." Jawab Anrez yang merasa beruntung.
"Yah benar nak. mungkin kita akan di kawal satu orang teman ayah. yang sepertinya akan datang hari ini." Jawab Anisa.
Benar saja ada ketukan pintu.. Ada seorang laki-laki yang umurnya tidak terlalu jauh dengan Anrez. badannya tinggi tegap. tapi hanya berpakaian kaos dan topi. seperti anak muda biasa saja.
Jackson sudah mengirim foto orang dan namanya pada Andi dan Anisa. jadi saat Anisa melihatnya langsung saja menyambutnya.
" Silahkan masuk. Kamu Roger kan.?" Tanya Anisa yang di anggukan lelaki tersebut.
__ADS_1
" Kalau begitu masuklah." Ucap Anisa. namun di gelengkan.
"Nggak buk. maaf. kalian sudah siap. kita sepertinya langsung berangkat, agar tidak terlambat." Jawab Roger tenang.
"Apa kita tidak menunggu papa dulu.?" Tanah Anrez yang takut papanya kenapa-napa.
"Tidak... tadi saya sudah bertemu beliau. dan beliau yang meminta menjemput. Jangan bawa barang yang banyak. Apa kalian sudah siap.?" Tanya Roger mantap.
"Sudah nak Roger." Jawab Anisa.
Semuanya pun keluar, mereka terkejut. di depan rumah ada sebuah mobil SUV. Bukan memakai mobil mereka yang ada di garasi. mereka masuk ke mobil yang agak besar dan tinggi. Mungkin karena perjalanan mereka agak ekstrim.
"Silahkan buk." Ucap Roger memberitahukan.
Anisa pun naik dan di ikuti yang lain.
Setelah semuanya naik. Seseorang telah membawa mobil tersebut dan sampai di dekat rumah Pak RT. Andi sudah menanti. mobil yang di bawanya tadi. dititip di rumah pak RT.
"Sudah nak. mama nggak bisa berbuat apa-apa. selain mengikuti kemana kalian." Jawab Viona berusaha tersenyum, agar semuanya kuat.
Mobil pun berjalan kencang. sepertinya sopirnya sangat lincah. Riger duduk di samping sopir memberi perintah dengan cepat.
"Oh ya pak buk. ini teman saya Bian. dia teman seangkatan saya. Dan kita sudah di didik semenjak pak Wijaya masih hidup. Kita di ambil dari jalanan dan di latih di markas. Dan sekarang tiba saatnya kami mengabdika diri atas kebaikan beliau. Dan perlu di ketahui. Yang meretas perusahaan bapak. juga salah satu teman kami. Ada yang bertugas menjemput kalian berdua ke bandara lagi tadi, juga telah berkhianat..." Ucap Roger memberitahukan.
"Lantas... kenapa tidak kalian langsung jemput kamu ke bandara.?" Tanya Anrez penasaran.
"Karena kamu ingin bukti. ternyata benar. Kami ada 10 Orang, dan telah berkhianat 3 orang. Jadi kami berdua menemani kalian. berdua di markas. berdua di perusahaan dan satu di rumah. Karena ada satpam yang akan membantu ya kan Pak?" Tanya Roger pada Andi.
"Benar. Papa sudah minta bantuan pada Pak RT. agar menambah pengawal dari Intel yang menyamar sebagai satpam, dan itu telah ada. Mereka menyamar sebagai satpam komplek yang berjaga-jaga di sepanjang jalan. hanya Pak RT. papa dan pengawal yang tahu itu. mengurangi kecurigaan." Jawab Andi.
__ADS_1
Semuanya pun diam mengerti ke adaan semuanya. Perjalanan mereka menempuh jalan penduduk. bukan jalan utama. agar tidak mudah di lacak.
"Mobil yang biasa di bawa pak Andi telah di beri pelacak. makanya saat di bandara mereka langsung menabrak. agar kalian tidak curiga." Cerita Roger.
"Pantasan. Agak aneh.." Jawab Anrez.
"Ya nak. papa tidak tahu.. sampai di kampung mama mu. kakian harus belajar bela diri semuanya. baik wanita pun. karena kita tidak tahu bahaya apa yang akan kalian hadapi. lagian Om kalian juga pandai bela diri." Sambung Andi membuat Ratu terkejut.
"Benarkah pa. wah keren deh Om aku." Ucap Ratu bangga.Anisa tertawa mendengar pujian anaknya. yang tidak lagi tegang seperti tadi.
Perjalanan yang di tempuh 5 jam tersebut akhirnya sampai di saat hari sudah lewat Zuhur, mereka sengaja tidak singgah di jalan. agar cepat sampai.
Keluarga Anisa tentu saja sangat bahagia ke datangan anak dan cucunya. Gilang pun memeluk ponakan cantiknya.
"Hm! makin cantik aja deh ponakan Om." Seru Gilang saat memeluk ponakannya yang baru turun.
"Ah iyalah Om. kan ponakan Om. Om nya ganteng, masak ponakannya jelek." Kelakar Ratu.
Suasana yang tegang tadi. sedikit mencair. Gilang memang pandai mengalihkan suasana yang membuat keluarga kakaknya ketakutan.
Dia telah di beritahukan oleh Andi semalam. Dan mereka telah menyiapkan rumah buat menampung kakaknya sekeluarga. Karena rumah yang di baru selesai tersebu. uang kiriman Anisa juga untuk ibunya tiap bulan.
"Nah. penghuni rumah sudah datang. selamat datang di rumah barunya. eh tapi nggak sebagus rumah di Jakarta ya nduk.." Ucap Ibunya Anisa.
"Ibu.. aku nggak nyangka.. ini bukan punya aku Bu. hak ibu.. " Jawab Anisa malu pada dirinya yang tidak tahu di perlakukan begitu.
"He...he.. ini kejutan. Oh ya Buk Viona. Maaf ya.. kalau kurang berkenan.." Ucap Bu Anisa basa basi.
" Ini lebih dari cukup Bu. saya yang malah merepotkan nih.." Jawab Viona sungkan.
__ADS_1
Mereka pun tertawa. Rasa lelah dan takut hilang. mereka makan bersama dulu, agar tidak sakit. Dan baru mereka sholat Zhuhur yang agak lewat. Karena situasi, mau bagaimana mana lagi.
Mereka pun beristirahat di kamar yang telah di sediakan. semuanya dapat kamar berdua. Karena kamarnya ada empat. otomatis, Azizah dan Anrez se kamar. Karena Anisa dan suami. Ratu dan nenek dan dua bodyguard di kamar paling kecil di belakang. mereka yang minta. karena kamarnya ada di depan paviliun. jadi ada akses pintu keluar sendiri.