Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Ungkapan perasaan Anrez


__ADS_3

Malam. anak panti sibuk dengan mengaji di ruang yang di buat seolah jadi ruang serba guna. di sana juga ada panggung dan sebelahnya ada sajadah. jika ada mau sholat berjamaah.


Jadi anak- anak kumpul di sana mengaji setelah sholat magrib berjamaah. sebagai imamnya Roger.


Anrez tak menyangka, bacaan Roger sangat bagus. dan indah di dengar. walau pun ia bisa juga ngaji dan menjadi imam di rumahnya. Namun ia belum belum berani Jadi imam di tempat yang rame seperti saat ini.


"Wah. aku nggak nyangka suara Abang bagus sekali." Ucap Anrez memujinya.


Roger tersenyum mendengar tanggapan Anrez."HM! semua ini berkat Tuan Wijaya kakek mu. Kami di bekali bukan hanya ilmu dunia tapi juga ilmu akhirat. makanya aku heran saat teman ku yang berkhianat tersebut. Karena Tuan Wijaya mau. kami bukan hanya ahli dalam duniawi tapi juga ilmu akhirat." Roger menjelaskan.


"Benar Bang. aku juga seperti itu. tapi aku harus masih banyak belajar. Papa selalu memarahiku dulu jika aku nggak ngaji sehari waktu masih SD." Jawab Anrez mengingat kerasnya papanya dulu mendidiknya.


"Nggak apa. apalagi kamu sekarang kan sudah jadi imam. jadi harus punya ilmu yang banyak bekal mendidik anak kalian nanti " Ucap Roger menasehati.


Anrez tertawa." Kenapa kamu tertawa. apa ada yang aneh?" Tanya Roger heran melihat Anrez tertawa.


"HM! Sepertinya Abang sudah matang. ibarat mangga udah ranum dan siap di petik dan nikmati. nah Abang tunggu apa lagi. tuh sudah ada juga tuh orangnya. langsung aja gerak cepat bang." Ledek Anrez.


Roger memukul lengan Anrez hingga laki-laki muda tersebut meringis menahan sakit.


"Sakit lah bang." Rintih Anrez.


"Itu balasan buat orang yang julit." Jawab Roger dan berlalu bangkit.


Anrez pun mengikuti langkahnya menuju keluar. di depan panti ada meja rotan yang sengaja di letakkan untuk santai.

__ADS_1


"Bang. aku nggak bercanda. kalau aku perhatikan, sepertinya Hani juga menyukai mu bang. toh bunda Aisyah juga sepertinya menyukai Abang." Ucap Anrez serius.


"Tidak semudah itu. Abang harus jelas dulu kedudukan pekerjaan Abang. dan rumah tempat tinggal Abang dan keluarga nanti. beda dengan kamu yang sudah tersedia semuanya." ucap Roger menjelaskan.


Anrez terdiam. benar ia tak sampai memikirkan semuanya. ia hanya di minta untuk belajar dan belajar. Anrez menarik nafas dalam.


"Ucapan Abang benar. aku belum kepikiran sampai sana. karena semuanya serba mendadak. Lagian aku belum punya rencana untuk menikah muda dulunya. Makanya aku mengambil kuliah jauh dari orang tuaku. agar aku bebas dalam menentukan masa depanku. nyatanya semuanya tetap telah di atur, dan aku hanya menjalani sesuai alur yang telah di tentukan orang tuaku." Ucap Anrez sendu.


Ia baru menyadari semuanya. selama ini tidak sedikit pun terpikirkan oleh nya.


"Kamu tuh nggak salah. karena memang begitulah kehidupan keluarga Tuan Wijaya dari dulu nya. mulai dari Pak Hendra. papa mu dan kamu dek.Tuan Wijaya bahkan menjodohkan mama mu dengan papamu. walau papa mu yang sangat mencintai mama mu. bahkan rela tinggal kelas agar selalu bisa bertemu dengan mama yang mengajarnya setiap hari." cerita Roger.


Anrez sangat kaget. ia tidak tahu hal tersebut, dan tidak ada yang menceritakannya."Maksud Abang. Papa sengaja tinggal kelas hanya ingin ketemu mama terus.waw.. so sweet sekali papa ku. emang sih keliatan sekali papa sangat mencintai mama. saat berpisah satu bulan kemarin. saat PC seolah tidak melihat kami. yang di perhatikan. mama saja.". Ucap Anrez mengingatnya.


Pas Azizah keluar membawa minuman dan cemilan dengan sebuah Napan. Azizah menunduk, Anrez kebingungan melihat keadaan tersebut. Sedangkan Roger hanya santai. Azizah meletakkan napan dan segera masuk ke dalam. Anrez memperhatikan wajah Azizah yang sendu.


"Abang apaan sih. kok ngomong kayak gitu. lihat istri pasti salah paham." Ucap Anrez kesal.


"Kenapa kamu marah. kenapa kamu nggak jawab saja tadi, kalau kamu sebenernya cinta kan sama Azizah. beres. atau sebaliknya." Jawab Roger santai.


"Aduh Abang kok tega ya. aku kan belum pengalaman membujuk cewek yang ngambek bang.ah.. Abang kesal deh sama Abang." Anrez berdiri menuju kamar. Dimana istrinya masuk setelah meletakkan napan berisi air dan cemilan untuknya dan Roger.


Anrez membuka pintu kamar pelan. tidak ada Azizah di kamar. dan di dapati Azizah sedang duduk di sajadah dengan memakai mukenah. ia memegang Al Qur'an. Anrez tidak berani mendekat. takut salah lagi. Ia pun akhirnya balik lagi ke luar. Karena suara azan Isya dari anak panti di mushola dekat ruang serba guna.


Anrez mengambil wudhu. dan di dapati Roger juga ada di sana. Ia ingin sekali memukul Roger yang telah membuat istrinya salah paham. Karena terlihat sekali wajah sendu Azizah saat meletakan napan.

__ADS_1


Namun Anrez diam saja. menahan diri, ia pun berkumpul bersama anak-anak panti yang laki-laki. sampai azan siap.


Setelah azan selesai. Roger meminta Anrez untuk mengimami."Sekarang gantian An. biar kamu bisa mengasah kemampuan mu. Dan kapan lagi latihannya." Ucap Roger memberi semangat.


"Tapi Abang di belakang ku ya. nanti kalau aku salah. biar dapat bantuan langsung." Mohon Anrez.Roger mengangguk. Anrez harus mencoba. sebagai latihan mental.


Dengan sedikit grogi. Anrez maju sebagai imam. Seperti kebiasaan Anrez melihat kebelakang memberi aba-aba untuk meluruskan saf nya.


Pandangan matanya sedikit tertuju ke arah barisan perempuan dan ia melihat istrinya. pandangan mereka berhenti sejenak dan dengan cepat Azizah menghindar. Anrez pun tersadar. ia pun memimpin sholat isya malam itu. walau hatinya sedikit resah.Namun ia bisa mengendalikan perasaan hingga sholat selesai.


Setelah sholat berjamaah. Anrez masuk kamar, ia harus menyelesaikan ke salah pahaman ini. ia tak ingin berlarut-larut.


Ia masuk dan belum di dapati istrinya. Anrez membuka baju Koko yang ia pakai. dan masuklah Azizah. ia terpaku di depan pintu


"Kenapa berdiri di sana, masuklah.!" Perintah Anrez. Azizah pun masuk dengan langkah berat.


"Duduklah. mungkin tadi Zah mendengar sepenggal pembicaraan kami. jadi Abang harap kamu jangan salah paham. Dulu! Emang Abang belum mencintaimu. tapi lama kelamaan rasa itu hadir seiring waktu berjalan." Ucap Anrez menjelaskan.


Azizah yang menunduk menengadahkan wajahnya. ia menatap suaminya cukup lama. "Aku sadar kok bang. Tapi aku tidak mau Abang memaksakan diri." Jawab Azizah pelan.


Anrez pun mengangkat dagu istrinya. "Zah. Abang tidak bisa menggombal seperti pencinta di luar sana. tapi Abang tidak pernah punya niat untuk menduakan. Bagi Abang cukup hanya satu istri, tidak ada yang lain." Jawab Anrez membuat Azizah tersenyum malu.


"Kenyataan Abang bisa juga menggombal." Ledek Azizah.


"Terpaksa untuk meyakinkanmu. Jawab Anrez grogi. Keduanya tersenyum malu. padahal pernikahan mereka hampir saja satu tahun. Tapi mereka seolah baru jadi pengantin baru.

__ADS_1


__ADS_2