
Si kembar beda ibu tersebut sampai rumah, langsung marah-marah dan mengamuk nggak jelas. terutama Cantika.
" Ih sebel.. aku kan masih mau main, kok udah di suruh pulang. tapi abang masih bisa kegiatan sekolahnya.. aku kok tidak boleh...! " Cantika melepaskan kekesalan pada bundanya Feby.
Feby yang melihat anaknya yang pulang uring-uringan. hanya tersenyum saja. ia tahu apa masalahnya. Namun santai saja tidak menanggapi ucapan anaknya.
Sedangkan Ratu hanya berlalu ke kamar dengan keadaan lesu. Sepertinya orangtuanya belum memberikan kebebasan sepenuhnya, padahal sudah SMP.
Feby dan mamanya Sovia hanya mampu mengangkat bahu melihat tingkah ABG di depannya.
Feby kembali fokus dengan Xena yang dari asyik menggambar. ia tidak terlalu perduli dengan kekesalan kakaknya.
" Sudah selesai sayang.. " Tanya Feby melihat Xena menutup pewarnanya.
" Udah bunda. nih.. ini keluarga kita. sangat banyak. Teman-teman ku pasti iri. mereka kan paling tiga, emat. aku banyak..... sekali.. " Ucap Xena bangga.
__ADS_1
Ia melihat gambar Xena yang penuh dengan bentuk orang yang banyak. Feby ingin bertanya. tapi Xena keburu menutupnya.
" Sudah selesai ya. kita simpan lagi peralatannya. trus bobok siang lagi." Ajak Feby pada putrinya.
" Iya bunda. mama kok belum pulang bun. aku kangen. " Dengernya di gendongan Feby saat mengantarkannya ke kamar.
Feby memasang tampang sedihnya." Jadi Xena nggak kangen bunda.. ? " Tanya Feby pura-pura sedih.
Xena langsung memeluk Feby dan mencium pipinya. " Bunda kan sudah di sini. kok masih kangen.. kalau mama nggak ada.. mkanya Xena kangen bund.." Cubit Xena pada pipi bundanya.
Feby menidurkan Xena. dengan membacakan dongeng, akhirnya ia tertidur. Feby menyelimuti putrinya dan keluar dari kamar.
" Kenapa nak..? " Tanyanya dengan penuh selidik.
Feby pun kaget. karena setelah pembicaraan dengan Xena. fikirannya tidak fokus. " Ah mama.. aku kaget sekali ma.." Sarkasnya sedih.
__ADS_1
Sovia pun mendekatinya yang duduk di sofa ruang tamu. " Ceritalah pada mama.. " Ucap Sovia membelai punggung anaknya.
Feby menatap mamanya. " Ma.. aku kok merasa mesin pencetak anak saja.. tapi tidak di butuhkan setelah anaknya besar." Ucap Feby ambigu.
Sovia oun tertawa mendengar cerita anaknya. itu membuat Feby makin sedih. " ma.. aku serius..! " Kesalnya.
Sovia pun menghentikan tawanya. " Sebenarnya ada apa. kok sampai mencetak anak segala sih ceritanya.." Tanya Sovia dengan mut serius.
" Ma.. Anak-anak lebih membutuhkan mbak Anisa membandingkan aku. khusus nya anak kandung ku sendiri. seperti Cantika dan Xena. aku seolah hanya ibu tiri bagi mereka.." Curhat Feby yang mengganjal hatinya selama ini.
Sovia kembali tertawa. ia sampai mengeluarkan air matanya katena saking tak tahan dengan cerita anaknya.
Feby menutup mulut mamanya kesal. Sovia kembali terdiam. " cerita kamu bikin mama sakit perut. kamu merasa ibu kandung serasa ibu tiri gitu.. jika mereka tahu mendengar cerita kamu ini. habis kamu di goda Andi... " Ucap Sovia.
" Habisnya. aku kadang kecewa ma. anak-anak selalu menomor satukan mbak Anisa. Sedangkan aku sesudahnya. contohnya tadi. Jelas-jelas aku yang menemani Xena menggambar. tapi malah menanyakanmbak Nisa. kangen katanya.. aku kan sedih ma.. " Cerita Feby mencurahkan unek-unek nya.
__ADS_1
Sovia membelai punggung anaknya." Sayang.. di hati anak-anak punya cinta untuk masing-masing kita. mungkin Anjsa lebih memahami karakter mereka. karena Anisa memang ahli dalam itu. bukan berarti mereka tidak membutuhkan mu. cobalah lebih banyak bercerita dengan mereka. mungkin dengan begitu. mereka merasa lebih dekat seperti yang kamu mau... ingat ya nak. semua anak akan nyaman jika sering di rangkuh. " nasehat Sovia.
Setelah kepergian mamanya. Feby pun menyadari. " Benar kata mama. sesibuk apapun mbak Nisa, masih sempat bermain dan bercerita dengan anak-anak. tapi aku yang hanya kesibukan di butik. tapi sangat jarang sekali bercengkrama dengan mereka." Ucapnya lirih.