
Psikiater yang di minta Jackson pada anak buahnya pun datang. Dan membawa permainan monopoli. Dengan dibagi dua kubu. Kubu Anrez sama Gilang. Sedangkan Bambang bersama Edo.
Kedua kubu memperebutkan beberapa rumah dan hotel dan lainnya. Sedangkan yang wanitanya bagi tugas menjadi petugas bank. petugas PLN dan lainnya.
Mereka bermain sambil tertawa. semuanya karena ulah Gilang dan Bambang yang sama-sama buat ulah.
Khusus untuk anak, permainan telah menjadi bagian dari konseling, dimana seolah psikiater menggunakan teknik permainan sebagai suatu metode psikoterapis pada anak.
Pada literatur tentang konseling anak, terdapat empat fungsi besar permainan. yang dapat di gunakan untuk konseling.
Pertama; permainan merupakan bentuk ekspresi yang di alami pada anak.
Kedua, anak juga menggunakan bahasa permainan sebagai alat untuk Berkomunikasi dengan konselor.
Ketiga,permainan sebagai sarana terciptanya insight. Konseptualisasi yang membahas fungsi ini adalah psiko dinamik.
Keempat, permainan memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih beragam ide, perilaku interpersonal, dan ekspresi verbal.
Permainan yang dilaksanakan terjadi di lingkungan yang aman artinya permainan tersebut disertai orang dewasa. Sehingga anak dapat mencoba dan melatih berbagai ekspresi dan perilaku tanpa mempedulikan akibatnya di dunia nyata.
Permainan tersebut di menangkan oleh kubu Anrez dan Gilang.Dan yang kalah terpaksa menggendong yang menang.
Edo menggendong Gilang. sedang Bambang menggendong Anrez. Cantika dan Ratu sangat heboh. Xena pun ikut berteriak melihat orang dewasa saling gendong.
Kemudian Ia melihat bundanya yang mondar mandi mengantar makanan ke meja di samping rumah.
" Hm!. harum sekali bund."Ucap Xena mendekati bundanya
" Oh ya. Kamu lapar ya nak. eh tadi bunda lihat seru mainnya." Tanya Feby pada anaknya.
" Seru bund. Bang Bam sama Om Edo kalah." Ucap Xena sambil tertawa.Mengingat Bambang gendong Anrez yang jatuh -jatuh.
"Wah. seru ya. sekarang panggil mereka ya. kita makan sama-sama." Ucap Feby menyarankan.
" Ok bund.!" Jawab Xena berlalu ke ruang keluarga.
Andi. Jackson dan mertuanya duduk santai di taman belakang. mereka ngobrol kemana-mana.
"Mudah-mudahan trauma mereka hilang ya bang." Ucap Jackson yang mengingat bagaimana sikap anaknya yang ketakutan di atas mobil semalam.
"Amin." Ucap Andi dan juga mertuanya.
__ADS_1
"Kalian harus tetap waspada. mungkin banyak yang tidak suka atau iri dengan kesuksesan kalian." Nasehat pak Burhan mertua Andi.
"Ya pak." Jawab Andi paham. Benar kata mertuanya, mungkin setelah ini. akan banyak mencari kelemahannya.
"Kami sudah menyiapkan pengawal pada anak-anak. Tanpa sepengetahuan mereka." Jawab Jackson.
Pak Burhan pun senang. karena tidak perlu ia cemas dengan anak dan cucunya lagi.
Handphone Jackson berbunyi, ternyata panggilan Vidio dari pak Frans
Ia mendapat berita tentang kejadian yang menimpa anak dan cucunya.Jackson pun akhirnya menceritakan kejadiannya.
"Papi merasa kasihan dengan mereka. setahun yang lalu baru mengalami penyanderaan. sekarang terulang lagi." Ucap Pak Frans.
"Ya pi. Aku juga." Jawab Jackson sedih.
"Oh ya pi. nanti kalau mereka di sana tolong jaga mereka ya pi." Mohon Andi pada orang tua iparnya itu. Karena ia khawatir sekali.
"Tentu nak. mereka adalah cucu papi juga. nggak mungkin papi membiarkannya saja. Mereka tinggal serumah atau bersama.?" Tanya pak Frans memastikan.
" Oh serumah Pi. Edo kan sudah pindah ke apartemen di bawah dengan gedung yang sama." Jawab Andi menjelaskan.
"Sampai lupa, pi kenalkan ini Pak Burhan bapak atau orang tua mbak Anisa." Jackson memperkenalkannya.
Setelah semuanya siap. mereka makan bersama yang masih di selingi tawa. Tak ada rasa cemas dan wajah trauma lagi.
Saat mertuanya mau pulang, Andi mendekatinya." Makasih ya pak. buk
terutama kamu dek. Kalian telah membantu menghilangkan trauma mereka. Suasana jadi hidup kembali." Ucap Andi sungkan.
"Sama-sama nak. kalian adalah keluarga kami, tidak mungkin kamu diam saja." Jawab pak Burhan.
" Dek. untuk pembangunan toko barunya, kakak yang bantu ya.?" Tanya Andi berharap.
" Kak. kapan dong aku mandiri, kalau di bantu terus.." Tolak Gilang halus.
Anisa muncul di depan mereka dengan berkacak pinggang. " Eh. maju itu bukan naik sendiri. Anggap saja kami nanam saham." Jawab Anisa ketus.
Gilang terkekeh. " Kalau mbak yang ngomong ya aku nggak bisa nolak. selalu saja tau kelemahanku." Jawab Gilang pasrah.
"Nah gitu dong. Menurut kakak, di sana kan belum ada minimarket. jadi dari pada kamu susah melayani satu-satu. Lebih bagus buka seperti minimarket. jadi tinggal hitung saja di kasir." Ucap Andi memberi ide.
__ADS_1
Gilang menatap kedua saudara yang ada di depannya saling bergantian." Kenapa kamu dek, kayak orang bengong gitu.?" Tanya Anisa heran.
Gilang memeluk Anisa dan Andi bergantian. " Makasih mbak. kak. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. kalian berdua the best deh kalau masalah bisnis." Jawab Gilang bahagia.
Andi dan Anisa hanya tersenyum, mendengar pujian adiknya.
"Om. Bapak ku punya bermacam sayuran segar. Kalau Om suka nanti aku bilang sama bapak." Sambung Bambang yang kepo dengan pekerjaan Gilang.
" Ide bagus." Jawab Gilang semangat. Ia bahagia. bisa menyalurkan ilmunya yang di dapat di tempat kuliah.
*****
Beberapa hari kemudian. Anrez. Azizah dan Bambang berangkat ke Jerman kembali. Begitu juga Edo dan Zainab.
"Jaga diri nak. Kalau ada apa-apa cerita ya. Di sana Om Edo dan Tante Zainab yang tinggal tak jauh dari kalian. Dan papa juga sudah bilang sama opa Frans." Ucap Andi saat di bandara.
" Ya pa. aku akan kabari kalian. setelah sampai di sana.titip salam buat adik-adik ya pa.ma." Anrez memeluk papa mamanya bergantian.
"Jaga Azizah juga ya nak. walau bagaimana pun ia istri mu." Bisik Anisa pada anaknya saat mereka berpelukan. Dan di anggukan Anrez.
Andi dan Anisa pun pergi langsung ketempat kerjanya. Andi mengantar Anisa ke rumah sakit duluan baru langsung ke kantor. Karena Anisa punya program sunat massal bagi yang tidak mampu. itu biasa di lakukan saat libur. Karena ia sebagai penanggung jawab dana bagian sosial rumah sakitnya.
"Mas. aku pamit ya." Ucap Anisa saat sudah sampai rumah sakit.
Andi tersenyum. " Jaga diri mu sayang, jangan terlalu capek. Nanti kabari jam berapa pulangnya ya." Ucap Andi saat istri nya mau turun.
" Ya mas." Anisa pun turun setelah memberi salam.
Anisa langsung masuk ke ruangan yang telah di sediakan, dimana tempat acara sunat massal tersebut.
Baru saja ia masuk. Anisa sudah di berondong pertanyaan oleh dokter Hendra.
" Maaf Bu Anisa. Bagaimana kondisi anak-anak. Saya tidak di kabari." Tanya dokter Hendra.
"Alhamdulillah baik. mereka sudah kembali beraktivitas seperti semula." Jawab Anisa yang tidak mau beritanya heboh di rumah sakit ini. Ia tidak ingat kalau dunia Maya itu cepat sekali infonya sampai ke masyarakat.
" Syukurlah lah buk. kami di sini sangat khawatir." Ucap salah seorang perawat yang di dekat dengan Anisa selama ia di rumah sakit ini.
Anisa heran, kenapa banyak orang yang tau.. " Kalian tau darimana.?" Tanya Anisa.
"Ah ibu. sampai lupa ya, trauma bisa membuat orang terlihat bingung. Semuanya bisa tahu buk. karena ini." Ucap perawat tersebut menunjukan Handphonenya.
__ADS_1
Anisa tersenyum malu. benar kata perawat tersebut, ia jadi kelihatan bodoh. jadinya, peristiwa tersebut membuat trauma juga baginya. Sehingga ia selalu khawatir.