Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Kekacauan


__ADS_3

Setelah menjelaskan pada bu Aishah ibu panti dimana Hani tinggal. maka Anisa pun pamit. Karena Hani sudah pindah ke ruangan perawatan, untung lukanya tidak parah. hanya trauma nya saja yang berat.


Anisa menuju ruangan suaminya. Andi masih sibuk bersama dokter Hendra. dengan pelan Anisa mengetuk pintu ruangan direktur rumah sakit tersebut, yang tertera nama suaminya.


Tok.. tok.. tok..


Ada seruan dari dalam. " Siapa..? " Tanya suara dari dalam. dan Anisa tersenyum, suaminya masih di dalam.


" Aku mas. Anisa.. " Jawab Anisa tenang.


Dengan pelan Anisa membuka pintu, setelah di persilahkan.


" Masih sibuk mas.? "Tanya Anisa yang melihat banyaknya kertas bertumpuk di depan suami dan dokter Hendra.


" Duduklah, sedikit lagi. Oh ya. kita makan malam saja di sini. tadi dokter Hendra sudah pesan, sebentar lagi mungkin sampai." Ucap Andi, tapi fokusnya masih pada kertas yang di depannya.


Anisa duduk dan memainkan handphone nya. Dia membiarkan suaminya melakukan kerjanya.


Tak lama, terdengar suara ketukan dari kurir, kalau makanan mereka sudah sampai.


dokter Hendra langsung ke luar. Akhirnya mereka makan bersama.


" Maaf ya buk, menganggu waktu istirahat anda.. " Ucap dokter Hendra yang melihat kelelahan Anisa.


" Oh nggak apa dok. resiko suami kaya memang begini.. " Seloroh Anisa, Andi menatapnya horor. Sedangkan dokter Hendra hanya tersenyum mengulum takut di marahi.


" Bagaimana kalau ibu ikut membantu kita di sini, karena rencana rumah sakit ini akan mengadakan kartu sehat buat orang tak mampu. namun kami belum mempunyai ketua pengurusnya." Saran dokter Hendra.


Andi hendak menjawab, namun di potong Anisa." Terimakasih kepercayaan dokter pada saya. namun sepertinya basics saya kayak nya nggak du sini deh. saya tuh cocok nya di pendidikan." Sarkas Anisa.


" Justru itu. kita mencari anak yang kurang mampu dari sekolah. mungkin boleh kita mulai dari sekolah yang ibu pimpin. contoh pasien tadi.." Harap dokter Hendra.


" dok. istri saya sudah capek mengurus anak-anak yang butuh perhatian, jika di tanah lagi, akan menimbulkan ke kawasan di rumah. anak-anak hanya patuh pada Anisa." Tolak Andi.


Dengan raut sedikit kecewa, dokter Hendra mengangguk. namun ia kembali ceria." Begini kalau jadi penasehat gimana pak buk. kan tidak terlalu sibuk. saya butuh seseorang yang mendampingi mereka jika kita jadi buka kartu sehat di rumah sakit ini, takut nanti di salah gunakan bagi oknum yang tidak bertanggung jawab, lagian bapak dan ibu bisa kerja bareng di sini." Bujuk dokter Hendra.


Dengan berat hati keduanya setuju. yah memang benar pendapat dokter Hendra. walau terasa berat, ia akan usahakan toh ia bisa ke sini saat bersama suaminya.


*******

__ADS_1


Tiga kemudian, Hani sudah kembali sekolah. ia, ia langsung menemui Anisa di ruangannya. Hani membawa banyak buah. membuat Anisa bingung.


" Assalamu'alaikum buk.." Hani memberi salam, dan masuk setelah di persilahkan masuk.


" Waalaikumsalam. duduklah. oh ya, ini apa Hani. saya tidak sakit, kenapa banyak buah..? " Tanya Anisa, karena Hani memberikan kantong yang cukup besar berisi buah mangga, rambutan dan lainnya yang masak dan harum. Sangat menggiurkan sekali.


"Ini dari bunda. tanda terimakasih kami pada ibu dan bapak. yang telah membantu pengobatan saya." Ucap Hani ceria.


Anisa melongo. ia bingung dengan apa yang di lihatnya. " Bilang sama bu Aishah, semuanya ini sudah keinginan Allah, dan tidak perlu repot membalasnya. ini berapa harganya biar saya ganti." Ucap Anisa yang tidak enak meminta Hani membawa kembali.


" Ini hasil kebun kami buk. tidak usah di bayar, jika ibu menolak. tentu bunda sangat kecewa. itu pesan bunda pada saya." Hani menunduk sedih.


Anisa mendekati Hani dan menggosok punggung siswanya tersebut." Cara kamu membalasnya. baiklah, saya ingin kamu mem alasnya dengan prestasimu. jika kamu tamat dengan nilai terbaik, maka saya akan anggap semuanya lunas. gimana.? " Tantang Anisa. Karena ia tahu gadis di depannya itu bagus akademiknya.


" Baik buk. InsyaAllah saya akan membalas kebaikan ibu." Jawab Hani semangat.


Anisa tersenyum bahagia melihatnya. Dan spontan memeluknya.


" Ok.! Saya tunggu hasilnya.. titip salam pada bu Aishah. Oh ya boleh saya minta alamat panti kalian? " Tanya Anisa setelah melepaskan pelukannya.


Hani mengangguk, dan memberikan alamat pantinya. dengan semangat empat lima ia keluar dari ruangan Anisa dengan wajah ceria.


*****


Pagi, du saat weekend, biasanya orang tenang dan bermalas-malasan di atas kasur. Tapi pagi ini. malah jadi heboh.


Siapa lagi kalau bukan ulah Xena, gadis kecil yang cerewet dan tomboy itu. Ia langsung loncat ke kolam renang saat melihat abangnya berenang bersama papanya. Tentu membuat keduanya panik. sebab lama Xena tidak muncul.


Andi dan Anrez panik, akhirnya keduanya menemukan Xena yang terbenam.


Andi menggendongnya keluar. Xena terminum air cukup banyak.


" Sayang.. gimana nak, apa sudah baikan..? " Tanya Jackson yang datang melihat anaknya terdengar jatuh ke kolam.


" He.. he... nggak apa ayah.. ayah lebay, orang berenang kok.." Jawab cengengesan.


Semuanya menggeleng kesal dengan ekspresi Xena, terutama Anrez. karena ia yang melihat adiknya meloncat.


" Dasar adik menyebalkan. orang sudah panik, malah cengengesan. jangan ulangi lagi. abang tidak suka..! "Kesal Anrez. Tapi Xena malah memeluknya.

__ADS_1


" Abang jangan marah... " Rajuk nya.


" Ih dasar adik nakal. tahu kami panik.. kalau begini ngapain aku capek lari ke sini ngejar.." Kesal Cantika. karena ia kaget mendengar adiknya kecebur kolam, sedangkan ia sedang bersantai di kamar.


" Ih siapa suruh.." Ledek Xena.


Jackson menggendong anaknya. untuk mandi ke dalam yang du bantu Feby. ia benar-benar pusing dengan tingkah anaknya tersebut.


Anisa kembali ke dapur dengan mama mertuanya. untuk menyiapkan sarapan mereka bersama pembantu.


" Benar-benar aktif Xena ya Nis. mama jadi heran. sifat siapa ya..? " Tanya Felisha.


" Iya ya ma.. aku juga heran, dia yang cewek malah lebih aktif dari pada abangnya Anrez." Jawab Anisa yang sibuk dengan pagi mereka.


Sementara Andi dan Anrez terpaksa menyudahi berenang. ia meminta tukang kebunnya, untuk mengeringkan kolam renang sementara.


Itu membuat Anrez kecewa, karena setiap sore, Anrez lebih suka berenang. dari pada ia olah raga lainnya.


" Pa.. aku gimana.." Tanyanya agak ragu.


Andi memperhatikan anaknya. dan tersenyum.


" Abang harus mengalah demi adik. abang tuh laki-laki satu-satunya. jadi abang harus kuat dan banyak mengalah demi mereka. jika itu menyangkut resiko. seperti tadi. apa abang mau..? " Tanya Andi pelan menatap anaknya yang sedih.


" Tapi pa. hanya itu yang membuat aku bisa melepaskan lelah ku dengan aktivitas. papa sudah menuntut ku banyak hal, aku juga mau rilek pa.. " Jawab Anrez yang kembali kecewa.


" Hanya sementara. gimana kalau kita berenang di luar." Ide Andi..


" Tau ah.. aku malas sama papa.." Kesalnya merajuk, ia pun masuk kamar. dengan wajah sedih. Kenapa sangat sulit memberikan solusi buat anaknya. tidak sedekat itukah ia pada anaknya.? pikir Andi sendu.


Anisa memanggil suaminya yang cukup lama di kamar mandi." Mas..kamu Ok..? " Tanya Anisa yang penasaran. karena sudah setengah jam suaminya di kamar mandi.


Andi keluar karena mendengar suara istrinya. tadinya ia sempat tertidur di bathtub. " Sayang.." Andi memeluk istrinya.


Anisa terkejut melihat siapa suaminya. " Kamu Ok mas.? ada apa. cerita lah.." Anisa menggosok punggung suaminya.


" Anrez kecewa, saat aku meminta tukang kebun kita mengeringkan kolam renang. ia sangat marah padaku. gimana ya sayang.. apakah aku seorang ayah yang tidak baik.? " Tanya sedih.


Anisa melepaskan pelukan suaminya dan tersenyum." Kamu tuh ayah yang baik mas. mungkin alasan mu belum di pahami Anrez, nanti aku coba ngomong ya mas. dah pakai bajunya, kita sarapan menjelang siang.. he.. he.. " Anisa menggoda suaminya. mereka tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2