Didalam Perjodohan

Didalam Perjodohan
Episode 34


__ADS_3

"Aku hanya ingin melihat kamar istriku ini"


"Cih...Sejak kapan aku adalah istrimu? Menganggapku teman saja kau tidak lakukan"


"Kau adalah istriku,-"


"Aku tidak peduli, kau tetap saja ku anggap musuh"cetus Geya memalingkan wajah ke samping


"Ternyata musuh!!! Tapi kenapa kau melayaniku tanpa kusuruh dan ingat kau menikmati permainan yang ku buat masih ingatkan?" Bisik Aldi membuat Geya malu


'Sial sial sial bisa bisanya dia ingat semuanya malunya aku, santai Geya rilexs lah jangan sampai ketahuan' Batin Geya


"Omong kosong apa itu? Minggir keluar sekarang kau mangganggu privasiku" Usir Geya menahan malu. Sedangkan Aldi dia tersenyum puas akhirnya dia sedikit mendapatkan jawaban


"Sabar Argya kau bisa melukai suami kesayanganmu ini" Goda Aldi, Geya yang mendengar itu merasa malu heran dan jijik melihat tingkah Aldi. Dirasa Aldi keluar dia segera menutup pintu dan bersandar di belakang pintu itu


Geya bersandar di balik pintu dia memegangi dadanya yang berdegup kencang antara sakit dan gugup


'Tahan Geya sabar, Aku terlalu gugup berdekatan dengan dia sekarang tapi aku juga sakit karna aku akan jauh dengannya, Ya tuhan tolong beri aku jalan menuju hatinya' Batin Geya dan berdiri melangkah ke laci kecilnya.


Dia membuka laci itu dan melihat catatannya, dia melingkari angka kecil setiap harinya


"Ternyata aku disini sudah 5 bulan besok, jadi tinggal 4 bulan lagi sisa pernikahanku. Sudahlah aku menyerah saja sekarang aku hanya bisa pasrah" Gumamnya kembali memasukan catatan itu ke tempatnya


Geya bersiap untuk tidur dia kebelakang sikat gigi dan ganti pakainan taklupa juga dia mematikan lampu dapur dan ruang lainnya


"Akhirnya selesai juga pekerjaan hari ini" Gumamnya sambil mengecek ponselnya yang dia charger tadi terdapat banyak panggilan masuk dari Siska, Mama mertuanya, dan Mamanya


"Ada apa mereka menelpon secara bersamaan?" Bingungnya dan memilih menelpon Mamanya


Drrtt...drtrr...drrrt


Nada panggilan masuk berasal dari dalam tas milik Marisa. Marisa memberhentikan aktivitasnya bersama dengan para sahabatnya dulu


"Ya kamu kenapa di telfon tidak diangkat, Apa ada masalah dengan Aldi suamimu?" Tanya Marisa beruntun


"Tidak kok Mi, Ponselnya tadi Geya charger" Jawab Geya


"Benarkah?" Tanya ragu Marisa


"Iya Mi" Ucap Geya menyakinkan


"Oh begitu, Kamu mau oleh oleh apa dari Mami Papi?" Tanya Marisa


"Emang Mami kemana?" Tanya balik Geya


"Biasalah, Jalan jalan ohya kamu itu pengantin baru masa kalah dengan Mami. Mami saja masih suka traveling ke negara tetangga kamu kok diam dirumah"


"Mami saja Geya lagi malas"


"Kamu mau oleh oleh apa enggak nih?"


"Boleh Geya minta Adik ipar satu pun enggak papa kok"


"Hah bukannya kebalik seharusnya itu yang Mami utarakan. Mami mau Cucu satupun enggak papa gitu bukan malah minta adik ipar"


"Hahaha iya Mi becanda. Geya rasa enggak ada kok"


"Kamu itu Mertua mau manjain kamu malah nolak"


"Beneran loh Mi Geya tidak minat apa apa"


"Beneran nih?"


"Iya seratus persen"


"Yaudah Mami tutup dulu ya. Selamat malam Geya jangan lupa momongannya Mami tunggu"


"Iya Mam. Selamat malam"


Trut...tut...tut


Panggilan terputus secara bersamaan


Geya langsung berbaring di kasurnya taklupa menyetel alarm untuk bangun lebih awal. Dia menerawang kehidupannya untuk masa depan yang datang


'Bagaimana nanti masa depanku? Apa aku sudah siap menyandang statusku sebagai janda? Apa ada orang yang mau denganku seorang janda muda?' Pertanyaan itu terus berkeliling di pikiran Geya


"Ngapain aku membayangkan masa depan ingat Geya masa depan itu terkadang tidak sesuai dalam pikiranmu" Gumamnya langsung tidur


Aldi langsung keruang kerjanya, dia segera menghubungi Andri. Dia mengotak atik ponselnya mencari nomor Asisten kesayangannya.


"Halo An besok bantu aku melancarkan aksiku, kau kesini agak awalan"Ucap Aldi


"Memang ada apa bos? Apa ada yang darurat di perusahaan?" Tanya Andri di seberang sana


"Kau perusahaan saja, bantu aku meluluhkan Geya TITIK"


Tut....tut...tut


Andri yang mendengar itupun tercengang akan ucapan bosnya itu


"Makan apa si bos? Apa aku tidak salah dengar, Wah akhirnya hadiah bonus dari Tuan Besar akan datang" Ucapnya sendiri sambil senyam senyum


Skip


Pagi⛅


Pukul 02.37 dini hari, matahari belum menampakan sinarnya ayam jantan berkokok bergantian memberi isyarat jika pagi akan datang. Tanpa kita sadari seseorang tengah menyetel alarm pukul 03 itu terbangun lebih dulu. Dia mengucek ngucek matanya untuk memperjelas penglihatannya.


"Aku bangun kepagian ternyata, mending langsung bersih bersih saja dah" Ucapnya bermonolog dia segera bangun dari tidurnya kebelakang mencuci wajah dan gosok gigi


Selesai itu dia melanjutkan dengan menyapu lantai karna hari ini adalah hari dia mengepel lantai


"Gini banget rasanya jadi istri, harus bangun pagi pagi nyiapkan makanan yang ini itu, Tapi dia kan enggak mau ku layani tapi kenapa aku ingin melayaninya"gerutunya sambil menyapu teras rumah


Skip


skip


Geya selesai dengan pekerjaanya, kini dia bisa agak bersantai meluruskan otot ototnya. Dia duduk di sofa depan tv di ruang keluarga mengecek ponselnya yang dari semalam belum dibuka


Ceklek


Suara pintu dibuka membuat Geya heran, siapa pagi begini bertamu apa mungkin Aldi baru saja olahraga? Batinnya bertanya tanya


Tampak seorang lelaki gagah dengan senyum penuh kesenangan yang tak lain Andri


"Ngapain kau di sini hah, masih pagi juga?" Cetus Geya masih tetap dalam posisi duduknya


"Nona saya kan mau bekerja lagian saya di suruh Tuan untuk menjemputnya mulai dari sekarang" jelas Andri


"Begitu toh, berarti kau kekasihnya dia cih dasar gay. Ngomong ngomong siapa yang perempuan kau atau Tuanmu" Celetuk Geya membuat Andri membulatkan matanya lebar


'Gawat bisa bisa rencana ku tidak akan berhasil untuk menyatukan mereka melihat sifat Nona Geya yang sudah berubah' Batin Andri


"Ngapain diam, jangan jangan benar, iuwh" Kata Geya berlalu ke dapur. Sedangkan Andri dia kesal dibilang Gay. Andri segera ke kamar Tuannya dengan suasana hati kesal


Andri masuk ke kamar Aldi dengan kunci cadangan. Dia kesal melihat Tuannya dengan santai masih tertidur di tumpukan bantal guling itu


'Enak ya menyuruh bawahannya untuk datang pagi pagi sampai aku melupakan sarapanku, Dia malah tidur' Batin Andri


Andri dengan segera membangunkan si kelelawar itu dengan membuka tirai nan panjang itu. Dia mendekati Aldi dan menggoyang goyangkan tubuh Aldi pelan dengan tujuan agar cepat bangun tetapi yang di bangunkan bukannya bangun malah mlengos dia kehilangan tenaga


"Tuan yang tampan apa kau tidur anda sangat nyenyak hingga lupa perintahnya dengan Asistennya" Bisik Andri yang sudah lelah


Aldi yang merasakan ada yang berbicara itu langsung membuka matanya seketika dia melotot suara yang dia kira mimpi itu ternyata Andri


"Dasar gay!!! Jauh jauh dariku kau tidak normal pantas saja tidak ada perempuan yang dekat denganmu" Ketus Aldi sambil membuat jaga jarak aman


"Tuan sebenarnya anda itu maunya apa? Tadi malam nyuruh saya datang pagi pagi dan saya sudah datang tapi anda malah enak tiduran, lagian tadi saya sudah membangunkan anda 5 kali tapi anda belum juga bangun ya sudah saya pakai cara itu" Jelas Andri sedikit berbohong


"Alasan,,, Minggir aku mau mandi awas jangan sentuh barangku dasar gay" Kata Aldi berlalu ke kamar mandi


"Dibilang bukan Gay ya bukan, Kenapa sepasang suami istri ini menjengkelkan?" Gumamnya dan duduk di sofa kecil nan pendek itu


Geya selesai dengan masakannya kini dia merapikan tempat untuk sarapan menyiapkan buah pencuci mulut, nasi lauk sendok air dan sebagainya dia sekarang sudah lihai dengan itu semua


"Akhirnya selesai juga ini, Tinggal tunggu mereka tapi kenapa 2A lama sekali ini sudah 15 menit lebih" Gerutu Geya melihat jam yang tergantung didinding


Andri dan Aldi menuruni anak tangga dengan berbarengan, Geya yang melihat itu merasa geli sendiri dengan apa yang dia lihat. Andri dan Aldi segera duduk di tempat masing masing mereka mengambil secangkir kopi secara bersamaan tanpa melihat jika kopi itu masih mengeluarkan asap kecil kecil


Geya yang melihat itu hanya diam, fokus pada makanannya karna perutnya sudah demo minta di isi mengingat jika semalam dia tidak makan. Aldi menyesap kopinya begitupun dengan Asistennya keduanya sama sama menyemburkan Kopi itu tanpa disadari jika Aldi menjatuhkan cangkir hingga pecah.


Geya yang melihat lantainya kotor itu tak dapat menahan kesalnya dia segera menggebrak meja hingga menimbulkan dentuman keras


Brakkkkkk....


Geya berdiri sambil berkacak pinggang dia menatap 2A itu dengan tatapan kesal. Dan anehnya Aldi diam merasa takut. Dunia mungkin berpihak dengan Geya


"Kalian kenapa selalu membuatku naik darah hah? Tidak bisakah membiarkan ku istirahat dengan lama, selalu saja membuat masalah! Sudah tahu jika kopi itu masih mengeluarkan asap kenapa masih tetap kalian seruput? Memangnya kalian punya lidah buaya enggak kan?" Geram Geya membuat 2A menelan ludah kasar


"Sekarang kalian cepat makan dan segera pergi" kesal Geya kembali duduk dirasa sudah mulai reda kekesalannya dia melanjutkan makannya


2A kini mereka makan dalam diam, mereka takut dengan Geya yang sekarang. Tapi tunggu sejak kapan Andri tahu jika Geya yang dulu dan sekarang berbeda? Author juga tidak tahu


Skip


Mereka selesai dengan sarapannya Geya sudah merasa keyang tapi dia menyadari sesuatu dan bertanya


"2A" Sapa Geya pada dua manusia yang berada di hadapannya. Aldi dan Andri yang merasa Geya berbicara itu bingung pasalnya yang di panggil tidak ada


"Maaf Nona, Anda memanggil siapa?" Tanya Andri merilekskan tubuhnya


"Kalian lah nama kalian sama huruf depannya agar mempersingkat waktu aku menjuluki kalian 2A gitu aja tidak tahu" Kata Geya meminum susunya


2A yang mendengar itupun saling tatap dan saling menjauh. Geya yang melihat itupun menahan tawa tapi dia kembali memasang wajah juteknya


"Cih sok sokan menjauh padahal kalau lagi berdua nempel kaya lem fox" Cibir Geya membuat Aldi kesal


"Heh kami tidak seperti yang kamu pikirkan ya kami hany,-" Perkataan Aldi dipotong oleh cibiran Geya


"Hah heh hoh! Terus apa itu tadi si Andri masuk kamar lebih dari 15 menit dan kalian keluar dengan rambut kalian yang basah jangan jangan kalian,,,," Geya tidak dapat melanjutkan ucapanya dia merasa geli sendiri


"Iiiuh kalian Gay" kata Geya yang burulang kali membuat Aldi naik pitam


"SUDAH KUBILANG AKU BUKAN GAY!!!" Bentak Aldi membuat Geya diam


Andri yang menyaksikan itu semua pun bingung mau buat apa dia diam duduk di kursi menyaksikan drama sungguhan


"Cih aku hanya mengatakan apa yang kulihat, lagian pasti jika kau punya wanita yang bukan aku, pastinya dia akan berfikir begitu. Dan kalian keluar kamar dengan rambut yang basah. Padahal tadi Andri tidak basah" Kesal Geya

__ADS_1


'Terus aku terus, enggak tahu apa apa di ikut ikutkan. Kalau bukan tawaran Tuan Besar pasti aku enggak akan mau' Batin Andri


"Cih cemburu dengan lelaki, Tidak levelku"ketus Geya


"Jadi kau cemburu denganku saat dengan perempuan" Ucapan Aldi membuat Geya diam sesaat


"Aku tidak pernah cemburu ya!! Memangnya kau siapaku?" Ketus Geya


"Aku suamimu" Kata Aldi


"Suami diatas kertas paham?!" Kata Geya


"Halah enggak usah kau tutupi bilang saja" Ucap Aldi


'Sebenarnya dia itu kenapa akhir akhir ini? Apa aku salah memberi dia makan' Batin Geya terheran


"Cih ngeyel sana pergi cepat sudah tahu siang masih saja dirumah" Usir Geya


"Perhatiannya pada suami" Goda Aldi membuat Geya geram lagi


"Oh perhatian ya!!! Sekarang jangan ke kantor, cepat bersihkan lantai yang kau pecahi cangkir itu!" Seru Geya


Aldi lupa jika dia memecahkan secangkir kopi di lantai, Dirinya bingung satu sisi dia ingin dirumah tapi di sisi lain dia malas membersihkan lantai itu. Akhirnya dia punya ide


"Andri kau bereskan lantai ini!" Perintah Aldi menatap Asistenya


Andri yang mendengar itupun hanya bisa pasrah memenuhi permintaan sang Tuan


"Hey aku menyuruh kau bukan dia, sudah sana pergi kalau tidak mahu membersihkan!" Usir Geya lagi membuat Aldi mau tak mau harus pergi


"Ayo cepat punya Asisten lelet sekali" Cibir Aldi seraya berjalan keluar di ikuti Andri di belakang


Dalam mobil Aldi menggerutu sendiri menyalahkan Asistennya


"Kau seharusnya lebih cekatan dan lebih kilat dalam situasi apapun itu bukan kantor saja yang kau kerjajan, Aku gagal lagi jadinya" Geram Aldi memukul kursi mobil sampingnya


Andri yang melihat dan mendengar itu hanya memutar bola matanya malas dirinya memilih fokus pada mobilnya. Tapi bosnya itu tidak mau diam terus menyalahkan dirinya


'Salah terus lagi, tau jadi begini mending aku tidak akan datang cepat' Batin Andri


"Kenapa kau pakai mandi lagi hah? Itu membuat dia curiga bodoh" maki Aldi tanpa ampun dan jeda


"Maaf Tuan anda juga sendiri kenapa menyiram saya pakai sampo jadinya kan rambut saya berbusa" Andri melakukan pembelaan


____________________________


1jam lalu.....


Andri baru saja duduk di sofa, menyenderkan punggungnya yang kaku dengan mata terpejam dia mendengarkan alunan musik. Tanpa disadari dia ikut terhanyut dan tertidur


Tak lama Aldi keluar dengan handuk kimononya, Aldi menoleh ke samping tepat Andri tertidur samar samar Aldi mendengar dengkuran


"Oh tidur dia, bagus sekali kau Aldi mempunyai Asisten yang sangat disiplin"Gerutunya dia memikirkan cara untuk membalas dendamnya


Dia melihat gelas air minumnya dan ide muncul di pikirannya. Dia mengambil gelas itu dan kembali ke kamar mandi mengisinya penuh taklupa dia beri sampo banyak. Dirasa sudah cukup dia keluar masih mendapati Andri belum bangun dari tidurnya. Dia mendekati perlahan namun pasti dia mengaduk aduk air itu dan segera menyiramkan ke kepala Andri. Merasakan kepalanya seperti basah itu Andri segera bangun dengan kaget dengan tangan sibuk menyibak nyibak rambutnya , dia menunduk hormat


"Maaf Tuan saya ketiduran" Kata Andri menunduk hormat


"Masih mau tidur?! Besok besok jangan terlalu kerja larut malam membuat repot orang saja" Cibir Aldi


'Dia sendiri yang menyuruhku datang pagi pagi tahu gini aku tidak aman datang' Batin Andri mengolok


"Iya Tuan terima kasih pengertiannya" Ucap Andri seraya berjalan ke kamar mandi


"Heh mau kemana kamu?" Tanya Aldi


"Ya saya mau membersihkan dirilah Tuan lihat rambut saya terkena sampo" Jelas Andri


"Menyusahkan" Cibir Aldi langsung ganti pakaian


"Tuan" sapa Andri


"Apa?" Tanya Aldi


"Tuan saya pinjam pakaian anda ya,,, Lihat pakaian saya basah" pinta Andri


"Enak saja pakai pakaian itu cepat ku tunggu 10 menit"


"Tuan kalau saya tidak ganti nanti saya sakit terus saya tidak bisa membantu Tuan mendekati Nona Geya" Ucapan Andri membuat Aldi berpikir kembali


'Ada betulnya juga yang dipikirkan si Asisten ini' Batinnya


"Oke silahkan cepat aku tunggu 10 menit" Ucap Aldi


______________________________


"Ini semua gara gara kau, Kalau tau akan dituduh seperti ini mending tidak perlu" Kesal Aldi menyandarkan kepalanya di kursi penumpang


'Salah sendiri kenapa pakai nyiram orang segala, Kualatkan' Batin Andri yang ikut kesal


"Besok kau jemput aku pagi lagi dan awas kau kalau tidur lagi" Ancam Aldi seraya memainkan ponselnya


"Baik Tuan" Andri mengakhiri pertengkaran itu hingga sampai di gedung megah berlambang AR. Dia segera membukakan pintu sang Tuan, sambil membenarkan jasnya Aldi berjalan dengan gaya kasnya sambil di temani Andri di belakangnya. Para karyawan yang berpapasan itu menunduk hormat


"Selamat pagi Tuan" Sapa para karyawannya namun hanya dibalas angguk saja


"Wah lihat Tuan kita makin tua makin tampan saja. Andai aku bisa jadi kekasihnya" celoteh karyawati yang dengan yang lain


"Kalian apa sudah ngobrolnya? Jangan sampai Tuan dengar kalian bergosip di tengah tengah kesibukan paham! Dan kamu jangan berhalusinasi menjadi kekasih Tuan" Peringat Andri dengan menunjukan sifat garangnya pada karyawan


"Maaf Tuan, Dia karyawan baru" Ucap karyawan senior itu sambil menunduk diikuti dengan karyawan baru itu


"Sudah cepat kembali ke tempat kalian sebelum saya panggilkan ke Tuan Muda" Perintah Andri berlalu pergi


"Kau lihat sendiri bukan? Asisten Tuan marah" Kesal karyawan itu sambil menyenggolkan lengannya


"Gitu aja takut, Tapi sepertinya dia boleh juga lihat wajahnya mirip sekali dengan oppa oppa" Cerucusnya kemana mana


"Cih oppa oppa! Cepat kerja sekarang kau itu anak baru ku aduin ke Tuan mampus kau" Ancamnya


"Iya iya" Mereka kembali ketempatnya masing masing dan memulai pekerjaan mereka


×××


Selesai sarapan Geya langsung membereskan sisa dari sarapan itu tak lupa juga dia membereskan pecahan cangkir karna ulah suaminya itu ke dalam tempat sampah


"Pekerjaan aku di rumah semua selesai. Terus aku di rumah ngapain? Mau keluar tapi malas" Gerutunya berjalan ke depan tv


Dia akhirnya menonton tv untuk menghilangkan rasa bosannya tapi bosan itu bukan hilang malah bertambah


"Buat kue enak kali ya?" Gumamnya dan langsung berjalan ke kamar mengambil tas slempangnya.


Skip


Sesampainya di supermarket terdekat dia segera mengambil bahan bahan yang diperlukan saja. Sekiranya sudah cukup dia langsung menuju ke kasir membayar barang barang itu. Dia ingin cepat cepat pulang, Sesampainya di rumah dia meletakan belanjaannya itu. Geya melihat jam yang ada di tangannya ternyata sudah pukul 10 siang dia segera membuat cake itu sebelum makan siang datang.


Skip 2 jam kemudian....


Geya baru selesai dengan seluruh adonannya mulai dari kue kering hingga basah. Suara oven melengking menandakan jika kue sudah siap matang. Geya segera mengeluarkan kue itu dan mulai menghiasinya dan 15 menit kemudian akhirnya dia selesai dengan hiasannya namun ketukan pintu terdengar berasal dari depan rumah tak butuh lama lama dia berlari ingin tahu siapa sebenarnya yang bertamu


Ceklek


Tampak 4 orang baruh baya tengah berdiri penuh dengan senyuman siapa lagi kalau bukan para orang tua. Mereka baru saja pulang dari liburan panjang mereka. Geya yang menyaksikan itu tak mau buang waktu dia langsung memeluk mamanya erat seolah olah dia ditinggal kabur


"Mama Geya kangen mama, Kau tahukan ma liburan kalian sangatlah lama jadi Geya disini sendirian" Ucapnya mengeratkan pelukan


"Geya kamu bicara dengan Mama tapi kamu meluknya di Mama mertua kamu" Sindir Aina pura pura kesal


Geya mendongakkan wajahnya ternyata benar yang dia peluk adalah Marisa mertuanya dia segera beralih berambur ke pelukan Mamanya.


"Kenapa tidak memberitahu Geya kalau Geya salah peluk" Gerutu Geya jelas


Semua orang tertawa melihat kelakuannya itu menurut mereka itu sangatlah menggemaskan melihat wajah milik Geya yang masih seperti anak kecil


"Sudah sudah!! Geya kamu kok masih kaku dengan Mami santai saja anggap saja kita orang tua kamu" Kata Marisa


"Iya Geya kamu jangan takut dengan mereka, Kalau mereka jahat dengan kamu cukup kau adukan Mama biar Mama hajar"


"Mah enggak boleh gitu! Tidak kok Mi tadi Geya sangat merindukan Mama"


"Jadi kamu tidak merindukan kami semua?"


"Ya rindulah tapi masih rindu dengan Mamaku" Lagi dan lagi mereka dibuat tertawa melihat kelakuan Geya itu


"Ayo masuk dari tadi kalian berdiri tadi Geya buat kue kalian cicipi ya" Ajak Geya dan membuat Aina melotot


"Kau turun ke dapur ya sekarang! Dimana pembantu kamu?" Marah Aina


"Geya tidak punya pembantu Ma. Geya ingin mandiri lagian Geya sudah punya Suami jadi Geya harus bisa jadi Istri yang baik jadi ibu rumahtangga yang baik" Jelas Geya


"Tapi kamu itu tidak bisa pegang alat dapur. Gimana nanti kalau semua alat dapur kamu kebakar atau bisa jadi kau ledakan" Cerocos Aina sedangkan Geya memilih diam dia tahu Mamanya itu tidak bisa dibantah


"Sudahlah Mah Geya itu benar dia juga harus mandiri karna dia itu menjadi Istri. Apa salahnya jika dia melakukan itu semua toh dia sendiri tidak mengeluh ataupun keberatan yakan Ge?" Tanya Jayanto yang ikut menimpali karna sudah bosan mendengar celotehan Istrinya itu


"Bener tuh Pa" Timpal Geya karna ada yang membela


"Ayo masuk dari tadi kita belum masuk loh. Aku juga ingin mencicipi kue buatan menantuku ini" Ajak Rahardian yang sebetulnya lelah berdiri tanpa tujuan


"Iya nih kakiku sudah mulai kesemutan kelamaan berdiri, Ayo Geya kita masuk biarkan Mamamu berdiri sendirian disini sekalian ceritain kamu kenapa bisa memasak" Ucap Marisa menggandeng Geya untuk masuk membiarkan besannya itu


"Iya Mi" Mereka masuk diikuti Aina di belakang. Mereka duduk di ruang tamu meluruskan otot otot punggung mereka


"Lega sekali akhirnya bisa duduk setelah sekian lama" Gerutuan Rahardian


"Memangnya berapa lama kau berdiri seabad berdiri dasar lebay sudah tua juga" sindir Jayanto diiringi tawaan yang lain


"Geya pamit ambil kuenya dulu, Kalian apa mau makan siang?" Tanya Geya


"Tidak usah Sayang, Kita disini hanya mampir kok. Enggak usah repot repot"


"Baiklah Mi kalau begitu Geya ke dapur dulu" Geya berlalu ke dapur dan mengambil kue itu meletakannya di nampan taklupa juga teh dan kopi untuk orang tuanya


"Untung tidak makan siang kalau makan siang disini aku belum masak" Gerutunya dan membuat minum


"Ini silahkan minum dan ini cicipi kue milik Geya" Kata Geya sambil menaruh nya di meja


"Waw banyak sekali kuenya ini semua kamu yang buat?" Tanya Marisa terkagum kagum


"Iya Mi mumpung lagi bosan" Jawab Geya ikut duduk di kursi sofa


"Anak Papa sudah dewasa ya, Sudah bisa ini itu" puji Jayanto

__ADS_1


"Jadi ceritakan bagaimana bisa kamu memasak dan cara kamu membuat kue seenak ini" Kata Aina


"Makan dululah jeng baru ngomong" Timpal Marisa


"Jadi Geya itu belajar dari teman Geya namanya Riska. Pertama kali itu Geya mencicipi masakannya dan ternyata enak terus Geya ingat jika Geya akan mempunyai suamikan, ya terus Geya minta di ajarin sama dianya dan hingga sampai sekarang" Jelas singkat Geya sedikit membumbui kebohongan


"Begitu rupanya terus yang menjadi pertanyaannya. Apa kamu pernah melakukan kesalahan dalam latihan masak kamu?" Tanya Aina


"Ada Ma dulu Geya sempat membuat pancinya bocor dan menghabiskan kompor gasnya" Jelas Geya santai mengundang tawa semua orang kecuali Aina


"Apa kamu tidak ganti rugi?" Tanya Aina lagi


"Ya gantilah milik orang masa tidak di ganti"


"Bagus lain kali kalau latihan apapun itu harus rapi paham?"


"Iya Ma. Ohya mana oleh olehnya yang katanya baru pulang dari luar negri?" Tagih Geya


"Belum Mama belikan lagian kamu minta yang terlalu mudah dan murah jadi Mama akan belikan nanti" Terang Aina santai


"Ish tahu gitu mending Geya beli sendiri" Gerutu Geya


"Kalian ngomongin apasih?" Tanya Marisa yang sedari tadi menyimak


"Geya kemarin ditanya Mama mau oleh oleh apa tidak terus Geya bilang mau oleh oleh tapi miniatur gitu" Jelas Geya


"Miniatur toh, Nanti beli sendiri tagih uangnya oke. Dan ini kemarin Mami nemu alat make up cantik cantik sudah ada semua lengkap dari sabunnya hingga bedaknya. Kamu ambil sana di bagasi mobil" Ucap Marisa memberikan kunci mobil


"Wah makasih Mi Sayang Mami" kompor Geya sambil melirik Mamanya Aina


"Halah gitu doang" Kesal Aina namun Geya sudah berlalu keluar mengambil barang barangnya


"Hari ini menguntungkan sekali untukku jadi aku tidak perlu beli make up syukurlah" Gumamnya berjingkrak jingkrak


Dia kembali ke dalam dengan kedua tangan sibuk menenteng paper bag super besar


"Ini semua Mi?" Tanya Geya dengan mata melihat paper bag itu


"Iya itu semua coba nanti kalau Aldi pulang kamu coba pakai dan tanya pada Aldi apa bagus make upnya"


"Memangnya harus ya Mi?"


"Ya iya kan Aldi suamimu" Ucap Marisa sambil menyeruput tehnya


"Betul Geya dan tadi Papi belikan Geya oleh oleh tapi kecil kamu ambil di mobil paling depan" Kata Rahardian


"Dan kamu minta oleh olehkan tadi Papa belikan ambil saja di bagasi mobil" Kata Jayanto memberikan kunci dan diterima Geya


"Makasih Papa Papi Mami Kalian baik banget deh. Mana mah oleh oleh mama?" Tagih Geya


"Ini anak kalau oleh oleh cepat sekali! Ini kamu beli sendiri risih Mama kalau kamu nagih terus" Ucap Aina memberikan uang cas


"Kenapa uang cas? Kenapa enggak Mama transfer?" Kesal Geya


"Mau tidak?"


"Iya iya" Geya beranjak keluar mengambil barang barang yang disebutkan tadi


...


Aldi dan Andri selesai melakukan meeting dengan clientnya, Kini mereka akan kembali ke kantor lagi namun Andri urungkan karna permintaan sang Tuan untuk kembali kerumah entah apa lagi yang akan dia inginkan


"Putar balik kita pulang!" Perintah Aldi tanpa melihat lawan bicara sibuk dengan laptop yang ada dipangkuannya


"Loh Tuan bukannya kita masih ada rapat dengan karyawan?" Heran Andri


"Yang jadi pemimpin siapa? Turuti saja rapat kau tunda besok besok saja" Jawab Aldi


"Besok kita...-" Ucapan Andri terpotong karna Aldi


"Turuti saja! Asisten cukup menuruti Tuannya paham?"


Andri mau tak mau harus putar balik lagi meski hatinya menggerutu kesal.


Skip


Sesampainya di rumah mereka turun dari mobil lebih tepatnya Andri turun lebih dahulu untuk membukakan pintu sang Tuan. Aldi bingung kenapa di rumahnya ada mobil papanya.


"Ada apa mereka datang?" Heran Aldi


"Saya juga kurang tahu" jawab Andri


'Orang tua datang malah tanya kenapa mereka datang, ya pasti ingin melihat anak mantunya lah aneh punya Tuan" Batin Andri ikut masuk kedalam.


"Kalian kenapa datang kesini?" Tanya Aldi dan ditanggapi tatapan kesal Geya


"Ya ingin memberiku oleh olehlah, Orangtua datang bukannya disambut dengan baik, ditawari ini itu malah Kenapa kalian datang kesini" Cibir Geya


"Kalian berantem ya?" Tanya Rahardian curiga


"Tidak kok Tuan" Jawab Andri tanpa aba aba membuat mereka bingung


"Kenapa yang menjawab bukan Aldi ataupun Geya, Kenapa malah kamu?" Tanya Aina


"Tadi saya disini menjemput Tuan, Tapi tadi Tuan dan Nona lagi adu mulut sedikit" Jelas Andri


"Sudahlah Aldi capek Aldi mau tidur" Ucapnya berlalu pergi ke kamar. Orang orang disana bingung dengan tingkah Aldi


"Dri saya mau bicara dengan kamu" Kata Rahardian berlalu ke luar


"Baik Tuan" Andri ingin melangkah mengikuti Tuan Besar itu diberhentikan oleh pertanyaan Marisa


"Kalian ingin membicarakan apa? Kenapa harus sembunyi sembunyi?" Tanya Marisa


"Maaf Nyonya saya juga kurang tahu" Ucapnya berlalu pergi dengan hormat diikuti Jayanto dibelakang


'Sebenarnya ada apa dengan mereka ini, yang satu tingkahnya yang berbeda dan satunya lagi main rahasia. Aku ini kenapa hidup dilingkungan seperti ini sih' Batin Geya yang terus fokus pada alat kosmetiknya


"Kenapa dengan mereka para lelaki? Tingkahnya begitu mencurigakan" Selidik Aina


"Aku juga tidak tahu, Mungkin bisnis yang tidak bisa sembarang orang tahu" Kata Marisa asal dan ikut gabung dengan Geya


://///


Aldi segera berganti pakaian sekarang dia menggunakan kaos putih polos dengan celana jeans pendek namun sebelum itu dia mandi dulu


"Bagaimana caranya membuat Geya luluh padaku? Kalau aku datang duluan kepada dia malahan nanti dia sombong. Dan jika dipikir pikir sikapnya sekarang berubah drastis" Gumamnya yang berdiri di balkon kamar


"Mungkin aku harus meluluhkannya sendiri tanpa bantuan si Andri itu, Dan dengan begitu dia baru akan menerimaku secara perlahan namun teratur" Mulai disinilah seringai muncul di bibir Aldi


;;;;;;


"Bagaimana Dri apa ada perkembangan dengan mereka?" Tanya Rahardian to the point


"Saat ini masih belum tetapi Tuan Muda sepertinya akan bergerak Tuan" Jelas Andri berbilit


"Maksudnya?"


"Tuan Muda sudah putus dengan Nona Lisa beberapa bulan lalu dan sekarang Tuan akan mendekati Nona Geya" Ujar Andri


"Bagus anak itu mulai mengerti"


"Tapi Tuan yang menjadi masalah itu Tuan Aldi tidak mau menyatakan cinta nya pada Nona Geya"


"Biar dia berusaha dulu, Bagaimana rasanya dicampakan dan dibiarkan saya tahu jika kamu membuatkan kontrak pernikahan itu"


"Maaf Tuan itu suruhan Tuan Muda"


"Kau tahu isinya apa?" Tanya Jayanto tiba tiba membuat mereka berdua tersentak kaget takut Jayanto marah


"Se-Sejak kapan kau ada disana?" Tanya Rahardian gagap


"Santai saja Dian, Ayo kita duduk dulu disana" Ajak Jayanto sembari melangkah ke kursi kayu


Mereka diam takut Jayanto marah sebab putrinya diberlakukan tidak adil oleh Aldi


"Kalian jangan tegang aku tahu kalian membicarakan rumah tangga anak anak kita" Jayanto memulai pembicaraan


"Jadi apa kau bisa menjelaskan isi kontrak yang dia buat?" Tanya Jayanto


Andri menjelaskan masalah isi kontrak dari awal hingga akhir membuat Rahardian kesal tidak menyangka putranya tega melakukan itu dia meminta maaf pada Jayanto merasa tidak enak.


"Aku minta maaf Yan, Kalau tahu seperti ini mungkin kita tidak perlu melaksanakan pernikahan ini" Ujar Rahardian dengan nada bersalah


"Sudah tidak apa apa aku malah berterima kasih kepadamu kalau kau mau mengawasi rumah tangga anak kita bukan seperti aku yang hanya bisa menanyai saja tapi tidak dengan usaha" Terang Jayanto pandangan lurus ke depan


"Tidak apa apa aku juga takut terjadi sesuatu dengan mereka maka dari itu setelah pernikahan aku menyuruh Andri untuk mengawasi diam diam. Tapi untuk perjanjian itu Andri malah tidak memberi tahu aku"


'Kenapa aku lagi? Tadi Nona Geya sekarang Tuan besar. Ingin sekali aku menyangkal' Batin Andri


"Maaf Tuan" Hanya itu yang terucap


"Jujur aku sempat kecewa dengan pernyataan ini aku menjaga putri ku dengan kelembutan dan kasih sayang tapi kenapa Aldi malah memperlakukan sebaliknya"


"Kalau begitu Geya sementara akan ku bawa pulang kerumah, jadi aku disini izin membawa putriku untuk pulang" Ucap Jayanto tiba tiba dan dipertimbangkan Rahardian


"Terus bagaimana dengan Aldi? Kau dengar tadikan kalau Aldi sudah mulai berubah?" Ucap Rahardian tidak terima


"Tapi aku juga kasihan dengan putriku" Sarkas Jayanto. Andri menyaksikan itu semua langsung melerainya dan memberi usu


"Tuan Tuan sabar dulu. Kalau saya boleh usul mending Nona Geya pulang kerumah kita coba tes apakah Tuan Aldi memang menyukai Nona Geya atau tidak, Kalau seadainya Tuan Aldi tidak menyusul Nona Geya di rumah Tuan Jayanto berarti tandanya Tuan Aldi Tidak menyukai Nona Geya"


"Tapi kau tahukan sifat dari Putramu itu?"


"Maka dari itu Tuan jika Tuan Aldi menyukai Nona Geya maka dia harus menjemput Nona dan menghilangkan rasa gengsinya"


"Betul juga apa yang kau katakan, Bagaimana Yan apa kau setuju dengan usul Andri?"


"Baiklah aku setuju jadi kapan kita membawa Geya?"


"Nanti nanti dulu kita pancing mereka untuk bertengkar hebat baru setelah itu kita bawa Nona Geya"


"Caranya?" Tanya Rahardian dan Andri mulai membisikan sesuatu pada mereka dan dibalas senyuman dari para Tuannya


TBC......


***********


***Mohon maafkan Author ini yang hanya memberi harapan palsu.😕🙏🙏


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


SEE YOU ALL😚👋***


__ADS_2