Didalam Perjodohan

Didalam Perjodohan
Episode 81


__ADS_3

Ruangan kini nampak terasa hening, Geya maupun Aishe sama sama tutup mulut. Geya yang merasa tak enak hati karena sudah menuduh yang enggak enggak.


"Ak aku minta maaf sudah salah paham denganmu" ucap Geya


"Gak masalah kok dan justru seharusnya aku yang minta maaf padamu, tapi siapa namamu?"


"Aku Geya"


"Salam kenal aku Aishe, ngomong ngomong apakah kamu betah dengan lelaki itu?"


"Memangnya kenapa?"


"Dia orangnya jahil dari kami umur 5 tahun sampai sekarang dia sangat jahil dan tempramen juga, entah nyidam apa tante Marisa ngelahirin anak kayak dia"


Mereka bercengkrama satu sama lain, Aishe yang tipenya tidak mudah akrab kini dengan mudah dekat dengan Geya


____


"Aku pergi ya, Ayahku menyuruhku untuk pulang. Semoga kita ketemu lagi" ucap Aishe dan berpamit pergi


Geya menatap kepergian Aishe dengan senyum yang gak pernah pudar di bibirnya


"Aku yang salah paham, Geya kenapa kamu kekanakan sekali" gumam Geya


Pintu terbuka menampakan sesosok lelaki yang familiar bagi Geya, suaminya kini selesai dengan meeting dadakannya.


"Ini makanlah, apa tadi pagi kamu sarapan?" tanya Geya membukakan Aldi bekal


"Tidak sempat untuk sarapan"


"Ini yang masak aku coba cicipi apakah enak?"


Aldi mengembangkan senyum menatap sajian yang dibawa oleh istri tercintanya, dengan anggukan semangat dia menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya


"Sempurna, istriku ternyata pandai memasak" puji Aldi dapat mengembangkan seulas senyum dibibir manis Geya


"Dimana Andri? Kenapa tidak datang kesini?"


Belum juga menjawab suara serak cerewet berasal dari arah pintu mengundang perhatian mereka


"Ada apa mencari saya nona?"


"Kayak jelangkung saja, Apakah kamu sudah makan siang?"


"Belum nona saya masih terlalu sibuk"


"Syukurlah ini tadi aku memasak lebih, aku sudah menyiapkan untukmu"


Geya memberikan kotak bekal pada Andri yang masih berdiri, Sejenak Andri menatap tuannya yang nampak cuek padanya


"Terimakasih nona, tapi saya bisa makan dikantin" tolak halus Andri


"Jangan menolak rezeki yang datang, ambillah" ucap Geya menyodorkan kotak bekal itu


'Benar katamu nona, menolak rezeki yang datang tiba tiba itu menyesakkan' batin Andri

__ADS_1


"Baik nona terima kasih saya makan diruangan saya saja, selamat siang" ucap Andri dan berlalu dengan membawa kotak itu


"Kamu peduli sekali dengan dia bahkan suamimu sendiri kamu abaikan" celetuk Aldi


"Ugh jangan cemburu dong kita harus berbagi dan dia juga sangat mengabdi pada perusahaan kamu ini, Bagaimana nanti jika dia tidak disini? Siapa nanti yang akan membantu kamu mengurus perusahaan besar ini?"


Geya mengusap sudut bibir Aldi yang tampak belepotan karena saos yang ia makan


"Baiklah aku juga tahu itu"


Aldi merasa kenyang pada perutnya, dilonggarkan sabuknya agar perutnya bosa bernafas dengan lega


Andri datang dengan ekspresi sama dengan tuannya, dia berjalan dengan gontai ke sofa dekat dengan mereka, dia meletakkan bekas makanan itu bersama dengan bekal Aldi


"Nona masakan nona tumben enak? Perut saya sampai melar" ucap Andri menyandarkan punggung badannya


"Jadi kemarin² masakanku gak enak gitu?"


"Bukan nona hanya saja tumben hari ini masakan anda seperti spesial sekali"


"Tentu hari ini suasana hatiku sangat baik"


"Yah baik terlepas dari salahpaham" sambung Aldi merebahkan tubuhnya dipaha Geya


Spontan Geya menggeplak mulut ember Aldi, hal itu membuat Aldi meringis sakit merasakan perih dibibirnya


"Sakit kan benar yang aku katakan" protes Aldi


"Jangan sembarangan ngomong" ancam Geya merapatkan bibirnya


"Kosong tuan sampai anda pulang" ucap Andri


"Tuan saya keluar sebentar ada yang saya urus" ucap Andri segera keluar setelah mendapat notifikasi dari ponselnya


"Al apa yang terjadi dengan Andri? Kayaknya dia ada masalah"


"Andri memang begitu jika ada sesuatu, lebih baik kita membuat penerus perusahaan"


"Maksudnya?"


"Kita buat Aldi junior" ucap Aldi semangat langsung bangkit dari tidurnya


"Jangan disini tempat orang kerja aku tidak mau"


"Jadi kalau dirumah mau?"


"Enggak tahu juga sudahlah aku mengantuk" ucap Geya dan membaringkan tubuhnya


"Tidurlah diruanganku" ucap Aldi dan menggendong sang istri ke kamar privasinya


"Loh sejak kapan ruangan presdir ada kamarnya?"


"Sejak dulu sudah berdiri sayang"


"Tapi kenapa milik papa tidak ada?"

__ADS_1


"Ini ada fungsinya tersendiri dan hanya ceo muda yang tahu, cepat tutup matamu kita tidur" perintah Aldi seraya memeluk perut Geya


-----


Di ruangan bernuasa abu abu, lelaki gagah tampak serius menatap dokumen yang ia pegang


"Jadi dia biang keroknya yang merusak hubungan keluargaku menjadi hancur" gumam Andri mengepalkan tangannya erat


"Tuan bagaimana dengan selanjutnya? Apakah kami langsung menyekap wanita itu?" tanya lelaki botak berpostur besar


"Jangan buru buru menyelesaikan ular sawah itu sangatlah mudah untukku dan aku tahu kelemahannya" jawab Andri


"Dan tuan ada informasi tambahan untuk tuan, masalah perusahaan tuan muda saya dengar Mr. Song ingin datang kesini lagi"


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Andri


"Kebetulan salah satu anak buah Mr. Song adalah teman saya dulu. Bagaimana tuan apakah anda memperbolehkannya?"


"Kita lebih baik diam pura pura tidak tahu, terserah jika dia ingin datang kesini"


"Baik tuan saya mohon permisi"


"Hemm"


Andri menatap lembaran foto wanita paruh baya berparas glamour dengan tatapan penuh kebencian, ingin rasanya dia menghampirinya agar dendamnya terbalaskan


Tapi ia tidak boleh egois mengingat perusahaan Aldi sudah mulai berkembang. Disimpannya foto itu dilaci meja kerjanya dan memilih kembali ke ruangan Aldi


tok...tok....tok


Tidak ada sahutan apapun dibalik pintu, dia membukannya dan mendapati ruangan yang nampak sepi, Dimana mereka? pikirnya.


Samar samar dia mendengar suara aneh yang menggelayar ditelinganya, dia mengurungkan niatnya dan memilih pergi


"Persetan dengan mereka, kenapa aku sampai lupa untuk memberi peredam suara di kamar tuan muda?" gerutunya


"Terimakasih aku harap kita bisa secepatnya memiliki seorang anak" ucap Aldi disela sela ciumannya


"Amiiin, aku juga tidak sabar untuk memiliki buah hati" balas Geya


Mereka sama sama tertidur dengan kondisi tanpa busana hanya selimut yang menutupi keduanya. Yah, Geya yang tadinya ingin istirahat terganggu dengan rayuan maut oleh sang suami, Alhasil mau tidak mau harus menurutinya mendengar kata peredam suara


Oh tidak! Andri sangat berdosa dalam hal ini, dia mengatakan jika kamar itu telah disetel peredam suara namun nyatanya juga belum. Bagaimana nasibnya jika ia memberi tahu hal ini pada tuannya?


bersambung.....


*Maafkan author yang tidak bisa upload serajin author lainnya, Author amat sibuk dalam urusan duniawi. Pokoknya untuk kalian tetep stay disini dan berikan dukungan kalian untuk author.


...Tanpa dukungan dan like kalian author bukanlah apa apa. Jaga kesehatan kalian untuk musim penghujan ini😊...


KUUCAPKAN TERIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR DAN TERUS MENDUKUNG AUTHOR


SEE YOU NEXT TIME😘


Lanjut nanti, disini sedang hujan😕😉*

__ADS_1


__ADS_2