
Setelah makan siang Aldi dan Geya sibuk pada dunianya sendiri sedangkan Marisa dia sudah pergi untuk menghadiri acara ibu ibu sosialitanya
"Al aku bosan? Kita jalan jalan yah" ucap Geya berbinar
"Baiklah cepat siap siap kita berangkat sekarang" ucap Aldi dan diangguki cepat oleh Geya
Aldi menyiapkan mobilnya dan Geya yang sudah berada disampingnya
"Cepat sekali?"
"Harus dong kita ke mall B yah katanya disana ada diskon"
"Gak perlu diskonan aku masih sanggub membelikanmu barang barang mewah"
"Sombong banget"
Mereka memasang sabuk pengaman masing masing dan Geya yang tak henti hentinya berselfi ria
"Al ini baguskan?"
"Bagus semua pose istriku ini hasilnya bagus"
"Ish gombal deh"
"Siapa yang gombal? Aku bicara apa adanya kok"
Geya hanya tersenyum geli dan melanjutkan mencekrak cekrik ponselnya
Sampailah mereka ditempat yang penuh dengan keramaian, Geya sudah tidak sabar untuk berbelanja
Dia masuk ke dalam dengan tangan terus menempel pada lengan Aldi. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikan mereka
"Hust siapa yang berada di samping tuan muda?" tanya salah satu dari pengunjung dengan berbisik
"Mana aku tahu mungkin pacar barunya" ucap salah satu temannya
"Mana mungkin tuan muda dia orang setia sama kekasihnya Lisa" ucapnya spontan menarik perhatian orang sekitar begitupun Aldi dia menatap tajam pada kedua gadis itu seolah olah memberikan ancaman
"Emang gue tampangnya pelakor ya?" gumam Geya kesal
"Enggak mereka begitu karena kamu wanita yang pertamakali dekat denganku bahkan seintim ini" ucap Aldi
"Masa? Terus sama si Lisa?"
"Dia hanya aku beri uang sudah itu aja gak pernah jalan bareng itu sangat jarang"
"Kenapa kamu malah bahas mantan?"
"Kamu sendiri yang tanya ya aku jawab"
__ADS_1
"Menyebalkan"
Geya berjalan duluan dan melepas kasar tangannya yang menggantung di lengan Aldi
"Apaan dia itu istrinya ngambek bukannya dibuntuti malah ninggal kayak gitu dibilang romantis? Romantis dari mana?" gerutu Geya tanpa henti
Geya membelokkan langkahnya di toko kosmetik yang dulu langganannya, dia memilih milih alat alat yng menurutnya menarik perhatiannya
Aldi datang dengan paperbag tanggung ditangannya, Geya yang melihat hanya cuek dan melanjutkan kesenangannya
"Aku tunggu disana" ucap Aldi seraya menunjuk kursi di depan toko
Geya hanya berdehem sebagai jawabannya. Aldi sibuk memainkan ponselnya dan tanpa menyadari seseorang menghampirinya dan menepuk pundaknya
"Hai Al lama kita gak ketemu" ucap seorang wanita bertubuh dua
"Aishe ini benar benar kamu kan?" tanya Aldi terkejut
"Iya ini teman kecilmu dulu dan aku datang kesini tidak sendiri ada ayah dan kedua calon keponakanmu" ucap Aishe mengelus perut buncitnya
"Wah selamat aku turut bahagia" ucap Aldi tanpa sadar memeluk tubuh Aishe sangking bahagianya
Bagaimana tidak Aishe sudah sedari bayi sampai mereka lulus kuliah selalu bersama bahkan tak canggung lagi terkadang Aishe ataupun Aldi menginap dirumah satu sama lain
Dan Aishe baru menikah dengan suaminya 1 tahun lalu sebelum Aldi dan di karuniai anak laki laki namun sayang anaknya meninggal saat umur 10 bulan karena penyakit paru paru
"Bagaimana hubunganmu dengan Lisa apakah masih berlanjut?" tanya Aishe melepas pelukannya
"Apa kamu masih mencintainya?"
"Mana mungkin aku mencintainya, lebih baik kita bahas yang lain dan berapa usia kandungammu?"
"Baru enam bulan besok"
"Kenapa besar sekali?"
"Iyalah bodoh ini bukan satu malahan dua" Ucap Aishe menjitak kepala Aldi
"Mana aku tahu bolehkah aku menyentuhnya?" tanya Aldi dengan mata berbinar
"Kenapa tidak? Tapi awas jika kau melukai mereka akan kupatahkan tanganmu itu" ancam Aishe
"Kau benar benar kejam dari dulu aku heran bagaimana suamimu bertahan denganmu" cibirnya
"Kalian jangan seperti ibumu yang sangat kasar dan kejam jadilah seperti pamanmu ini yang selalu sabar menerima perlakukan ibumu" ucap Aldi mengelus perut buncit Aishe
"Dasar kau ini jangan mempengaruhi anak anakku" sungut Aishe
"Jangan setres bagaimana nanti nasib kedua ponakanku ini hati hati"
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak setres mendengar kau mencuci otak anakku"
"Aku mengalah daripada kau melampiaskannya padaku
'Jadi begini ya rasanya mempunyai anak, semoga aku bisa menyusul' batin Aldi tetap pada posisi tangannya
Tanpa mereka sadari Geya menyaksikan itu semua dari kejauhan niatnya ingin meminta Aldi untuk membawa semua belanjaannya pun terurung melihat adegan kasat mata, dia menghapus air mata yang sempat meluncur dan pergi tanpa sepatah katapun
Aldi belum menyadari itu dia masih asik bercerita dengan teman masa kecilnya, Geya keluar dari toko dengan hati yang menggerutu kesal
Aldi bahkan tidak melihat dirinya yang baru saja keluar dari dalam dengan beberapa paper bag ditangannya
"Dia memang suami sialan, Bagaimana mungkin dia memeluk bahkan mengelus perut wanita asing itu" gumam Geya dan berjalan menuju tepi jalan raya
Dia mencari taksi yang kosong untuk mengantarkannya kembali kerumah
"Biarin kalau dia mencariku aku tidak peduli dasar suami brengsek" umpat Geya
Hingga 15menit kemudian taksi yang ia tumpangi berhenti tepat didepan gerbang rumahnya
Dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa menjawab sapaan dari bi marni. Dengan keras dia membanting pintu kamarnya sampai memekik gendang telinga bi marni
"Ada apa dengan nona hari ini padahal baru tadi mereka romantis" gumam bi marni dan melanjutkan pekerjaannya
"Hiks...hiks jahat sekali dia, dia bahkan mengabaikan kepergianku malah sama wanita itu kenapa mereka sangat mesra?" gumam Geya sesenggukan
Disisi lain Aldi sudah hampir 3 jam menunggu kedatangan sang istri, bolak balik dia melihat jam arlojinya
"Dimana dia? Kenapa lama sekali?" gumam Aldi sambil matanya melihat kanan kiri
Aldi mencoba menghubungi nomor Geya, bukan Geya yang menjawab malah operator yang menjawab panggilannya dan itu sudah terulang terus
"Kemana dia sebenarnya? Dari tadi aku muter muter gak ketemu" gerutu Aldi frustasi
Satu pikiran terlintas dalam benaknya, dia menghubungi nomor telepon rumah dan benar saja tersambung
"Halo ini siapa?" tanya bi marni
"Saya bi, Apakah nona Geya sudah pulang kerumah?"
"Sudah tuan 5 jam yang lalu"
"Baik bi saya tutup"
Aldi secepat kilat dia berlari keparkiran dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dengan emosi yang kini tidak dapat dibendung lagi dan ia akan menyalurkannya dengan melampiaskan kepada sang istri
Hanya butuh waktu singkat dia sampai di rumahnya, dia masuk ke dalam kamarnya dengan langkah berat. Dia melihat sang istrinya yang tertidur nyenyak tanpa dosa, Aldi menatap jam yang menggantung di dinding sekarang tepat pukul 5 sore
"Enak banget dia tidur tanpa memikirkan aku yang mencarinya seharian" gumam Aldi kesal membanting pintu kamar mandi
__ADS_1
bersambung.....