
Sekian menit usai menghabiskan minumannya, Adam serta Dinda merasa agak pusing, kepala mereka terasa sakit, keduanya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang membuatnya seketika gelisah.
Seperti ada yang aneh dalam diri mereka, dan entah kenapa ada sesuatu yang menggelitik di beberapa bagian tubuh. Hal yang tidak biasa, yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Dinda mengibaskan kepala seraya mengerjap.
Berusaha menormalkan ekspresi wajahnya di hadapan Adam. Begitu juga dengan Adam yang terus mengerjap hingga beberapa kali.
Kenapa mendadak aku menginginkan sesuatu yang tidak aku mengerti?
Adam membatin seraya memijat kening berharap rasa pusingnya sedikit berkurang.
Dengan napas nyaris memburu, pria itu berusaha keras menormalkan detak jantung yang kian berdebar tak tahu aturan.
Yaa Rabb, kenapa tubuhku memanas, bahkan sesuatu dalam diriku memberontak menginginkan sebuah sentuhan. Ada apa sebenarnya denganku?
Adam kembali membatin.
Dan lagi, kenapa Dinda begitu menggoda? kenapa aku ingin sekali menyentuhnya?
Sementara Adinda, ia benar-benar bingung dengan tubunya yang bereaksi tak wajar. Ini adalah pertama kalinya dia menginginkan sebuah sentuhan yang kian lebih.
Tiba-tiba, tangan kokoh Adam memegang tangannya. Membuat Adinda persekian detik merasakan getaran aneh. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas. Tapi sepertinya mustahil Adam tak menyadarinya.
Sedetik kemudian, Adinda teringat dengan rencananya ketika melihat raut wajah Adam yang menyorot berbeda sekaligus kelam.
"Mas kenapa?" tanya Dinda sambil berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
Bagi Adam, saat ini Dinda adalah wanita cantik yang begitu menggoda.
"Mas, aku bawa mas istirahat disini dulu gimana, wajah mas tampak memerah"
"Baiklah Din"
Sekuat tenaga, sembari terus melawan rasa yang memberontak, Dinda berusaha menuntun Adam yang kondisinya sudah lebih parah dari sebelumnya.
Pikir Dinda, mungkin obatnya sudah mulai bereaksi. Namun, sebagian pikirannya yang lain, ia sedikit bingung dan heran dengan dirinya yang merasa tak nyaman.
Di tengah-tengah langkahnya, mereka sama-sama menetralisir rasa yang terus bergelora dalam tubuh. Ada gelenyar-gelenyar eksentrik yang terus mengalir dalam setiap aliran darah, perasaan tak biasa itu justru kian memuncak, bahkan mampu mengacaukan isi kepala.
Setibanya di depan kamar yang Adinda pesan, mereka seakan tak bisa lagi menahannya.
Membuka dan menutup pintu, mereka berdiri saling berhadapan, saling menatap penuh intens dengan kondisi batin yang nyaris sama.
__ADS_1
Bagi Adam, rasanya ia ingin sekali menyentuhnya, menjelajahi setiap jengkal tubuh wanita di hadapannya. Pun dengan Dinda yang menginginkan kehangatan. Tapi apa yang sudah mendorong mereka ingin melakukan hal itu?
Hingga satu menit berlalu, Adam mengikis jarak.
Persetan dengan semua.
Tanpa aba-aba, pria itu menarik tangan Dinda lalu membawa kedalam pelukannya, memberikan getaran-getaran aneh di punggung wanita itu. Pelukan sarat akan sebuah tuntutan yang harus terpenuhi. Tak hanya Adam, Dindapun merasakan ketegangan yang sama, sesuatu yang ingin segera ia tuntaskan.
Tanpa malu, wanita itu membalas pelukan Adam penuh gai*rah, menikmati aroma parfum maskulin yang melekat di tubuhnya.
Begitu pelukan terurai, mereka saling beradu pandang, sebuah tatapan yang menyorot penuh lekat, hanya nafsu yang terlukis dari binar matanya.
Sedetik kemudian, Adam mengikis jarak wajah mereka, lalu menempelkan bibirnya di bibir Adinda. Tidak hanya menempel, tapi juga sedikit memberikan lum*atan lembut dan luwes.
Tinggi level mereka yang terlampau jauh, membuat Adinda mendongak dan Adam sedikit merunduk. Satu tangan Adam melingkari pinggang Dinda, sementara tangan yang lain mempertahankan dagu Dinda agar tetap tengadah.
Suasana sangat hening, hanya ada suara detakan jarum jam yang mengisi kesunyian mereka. Tidak hanya itu, detakan jantung keduanya seakan mampu memekakan telinga.
Sebuah pertemuan bibir yang mereka lakukan hingga lewat bemenit-menit. Adam serta Dinda kompak melepaskan tautannya setelah sama-sama kehabisan nafas.
Pandangan mereka kembali bersirobok, hangat hembusan nafasnya terasa saling bertubrukan menerpa wajah keduanya.
"Mas" Lirih Dinda.
Selang sekian detik, mereka kembali saling berciuman.
Tak hanya mencium, bisa di katakan kalau Adam sudah mencumbunya sangat intens, lalu berpindah ke leher yang kemudian pria itu membuat kissmark. Tangannya yang entah sejak kapan sudah membuka kancing baju Dinda bagian atas, hingga dia membuat tanda yang sama di area tulang selangka.
Sentuhan yang membuat Adinda hanyut dan lupa diri. Sentuhan yang persekian detik membuat pikiran mereka benar-benar terasa acak-acakan dan ruwet.
Hingga entah bagaimana caranya, tahu-tahu punggung Adinda sudah menyentuh empuknya ranjang kamar hotel, sementara Adam berada di atas tubuhnya.
Tangan Adam dengan lincahnya menjamah setiap lekuk, menjelajahi setiap jengkal.
"Din"
Adinda membuka mata begitu mendengar panggilan Adam, netranya langsung terkunci oleh sorot lembut milik pria yang begitu tampan baginya.
Jarak wajah mereka yang begitu dekat, membuat jantung keduanya meliar di dalam sana.
"Apa kamu mendengar detak jantungku?" tanya Adam yang langsung di respons dengan anggukkan kepala.
Selain detak jantung Adam, ada juga detak jantung Dinda yang berdebam seperti kehilangan ritmenya.
__ADS_1
"Aku nggak tahu kenapa nggak bisa menahannya, dan aku menginginkan yang lebih dari ini Din" Sepertinya, dengan setengah sadar kalimat itu meluncur dari mulut Adam.
Sedangkan Dinda, setengah mati dia berusaha menelan saliva, karena rasa yang sama juga singgah dalam dirinya.
Adam dengan sorot penuh, manik hitamnya bergerak mengikuti gerakan manik mata Dinda.
"Touch me" bisik Dinda yang nyaris tanpa suara. Karena saat ini, sebuah keinginan besar sudah menguasai dan mengambil alih pikiran jernihnya.
Melihat Dinda memberikan respon menerima, satu persatu Adam melucuti pakaiannya, melepas hijab yang selama ini selalu menutupi rambutnya, lalu melemparkan ke sembarang arah.
Sentuhan demi sentuhan, membuat mereka hanyut dan akal sehat pun perlahan melayang.
Hawa dingin karena suhu AC di dalam kamar hotel seperti menghilang bahkan nyaris tak ada jejak. Hanya panas dan gelisah, akan sesuatu yang terasa begitu menyiksa.
Apalagi saat kulit mereka saling bersentuhan, seolah ada gelegak dahaga yang sulit di jelaskan___
Satu detik, berganti menjadi dua detik, dan detik-detik seterusnya, mereka bersama-sama meneguk manisnya madu tanpa adanya tali pernikahan, tanpa cinta, mereka melakukannya di luar kendali.
Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang netra yang menyorot nanar penuh luka, hatinya seperti di remas-remas saat melihat dua orang bersembunyi di balik selimut usai mereka bercinta.
Wajahnya memanas, dadanya bergemuruh, sementara amarahnya memuncak.
"Adam" teriak Prilly dengan lantang, kakinya melangkah mengikis jarak. "Apa ini, Adam?"
Adam dan Dinda sama-sama bangkit dari rebahnya. Jelas ketiganya sama-sama shock.
"Prillya?!"
Hilang kendali, reflek tangan Prilly menampar pipi Adam sebelah kiri.
"A-aku bisa jelasin, Pril" ujar Adam seraya memegang pipi yang baru saja ia tampar.
"Apa yang akan kamu jelaskan?" Prilly bertanya masih dengan sorot tajam. "Tentang perselingkuhan kalian, atau tanda merah yang kamu ciptakan di leher wanita busuk itu?"
Ucapan Prilly, membuat Adam melirik ke leher Dinda. Dinda yang juga shock campur sedih, kemudian menyembunyikan raut wajah di kedua tangan sambil terus mempertahankan selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas dada.
"Selama ini aku menulikan telinga ketika menerima laporan tentang perselingkuhanmu dari ayah, tidak hanya dengan wanita ini, tapi dengan banyak wanita lainnya, aku membutakan mata dengan foto-foto yang beredar antara kamu dan dia" ujar Prilly dengan nada setinggi-tingginya. "Kamu tahu karena apa Adam? karena aku belum melihatnya sendiri soal perselingkuhanmu. Tetapi mulai detik ini, aku tegaskan bahwa hubungan kita selesai sampai di sini"
Setelah mengatakan itu, Prilly buru-buru keluar dari kamar tanpa peduli panggilan Adam.
Rencana Birawa memang luar biasa, dia yang meminta Prilly untuk mengikuti sekertarisnya seolah-olah ada meeting di Hotel itu. Lalu membayar salah satu petugas hotel agar mengatakan pada Prilly jika dia melihat Adam dengan seorang wanita memasuki kamar nomor delapan di lantai tiga.
Ingin membuktikan ucapan petugas hotel, Prilly akhirnya menyuruh sekertaris sang ayah untuk meminta kunci serep dari pihak hotel. Setelah berdebat cukup lama, sang sekertaris pun berhasil mendapatkan kuncinya. Prilly langsung melangkah menuju kamar sesuai dengan arahan petugas resepsionis.
__ADS_1
Bersambung.