
Duduk di ruang kerja, Dinda menatap jarum jam di atas meja dengan satu tangan memainkan sebuah bolpoint.
Sembari menunggu waktu istirahat makan siang, otaknya seakan di ajak untuk menyusuri labirin, memikirkan banyak hal yang terjadi dalam hidupnya.
Dia yang belum bisa menjenguk ayah dan ibu mertuanya, berharap mereka baik-baik saja. Tapi meskipun begitu, Dinda dan Adam sesekali berbicara melalui telfon, sepasang suami istri itu juga memberikan uang bulanan untuk masing-masing orang tuanya. Sementara dengan Meta, sudah ada ART yang menemaninya di rumah.
Hal lain juga terus mengusik pikiran Dinda terutama mengenai pernikahannya.
Sejujurnya, dia tak takut jika rahasia pernikahannya di ketahui oleh Prilly, dia bisa saja membeberkan bukti kalau anak yang sedang di kandung bukanlah anak dari suaminya, tapi melihat Birawa dan orang-orangnya bukan orang sembarangan, rasa khawatir Dinda pun seakan tak mau pergi. Belum lagi Prilly yang orangnya sangat nekad, di tambah kondisinya yang sedang hamil, jelas rasa was-was Dinda semakin memuncak.
Menghembuskan nafas berat, dokter itu mengedarkan pandangan ke seluruh sisi ruang kerja.
Untungnya hari ini tidak ada jadwal pemeriksaan rawat jalan atau cek dokter yang melibatkan dirinya, sehingga dia tak terlampau kewalahan mengatasi fokusnya yang terbagi.
Dinda terdiam, dengan sekelumit kegelisahan yang melanda.
Sekian detik berlalu, wanita itu kembali terusik oleh kejadian tadi malam.
Setelah mendengar cerita sang suami yang meninggalkan Prilly begitu saja, kembali ia di rundung perasaan cemas. Takut kalau Prilly membuntuti mobil Adam dan tahu kemana Adam pergi.
"Kalau Prilly mengikuti mas Adam, itu artinya dia tahu soal apartemen yang mas Adam kunjungi"
"Pasti dia akan mencari tahu kenapa suaminya malah datang kesana"
"Sepertinya aku harus hati-hati, takutnya dia nyuruh orang buat mata-matai apartemenku. Meskipun mas Adam mengabari kalau sikap Prilly normal-normal saja, aku tetap harus waspada"
"Dokter Dinda!"
Panggilan seorang suster membuat Dinda sedikit terhentak karena kaget. Dia yang tadi pandangannya kosong, kini fokus menatap wanita berseragam suster.
"Iya sus"
"Ada pasien baru masuk IGD, dok. Seorang anak kecil, dia butuh penanganan dokter"
"Okay, saya segera ke sana"
Dengan langkah seribu, Dinda keluar dari ruangannya menuju ruang IGD.
Langkahnya terhenti saat sepasang netranya menangkap sosok kakak ipar perempuan dan laki-laki dengan mimik wajah yang menyorot panik.
Sepersekian detik, Dinda kembali mengingat ucapan si suster kalau pasien itu adalah seorang anak kecil.
"Apa pasien itu Della anak mbak Ulva?"
Kembali Dinda melanjutkan langkahnya, kali ini dengan debaran jantung yang agak naik kecepatannya.
"Mbak Ulva, mas Very?"
"D-dinda" Ulva tercenung begitu melihat wanita yang nyaris menjadi adik iparnya. Calon adik ipar yang tidak ia sukai.
"Dokter Dinda, tolong Della, dia demam tinggi lalu kejang"
Mendengar ucapan Very, Dinda langsung mengarahkan pandangan pada pintu berbahan kaca yang tertutup rapat. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung melangkah lebar memasuki IGD.
Tak ada kepanikan sedikitpun yang Dinda rasakan dalam menangani pasien termasuk Della, keponakan satu-satunya sang suami yang juga sudah menjadi keponakannya. Sudah pasti ia akan melakukan yang terbaik untuk anak dari kakak perempuan Adam.
Hampir di menit ke tiga puluh, Dinda akhirnya keluar dengan sorot agak lega. Ia berhasil mengatasi kekejangan keponakannya meskipun demamnya masih tinggi.
Dia langsung mengarahkan kaki menuju kedua kakak ipar yang duduk di kursi tunggu.
"Mbak Ulva, mas Very"
Dua orang itu langsung mengangkat kepala kemudian berdiri.
"Gimana Della, Din?" tanya Ulva panik.
__ADS_1
"Sudah tidak kejang mba, suster akan membawa Della ke ruang perawatan. Aku sudah meminta suster untuk mamasukkan Della ke coconut room, mbak Ulva bisa menemuinya sebentar lagi"
"Makasih ya Din?"
"Sama-sama, mbak" Sahut Dinda kemudian beralih menatap Very. "Mas Verry bisa ke ruang administrasi untuk melengkapi berkas pendaftaran"
"Iya, Din. Sekali lagi terimakasih"
"Tidak perlu sungkan, mas" Dia tersenyum. Jelas Dinda akan memberikan pelayanan terbaik pada keponakannya, dia juga menempatkan Della di ruang VIP agar merasa nyaman.
Untuk biaya, mungkin ia dan suami akan membantunya. Apalagi saat Adam menceritakan kalau dirinya bisa bersekolah berkat mbak Ulva yang sudah membantu membiayai kuliahnya hingga bisa bekerja di perusahaan bonafit. Otomatis, mereka tak segan-segan memberikan bantuan pada kakak satu-satunya itu.
Sesaat setelah kepergian Very untuk mengurus pendaftaran yang belum sempat ia lakukan, Ulva dengan sangat menyesal mengutarakan permintaan maaf pada Dinda.
Dia yang sempat tak menyukai Dinda, kini menyadari kalau dokter itu tak seburuk yang Prilly katakan. Bahkan baru tadi malam Prilly menghubungi lalu mencercarnya dengan banyak pertanyaan baik tentang adiknya maupun Dinda. Ulva sadar kalau Prilly hanya mengada-ada atau bisa jadi sudah memfitnah dokter cantik itu.
"Aku permisi ya mbak, masih banyak pekerjaan"
"Iya Din, makasih ya"
Wanita itu mengangguk kemudian berbalik. Namun, dengan raut khawatir dan nafas tersengal, Adam tahu-tahu ada di depannya.
"Mas"
"Sayang gi_"
Adam menggantung kalimatnya yang meluncur begitu saja.
"Sayang" Ulva mengernyit heran.
"Maksudku, aku tadi mau tanya tentang sayangnya aku mbak, si Della" Terang Adam dengan wajah yang sudah memerah.
"Oh"
"Perlu observasi selama dua puluh empat jam, mas" Mereka terlihat seperti bukan pasangan suami istri.
"Oh" sahut Adam singkat.
"Dia ada di ruang coconut, Dam. Tolong temani dia ya, mbak mau beli tisu"
"Iya mbak, kalau gitu aku langsung ke Della"
"Hmm" jawab Ulva seraya mengangguk.
Dinda dan Ulva menatap punggung Adam. Selang tiga detik Dinda kembali pamit.
"Aku duluan mbak"
"Iya, Din"
Baru saja mengangkat kaki beberapa langkah, seseorang kembali membuat Dinda terkejut. Ia langsung menoleh ke kiri dan mendapati dokter Zaskia berjalan ke arahnya.
"Dokter Zaskia" ucap Dinda tak percaya.
"Din, apa kabar?" Mereka saling berpelukan.
"Baik. Mbak Kia sendiri gimana?"
Di sana, Ada Ulva yang masih berdiri di belakang Dinda dengan jarak sekitar lima meter. Sangat jelas obrolan mereka tertangkap oleh telinga Ulva. Namun, Dinda tak menyadari kalau Ulva masih bertahan di posisinya semula.
"Selamat atas pernikahanmu, kanapa nggak undang si Din?"
"Maaf mbak, acaranya mendadak, nggak keburu buat undang teman-teman"
"Menikah?" suara lirih itu berasal dari mulut Ulva. "Jadi Dinda sudah menikah? tapi kenapa Prilly seakan-akan terus mencurigai Dinda masih berhubungan dengan Adam?"
__ADS_1
Wanita berhijab itu mendesah kemudian memilih pergi dari sana. Tapi di tengah-tengah langkahnya ia mengirimkan sebuah pesan pada Prilly melalui telfon genggam.
Sementara Dinda dan dokter Zaskia masih berbincang sejenak mengenai pekerjaan, dan soal Fino yang saat ini sedang mengambil kelas spesialis.
Hingga beberapa menit terlibat perbincangan, merekapun mengakhirinya lalu berpisah, sebab Zaskia datang untuk menjenguk ayah mertuanya yang sedang di rawat di family care.
***
Sepanjang malam, Prilly tak bisa tidur nyenyak. Pikirannya di penuhi oleh sikap sang suami yang diam-diam mendatangi sebuah apartemen. Sampai keesokan hari, rasanya energi Prilly terkuras habis sehingga ia seperti orang tak sehat di siang hari. Dari apa yang dia lihat, ada amarah yang tertahan di benaknya, ia seperti tidak rela jika Adam benar-benar mendatangi seorang wanita untuk menuntaskan hasratnya.
Ia berharap feellingnya salah dan Adam hanya mengunjungi rekan kerjanya saja di apartemen itu.
"Benar juga, bisa jadi bosnya menyuruh Adam datang ke apartemennya untuk membahas masalah pekerjaan, bahan meeting, atau ada berkas yang harus di revisi"
Saat tengah melamun, tubuhnya berjengit ketika ponsel di pangkuannya bergetar.
Ia langsung menunduk menatap layar yang sudah menyala dengan menampilkan sebuah pesan dari kakak iparnya.
Ulva : "Lebih baik kamu nggak usah curiga sama Dinda, Prill. Dia sudah menikah. Menurut mbak, Adam tidak akan pernah mengkhianatimu, jadi stop mencurigai adik embak"
Sudut bibir Prilly terangkat, ia tersenyum miring sebelum kemudian menelfon seseorang yang baru saja mengirim pesan.
"Ada apa Pril?"
"Mbak Ulva tahu dari mana kalau Dinda sudah menikah?"
"Tadi mbak dengar ada teman Dinda yang mengucapkan selamat atas pernikahannya"
"Oh ya? memangnya mbak Ulva bertemu dengannya? dimana?"
"Iya, mbak di rumah sakit family care, Dinda bekerja di sini sekarang"
"Bekerja?"
"Iya"
Jadi dia sudah kembali bekerja? bukankah Zidan sudah membeklis namanya di setiap rumah sakit untuk jangan mempekerjakan dokter pelakor itu? tapi kenapa ada rumah sakit yang masih menerimanya?
"Pril?"
"I-iya mbak?"
"Sebaiknya kamu jangan ganggu dia, biarkan dia hidup tenang tanpa kamu mengusik dengan mengatainya pelakor atau apapun itu. Toh dia juga tidak pernah mengusik hidupmu. Dia sudah menikah, suaminya pasti tidak akan terima kalau kamu mencoba mengganggu ketenangannya"
Prilly hanya diam sambil mencerna ucapan Ulva barusan. Sebenarnya dia sedikit tersinggung dengan perkataan kakak iparnya. Namun ia juga tak tahu bagaimana menanggapinya.
"Sudah dulu ya Prill, mbak sibuk. Pesanku, kamu jangan terus-terusan mencurigai Adam, dia pria yang setia kok, mbak tahu seperti apa adik embak itu. Dan hati-hati dengan prasangkamu, bisa jadi apa yang kamu prasangkakan hari ini, adalah doa yang kamu buat di masa mendatang. Jadi berprasangka baiklah pada suamimu"
Setelah mengatakan itu, Ulva memutus sambungannya.
Sementara Prilly bergeming dalam diam dengan sorot kosong.
Tidak, aku tetap harus mencari tahu apartemen siapa itu.
Dengan gesit, tangan Prilly menuliskan pesan untuk anak buahnya. Dua orang berjaga di area apartemen untuk mencari tahu seberapa sering Adam mengunjungi apartemen itu. Dua orang akan membuntuti kemana Adam pergi. Termasuk ke kantor, ke tempat bertemu klien, atau kemana saja.
"Tidak ada yang salah dengan apa yang aku lakukan. Aku berhak memastikan kalau suamiku benar-benar tidak memiliki wanita lain"
"Lagi pula, apa aku salah mencurigai suami yang mendatangi sebuah apartemen mewah. Ya walaupun dia sudah menjelaskan dan meminta maaf padaku. Dia juga memberikan alasan tepat kenapa pulang terlalu larut, tapi tetap saja aku berhak tahu"
Bersambung.
Di sela-sela sibuknya, semoga bisa up terus ya. 😁😁😁
Sudah tidak bisa crazy up, tapi nanti di usahakan satu hari up meski hanya satu bab. 😘😘😘 big hug.
__ADS_1