Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Bayi laki-laki


__ADS_3

Berulang kali meta menghubungi nomor ponsel putrinya, namun jawabannya tetap sama, bahwa nomor yang ia hubungi berada di luar jangkauan.


Meta mencebik, kembali ia menelfon menantunya untuk menanyakan apakah sudah mendapat kabar dari Dinda ataukah belum. Namun, kekecewaan kembali ia rasakan sebab Adam justru tak menjawab panggilannya.


"Adam gimana si, kok malah nggak jawab panggilan mamah"


Wanita itu masih menempelkan ponsel di telinga, menunggu telfonnya mendapat jawaban.


"Awas aja ya, Adam! kalau terjadi sesuatu pada Dinda, mamah nggak akan maafin kamu. Ngurus satu istri aja sampai hilang nggak ada kabar, gimana kemarin pas punya dua istri"


Karena sedang fokus mengemudi, Adam tak mengindahi ponselnya yang sedari tadi bergetar. Pria itu tengah merasa cemas dengan kondisi istrinya yang sedang berada di rumah sakit.


Pikirannya melintang membayangkan hal buruk terjadi pada Dinda. Takut jika istrinya itu kembali koma.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, mobil yang Adam kendarai telah sampai di parkiran Harquina.


Alisnya menukik ketika mendapati mobil yang tak asing baginya. Mobil milik sang istri yang juga terparkir di area rumah sakit.


Mobil Dinda?


Tak ingin menerka-nerka, Adam segera melangkah dengan setengah berlari menuju receptionist.


"Mbak, permisi!"


"Iya, pak! ada yang bisa saya bantu?"


Nafas Adam masih tersengal karena efek berlari.


"Saya mencari dokter Dinda, pak Birawa sendiri yang memberitahu pada saya"


"Oh, iya pak. Dokter Dinda sedang berada di ruang operasi, Dia_"


"Dimana ruang operasinya mbak"


Petugas resepsionis itu merasa heran sebab Adam buru-buru memotong kalimatnya.


"Ada di lantai dua, naik lift jalan ke kanan lurus terus ke kanan lagi"


"Terimakasih mbak"


"Tapi, pak_"


Adam berlari tanpa memperdulikan panggilan petugas.


Sorot khawatir benar-benar terlukis jelas di raut wajah Adam. Apalagi ketika sepasang netranya mendapati sosok Birawa sedang duduk dengan menundukkan kepala dan memangku kedua tangannya. Perasaan was-was kian memuncak di level tertinggi.


Kebingungan juga singgah, tatkala mendapati Zidan yang sedang mondar-mandir kesana kemari dengan wajah paniknya. Ada juga orang tua Zidan di sana.


Ada apa ini? Adam membatin di tengah-tengah langkahnya yang tinggal beberapa langkah akan sampai di hadapan Birawa.


"Apa yang terjadi, pak Bi?"


Birawa langsung bangkit. Ia mengusap lengan Adam lembut.


"Dinda sedang berada di dalam, Dam"


"Ada apa dengan Dinda?"

__ADS_1


"Dinda sedang membantu Prilly di ruang operasi"


"J-jadi bukan Dinda yang sedang menjalani operasi?"


Birawa menggeleng. "Maaf, tadi saya tidak menjelaskannya saat di telfon, kamu buru-buru menutupnya. Saat saya telfon balik, kamu tidak mengangkatnya"


"Alhamdulillah" Lirih Adam merasa lega sebab Dinda hanya melakukan pekerjaannya di dalam ruangan operasi.


"Tapi apa yang terjadi dengan Prilly?"


"Dia jatuh, Dam. Tapi untungnya Dinda datang dan menyelamatkan Prilly" kata Birawa dengan raut sedih. " Saat ini Prilly sedang menjalani operasi caesar, karena air ketubannya pecah"


"Innalillahi" desis Adam lirih.


Adam memalingkan wajah ke arah Zidan, lalu menghampirinya.


"Sabar, Zi" ucapnya tulus.


"Makasih, Dam"


Pria itu menganggukkan kepala kemudian duduk di bangku panjang.


Lima belas menit berlalu, lampu di atas pintu yang tadinya menyala merah, kini berubah hijau. Tanda kalau operasi telah selesai di laksanakan.


Tak berapa lama pintu itu terbuka, menampilkan dua dokter yang tengah melepas masker.


Secara kompak, mereka buru-buru melangkah menghadap tenaga medis itu.


"Bagaimana istri saya, dokter?"


"Operasi berjalan lancar, pak Zidan. Nona Prilly baik-baik saja" kata dokter kandungan. "Untung saja ada dokter Dinda yang memberikan penanganan cepat, karena dokter Dinda pula, operasi bisa berjalan lancar sebab kami sempat mengambil darahnya. Sementara anak pak Zidan laki-laki, tapi kondisinya sangat lemah, si bayi sempat meminum air ketuban, dan karena lahir sebelum waktunya, kami terpaksa memasukan bayi bapak ke ruang NICU"


"Kondisi dokter Dinda cukup lemah karena mendonorkan darahnya sebanyak dua kantong, tadi juga sempat kehilangan kesadaran, sempat pingsan, tapi tidak apa-apa, nanti akan segera pulih"


"Bisa saya bertemu, dokter?" Adam agak sedikit memaksa.


"Bisa, tapi nanti setelah kami pindahkan ke ruang IGD untuk sementara"


Kedua dokter yang salah satunya bernama Zaskia, meminta Zidan untuk ikut masuk ke ruang operasi.


"Pak Zidan, anda harus mengadzani putranya, mari ikut kami"


"Iya, baik dokter"


Birawa serta Atmajaya saling pandang lalu berpelukan. Tapi tak serta merta kecemasan sirna, sebab sang cucu masih harus mendapatkan perawatan intensive.


"Alhamdulillah ya Rabb" Mata Indah berbinar. "Cucuku laki-laki"


Di tengah-tengah kebahagiaan keluarga Zidan dan Prilly, Adam juga turut senang dengan kelahiran bayi dari mantan kekasih sekaligus mantan istrinya.


Namun sisi lain dalam hatinya merasa dongkol terhadap sang istri. Dinda yang tiba-tiba pergi tanpa memberinya kabar, membuat Adam sedikit kesal karena di buat khawatir.


"Mas" Dinda masih terbaring lemah di atas brankar ruang IGD.


"Mas kenapa diam aja? ada apa, mas?"


"Tanya sama diri kamu sendiri?"

__ADS_1


"Tanya ke diri sendiri?" Dinda menautkan dua alisnya. Merasa bingung sebab tak mengerti apa maksud sang suami.


"Udah nanya tapi tetep masih belum ngerti kenapa"


Pria itu menarik napas pelan sambil berdecak.


"Kenapa nggak ada kabar?"


Oh jadi itulah yang membuat Adam memasang wajah masam.


"Maaf, tadinya cuma ada keperluan sebentar sama pak Bi, tapi malah ada kejadian Prilly jatuh di kamar mandi, jadinya gini"


"Pokoknya lain kali kalau ada urusan, ngomong yang jelas, mau kemana, keperluannya apa, pokoknya harus lapor"


"Kan udah lapor"


"Iya tapi nggak detail" pria itu mencebik.


"Ya mas nggak nanya"


"Ya harusnya kamu yang harus ngomong tanpa mas tanya"


"Iya maaf, besok lagi laporannya harus lengkap kan?"


"Harus itu"


"Siap" ucap Dinda dengan tegas.


"Sekarang apa yang kamu rasain"


"Pusing mas"


"Pengin makan apa?"


"Sate kambing"


"Sate kambing?" Ulang Adam memastikan, yang langsung di anggukan kepala oleh Dinda.


"Ok sekarang juga mas akan cari, mas juga belum makan"


"Udah jam segini belum makan?" Dinda heran.


"Gimana mau makan, dek. Mas kelimpungan nyari kamu, telfon juga nggak ada jawaban, telfon lagi berkali-kali malah ponsel nggak aktif"


"Ya udah mas cari makan sekarang, aku lapar"


"Kamu nggak apa-apa sendiri disini?"


"Nggak apa-apa mas, aku pernah kerja di sini, jadi nggak asing tempat ini, suster-suster juga masih kenal sama aku"


"Kalau gitu mas pergi sebentar"


"Iya"


Sebelum pergi, Adam melirik sekitar. Saat tak ada yang melihatnya, ia mencuri kecup di kening Dinda, kemudian melangkah pergi. Kelakuan sang suami memantik bibir Dinda melengkung ke atas.


"Dasar suami usil" lirihnya sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


Adam pergi, dan tak lama kemudian Birawa datang.


Bersambung


__ADS_2