
Ratusan pasang mata langsung beralih ke arah kolam begitu mendengar suara deburan air. Sebagian dari mereka berbondong-bondang melangkah ke arah sumber suara.
"Tolong" teriak Prilly dengan lantang. "Tolong teman saya, dia terpeleset lalu tercebur ke kolam"
Namun dari mereka hanya saling pandang.
Sementara Dinda yang tersendat karena tidak bisa berenang, hanya bisa mengangkat tangan setinggi-tingginya berharap ada seseorang yang menolongnya.
Adam yang memang terus mengawasi Prilly serta Dinda dari kejauhan, otomatis terkejut dan langsung setengah berlari untuk menolong Dinda.
"Dinda" tanpa pikir panjang, dia segera menyeburkan diri ke dasar air.
Hal itu membuat Prilly membelalakan sepasang netranya seakan tak percaya dengan sikap Adam yang langsung menolong Dinda. Padahal airnya sangat dingin karena Prilly memang sengaja menyuruh orang untuk mencampurkan Air es ke dalam kolam.
Selagi Adam menyelamatkan Dinda, Birawa, Atmajaya, Indah dan juga Zidan tampak kaget, mereka mengira jika Prilly yang jatuh ke kolam. Mereka pun sama-sama melangkah ke arah dimana ada suara kegaduhan.
"Kamu nggak apa-apa Prilly?" tanya Zidan panik.
"Aku nggak apa-apa Zi, itu tadi aku lihat wanita itu terpeleset lalu tercebur"
"Syukurlah aku kira kamu"
Dokter Dinda? Birawa membatin. Adam??
"Pak Jaya, lebih baik kita kesana!" Ajak Birawa berusaha mengalihkan perhatian.
Sang host pun menginstruksi agar para tamu undangan jangan panik dan kembali ke posisinya masing-masing karena pertolongan pertama sudah datang.
Sementara Prilly, pun sudah beranjak dari sana. Ia benar-benar tak suka dengan sikap Adam yang menolong Dinda.
Dengan susah payah pria itu membawa Dinda yang sudah tak sadarkan diri ke tepian kolam, lalu di bantu oleh beberapa pelayan mengangkat tubuh Dinda.
"Dinda, sadar Din?" ucap Adam cemas sembari menepuk pipinya lembut.
Sekian detik berlalu,
Dinda terbatuk lalu menggigil. Salah satu pelayan membawakan handuk untuknya agar tak terlalu kedinginan.
"Kamu minum air kolam banyak sekali, kamu nggak apa-apa?"
Wanita itu merespon dengan gelengan kepala. Namun dari bahasa tubuhnya yang mengeratkan gigi dan tangan yang ia silangkan di depan dada, menyiratkan kalau dia tengah kedinginan.
"Din, kamu nggak apa-apa kan?" Zaskia tak kalah panik.
"Nggak apa-apa mbak"
"Mas lebih baik bawa Dinda pulang, aku datang bersama Dinda, aku yang akan mengantarnya"
"Dia akan pulang dengan saya mbak" Adam menimpali kalimat Zaskia.
"Kita pulang Din"
__ADS_1
Dinda hanya mengangguk merespon kalimat Adam, sebab dirinya memang sedang tidak fokus karena menahan dingin.
Perlahan, Adam membantu Dinda untuk bangun dan berdiri. Lantas menuntunnya keluar dari gedung pesta.
Ada banyak pasang mata yang terus menatapnya dengan tatapan iba. Pasalnya sebagian dari mereka tahu jika dua orang dengan pakaian basah adalah pasangan selingkuh.
Sesampainya di area parkir, Adam membuka pintu lalu mempersilakan Dinda masuk, setelahnya, ia menutup kembali lalu berjalan memutari depan mobil.
"Dingin banget ya Din?" tanya Adam melirik sekilas sebelum kemudian memutar roda kemudi ke arah kanan.
"Hmm" respon Dinda singkat, lengkap dengan bibirnya yang bergetar.
Hening, hanya Ada suara deru mobil yang saling mendahului, sesekali terdengar lampu sign ketika berbelok.
"Kenapa bisa jatuh ke kolam?" tanya Adam memecah kebisuan di antara mereka.
"Aku nggak hati-hati, jadinya terpeleset"
"Ternyata masih ada orang yang berbohong demi menutupi kesalahan orang lain" Suara Adam terdengar santai.
"Maksud mas?"
"Yakin terpeleset?"
"I-iya"
"Nggak di dorong sama Prilly?"
"E-enggak, kok"
"Padahal aku tahu dari awal kamu di seret paksa oleh Prilly"
"Mas tahu?" tanya Dinda menoleh ke samping Kanan. Menatap sosok pria yang baru saja menekan tombol klakson.
"Tahu" jawab Adam yang membuat Dinda menelan saliva.
"Dia nggak sengaja kok mas"
"Apa hobi kamu itu berbohong, Din?"
"A-aku? B-bohong?" Seketika Dinda tergagap mengingat ada banyak kebohongan yang dia simpan.
"Nggak mau ngaku?" tanya Adam tanpa menatap Dinda. Fokusnya terus tertuju ke arah depan. "Mulutmu mungkin bisa bohong, tapi matamu enggak"
Adinda terdiam, separuh perhatiannya jatuh pada perkataan Adam, separuhnya lagi tengah menenangkan debaran jantung yang mulai bertambah cepat detakannya.
"Bersimpati, berempati dan menutup kesalahan atau aib orang lain itu baik, tapi jangan dengan suami kalau kamu sudah menikah nanti, kamu tetap harus menceritakan semua yang mengusik hatimu pada imammu, dan satu hal yang nggak boleh kamu lakukan" Adam menoleh kewajah Dinda, dengan cepat Dinda langsung menjatuhkan pandangan pada roda kemudi. Jelas wanita dengan mata indah yang di lingkupi bulu lentik itu tak berani beradu pandang dengan lawan bicaranya. Takut jika kebohongan yang lain akan nampak dari sorot matanya.
"Apa yang nggak boleh aku lakukan?"
"Berbohong" Jawab Adam to the point. Fokusnya sudah kembali menatap jalan.
__ADS_1
Sedangkan Dinda kehilangan kata-kata. Tak tahu harus mengatakan apalagi setelahnya.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Adam bertanya ketika Dinda tak kunjung bersuara.
"Bukan apa-apa, dia hanya bilang kenapa aku dengan tidak tahu malunya datang ke acara pertunangannya"
"Oh ya?"
"Iya" sahut Dinda seraya membuang muka ke jendela sebelah kiri.
"Kalau aku nggak salah dengar" Adam berkata pelan, tapi nada suaranya membuat jantung Dinda kian meliar. "Bukankah dia bersumpah akan membuat hidupmu menderita?"
Mendengar ucapan Adam, Dinda langsung menghela napas panjang, lalu mengeluarkan secara perlahan.
"Wajar kalau dia bilang seperti itu, karena aku sudah mengusiknya terlebih dulu, aku yang lebih dulu menyalakan api permusuhan"
"Tapi nggak seharusnya kamu menutupi kesalahan dia. Sudah ku bilang, Prilly itu pemarah, jika keinginannya tidak terpenuhi, dia akan marah dan langsung emosi, jadi sebaiknya kamu hati-hati"
"Aku pasti hati-hati kok"
"Itulah yang membuatku akhirnya datang ke acara pertunangannya, dan ternyata ucapanmu benar"
"Ucapan?" kata Dinda yang memantiknya untuk langsung mempertemukan netranya.
"Bukannya kamu bilang kamu akan tenggelam?"
Sunyi, tatapan Dinda tak teralihkan pada pria di sampingnya.
"Kamu benar-benar akan tenggelam Din" tambah Adam seperti menyindir. "Apa jadinya kalau aku tidak menolongmu tadi, mungkin kamu akan di larikan ke rumah sakit"
"Apa mas sedang mengejekku?"
"Tidak, aku hanya mengingatkan hal kecil, bahwa apa yang keluar dari mulut kita, bisa menjadi do'a yang di aminkan oleh ratusan malaikat. Sementara ucapanmu saat di telfon, benar-benar kejadian"
Adinda menahan diri untuk tak mengomeli pria yang saat ini tengah mendaratkan siku di sisi jendela sebelah kanan, sementara tangannya menutup sebagian hidung hingga mulut sambil menahan senyum geli.
Entah apa yang lucu, mungkin wajah kikuk Dinda serta dirinya yang hampir tenggelam karena tidak bisa berenang merupakan hiburan tersendiri baginya.
Sembari terus mengemudi, pria itu melirik ke Dinda dengan gesture santai.
"Ada yang harus ku perjelas" kata Dinda akhirnya. "Maksud dari ucapanku adalah tenggelam di tengah-tengah banyaknya orang yang luar biasa hebat, bukan tenggelam di dalam kolam"
Dinda sadar kalau Adam tengah meledek dan mengerjainya.
"Lain kali, kalau ngomong di pikir dulu, yang namanya tenggelam itu ya di air, bukan di kerumunan orang"
Tak ingin meladeninya, Adinda memilih diam. Ia mengaku kalah dengan ucapan Adam yang mampu mematahkan setiap kalimatnya.
Hingga akhirnya mobil telah sampai di pelataran rumah Dinda.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Karena ternyata karya ini yang sudah ku daftarkan lomba dua bulan lalu, lulus review ke kategori konflik rumah tangga dengan sub tema pov pelakor, jadi mau tidak mau akan aku selesaikan di sini.
Terimakasih yang sudah membaca. Semoga terhibur. 😘😘