
Setelah bertemu dengan Zidan, Dinda tak kembali ke rumah sakit. Selain sudah tidak ada pekerjaan, konsentrasi Dinda juga cukup berantakan. Dia juga tak langsung pulang ke apartemennya sebab sang mama memintanya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di rumahnya.
Disinilah posisinya saat ini, rumah kecil peninggalan sang papah.
Ia termenung, menahan nyeri di dalam dada yang terasa kian menjadi. Pikirannya cukup terusik membayangkan Adam dan Prilly melewati malam pengantin.
Saat tengah melamun memikirkan hal-hal yang membuatnya semakin sesak, ia mendengar suara deru mobil memasuki halaman rumah. Ia pikir itu hanya halusinasi, tidak mungkin Adam datang di saat malam-malam indah bersama istrinya, tapi saat seseorang mengucap salam sembari mengetuk pintu, barulah dia yakin kalau Adam benar-benar datang.
Ia bergegas membukakan pintu, dan ketika pintu itu terbuka, Adam langsung berlutut di hadapannya. Pria itu benar-benar merasa lelah dan tak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui kebenarannya.
Sementara Dinda, sontak tercenung melihat sikap Adam. Wanita itu menelan ludah sebelum bersuara.
"Mas"
Pria itu menangis, membuat Dinda tertular rasa sedih. Dia yang memang sedang merasa tak baik-baik saja, otomatis ikut menangis melihat pria yang ia cintai terduduk lesu di hadapannya.
Genangan di pelupuk matanya benar-benar tak bisa ia pertahankan ketika tangisan Adam kian menyendu.
Dinda menunduk, menatap Adam dengan pandangan mengabur.
"Ada apa, mas?"
Hening, cukup lama Adam terdiam.
"Kita masuk mas, nggak enak di lihat tetangga"
Dinda membantu Adam untuk bangkit, kemudian menuntunnya menuju sofa ruang tengah.
Dokter itu sengaja membawa Adam ke ruang keluarga sebab dia takut jika ada tetangga yang melihatnya. Meskipun mereka tidak akan berbuat mesum, tapi Adinda cukup was-was dan antisipasi takut ada yang menggerebegnya.
"Ada apa mas, kenapa menangis?"
"Ternyata Prilly sudah menipu dan menjebakku, Din"
Sorot mata Adam kosong, sekosong hati Dinda beberapa menit lalu.
"Maksud mas?"
Adam menoleh ke samping kanan. "Anak Prilly bukan anakku"
"M-mas tahu dari mana?"
"Dia sendiri yang mengatakannya di depan Zidan"
"Bagaimana bisa? apa Prilly tahu kalau mas sudah mendengar ucapannya?"
Adam menggeleng.
Dinda menghirup napas panjang.
"Boleh aku tanya, mas?"
Adam kembali menoleh mempertemukan netranya. "Tanya apa?"
"Berapa kali mas berhubungan badan dengannya?"
"Apa maksud pertanyaanmu, Din. Kamu pikir aku sudah berkali-kali menidurinya? awalnya aku juga tidak percaya dengan pengakuan Prilly, tapi setelah Zidan mengancamnya dengan video, Dia dengan sadar mengatakan kalau itu anaknya. Aku tidak tahu video apa yang Zidan maksud"
"Sekarang aku ingin dengar jawaban mas, sudah berapa kali mas meniduri Prilly?"
Sorot serius dari manik hitam Adam seakan menunjukkan ketidakpercayaannya atas pertanyaan Dinda yang menyudutkan dirinya.
"Kamu hanya bertanya atau sedang mengintimidasiku dengan tuduhan, Din"
"Aku bertanya karena aku ingin tahu, mas" Pandangan Dinda tak teralihkan barang sedetik.
"Cuma satu kali, itu pun aku tidak sadar sudah melakukannya"
Jawaban Adam membuat Dinda reflek memejamkan mata.
"Mas yakin?" tanya Dinda masih dengan mata terpejam.
"Sangat yakin, karena setelah aku menidurinya di hotel itu, aku tidak bertemu Prilly karena aku terlalu sibuk bersembunyi darimu. Prilly hanya datang menemui abi dan umi untuk memintaku bertanggung jawab"
Lalu sunyi. Mereka hanya lekat saling menatap.
Kemudian Dinda agak sedikit bangkit untuk meraih ponselnya yang ada di atas meja.
"Mungkin video ini yang Zidan gunakan untuk mengancam Prilly" Dinda menyodorkan ponselnya ke tangan Adam.
Saat Adam menyaksikan video itu, ia menggeleng-gelengkan kepala, seakan tak percaya.
"D-dari mana kamu dapat video ini, Din?" Adam bertanya dengan fokus sepenuhnya menatap Dinda.
"Waktu itu, saat aku mengetahui rencana Prilly, aku langsung menghubungi teman aku. Teman yang ternyata adalah pemilik royal park hotel"
"Aku ada di kamar itu bersama kalian" jawaban Dinda membuat Adam mengeratkan rahangnya.
Flash back on..
"Halo Din?" Sapa wanita dari sebrang telfon.
"Eve, bisa aku meminta tolong padamu?"
__ADS_1
"Kalau aku bisa, aku pasti akan menolongmu, Din?"
"Begini Ve" Dia berjalan keluar untuk melihat posisi Prilly. "Aku ingin masuk ke kamar nomor sebelas dilantai dua hotel royal park. Kamar yang sudah di pesan oleh seorang wanita untuk menjebak calon suamiku, bisa kamu meminta keycard cadangan ke resepsionis supaya aku bisa masuk?"
"Kamu ingin memergokinya?"
"Iya, Ve"
"Okay, aku akan telfon pihak resepsionis"
"Tapi tolong jangan sampai wanita yang memesan kamar itu tahu"
"Aku paham maksudmu. Kebetulan aku masih di salah satu kamar hotel ini, aku akan ngomong langsung ke pegawaiku"
"Aku ada di sini juga, Ve. Di pintu masuk hotel"
"Aku akan turun menemuimu "
"Okay Ve, aku tunggu di lobi"
***
Menit berganti jam, Dinda sudah berada di kamar yang di pesan Prilly sejak beberapa saat lalu setelah mengganti obat perangsang dari Prilly dengan obat tidur miliknya.
Ia menyita obat yang Prilly berikan pada pegawai foodcourt dengan alasan itu adalah sejenis racun yang mematikan. Sementara obat dari Dinda adalah obat tidur dosis rendah yang pernah ia beli untuk menjebak Adam saat dulu. Kebetulan obat itu masih ada di dalam tasnya, jadi Dinda tak perlu mencari ke apotek untuk membelinya.
Pegawai itu pun lebih percaya Dinda sebab dia menunjukan bahwa obat itu benar obat tidur dan aman untuk di konsumsi.
Kini Dinda tengah menunggu di kamar hotel, ia bersembunyi di balik sofa demi untuk memata-matai apa yang akan Prilly lakukan pada Adam.
"Jika ayahmu bisa mengganti obat tidurku dengan obat perangsang, mudah bagiku untuk menukar obatmu dengan obatku, Prilly"
Tertawa dalam hati, Dinda mengeluarkan ponselnya untuk merekam apa yang Prilly lakukan.
"Aku akan merekammu" gumam Dinda dengan seringai balas dendam.
Cukup lama menempatkan diri di posisinya agar tak terlihat, Dinda terkesiap ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia tahu kalau Prilly dan Adamlah yang memasuki kamar bernomor sebelas.
"Okay makasih sudah memesankan kamar untuku Pril, kamu bisa pergi sekarang" Pria itu langsung melepas sepatunya kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Adam benar-benar merasa ngantuk akibat obat tidur yang tercampur di minumannya. Hanya sekian detik, dia telah hanyut ke dunia mimpi.
Di balik punggung sofa, ada sosok yang tersenyum puas sambil membungkam mulutnya.
Sementara Prilly terheran dengan sikap Adam yang bereaksi berbeda.
"Ini kenapa Adam tidur?" Wanita itu menggoyangkan tangan di depan wajah Adam. "Sebenarnya obat apa yang sudah ku beli?" Dia mengeluarkan obat dari dalam tas lalu mencermatinya penuh lekat.
"Obat apa ini? apa apoteker itu salah memberiku obat? lalu bagaimana rencanaku sekarang, bagaimana bisa dia meniduriku kalau tidur pulas begini?"
Kamu pikir rencanamu akan berhasil Prilly? haha, aku nggak akan biarkan mas Adam berzina untuk kedua kalinya.
Kamu tidak akan pernah bisa membuat mas Adam berakhir di ranjangmu.
"Kalau begini rencanaku bisa gagal?" Wanita dengan tinggi seratus enam puluh lima cm itu mondar-mandir dengan satu tangan berkacak pinggang. Sesekali memindai tubuh Adam yang terkapar dengan kondisi mata terpejam.
"Ayo Prilly, berfikirlah! Jangan lewatkan kesempatan ini"
Beberapa menit berlalu...
"Aha,, lebih baik aku lepaskan semua pakaiannya"
Prily langsung beraksi dan melucuti pakaian yang Adam kenakan.
Apa yang Prilly lakukan?
Dinda terus memfokuskan netra ke arah Prilly.
Ya Tuhan, Prilly juga melepas semua pakaiannya?
Fix dia psicopat.
Aku harus terus merekamnya sampai mas Adam bangun. Setidaknya jika Prilly menuntut pertanggungjawaban mas Adam, aku bisa tunjukan rekaman ini .
Saat ini keduanya sudah tak mengenakan pakaian barang sehelai. Prilly juga sudah memposisikan dirinya rebah di samping Adam yang masih menutup matanya.
"Adam, kalau seperti ini, kamu benar-benar tampan, aku penasaran seperti apa permainanmu" Seraya bergumam, jari-jari Prilly bergerak di atas dada bidangnya. "Kamu milikku, dan selamanya akan menjadi milikku. Baik Dinda atau wanita manapun, tak boleh memilikimu. Hanya aku yang berhak, hanya aku, Dam"
"Oh Adam, kenapa aku tidak melakukan ini dari dulu, aku baru tahu ada obat perangsang seperti yang kamu dan Dinda konsumsi, padahal ada banyak kesempatan kita makan berdua, tapi sayangnya aku tidak tahu tentang obat laknat itu. Kalau aku melakukannya sejak lama, ayah pasti akan merestui kita dan kita sudah menikah saat ini, Dam"
Detik berganti menit, sudah setengah jam lebih Adam tertidur, mendadak Prilly ingat tentang apa yang dia persiapkan sebelumnya.
"Ah, aku melupakan sesuatu" Prilly bangkit dengan kondisi tanpa pakaian. Dinda yang melihatnya reflek menggelengkan kepala.
Astaghfurullah, dasar manekin jelek, mau apa lagi dia?
"Aku harus memecahkan darah perawan palsu ini, supaya Adam semakin yakin sudah merengguk keperawananku"
Oh my maaa... Bahkan kamu rela membeli darah perawan palsu yang banyak di jual di online shop? Obsesimu luar biasa Prilly, aku jadi semakin ingin mengerjaimu.
Mas Adam mungkin bisa tertipu, tapi aku enggak, dasar wanita rubah.
Flashback of.
"Jadi aku tertidur saat itu Din?" tanya Adam usai melihat rekaman sampai selesai. Dia sekarang tahu kalau dia hanya tidur dan tak menyentuh Prilly saat itu "Kamu mengganti obat perangsang dengan obat tidur? dan noda merah itu adalah darah palsu?"
__ADS_1
"Iya mas, sama persis dengan apa yang Birawa lakukan pada kita waktu itu. Mas harus tahu" kata Dinda dengan ingatan menerawang ke beberapa waktu lalu. "Ku akui aku memang menjebak mas dengan obat tidur untuk menipu Birawa, tapi tanpa sepengetahuanku, Birawa mengirim informan untuk memata-mataiku, di situlah Birawa tahu kalau obat yang aku gunakan hanyalah obat tidur, para anak buahnya mengganti obatku dengan obat perangsang"
"Keterlaluan mereka, Prilly bahkan menuduhmu kalau kamu menjadi simpanan Birawa"
"Simpanan Birawa, mas?"
Adam mengangguk.
"Dia bilang kalau selama ini kamu hidup dengan uang Birawa, dia juga bilang kalau Birawa sudah membiayai kuliahmu"
Dinda tersenyum kecut.
"Padahal aku bisa kuliah di fakultas dokter karena aku berprestasi, dan di biayai oleh abah Zaki"
"Abah Zaki? siapa dia?"
"Pengurus ponpes sebrang"
Tanpa Dinda duga, dan tanpa ia sangka, setelah jeda sejenak, tiba-tiba saja Adam terduduk di lantai dan berlutut di hadapan Dinda.
"Sekarang semuanya jelas, anak itu bukan anakku, Din" Adam meraih kedua tangan Dinda, membuat jantungnya kian ribut.
"Aku yang sudah jelas menyentuhmu, aku mau menikahimu"
Adam mendongak, sementara Prilly merunduk.
"Apa maksud mas?"
"Aku mau kita menikah, dan aku akan langsung menceraikan Prilly begitu dia melahirkan"
"Tapi mas_"
"Please Din, aku sudah mencintaimu"
Hening hingga beberapa menit.
"Apa mas pikir aku mampu jadi istri kedua? aku tidak bisa mas"
"Apa yang membuatmu tidak bisa, kita hanya menunggu sampai Prilly melahirkan anaknya"
"Mas pikir aku bisa membayangkan mas berbagi peluh dengan dia?"
"Kamu khawatir aku bobo panas dengan Prilly?" Ada tatapan meledek yang Dinda tangkap melalui sorot mata Adam.
Tanpa ragu, dan sedikit malu-malu Dinda mengangguk. "Itu karena aku nggak mau berbagi"
"Okay, aku pastikan tidak akan menyentuhnya"
"Bagaimana aku bisa percaya, jika dua orang berbeda jenis, tidur dalam satu ranjang"
"Aku tidak akan tidur dengannya, aku janji. Jika aku menginginkannya, aku akan mengunjungimu"
"Mas mau menjadikanku pelakor?" selidik Dinda dengan dahi mengernyit.
"Aku nggak tahu apa itu pelakor, yang ku tahu aku cinta sama kamu, dan aku tidak mau kehilanganmu"
"Aku juga tahu kamu cinta mati sama aku, Din" tambah Adam kembali meledek.
Reflek Dinda mencubit lengan bagian atas Adam. Pria itu langsung mengusap bekas cubitan dari tangan lembut Dinda.
"Bagaimana kita menikah?" tanya Dinda. Wanita itu benar-benar tak paham bagaimana seorang pria berpoligami. Bisa di bilang sikap Adam memang menjurus ke sana. Sementara feeling Dinda, kalau Adam hanya akan menikahi secara Siri.
"Biar aku yang urus, kamu terima beres"
"Apa mamah, abi dan umi akan tahu?"
"Jelas, tapi tidak dengan mbak Ulva, dia pro dengan Prilly"
"Nggak beri tahu Prily?" tanya Dinda serius.
"Kalau kita beri tahu, takutnya dia mengalami trauma di tengah-tengah kehamilannya"
Dinda membenarkan ucapan Adam.
"Apa kita akan menikah siri mas?" Dinda memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak, kita akan nikah secara resmi, nanti akan aku atur, kebetulan banyak teman aku yang bekerja di KUA"
"Kita pasti akan menyakiti Prilly mas, apa mas nggak takut kita kena karma?"
"Dia yang lebih dulu menyakiti kita, diapun akan kena karma"
Keduanya sama-sama diam, sepasang manik mereka bergerak mengikuti gerakan manik lawannya.
"Kita hanya merahasiakan pernikahan kita selama sembilan bulan Din, setelah itu aku akan menceraikannya. Dan aku nggak bisa menunggu selama sembilan bulan untuk menikahimu. Kita rahasiakan ini juga demi kebaikan kamu, gimana?"
"Janji akan menceraikannya? nggak akan nyentuh Prilly?"
"Janji" sahut Adam tanpa ragu. "Kita menikah?"
Dinda lantas mengangguk setuju.
Tak terasa, jam hampir menunjukan waktu tengah malam. Dinda memutuskan pulang ke apartemennya di antar Adam. Pria itu melajukan mobilnya di belakang mobil milik Dinda.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf ya, alur yang ku buat memang begitu. Biar semakin kental pov pelakornya. 😘😘😘