
Prilly merasa sangat kesal mendengar kabar bahwa Dinda adalah anak dari ayahnya. Dia seakan-akan tidak terima dengan fakta yang mengejutkan itu. Zidan sebagai suaminya, berusaha menenangkan sang istri yang suasana hatinya sedang kacau.
"Jangan terlalu di fikirkan sayang, nanti bisa berpengaruh pada kandunganmu" Katanya tenang. "Kalau Dinda memang anak kandung ayah, kakak kamu, kamu terima aja"
"Aku bisa terima kalau ayah punya anak dari wanita lain, tapi kenapa harus Dinda?"
"Itu artinya, Tuhan sedang menguji keikhlasanmu"
"Bagaimana aku bisa ikhlas, Zi? pertama, dia mengacaukan hubunganku dengan Adam, kedua, dia merusak rencanaku, lalu merebut suamiku, dan sekarang, dia mau merebut ayah dariku? kurang ikhlas gimana aku, Zi?"
Zidan menarik tangan Prilly lalu membawa ke pelukanya. Otomatis, tangan Prilly langsung melingkar di pinggangnya.
"Tenangkan hati dan pikiranmu, kalau hati tenang, kita bisa mengikhlaskan segalanya. Dan kamu harus tahu kalau aku, akan selalu ada untukmu"
"Kenapa wanita itu terus saja mengusikku?"
"Sudah biarkan saja, kamu tidak perlu terusik, kamu punya aku, mamah dan papahku juga orang tuamu, dia menyayangimu bahkan melebihi kasih sayangnya padaku. Kita fokus saja pada keluarga kecil kita, okay"
Awalnya orang tua Zidan terutama sang mamah memang membenci Prilly setelah membatalkan pernikahannya dengan sang putra. Tapi melihat bagaimana putranya sangat mencintai Prilly, di tambah Prilly sedang mengandung cucunya, akhirnya Indah pun merestui hubungan mereka. Toh, dia sempat mendengar bahwa rumah tangga Prilly dengan Adam tidak berjalan mulus, bahkan belum sampai melakukan hubungan suami istri. Hal lain seperti Prilly yang merupakan anak dari sahabatnya pun turut menjadi alasan dia mau menerima Prillya kembali.
"Tidak bisa Zi, aku harus memberikan perhitungan pada wanita sialan itu"
"Jangan seperti itu" Zidan berusaha keras meredam emosinya. "Dia kakakmu, nanti ayah pasti akan marah jika kamu seperti ini"
"Lalu aku harus diam saja, melihat wanita yang sudah menghancurkanku hidup bahagia bersama suami dan orang tua kandungnya?"
"Apa salahnya membuat orang lain bahagia, Prill, bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, yang membuat orang lain bahagia?"
"Tapi ke_"
"Sudahlah" potong Zidan kilat, membuat ucapan Prilly seketika terpenggal. "Kamu juga akan bahagia hidup denganku, aku akan terus membahagiakanmu"
Menghirup napas dalam-dalam, Prillya berusaha menerima perkataan Zidan meskipun akal sehatnya terus menolak.
"Apa kita perlu tinggal di luar negri, agar kamu bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang Dinda?"
Prillya mengurai pelukannya.
"Luar negri?"
Zidan mengangguk meresponnya. "Kita tinggal di Singapura mengurus bisnisku yang di sana, untuk beberapa tahun saja, biar kamu bisa lupa dengan Dinda"
"Kita akan memulai hidup baru di sana, bagaimana?"
"Dengan begitu apa artinya aku kalah melawan pelakor, Zi"
"Ssttt" Jari telunjuk Zidan menempel di bibir Prilly. "Jangan lagi katakan itu, jaga ucapan kamu, mulutmu, jangan di biasakan mengumpat"
"Tapi dia keterlaluan"
"Jangan ada tapi ini, tapi itu, dan tapi-tapi lainnya, kamu cukup fokus pada calon bayi kita, fokus padaku, dan fokus pada urusanmu, dengan begitu kamu akan melupakan apa yang membuat pikiranmu terusik"
__ADS_1
"Jangan jadi wanita jahat yang suka menyumpah orang, membuat hidup orang menderita, jangan Prill"
"Tapi_"
"Sudah ku bilang jangan kebanyakan tapi, kan?" Zidan kembali mengingatkan. "Jika orang membuat hidup kita hancur, kita tidak perlu membalas dengan menghancurkannya. Dunia ini bukan tempatnya untuk balas membalas. Akan ada hari dimana pembalasan itu ada. So, jangan khawatirkan apapun tentang balasan, karena ada yang lebih berhak membalas perbuatan kita, perbuatan mereka"
Bisa di katakan perkataan Zidan cukup membuat Prilia meredam, wanita itu lantas kembali memeluk Zidan lebih erat, mencuri aroma tubuhnya yang menjadi candu semenjak dirinya hamil.
"Kamu pasti akan lebih bahagia dari pada Dinda, sayang"
"Apa itu benar?"
"Tentu saja, dengan catatan kamu harus bisa melupakan masa lalu dan hanya fokus dengan masa depanmu"
"Tapi aku masih belum bisa terima kalau dia adalah saudariku"
"Nggak apa-apa, nggak gampang untuk menerima musuh kita sebagai saudara, aku maklum kok, tapi aku harap, suatu saat kamu bisa terima dia"
"Pasti akan butuh waktu lama"
"Apa yang membuatmu butuh waktu lama untuk menerima Dinda sebagai kakakmu? apa kamu masih belum terima dia merebut Adam darimu, apa kamu masih mencintai Adam?"
"Aku memang belum terima semua perbuatan dia padaku, tapi salah kalau aku masih mencintai Adam. Aku justru sangat membencinya sekarang. Pria itu sudah menghinaku, sudah mengolok-olok harga diriku. Dengan dia yang tidak menganggap pernikahan kami, itu termasuk penghinaan buatku"
"Benar yang kamu katakan?"
"Benar Zi, dan aku menyesal menikah dengannya"
"Okay, sekarang, coba lepaskan semua yang menjadi beban kamu, baik tentang Adam maupun Dinda, dengan begitu, kamu tidak akan butuh waktu lama untuk menerima Dinda sebagai saudarimu"
Zidan mengusap punggung Prilly.
***
Tiga hari sudah berlalu, Dinda masih belum sadar pasca operasi. Dokter bilang, kalau hari ini belum bangun juga, maka kemungkinan akan bangun setelah satu minggu.
Padahal GCS dilakukan setiap waktu, namun dari ketiga komponen mata, verbal dan juga motorik, kesadaran Dinda belum bisa menunjukkan perkembangan. Sementara Adam masih setia menanti kesadarannya.
"Assalamu'alaikum dek" Adam mengecup kening Dinda sedikit lebih lama.
"Maaf ya, mas baru bisa jenguk kamu, mas sibuk di kantor"
Pria itu memang selalu datang di sore hari setelah pulang kantor. Dan akan menginap di rumah sakit untuk menemani Dinda. Meta serta Santi akan bergantian jaga di pagi hari hingga menjelang sore.
"Bangun, dek! kamu sudah tiga hari nggak lihat wajah suamimu lho, kamu nggak kangen sama mas?"
Sembari bermonolog, Adam mengelap tubuh Dinda dengan handuk kecil yang di basahi air hangat.
"Kamu juga sudah nggak mandi selama tiga hari, kamu paling risi kalau nggak membersihkan diri, kan?"
Saat mengelap bagian sela-sela jarinya, Adam mendapati jari Dinda bergerak meski pelan.
__ADS_1
"Dek, apa kamu menggerakkan jarimu?" Adam tak percaya.
Hening, Adampun berhenti mengelap, berharap Dinda akan kembali menggerakkan jarinya.
Tapi harapannya itu justru sia-sia setelah mengamatinya penuh fokus ke jari Dinda yang tak ada pergerakan apapun.
"Mungkin tadi gerakannya karena mas yang gerakin ya dek, atau mas sedang berhalusinasi?"
"Okay sayang, bagian mana lagi yang harus mas lap?"
"Kaki?"
"Okay"
Adam pun berpindah ke kaki Dinda dan mengusapkan handuk yang sudah kembali di bilas. Tangannya seakan jahil dengan jari telunjuk dan jari tengah seperti sepasang kaki yang berjalan di atas kaki Dinda.
"Geli nggak dek? Biasanya kamu suka teriak-teriak kalau mas sentuh seperti ini"
Dengan mata mulai berkaca-kaca, Adam menyentuh telapak kaki Dinda seperti menggelitikinya.
"Suamimu sudah kurus begini, kamu masih nggak peduli dengan mas? sudah nggak di masakin tiga hari lho, perlu mas ingatkan?"
Beberapa menit berlalu, Adam telah selesai mengompres tubuh Dinda, dia langsung merebahkan diri di samping tubuh istrinya.
Sebelum ke rumah sakit, pria itu memang mampir dulu ke apartemen untuk mandi dan menyiapkan baju kantor serta membawanya untuk di pakai esok harinya.
Mendaratkan tangan di atas perut Dinda, tangannya melingkupi punggung tangan yang tampak putih pucat.
"Dek, tanpamu, mas benar-benar tak ada semangat, tidak ada motivasi untuk melakukan banyak hal. Dan maaf kebiasaan mas merokok kembali mas lakukan, itu karena mas stres menahan rindu. Melihatmu seperti ini, membuat mas tak fokus dalam bekerja" Terdengar seperti sebuah pengaduan, ungkapan perasaan yang hampa tanpa sang istri selama tiga hari ini.
Tiba-tiba, Adam merasakan tangan Dinda yang berada dalam lingkupan tangannya bergerak, selain gerakan itu, ia juga mendengar suara parau dari mulut istrinya.
"Mas"
Adam langsung menoleh, dan seperti sebuah keajaiban, mata Dinda terbuka membuat Adam mempertajam penglihatannya. Ia berharap ini bukan halusinasi melihat Dinda tersadar dari komanya selama tiga hari.
"Dek" pria itu bangkit lalu berdiri di samping ranjangnya.
"Minum"
"Mau minum?" tanya Adam.
Dinda mengangguk pelan.
Dengan cepat, Adam meraih gelas di atas meja. Ia mengarahkan sedotan ke mulut Dinda.
"Pelan-pelan sayang"
Setelah menyesap beberapa sesapan, Adam kembali meletakkan gelas di tempat semula, lalu mengulurkan tangan memencet tombol darurat di bagian atas ranjangnya.
Tak menunggu lama, paramedis datang dengan tergopoh.
__ADS_1
"Dok, istri saya sadar" ucap Adam memberitahu pada tenaga medis. Dia bergeser agak menjauh dan memberikan tempat untuk dokter agar bisa leluasa memeriksa Dinda.
Bersambung.