
Dua hari berlalu, para pesuruh Prillya hanya memberikan informasi yang begitu-begitu saja. Mereka hanya melihat Adam pergi ke kantor, ke tempat pertemuan bisnis, apartemen, lalu kembali pulang ke rumah Prillya.
Sementara Adam yang masih belum menyadari ada mata-mata, tampak tenang dan santai saja.
Hingga hari beranjak sore, matahari pun sudah nyaris terbenam di langit dan hanya menyisakan semburat orange yang menghiasi langit barat, Prilly mendapat informasi kalau mobil yang Adam naiki menepi dari bahu jalan tepat di pintu masuk apartemen.
Seperti yang tertangkap dari penglihatannya, di video yang di kirim oleh dua anak buahnya, Adam langsung keluar dari mobil, kemudian menghampiri mobil yang juga berhenti di depannya.
Sosok wanita berhijab pun turut keluar dari mobil mewah lalu mengecup punggung tangan Adam. Sayangnya, wajah Adinda sama sekali tak tertangkap kamera sebab rekaman itu di ambil dari balik punggung Adam.
Tidak lama setelahnya, wanita berhijab itu kembali memasuki mobil dengan Adam masih berdiri di samping badan mobil. Adam sempat melambaikan tangan ketika mobil yang Dinda kendarai mulai berjalan ke arah pintu masuk apartemennya.
Pria itu tampak berbalik lalu melangkah, membuka pintu bagian kemudi dan masuk. Rekaman pun berakhir di menit ke tiga.
Tanpa sadar, salah satu tangan Prilly mengepal, wajahnya memanas, dan jantungnya berdebar tanpa tahu aturan.
Sangat jelas bayangan kebersamaan Adam dan wanita yang mengenakan hijab itu terekam di ponselnya.
Sikap Adam pada wanita itu tampak begitu manis dan lembut, Sungguh mengingat hal itu, hatinya bagaikan di remas-remas dengan sangat kuat, rasa sakit yang luar biasa hebat, bahkan menghantam dadanya dengan tanpa ampun.
Apa wanita ini Dinda? wanita yang juga memakai hijab?
Kalau benar, bagaimana bisa dokter miskin itu memiliki apartemen yang begitu mewah?
Apa mungkin apartemen itu Adam yang membelinya lalu di berikan pada Dinda?
Atau, apakah selama ini dia memeras uang ayahku untuk membeli apartemen itu?
Tapi bisa saja wanita itu bukan Dinda, mengingat perkataan mbak Ulva bahwa Dinda sudah menikah.
Prilly terdiam, pikirannya benar-benar terasa acak-acakan dan ruwet di dalam sana.
Ia mencoba mengurai satu demi satu prasangka yang kebenarannya belum valid.
Mungkinkah Dinda menikah dengan Adam? Wanita itu menelan ludahnya dengan gusar.
"Bagaimana bisa Adam berkhianat? dia bukan pria seperti itu. Kalau saja ayah tidak membayar Dinda, dia nggak akan dekat dengannya"
"Sepertinya aku harus selidiki Dinda dan mencari informasi dengan siapa dia menikah"
"Aku harus datangi rumahnya dan bertanya pada tetangganya, kalau benar dia sudah menikah, pasti mereka tahu siapa nama suaminya. Iya, aku harus tahu nama suaminya Dinda"
"Wanita itu benar-benar membuatku insecure"
Tiba-tiba terdengar suara decitan pintu.
"Kamu sudah pulang?"
Prilly bangkit kemudian melangkah beberapa langkah. Tangannya mengambil alih tas kerja dari tangan kanan Adam.
Adam hanya merespon dengan bahasa tubuh.
"Nggak lembur?"
"Enggak"
"Aku siapkan air hangat untuk mandi" kata Prilly membuat Adam mengeryit keheranan. Benar-benar sikap Prilly terasa aneh belakangan ini.
"Kamu nggak apa-apa kan?" sorot mata Adam penuh intimidasi.
__ADS_1
Tak langsung menjawab, kini ganti Prilly yang mengerutkan dahi, tangannya meletakan tas di atas meja sofa yang ada di kamar. "Kenapa memangnya?"
"Nggak biasanya kamu seperti ini? biasanya selalu emosi, marah-marah dan abai. Sekarang kenapa jadi perhatian begini?"
Tersenyum, sebelum kemudian merespon. "Harusnya kamu tahu, sikap ibu hamil itu kadang suka labil, dan perubahan sikapnya yang enggak bisa di tebak itu bawaan bayi"
"Oh ya?, tapi kandunganmu nggak apa-apa kan?" Pandangan Adam turun ke perut Prilly yang masih rata.
Hamil dua bulan benar-benar membuat Prilly harus merasakan situasi yang mencekam. Ibu hamil yang seharusnya bahagia, dia justru sebaliknya. Hanya kecemasan, ketakutan dan kekesalan yang ia rasakan, yang kemungkinan besar bisa membahayakan janinnya.
"Nggak apa-apa, tapi aku ingin kamu meluangkan waktu lebih banyak untukku dan calon bayi kita"
"Ok, hari minggu aku akan mengajakmu refresing"
"Hari minggu?" tanya Prilly seraya mengalungkan lengan di leher Adam. "Kenapa tidak besok saja, kita bisa pergi ke vila ayah dan menginap di sana"
"Besok aku ada kerjaan"
"Bukannya besok kamu libur?"
"Tapi besok harus ke kantor"
Prilly diam, tak lagi menyahut kalimat sang suami. Tapi diamnya itu, dia justru berkata-kata dalam hati.
Pekerjaan apa? pekerjaan dengan wanita itu?
Aku sendiri yang akan menyelidikimu, besok. Aku ingin memastikan apakah kamu benar-benar ke kantor, atau tidak.
"Kamu bilang mau menyiapkan air hangat untukku, kenapa masih disini?" Adam mengurai tangan istrinya yang melingkari lehernya.
"Oh iya. Aku akan siapkan sekarang"
Malam ini, Adam yang tak mampir kerumah Dinda setelah pulang kerja, benar-benar pulang tepat waktu dan menemani Prilly di rumahnya sembari mengerjakan pekerjaan kantor.
Sampai waktu beralih ke Sabtu pagi, Adam harus pergi bekerja di hari ini. Ia hanya ke kantor sebentar saja untuk melengkapi dokumen penting yang akan di bawa ke luar negri oleh atasannya. Setelah itu, Adam dan Dinda berencana mengunjungi ponpes untuk mengikuti sema'an yang rutin di adakan pada hari sabtu. Ada Meta juga yang akan menghadiri acara itu. Selesai sema'an, Adam akan mengantar Dinda dan juga Meta ke rumahnya. Barulah Adam kembali ke rumah Prilly di sore hari.
Karena Dinda sudah berjanji pada Meta untuk menginap di rumahnya, membuat Adam akhirnya mengalah pada istri keduanya yang ingin menghabiskan waktu bersama sang mamah.
Dengan gesit Prilly menyiapkan segala keperluan Adam sekaligus menyiapkan sarapan. Ia yang tidak terlalu pandai memasak, hanya membantu sang ART menata meja makan beserta alat makan yang akan mereka gunakan. Saat tangannya menata piring dan gelas, sosok Adam turun dari tangga dan Prilly sempat memusatkan pandangan ke arahnya.
"Maaf Prill, aku nggak sarapan, aku sudah terlambat" Pria itu berkata sembari melirik jam.
"Tapi, Dam"
"Assalamu'alaikum" Dia bahkan tak memberi kesempatan pada Prilly untuk mengecup punggung tangannya.
Di saat-saat seperti ini, ia justru merindukan Zidan yang kelembutan dan sikap perhatian terhadapnya amat luar biasa. Andai dia mencintai Zidan seperti dirinya mencintai Adam, mungkin hidupnya akan sempurna tanpa di liputi kecemasan yang berlebih.
Setelah mendapat kabar dari pesuruhnya yang mengatakan bahwa Adam benar-benar menuju kantor, usai sarapan, Prilly langsung meluncur ke rumah Dinda sesuai rencana.
Setibanya di area rumah Dinda, dari kejauhan, Prilly menangkap seorang wanita sedang menyiram tanaman sementara Meta yang berdiri di samping wanita itu, menunjuk bunga-bunga yang tampak merekah seperti tengah meminta sang ART untuk menyiramkan air lebih banyak pada bunga yang ia tunjuk.
"Siapa wanita itu?" Prilly menggumam dengan pandangan tak teralihkan menatap dua wanita yang tampak beda usia.
"Saudaranya? Atau asisten rumah tangga?"
Melepas kaca mata hitam, pelan Prilly membuka pintu mobil kemudian beranjak turun. Dia melangkah menghampiri tetangga Dinda yang sedang menyapu halaman.
"Permisi bu!"
__ADS_1
"Iya"
"Saya mau tanya, rumah Dinda yang mana ya bu?"
"Oh rumah dokter Dinda" Wanita yang sedang memegang sapu lidi, menoleh ke kanan lalu mengangkat tangannya untuk di arahkan pada pagar rumah milik Dinda.
"Rumahnya yang itu mbak, yang pagarnya coklat"
"Yang ada banyak bunga-bunganya ya bu?" tanya Prilly seramah mungkin.
"Betul, tapi dokter Dinda tidak tinggal disini mbak. Di sini hanya ada mamah dan ARTnya saja"
"Memangnya, dokter Dinda tinggal dimana kalau tidak di rumahnya"
"Dengar-dengar si sekarang tinggal di apartemen mewah dekat rumah sakit tempatnya bekerja"
"Apartemen, bu?"
"Iya mbak, kata bu Meta, apartemen fasilitas dari rumah sakit" tetangga Dinda agak menyipitkan mata sebab matahari mulai menyilaukan pandangan. "Biar lebih dekat berangkat kerjanya mbak"
"Apartemen mana ya bu?"
"Saya sendiri kurang tahu, mbak"
Merapatkan bibir, Prilly tampak terbengong seperti berfikir untuk sejenak. "Makasih kalau gitu bu"
"Sama-sama mbak"
Prilly berbalik, lalu mengayunkan kaki menuju mobil.
"Apartemen mewah dekat rumah sakit tempat Dinda bekerja?"
"Bukankah Luxury Diamond juga dekat dengan Family care?"
"Apa Dinda juga tinggal di sana?"
"Mungkinkah selama ini memang Dinda yang Adam kunjungi?"
"Jika ya, kenapa Dinda melakukan itu, padahal dia tahu Adam itu suamiku"
Menghirup napas panjang, sebelum dengan cepat ia menjalankan mobilnya menuju Luxury Diamond. Perasaan yang ada di dalam hatinya benar-benar semakin tak karuan, detak jantungnya pun seakan tak mau kalah dengan kecepatan mobil yang ia lajukan.
Prillya menurunkan kecepatan mobil, lalu berbelok dan mulai memasuki kawasan apartemen.
Tepat pukul 09:40 mobil Prilly sudah terparkir di area parkir khusus untuk tamu. Wanita itu meneliti kondisi sekitar dengan mengedarkan pandangan dari dalam mobil.
Setelah menunggu hampir dua puluh menit, sepasang matanya membelalak ketika melihat dua sosok yang sangat familiar. Ia terkejut sekaligus tak menyangka.
"A-Adam, Dinda?" Netranya melirik dua tangan mereka yang saling menggenggam.
"A-apa ini? mereka berpegangan tangan? mereka juga tersenyum?"
Matanya benar-benar fokus menatap wanita yang justru terlihat semakin bahagia. Aura kecantikan pun tampak semakin terpancar dari raut wajah dokter itu. Apalagi saat tangan mereka terus bertaut di tengah-tengah langkahnya, gurat bahagia dari keduanya tergambar kian jelas.
Sama sekali tak pernah Prilly bayangkan akan berada di situasi seperti ini. Perlahan ia merasakan nafasnya semakin sesak, seolah oksigen yang ada di rongga dada di tarik paksa keluar.
"Hubungan apa yang kalian miliki?"
"Aku yang bodoh, atau mereka yang terlalu pintar menyembunyikan hubungan mereka?"
__ADS_1
Bersambung