
Sampai ketika mereka tiba di rumah sakit, mereka langsung menidurkan Prilly di atas Brankar. Zidan yang sudah menunggu dengan raut panik, kepanikannya kian bertambah melihat wajah pucat istrinya. Hatinya mencelos mendengar rintihan sang istri.
Zidan yang turut berlari di samping brankar, memegang erat tangan Prilly, sementara dua perawat, satu dokter beserta Dinda pun mengelilingi brangkar yang terus berjalan dengan kecepatan ekstra.
Ketika langkahnya sampai di depan ruang operasi, dokter Zaskia yang memang sudah menunggu di sana, menghentikan langkah atasannya yang hendak ikut memasuki ruangan operasi.
Dokter itu menyuruh Zidan untuk menunggu di luar bersama Birawa dan ARTnya selagi tim medis mengambil tindakan darurat.
Prilly yang masih menguasai kesadarannya, lamat-lamat mendengar suara dari paramedis.
"Apa tindakan pertama yang dokter Dinda lakukan, dok?" tanya dokter kandungan pada Dinda. Mereka sudah berada di dalam ruangan yang menegangkan.
"Saya hanya memberikan infus dokter"
"Bagus, setidaknya itulah yang membuat nona Zidan bisa menguasai kesadarannya. Kita langsung ambil tindakan"
"Baik, dok"
"Pasien kehilangan banyak darah, dok" sambar salah satu suster. "Tapi persediaan darah B rhesus negative sedang kosong"
"Ambil darah saya, suster?" ucap Dinda tiba-tiba.
"Dokter Dinda?" Zaskia mengalihkan pandangan menatap Dinda.
Seisi ruangan tampak terkejut mendengar kalimatnya, begitu juga dengan Prilly yang masih mengerang menahan sakit.
Sebenarnya, Zidan sudah meminta darah untuk persediaan istrinya pada pihak-pihak terkait jika melahirkan, tapi darah itu akan ada kurang lebih dua minggu sebelum Prilly melahirkan pada bulan depan. Sementara kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Membuat Zidan belum mempersiapkan darah itu di rumah sakitnya.
"Darah dokter, B rhesus negative?"
"Iya dok, ambil saja seperlunya!"
"Suster, cek kondisi dokter Dinda, jika kondisinya sangat baik langsung transfusi ke nona Zidan"
"Baik dokter" Katanya patuh. "Mari dokter Dinda"
Dinda merebahkan diri di brankar samping meja operasi. Berdampingan tepat di sebelah Prilly.
Sejenak, Prilly menoleh ke samping kiri, di mana Dinda pun sedang memalingkan wajah ke samping kanan menatapnya.
Pandangan mereka otomatis bertemu.
Aku ikhlas memberikan darahku, Prilly. Aku ingin menebus kesalahanku padamu, semoga dengan ini, aku bisa menyelamatkanmu dan juga bayimu.
Dinda membatin sambil melempar pandangan ke langit-langit ruangan. Dia memang merasa sangat bersalah sudah merebut Adam darinya.
__ADS_1
Sementara Prilly...
Apa kamu menertawakanku, Din? apakah kamu tulus menolongku, atau hanya mengolokku dengan pertolonganmu itu.
"Sust, tolong geser brankarnya agar lebih dekat lagi dengan meja operasi" perintah Dinda.
"Baik dok!" selagi selang itu mengalirkan darah, suster yang di perintahkan tadi menggeser lebih dekat dengan tempat yang Prilly tiduri. Tangan Dinda terulur, meraih tangan Prilly.
"Kuatkan dirimu ya, aku akan pastikan nyawa dan bayimu selamat" katanya dengan linangan air mata.
Tak hanya Dinda, reflek setitik embun pun meluncur dari mata indah milik Prilly. Ia merasa terharu dengan kalimat yang dia dengar dari mulut wanita yang selalu dia hina.
"Aku ada di sini untukmu"
Tak mampu menjawab ucapan Dinda, wanita itu perlahan menutup mata karena suntikan anestasi sudah masuk ke dalam tubuhnya.
Di luar ruangan, papah serta mamah Zidan berlari dengan raut yang tak kalah panik. Sesaat setelah sampai di rumah sakit, Birawa memang menelpon mereka untuk segera datang ke rumah sakit miliknya.
"Ada apa ini Zi, bukannya Prilly akan melahirkan bulan depan?"
"Prilly jatuh mah" sendunya menjawab pertanyaan sang mamah.
"Bagaimana Bisa?"
"Kenapa bisa jatuh, mas Bi?"
"Begini, bu Indah" kata bik Ras. "Tadi saat dokter Dinda datang mencari non Prilly, saya langsung ke kamar nona Prilly untuk memberitahu kalau dokter Dinda mencarinya. Pas saya ketuk pintu, tak ada suara, saya langsung buka pintu kamarnya, lalu saya mendengar nona minta tolong dari arah kamar mandi. Saya langsung lari dan nona Prilly sudah terduduk di lantai"
"Apa kamu tidak menemaninya mandi, bik?" tanya Zidan berusaha tenang.
"Saya minta maaf, pak Zi. Saya menemaninya, tapi karena nona Prilly meminta saya membuatkan kudapan sore, jadi saya turun ke dapur. Saya pikir setelah mandi nona Prilly akan rebahan di atas kasur, tapi tahu-tahu malah sudah terjatuh dengan posisi duduk di lantai kamar mandi"
"Kebetulan dokter Dinda datang, dan saya langsung meminta bantuannya" Tambahnya dengan rasa bersalah.
Detik itu juga, prasangka buruk Zidan terjawab dengan penjelasan dari ARTnya.
Jadi bukan Dinda penyebabnya, justru dia yang menyelamatkan Prilly?
Ia menarik napas panjang.
Ternyata aku sudah salah sangka padanya.
****
19:30
__ADS_1
Kepanikan tak hanya merundung Zidan beserta keluarga yang tengah menegang menunggu operasi selesai.
Adam yang belum mendapat kabar dari Dinda pun tak kalah panik sebab sang istri belum sampai rumah dan mengabarinya.
Ketika ia menelpon asisten pribadi Dinda, dia mengatakan kalau atasannya sudah meninggalkan family care sejak pukul empat sore.
Adam pun menelpon Meta, tapi jawabannya membuatnya kecewa bercampur cemas.
Berulang kali pria itu menghubungi ponsel istrinya, namun tak juga mendapat jawaban, dan terakhir, ponselnya justru tidak bisa di hubungi. Mungkin kehabisan daya baterai sebab menerima begitu banyak panggilan tak terjawab darinya.
"Kemana kamu, Din?" gumamnya khawatir. "Kamu bilang ada urusan, urusan apa?"
"Hufftt, salahku tidak menanyakannya tadi" Adam menyugar rambutnya dengan di iringi rasa frustasi yang meningkat.
"Coba telfon pak Bi kali ya, siapa tahu Dinda ada urusan dengannya"
Adam kembali menatap layar ponsel dan mencari kontak bernama Birawa.
Ia langsung menggeser ikon dial dan tak lama panggilan pun tersambung.
"Assalamualaiakum, pak Bi?" pikiran yang kosong, membuat Birawa tak menyadari kalau yang menelfonnya adalah Adam.
"Waalaikumsalam"
"Saya Adam, pak"
"A-Adam" dia menjauhkan ponselnya lalu melirik nama yang tertera di layar yang menyala.
Benar, nama Adam yang tertulis.
"Iya, Dam"
"Maaf mengganggu, pak" pungkas Adam sedikit ragu. "Apa anda bertemu dengan Dinda, sore ini?"
"Ah, iya Dam. Sekarang juga kamu ke Harquina hospital, Dinda ada di sini bersamaku"
Mendengar kalimat Birawa, sepersekian detik jantung Adam di dalam sana berdesir. Pikirannya langsung di penuhi oleh sosok dokter cantik itu.
"Dinda di rumah sakit, pak?"
"Iya, Dam, datanglah kesini secepatnya, Din_"
Adam langsung memutuskan panggilan tanpa mendengar penjelasan Birawa. Ia bergegas menuju Harquina karena takut ada sesuatu yang terjadi pada sang istri.
Bersambung.
__ADS_1