
Baca pelan-pelan ya, aku sedikit cantumkan ilmu agama sesuai dengan pengetahuanku. Tapi maaf kalau salah. Karena sebagian dari ulama juga mengharamkan wanita hamil di nikahi. Karena aku nggak begitu paham tentang itu, jadi ku cantumkan sumber dari sebuah artikel di Google.
...🌷Selamat membaca🌷...
Adam telah menceritakan semua kelakuan Prilly pada abi serta uminya. Termasuk soal dia yang menjebaknya dan anak yang di kandung Prilly.
Santi dan Hasan sempat tak percaya, namun saat Adam memperlihatkan video yang Dinda rekam, kedua orang tuanya geleng-geleng kepala bahkan sampai mengelus dada berulang kali.
Dan saat ini, Santi beserta Hasan sedang berada di kontrakan Adam. Adam sengaja membawa orang tuanya ke kontrakan agar Prilly tak mencurigainya.
Sementara sang kakak, tahunya kedua orang tuanya itu pergi berziarah. Sebab, saat Santi dan Hasan akan menaiki bis yang hendak membawanya ke tempat ziarah, Adam menarik lengan Hasan dan Santi lalu menariknya memasuki mobil. Disitulah Adam menceritakan segalanya.
Adam pun sudah mengutarakan keinginannya untuk menikahi Dinda secara diam-diam. Hasan sempat tak setuju dan menyarankan agar menikahi dokter cantik itu setelah Prilly melahirkan dan setelah dirinya menceraikan Prilly. Tapi Adam tidak bisa menunggu dan menahannya selama itu.
Di mata Adam, pernikahannya dengan Prilly hanyalah formalitas saja karena untuk menutupi kehamilannya. Di tambah fakta yang baru terungkap, membuat Adam semakin menganggap pernikahannya itu adalah kebohongan semata.
Akhirnya, setelah membujuk kedua orang tuanya, Hasan dan Santi pun merestui niat sang putra.
Dan malam ini, Adam mengajak orang tuanya datang melamar Dinda.
"Assalamu'alaikum"
Dinda sudah tahu siapa yang datang. Dia langsung menghampiri pintu apartemen lalu membukanya.
"Wa'alaikumsalam, Umi"
"Silahkan masuk abi, umi" Lanjut Dinda sambil menyalami kedua orang tua Adam.
Di rumah Dinda, sudah ada ustadz Zaki dan Ummah Dewi yang akan menjadi saksi dalam proses lamaran mereka.
"Kenalin abi, umi, ini Ustadz Zaki, dan ini istrinya, umah Dewi" Wanita itu memperkenalkan Santi dan Hasan pada Zaki dan Dewi.
"Assalamu'alaikum, Ustadz" sapa Hasan seramah mungkin sambil mengulurkan tangan.
"Wa'alaikumsalam, pak Hasan"
Setelah semuanya saling memperkenalkan diri, suara Meta tiba-tiba menguar.
"Mari silakan duduk" Ucapnya sambil mengulas senyum.
Mereka pun kompak menduduki sofa di ruang tamu berukuran dua meter setengah. Kecil memang, tapi interiornya cukup mewah. Sebab apartemen itu milik pebisnis terkenal asal Macau.
Setelah cukup lama mereka mengobrol dan membicarakan banyak hal hingga lewat bermenit-menit, Adampun mengutarakan niatnya.
Awalnya niat Adam menikahi Dinda di tentang oleh ustadz Zaki, tapi setelah mendengar cerita Adam, Ustadz Zakipun memberikan lampu hijau pada pria tampan itu untuk melanjutkan niatnya.
"Begini, nak Adam" Ustadz Zaki bersuara serendah mungkin.
"Dalam islam, ada beberapa diskusi kecil-kecilan mengenai permasalahan yang nak Adam alami. Menurut imam Abu Hanifah, bila yang menikahi wanita hamil itu adalah lelaki yang sudah menghamilinya, itu hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan lelaki yang menghamilinya, maka lelaki itu tidak boleh menggaulinya sampai wanita itu melahirkan" Dengan bahasa yang cukup bisa di pahami, ustadz Zaki menjelaskan panjang lebar.
"Kesimpulan yang saya tangkap, nak Adam ini berada di posisi pria yang tidak menghamili wanita itu, tapi harus menikahi, hanya saja pernikahan itu terjadi karena sebuah jebakan, atau katakanlah paksaan karena sesuatu yang belum nak Adam ketahui kebenarannya sebelum pernikahan itu terjadi, dan setelah pernikahan, nak Adam baru mengetahuinya Bukan begitu?" tanya Ustadz Zaki menatap lekat wajah Adam.
"Benar Ustadz, dan saya tidak rela dengan itu"
"Ya, abah paham, dan kamu harus ingat, tidak boleh menggaulinya, karena menurut Imam Malik dan Imam Ahmad pernikahan nak Adam itu tidak sah. Nak Adam bukan ayah biologis dari anak yang di kandungnya"
"Insya Allah tidak ustadz"
"Jadi alasan kenapa nak Adam ingin segera menikahi nak Dinda" Tatapan dari ustadz Zaki begitu menyelidik. "Apa hanya untuk menuntaskan kebutuhan biologis saja?" Pertanyaan bernada meledek itu membuat Adam terperanjat, dan langsung menangkis tuduhan dari ustadz Zaki.
__ADS_1
"Tidak ustadz, kami memang saling mencintai dan sebelumnya juga berencana menikah, tapi terpaksa saya batalkan karena masalah ini"
"Tapi kenapa harus bersembunyi, padahal nak Adam bisa saja menuntut wanita itu"
"Tidak bisa saya lakukan ustadz, takutnya mereka mengacaukan hidup Dinda seperti sebelumnya"
"Lagipula kami takut Prilly stres di tengah-tengah kehamilannya, bah" sambar Dinda menyuarakan pendapatnya. "Karena dia begitu terobsesi dengan mas Adam, sampai-sampai dia menjebaknya"
Sebelumnya Adinda sempat memperlihatkan potongan dimana Prilly memecahkan darah perawan palsu pada ummah Dewi. Membuat ummah Dewi pun geram dengan Prilly. Di jaman modern seperti ini, masih ada saja wanita yang menghalalkan segala cara demi cinta. Begitulah pikir Dewi.
Termasuk Dinda salah satunya. Ia menghalalkan segala cara demi menyembuhkan sang ibu.
"Apa pas Dinda di pecat dari pekerjaannya, karena ulah wanita itu Din?" tanya Dewi setelah sempat hening.
"Iya ummah, kok ummah tahu?"
"Ya Din, ibu-ibu pengajian kadang nyeletuk yang aneh-aneh tentang kamu, tapi ummah berusaha khusnudzon dan tidak mau ikut berghibah, jadi ummah cuek aja"
"Ya sudah, saya sebagai wali yang di percaya oleh Dinda dan ibunya, menyetujui niat nak Adam untuk menikahi Dinda, tapi nak Adam harus bisa menyelesaikannya setelah wanita itu melahirkan, karena saya turut bertanggung jawab dalam pernikahan kalian nanti" Ujar Zaki.
"Baik ustadz, Insya Allah"
****
Sampai dua minggu kemudian, pernikahan pun di langsungkan. Mereka tak mengundang siapapun karena pernikahan ini termasuk pernikahan rahasia.
Adam beralasan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan selama satu minggu, padahal ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Dinda.
Dia bahkan sampai melobi pihak KUA untuk mencatat pernikahannya supaya sah di mata hukum negara.
"Saya terima, nikah dan kawinnya Addinda Sofiana dengan seperangkat alat sholat dan emas seratus gram, tunai"
Setelah sah menjadi pasangan suami istri, Dinda pun di sandingkan dengan Adam yang kemudian pria itu langsung memegang ubun-ubun istrinya sambil membaca doa pengantin baru. Doa itu di aminkan oleh Dinda dengan suara lirihnya.
"Silahkan nak Adam dan nak Dinda, tanda tangani semua berkas-berkas keabsahannya"
Adam dan Dinda bergantian menandatangani dokumen sesuai dengan arahan dari pihak penghulu.
"Selamat untuk kalian, dan buku nikah akan kami kirim sesegera mungkin" Dua pria itu menyalami Dinda dan Adam.
Acara pernikahan yang di adakan di masjid area ponpes cukup meriah dengan kehadiran anak-anak santri dan santriwati. Dinda memang memilih pondok pesantren sebagai tempat ijab kobul, selain aman dari Prilly dan Birawa serta Zidan, tempat ini juga cukup berkesan, sebab semenjak usianya lima tahun hingga tujuh belas tahun ia menempuh pendidikan di sini. Ponpes Raudhatul Huda milik Ustadz Zaki Maulana.
"Selamat, Din"
"Makasih, Ve"
"Selamat dokter Dinda, dan pak Adam"
"Terimaksih pak, El!
Kini gilaran Ben yang mengucapkan selamat.
"Selamat atas pernikahan anda, dokter Dinda"
"Terimakasih banyak pak Ben"
Setelah Ben, ada Shanum yang juga memberikan selamat karena mereka adalah teman satu sekolah, dan saat ini Shanum menjadi tenaga pendidik di tempatnya menempuh pendidikan saat dulu.
"Selamat ya, Din"
__ADS_1
"Makasih Sha, cepat nyusul ya"
Shanum hanya tersenyum sementara Eve tiba-tiba bersuara.
"Kayaknya sebentar lagi, Din"
Terkejut, Dinda mengerutkan dahi.
"Oh ya?"
"Apaan si Ve" Shanum berusaha mengelak.
"Nggak usah malu-malu deh Sha, kamu pikir aku nggak ngikutin GC di WA para wanita keluarga kita"
"Jangan buat aku penasaran, Ve. Memang siapa calonnya?" tanya Dinda penasaran.
"Datang juga ke sini kok, dia juga satu tempat kerja sama kamu"
Perkiraan Dinda langsung tertuju pada satu nama.
"Apa pak Ben, Sha?" Karena dia hanya mengundang Kellen dan Ben dari rumah sakitnya.
"Bukan, nggak usah dengerin ucapan Eve"
"Kita tunggu aja Din" celetuk Eve tanpa rasa bersalah.
"Semoga aja ya"
"Apaan Din, di bilangin bukan, juga"
"Benar atau enggak, semoga secepatnya halal"
Ucapan Dinda di aminkan Eve lengkap dengan tangan menengadah di susul mengusapkan ke wajahnya.
Tiba-tiba suara Meta menginterupsi pembicaraan tiga wanita itu.
"Makan siang dulu yuk, semuanya sudah siap"
Ketiga wanita cantik itupun mengangguk kemudian melangkah menuju area makan.
Dintengah-tengah langkahnya Dinda membatin.
Maaf Prilly, kamu merebut calon suamiku, maka ku nikahi suamimu.
Seringai kemenangan tampak jelas di raut wajah Dinda. Senyum tipis pun tersungging di bibir wanita yang berprofesi sebagai dokter.
Bersambung
Kondisi pernikahan Adam dan Prilly ya Seperti yang di jelaskan di bawah ini
Itulah Alasan Adam nanti yang akan mencari cara biar nggak sampai menyentuh Prilly. Dan kenapa buru-buru menikahi Dinda karena sebagai seorang lelaki nomal, Adam sudah tak bisa lagi menahannya.
Alasan kenapa Adam tak langsung menceraikan Prilly, jelas karena Adam dan Dinda takut Prilly akan nekad.
Nekad yang macam-macam pokoknya.
__ADS_1