
"Jadi Zidan sudah memberitahu rekaman itu pada Adam?"
Prilly bergumam lirih dengan tatapan lurus ke arah kolam.
"Ah, sialan kamu Zidan"
"Dan karena itu Adam memilih menikahi Dinda"
"Lalu apa yang harus ku lakukan sekarang?"
Wanita itu secara reflek menyentuh layar ponselnya.
"Ada apa Prilly, apa kamu ingin mencium bau keringatku lagi?" suara Zidan dari balik telfon.
"Apa kamu sudah memberitahu Adam tentang video itu Zi?"
"Tidak, aku tidak memberitahunya, kenapa?"
"Kalau bukan kamu, lalu siapa? kenapa Adam memiliki rekaman itu juga?"
"Ckk"
Dari balik sambungan jarak jauh, Prilly bisa mendengar decakan halus pria yang ia telfon.
"Pasti Dinda yang sudah memberitahunya"
"Dinda?"
"Hmm, karena aku dapat video itu dari ponselnya"
"Apa?" Prilly tak percaya.
"Dia ada di dalam hotel juga saat kamu menjebak Adam"
"Jadi Dinda yang sudah mengacaukan rencanaku?"
"Sudahlah Prilly, lebih baik kamu bercerai dengan Adam dan menikahlah denganku, lagipula itu anakku kan, bayi itu pasti akan lebih senang jika papah kandungnya yang merawatnya nanti"
"Kamu kenapa si, terus saja menyuruhku pisah dengan pria yang ku cintai. Asal kamu tahu" lanjut Prilly nadanya sangat ketus "Ini memang anakmu, tapi aku tidak pernah mencintaimu, aku melakukannya karena aku khilaf"
"Jika kamu memberiku kesempatan, aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku"
"Maaf, sepertinya aku sudah salah menelponmu" Dia memutuskan panggilannya secara sepihak.
"Huufftt, jadi Dinda biang keroknya?"
"Bedebah memang, dasar dokter pelakor"
"Tapi bagaimana bisa wanita *** *** itu mengetahui rencanaku, dan bisa ikut masuk ke kamar hotel yang sudah ku pesan? bagaimana bisa, dia mendapatkan card lock hotel itu?"
"Hhh, hanya Dinda dan royal park hotel yang tahu"
Dia yang masih berada di area kolam renang rumahnya, terus mencari cara untuk membuat Adinda terpuruk. Bagaimanapun, atau meski ayahnya yang sudah mengawali permainan mereka, tetap saja itu adalah kesalahan Dinda yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Adam.
__ADS_1
"Aku harus membuat Adinda masuk penjara, dan aku butuh seseorang untuk membantu melancarkan rencanaku, tapi siapa?"
Mendesah pelan, Prillya merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang dekat kolam. "Soal itu bisa pikirkan nanti, sekarang aku harus ke rumah mertuaku untuk meminta penjelasan kenapa mereka tidak memberitahuku tentang pernikahan Adam dan Dinda, atau mereka memang belum mengetahuinya. Tapi awas saja, jika abi, umi serta mbak Ulva tahu dan merahasiakannya dariku, aku akan membuat suaminya mbak Ulva langsung di pecat, aku tidak peduli dengan abi dan umi. Mereka juga tidak peduli denganku, kesannya, mereka malah mempermainkanku dan aku tidak bisa terima itu"
Wanita itu bangun, lalu mengayunkan kaki menaiki anak tangga untuk mengambil tas dan kunci mobil yang ia letakan di kamar atas.
"Bik, aku pergi dulu ya, nanti kalau Adam pulang terus aku belum di rumah, bilang saja lagi ke rumah abi" itu kata Prilly, setelah dirinya kembali turun.
"Apa nona juga tidak makan malam di rumah?"
"Belum tahu bik, nanti ku kabari lagi"
"Baik nona"
"Aku pergi ya bik"
"Iya nona, hati-hati"
Selama dalam perjalanan, Prilly tak henti-hentinya memikirkan bagaimana Dinda bisa tahu mengenai dirinya yang berencana menjebak Adam dengan obat perangsang.
"Atau jangan-jangan Dindalah yang sudah menukar obatku dengan obat tidur"
"Aarrhh, brengsek-brengsek, ternyata maduku cukup pintar juga, dia berhasil menggagalkan rencanaku" Ia memukul roda kemudi, mengendarai mobilnya dengan fokus yang terbagi. "Sialan kamu Dinda!"
"Kurang ajar" geramnya dengan kepalan tangan di atas stang bundar.
Hingga akhirnya mobil itu telah sampai di pelataran rumah orang tua Adam.
Saat Prilly berjalan menyusuri samping rumah hingga ke halaman belakang, dua orang paruh baya tengah duduk berdampingan di sebuah gazebo mini, menatap tanaman tomat yang sudah berbuah seraya membicarakan sesuatu.
"Kangen sama Dinda bi"
Mendengar nama Dinda, spontan Prilly menghentikan langkahnya di iringi jantung berdegup.
"Bukankah pas malam minggu telfon, um?"
"Pengin ketemu bi"
Apa? Dinda? kenapa umi pengin ketemu wanita sialan itu?
Prilly mempertajam indera pendengarannya.
"Telfon Adam suruh jemput kalau ada waktu, terus umi nginep di apartemen menantu umi yang cantik itu"
J-jadi mereka tahu kalau Adam dan Dinda menikah?
Bagaimana bisa mereka merestuinya? padahal abi sangat menentang putranya untuk poligami.
Tak ingin bergulung dengan penasarannya, Prilly mengambil langkah untuk menghampirinya.
"Assalamu'alaikum" Salam dari Prilly membuat Santi dan Hasan sedikit kaget.
"Wa'alaikumsalam" sahutnya kompak. "Nak Prilly, kamu di sini?"
__ADS_1
"Iya umi, aku kesini bermaksud meminta penjelasan soal pernikahan Adam dengan Dinda"
Santi serta Hasan saling pandang lalu menelan salivanya. Sementara di sisi lain, Ulva yang baru datang pun terkejut mendengar fakta jika Dinda menikah dengan adiknya.
"Jadi abi sama umi tahu kalau mereka sudah menikah?" Prilly yang kali ini rambutnya di bikin kriting menggantung, menatap Santi dan Hasan yang menampilkan raut gugup. "Atau, apa kalian juga menghadiri pernikahan mereka?" lanjutnya berusaha menahan diri. Biar bagaimanapun, dia tidak boleh meluapkan amarah di hadapan mertuanya, meskipun amarahnya saat ini sedang berapi-api.
"Abi tidak mau Adam berzina, jadi abi merestuinya"
"Apa, bi?" suara itu keluar dari mulut Ulva. Otomatis ketiga orang yang sedang bersitegang menoleh ke arahnya.
"Abi dan umi tahu kalau suami Dinda itu Adam? kenapa pas aku cerita tentang Dinda yang sudah menikah kalian diam saja?"
"Apa mbak Ulva tidak tahu soal ini?" tanya Prilly dengan Alis bertaut.
Ulva menggeleng meresponnya.
"Abi dan umi tahu semua tentang kamu, nak Prilly, tentang kehamilanmu juga yang ternyata bukan anak Adam" timpal Hasan setelah menarik napas panjang.
Tidak hanya Prilly, Ulva pun terhenyak mendengar ucapan abinya. Reflek sepasang mata Ulva memindai perut adik iparnya yang masih tampak rata.
"Apa maksudnya Prilly?" tanya Ulva dengan sorot serius.
Tak menjawab dan tak berani mengatakan apapun, Prilly beranjak lantas melangkah meninggalkan mertua serta kakak iparnya yang termangu. Tidak mungkin wanita itu menjelaskan semua, ia cukup mengerti bahwa selama ini tidak hanya Zidan yang mengetahui kebohongannya. Adam, Dinda serta mertuanya pun tahu.
Sementara di tempat lain, Adam dan Dinda yang baru pulang kerja langsung menuju ke rumah Zidan untuk menemui orang tuanya berniat memberitahu segalanya.
Sepasang suami istri itu berjalan beriringan dengan tangan saling bergandengan erat.
Zidan yang saat ini sedang berada di halaman rumah, menatap ke arah Adam dan Dinda dengan tatapan heran campur bingung.
"Assalamu'alaikum" salam Dinda dan Adam nyaris bersamaan.
Tak langsung menjawab, Zidan melirik tangan mereka yang saling menyatu.
"Wa'alaikumsalam"
"Pak Zidan, bisa kita bicara" ucap Dinda memberanikan diri.
"Sebelum kalian bicara, kalian jelaskan kenapa kalian saling bergandengan tangan, bukankah kamu ini suaminya Prilly, tapi kenapa tangan wanita lain kamu gandeng dengan mesra?"
Secara tersirat, Zidan merasa sakit hati kalau suami dari wanita yang ia cintai berkhianat. Karena tebakan Zidan, Adam dan Dinda sudah berselingkuh.
"Aku dan Dinda sudah menikah Zi"
Zidan terkejut. "Berani sekali kamu mengkhianati Prilly, bukankah kamu sangat mencintainya?" tanya Zidan dengan mata menajam.
"Itu dulu"
Mendengar jawaban Adam, Zidan terpaku sejenak sebelum kemudian mempersilakan masuk.
Bersambung...
Nanti malam up lagi ya 😁😁 week end nggak kemana-mana. Mengistirahatkan badan yang terlampau letih sambil coret-coret insya Allah bisa 😉
__ADS_1