Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Jatuh


__ADS_3

"Dokter Dinda, ada tamu untuk dokter, mereka menunggu di lobi lantai dua"


"Siapa, sust?" tanya Dinda pada suster yang ia tunjuk sebagai asisten pribadinya.


"Mereka bilang pesuruhnya pak Birawa, dok"


Birawa?


Dinda sempat terperangah, namun hanya sesaat. Ini bukan pertama kalinya para pesuruh Birawa datang ke rumah sakit mencarinya.


Sebelumnya, hampir setiap minggu dia kedatangan tamu suruhan ayah kandungnya untuk memberikan sesuatu padanya. Tidak hanya dia, Birawapun sering memberikan sesuatu pada mamahnya. Entah itu perhiasan, tas mewah, atau kiriman makanan ringan.


Sebuah kunci mobil untuk dirinya dan sang suami pun pernah ia dapatkan. Adam sempat mengembalikan mobil itu, namun dengan tegas Birawa menolaknya. Dia yang hobi mengancam, membuat Adam serta Dinda tak bisa berkutik kecuali menerima pemberiannya.


"Katanya penting, dok"


"Penting?" Dinda mengernyit keheranan.


Feelingnya pasti lagi-lagi pria itu memberikan sesuatu.


Kali ini apa yang akan dia berikan untukku? tidak biasanya, aku harus menemuinya langsung. Biasanya satpam yang mengantarkan barang dari pak Bi ke ruanganku.


Ingin rasa penasarannya segera terjawab, Dinda pun beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju lobi rumah sakit di lantai dua. Lobi khusus untuk tamu para dokter.


"Dengan dokter Dinda?" Seorang wanita berdiri kemudian menyalaminya ketika Dinda sudah berada di lobi, dengan posisi menghadapnya.


"Iya, benar" Dinda duduk di sofa yang bersebrangan dengan tamunya.


Ada dua orang, satu lelaki dan satu wanita.


"Siapkan surat-suratnya" wanita dengan nikcname Farah di dada sebelah kanan memerintahkan pria di sampingnya. Dari penampilan, pria itu seperti asisten pribadi atau sekertaris.


Pria itu pun dengan sigap mengeluarkan surat-surat kepemilikan rumah atas nama Adinda Sofiana.


"Ini bu"


"Terimakasih" Sahut Farah sembari menerima map yang di serahkan oleh asistennya.


Sekian detik kemudian,


"Dokter Dinda, saya di utus oleh pak Birawa untuk menyerahkan sertifikat rumah kepada anda" katanya tenang. Bahasanya sangat ramah, ada senyum yang tersungging pula di bibir tipisnya.


"Sertifikat rumah?"


"Iya, bu dokter, Sekitar empat bulan yang lalu, pak Birawa mempercayakan Arianjaya Konstruksi untuk membangunkan rumah berlantai dua di perumahan Tropik Residen. Dan pembangunannya baru selesai sekitar dua minggu yang lalu"


Dinda masih tak mengerti, kenapa Birawa terus saja memberikan sesuatu padanya. Dia yakin ini juga tanpa sepengetahuan Prilly.


"Dan karena pembangunannya telah selesai, kami menyerahkan sertifikat ini pada pemilik atas nama Adinda Sofiana sesuai dengan nama yang tertulis pada sertifikat"


"Tapi maaf saya tidak bisa menerimanya"

__ADS_1


"Untuk urusan itu, silahkan bu dokter hubungi pak Birawa, kami hanya di tugasi untuk menyerahkan sertifikat ini pada anda. Silahkan tanda tangan di sini sebagai bukti bahwa anda sudah menerima sertifikat beserta kunci rumah dari Arianjaya konstruksi"


Tak ingin berbelit-belit, Dindapun meraih pena lalu membubuhkan tanda tangannya di atas materai.


Urusan mengembalikan, biar nanti dia datang sendiri ke kantor Birawa dan menyerahkan kunci beserta sertifikat rumahnya. Begitulah pikir Dinda.


Kalau hanya benda bernilai jutaan masih bisa Dinda terima, tapi untuk sesuatu yang harganya sudah milyaran rupiah, tak bisa lagi di tolerir. Dia sudah bulat menolak rumah pemberian Birawa, karena Adam sudah mengingatkan untuk tidak turut campur dalam harta pria yang ternyata adalah ayah biologis Dinda.


"Baik terimakasih untuk waktunya, dokter Dinda"


"Iya" balas Dinda singkat.


Tampak si asisten merapikan dan mengumpulkan kembali berkas-berkas berisi serah terima rumah mewah di kawasan elit, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


"Kami permisi, dokter Dinda" dua orang itu berdiri, kembali mengulurkan tangan yang di sambut dengan uluran tangan Dinda.


"Selamat siang"


"Siang"


Tak lama kemudian, mereka melangkah ke arah lift. Sementara Dinda kembali terduduk berniat melihat-lihat isi map pemberian tamunya tadi.


Pertama ia membuka dokumen dengan warna cover hijau muda, ia membaca detail rumah yang di bangun selama kurang lebih empat bulan.


Tropik Residen, sebuah Rumah Tinggal yang berkonsep Bali Modern dikombinasikan dengan style industrial. Bangunan ini memiliki luas sekitar 200m2 yang berlokasi sangat strategis di area Jakarta.


Puas melihat dan membaca isinya, dia menemukan secarik kertas berisi surat yang di pastikan adalah tulisan tangan Birawa sendiri.


Dinda membuka kertas yang terlipat menjadi dua bagian.


Ajak mamah dan suamimu tinggal di sini. Ini rumahmu, saya bangun khusus untukmu sesaat setelah saya mengetahui bahwa kamu adalah darah dagingku.


"Aku tidak bisa menerima ini" lirih Dinda dengan pandangan kosong.


Detik berikutnya Dinda melihat penampakan rumah yang di ambil dari berbagai sisi. Foto yang menampilkan bentuk rumah sangat mewah ini membuat Dinda terkesima sekaligus takjub.


Tidak terlalu luas, tapi cukup megah. Dari foto-foto yang menampilkan kondisi kamar, ruang tamu, dapur dan tempat-tempat lainnya terkesan sangat mewah. Isi rumah dan perabotnya pun tampak glamour.


Wanita itu kembali melirik kertas yang belum tuntas ia baca.


Jangan menolak, nak! ini bentuk kasih sayang papah terhadapmu, kasih sayang yang tidak pernah kamu dapatkan di masa kecilmu.


Mamafkan papahmu yang tak berguna ini.


Birawa..


****


Sore harinya, Dinda mengabari Adam kalau dirinya akan pulang terlambat. Dia yang hendak ke kantor Birawa untuk memberikan kembali rumah pemberiannya, tak memberitahukan pada sang suami alasan kenapa terlambat pulang. Adampun tak banyak bertanya. Dia tahunya jika Dinda pulang telat, itu artinya ada operasi dadakan atau pekerjaan tambahan di rumah sakit.


Dia yang sudah mempercayai Dinda sepenuhnya, tak sedikitpun menaruh curiga pada istrinya yang berprofesi sebagai dokter itu.

__ADS_1


Setibanya Dinda di kantor perusahaan Birawa, dia tak bertemu dengan pria yang dia cari. Menurut informasi yang Dinda dapatkan dari petugas receptionist, Birawa sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu.


Mendapat informasi tersebut, Dinda langsung bertolak menuju kediaman Birawa.


Sebenarnya dia malas sekali bertemu dengan Prilly, tapi ini harus dia lakukan untuk menunjukkan bahwa Dinda sama sekali tak memanfaatkan statusnya sebagai anak konglomerat di Jakarta. Dia tak mau berurusan dengan harta Birawa yang nantinya akan membuat Prilly semakin membencinya.


Mobil yang Dinda naiki, berhasil masuk setelah satpam membukakan gerbang untuknya. Ia memarkirkan mobilnya di pelataran rumah yang cukup luas.


Mematikan mesin mobil, Pandangan Dinda terlempar pada hunian mewah milik Birawa.


Entah sesukses apa pak Bi, dia begitu memiliki banyak uang.


Bahkan mobilnya tak terhitung, mulai dari mobil antik, hingga mobil sport pun terparkir di garasi seluas 7×10m.


"Nona Prilly ada di dalam bu" kata satpam. Sebab saat Dinda mengatakan ingin bertemu dengan Birawa, satpam itu menjawab kalau Birawa belum sampai di rumahnya.


Setelah di pikir-pikir, karena tak ingin kedatangannya sia-sia, Dinda akhirnya mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Prilly. Sang satpam pun langsung membuka gerbang lebar-lebar dan mengijinkannya menemui nona mudanya


"Nona ada di dalam Bu, silakan pencet bel, nanti ada ART yang membukakan pintu"


"Terimakasih pak"


"Sama-sama bu"


Dinda berjalan menuju pintu utama. Tak lama setelah mengetuk, seorang ART membukakan pintu untuknya.


"Cari siapa mbak?" tanyanya sopan.


"Saya cari Prilly, bik"


"Oh mari silakan masuk"


Mengedarkan pandangan, tak ada rasa heran di hati Dinda dengan rumah mewah ini. Of course, pebisnis sukses seperti Birawa, pastilah rumah beserta isinya sangat bagus.


"Silakan duduk, mbak, saya panggilkan nona Prilly"


"Iya bik"


Tak kurang dua menit, sepasang netra Dinda menangkap, ART itu menuruni anak tangga dengan raut panik, wanita seusia mamahnya juga berteriak minta tolong.


Dinda yang duduk persekian detik langsung bangkit.


"Ada apa, bik?" tanya Dinda yang tertular rasa panik.


"Tolong nona Prilly, mbak. Dia jatuh di kamar mandi"


"J-jatuh?"


BERSAMBUNG.


Bentar lagi end ya...

__ADS_1


__ADS_2