
Setelah mendapatkan maaf dari Dinda, Prilly benar-benar merubah sikap serta perilakunya.
Zidan, merupakan sosok suami yang berhasil mengubah Prilly dari karakter egois menjadi wanita yang Altruisme. Dia tidak lagi terlalu mementingkan dirinya sendiri dan berbuat seenaknya. Sosok Dinda pun secara tidak langsung ikut berperan, sebab Prilly selalu menjadikannya patokan sebagai wanita berkelas yang sesungguhnya.
Dia bahkan berusaha keras agar bisa lebih akrab dengan Meta. Apalagi semenjak dirinya memergoki sang ayah yang diam-diam sering mengunjungi Meta, dia juga pernah memergoki Birawa tengah menatap foto Meta sambil tersenyum.
Dan ia diam-diam berencana melamar Meta untuk ayahnya.
Kalau di lihat dari reaksi Meta yang sepertinya juga menyimpan rasa dengan Birawa ketika Birawa datang mengunjunginya, Prilly yakin kalau lamarannya nanti tidak akan di tolak.
Bukankah lebih bagus kalau Meta menjadi ibu sambungnya? dengan mendukung hubungan Birawa dan Meta, ia pun bisa membuat Dinda bahagia sebab bisa berkumpul dengan orang tuanya yang lengkap. Mungkin dengan menyatukan Birawa dan Meta, akan bisa menebus kesalahannya pada Dinda yang sudah terlampau fatal.
"Assalamu'alaikum!" Prilly mengucap salam bersamaan dengan ketukan pintu dari tangan ART yang menemaninya datang ke rumah Meta. Dia yang masih belum bisa berjalan, selalu membawa ART setiap kali bepergian.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya kedua kali.
"Wa'alaikumsalam"
Seseorang menjawab salamnya dari dalam rumah.
Susyani, ART yang menemani Meta di rumahnya membuka pintu.
"N-nona Prilly!" Dalam pemikiran Susyani, Prilly datang untuk marah-marah supaya Meta menjauhi Birawa.
"Bisa bertemu dengan bu Meta?" Prilly yang duduk di kursi roda, mendongak menatap Susyani yang berdiri di hadapannya.
"Bisa, mari silakan masuk!"
"Ning, ayo kita masuk" Ucap Prilly agar sang ART di belakangnya mendorong kursi yang ia naiki.
"Silakan duduk dulu, akan saya panggilkan bu Meta"
"Makasih ya mbak"
"Sama-sama, nona"
Susyani berbalik, lalu menerobos ruang tengah menuju kamar Meta. Wanita itu baru saja selesai mandi ketika sang ART di persilakan masuk setelah mengetuk pintu kamar Meta.
"Ada apa Sus?"
"Anu bu, di luar ada non Prilly"
"Prilly?"
Susyani mengangguk.
"Mau apa dia kesini?" Meta begitu penasaran.
"Dia akan bertemu dengan ibu, tapi kok aku sedikit was-was ya bu, takut kalau dia mau marahin ibu gara-gara pak Bi sering kesini"
"Masa iya si Sus dia mau marah-marah, kata Dinda udah taubat?"
"Entahlah bu"
"Ya sudah, aku akan menemuinya, dia datang bersama siapa?"
"Sama ART sepertinya bu"
Meta mengangkat kakinya yang hendak melangkah.
"Bu, saya temani ibu ya, takutnya di mencak-mencak ke ibu"
"Ish kamu, jangan su'uzon dulu"
__ADS_1
"Tapi kan nggak apa-apa bu, neting sedikit sama ular"
"Huss, kenapa ngomong begitu. Gitu-gitu kan adiknya Dinda"
"Maaf bu!"
"Ya udah ayo kita keluar"
"Ayo bu"
Meta kembali melangkah setelah sebelumnya di cegat oleh ARTnya.
Keduanya berjalan keluar dari kamar Meta.
"Prillya" ucap Meta saat dia sudah berada di ruang tamu.
"Ibu!"
Ketika Prilly mengulurkan tangan hendak menyalaminya, Meta tertegun untuk sesaat. Selama sekian detik ia termangu menatap Prilly dengan ketidakpercayaannya.
Dengan pandangan setengah kosong, Meta menerima juluran tangan Prilly dan membiarkannya mengecup punggung tangannya.
Meta duduk, bersebrangan dengan Prilly yang tetap di kursi roda.
"Bikin minum, Sus"
"Iya bu"
Kemudian hening.
"Nona Prilly, saya tunggu di teras ya" ucapan Ning mnenginterupsi aksi mereka yang masih mengunci rapat mulutnya.
Prilly mengangguk.
"Apa kabar, bu?"
"B-baik"
Meta tergagap.
"Bu, aku minta maaf atas semua sikapku pada ibu sebelumnya"
"Kamu sudah meminta maaf berulang kali, nona Prilly!"
"Sudah ku bilang jangan panggil aku nona Prilly, panggil aku Prilly bu"
"Tapi_"
"Tolong bu" potongnya kilat.
"Baik, Prilly"
"Kedatangan saya kesini_" Kalimat Prilly menggantung ketika Susyani keluar membawa tiga cangkir teh. Ia melirik ART itu yang melangkah semakin dekat ke arah meja, tak lama kemudian ia sedikit membungkuk lalu meletakkan cangkir yang ia bawa di atas meja.
Sementara pandangan Meta dan Prilly mengikuti gerakan tangan Susyani yang menata cangkir itu dengan penuh hati-hati.
"Silakan, nona Prilly" Susyani mempersilakan Prillya untuk meminum tehnya.
"Makasih mbak Sus"
"Sama-sama"
"Sus, tolong kamu temani mbak Ning ngobrol, dia ada di teras" kata Meta yang langsung di anggukan kepala oleh ARTnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Susyani, dan setelah sekian detik, Prilly kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus.
"Kedatanganku kesini, mewakili ayah melamar bu Meta untuk jadi istri ayah"
Meta langsung menelan ludahnya begitu kalimat Prilly terselesaikan. Jantung Meta yang sebelumnya tenang, kini kehilangan ritmenya.
"M-melamar?" Meta terbata.
"Aku ingin bu Meta menikah dengan ayah, menjadi ibu sambungku dan melengkapi hidupku, hidup kak Dinda dan juga ayah" Kata Prilly dengan tanpa basa basi.
Ini benar-benar di luar dugaan Meta. Ia sungguh tidak percaya dengan takdir ini.
"Kita bisa menjadi satu keluarga yang utuh dan saling menyayangi kan bu!"
"Tapi Prill"
"Saya tahu kalau bu Meta juga mencintai ayah, lalu apa salahnya jika kalian menghabiskan sisa hidup bersama-sama?"
"Itu tidak salah, Prilly. Hanya saja aku"
"Tolong bu, aku ingin ayah bahagia, karena aku tahu ayah sangat mencintai bu Meta"
"Dari mana kamu tahu kalau ayahmu mencintaiku?" tanya Meta penasaran.
Prilly menyunggingkan senyum sebelum kemudian memberikan jawaban.
"Aku tahu ayah selalu memandang foto ibu setiap malam"
"F-foto?" Kening Meta mengkerut tajam. "Foto apa?"
"Tentu saja foto bu Meta" sahut Prilly membuat sketsa sang ayah yang sedang tersenyum memandang foto Meta. "Ya, meski foto itu jaman ibu muda, tapi aku tahu kalau wanita itu adalah ibu"
"Foto jaman muda?"
Prilly mengangguk.
Mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Jadi bu, bagaimana lamaran ku?"
"Aku harus membicarakan ini dengan Dinda"
"Tapi ibu menerima ayahku, kan?"
"Tergantung Dinda" balas Meta asal.
"Ini hidup ibu, kak Dinda pasti tidak akan melarang ibu untuk menikah dengan ayah. Ini bukan kak Dinda yang membuat keputusan, tapi keputusan ada pada ibu sendiri"
"Jika ibu menerima, aku yakin kak Dinda pun akan setuju"
"Tapi tetap saja aku harus membicarakan ini dengan Dinda"
Selama sesi pembicaraan, keduanya terus saling bersitatap.
"Baiklah bu, tapi aku ingin tahu apakah ibu mencintai ayah?"
"Aku" Meta salah tingkah.
"Apa ibu juga mencintai ayahku?"
Entah kenapa, Meta merasa nyaman semenjak hubungan pertemanan antara dirinya dengan Birawa kembali terjalin setelah sekian tahun. Wanita itu seperti merasakan puber ke dua setelah Birawa sering mengunjunginya.
Dan tanpa ragu, Meta mengangguk mantap, membuat Prilly terlonjak girang.
__ADS_1
Bersambung.