Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Ekstra part


__ADS_3

Fifteen months later...


Dinda menatap bayinya yang tengah tidur dengan nyenyak di atas ranjang.


Bayi perempuan bernama Nabila Sofia Naizar, kini sudah berusia tujuh bulan, dan sedang aktif-aktifnya bercanda sambil memainkan bibir serta ludahnya.


Dinda dan Adam yang sudah tinggal di rumah papahnya, selalu mendapat pengawasan dari sang mama dalam mengurus Nabila. Apalagi jika Adam dan Dinda pergi bekerja, Nabila yang di titipkan pada baby sitter, membuat Meta begitu awas memperhatikan bagaimana cara Riri merawat cucunya.


"Assalamu'alaikum?" Adam yang saat ini bekerja membantu perusahaan Birawa, baru saja pulang dengan tubuh yang tampak begitu letih.


"Wa'alaikumsalam"


Pria itu langsung memasuki kamarnya, menerima uluran tangan sang istri yang hendak mengecup punggung tangannya.


"Kenapa sampai malam?"


"Tadi kan sudah tinggalkan pesan kalau aku pulang telat"


"Entahlah, pesan mas belum ku buka, aku sibuk di rumah sakit seharian ini" Dinda membantu sang suami melepas dasi, kemudian di susul melepas satu persatu kancing kemeja.


"Kamu baru saja mandi?"


"Hmm"


"Kenapa baru mandi, dari tadi ngapain?"


"Pulang dari rumah sakit langsung tidur sampai maghrib, terus ngurus Nabila. Hari ini putrimu sangat rewel"


Mendengar pengaduan Dinda, Adam menoleh ke arah ranjang. Menatap putrinya yang tidur dengan posisi terlentang.


"Rewel kenapa?"


"Nggak tahu, nggak biasanya juga"


Ketika semua kancing sudah terurai, Dinda melepas kemeja Adam dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.


"Ya udah sabar aja, ngurus anak kan memang nggak segampang membalikan tangan"


"Mas ini ngomong apa? Mas pikir aku nggak sabar merawat anakku sendiri?"


"Bukan begitu dek! maksud mas, ngurus bayi rewel kan nggak mudah"


"Mas sudah makan?"


"Belum"


"Setelah ku siapkan air hangat buat mas mandi, aku panasin nasi sama lauk dan membawanya kesini"


"Makasih sayang" Respon Adam yang kemudian mencium bibir Dinda.


Adam menghampiri putrinya sementara Dinda melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Menit berganti, air hangat sudah siap, Dinda keluar kamar mandi dan meminta Adam untuk segera mandi.


Selagi menunggu suaminya selesai membersihkan diri, Dinda membuka laptop dan mengecek rekam medis para pasiennya yang sudah mendaftar untuk pemeriksaan esok hari.


Saat tengah fokus, tiba-tiba saja suara rengekan kecil dari putrinya terdengar, Dinda bergegas memindahkan benda dari pangkuannya ke atas nakas lantas segera memberikan asi.

__ADS_1


Cukup lama Dinda menyusui sambil mengusap lembut pipinya, tahu-tehu terdengar decitan pintu dari arah kamar mandi.


Sang suami keluar dari dalam sana dan langsung berjalan ke arah lemari.


Melihat Adam yang sudah mengenakan piyamanya, pelan Dinda berusaha melepas tautan bibir mungil yang menyesap salah satu bagian tubuhnya.


Ia bangkit, kemudian bersuara.


"Mas"


"Hmm"


Dinda langsung melingkarkan lengan di pinggang Adam dari arah belakang.


"Aku punya kejutan buat mas"


"Kejutan? Apa?" Sahut Adam, dia tengah fokus mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


Dalam pelukannya, salah satu tangan Finda memperlihatkan benda pipih.


Entah bagaimana reaksi Adam, Dinda sama sekali tak tahu karena dia sendiri ada di balik punggungnya.


"Apa ini dek?" Pria itu mengambil alih benda yang menunjukan dua garis merah


"Di lihat baik-baik"


"Testpack?" Seketika Adam mematikan hardryer kemudian berbalik.


"Kamu hamil dek?


Dinda mengangguk sembari mengulas senyum.


"Kenapa?" Dinda merenggangkan pelukannya, sedikit mendongak demi mencari netra suaminya.


"T-tapi Nabil kan m-masih kecil"


"Kenapa memangnya? Mas nggak senang aku hamil lagi?"


"Bukannya nggak senang dek"


"Terus apa?" wanita itu melepas tangannya dari pinggang sang suami.


"Kasihan aja, masih kecil punya adek" Balas Adam dengan sedikit terbata. Wajahnya pucat bukan karena kehamilan Dinda.


Dia senang bisa di percaya untuk memiliki anak kedua secepat ini, hanya saja pria itu sedikit khawatir dengan proses persalinannya. Adam yang dulu tak berhenti menangis saat menyaksikan Dinda melahirkan, membuatnya takut hal yang sama akan terulang untuk kedua kali. Dokter dan suster bahkan menertawakan tingkah Adam yang kekanak-kanakan.


"Nabila nggak akan kekurangan kasih sayang kita, kok" ujar Dinda membuat Adam sedikit tersentak karena kaget.


"Iya tapi_"


"Tapi apa? Ini rezeki loh, harusnya mas bahagia"


"Iya, mas bahagia kok" jawab Adam menyembunyikan ekspresi kecemasannya.


"Aku panaskan makan malam, ya" kata Dinda mengusap dada bidang suaminya.


"Hmm"

__ADS_1


"Tolong jagain Nabila"


"Iya"


Seperginya Dinda, Adam mematung menatap dalam-dalam benda mini di tangan kanan, tatapannya kemudian beralih pada anak gadisnya yang terlelap begitu damai.


Sekian detik berlalu, pria itu berjalan ke arah ranjang, meletakkan testpack di atas nakas, lalu merebahkan diri di samping putrinya.


"Maafin papa ya nak" Adam mengecup kening putrinya. "Nabila masih butuh Asi mama, tapi malah mama sama papa mau punya adek bayi lagi"


"Papa janji nak, Nabila nggak akan pernah kekurangan sayangnya papa sama mama, Nabila tetap menjadi anugerah terindah buat papa"


Hening, Adam menelisik wajah Nabila yang pipinya terlihat chuby.


"Satu tahun lebih papa sama mama nunggu Nabil, Nabil yang pertama yang selalu akan papa prioritaskan"


Bayi itu tampak tersenyum samar, namun hanya sesaat.


"Nabila senyum? Apa Nabil senang mau punya adek? Kalau iya, berarti sama dong, papa juga senang"


"Jangan ngerepotin mama banyak-banyak ya"


Adam kembali mengecup kening putrinya.


"Yuk kita buat mama bahagia di masa-masa kehamilannya"


Bayi yang tengah memejamkan matanya kembali tersenyum.


"Anak pintar"


Merasa gemas, Adam mencubit pipinya hingga bayi itu menggeliat sambil mengeluarkan rengekan.


"Ssttt, jangan bangun nak, ayo bobo lagi" Tangan kiri Adam menepuk-nepuk paha Nabila. Namun bayi itu justru semakin menangis kencang.


Tak ada pilihan lain, Adampun membopongnya berharap bayinya akan diam dan kembali tidur sebelum Dinda memasuki kamar.


"Loh Nabila kenapa mas?" Dinda memasuki kamar dengan membawa nampan lalu meletakannya di meja sofa.


"K-kebangun sayang"


"Kebangun? Nggak mungkin, pasti di gangguin kan sama kamu?"


"Enggak dek, cuma cium aja tadi"


"Bohong" mata Dinda nampak begitu menyeramkan bagi Adam.


"Sini" Tangan Dinda terulur untuk mengambil Bayi dari gendongan suaminya.


"Kan emang Nabila lagi rewel, jadi di cium dikit langsung bangun"


"Nggak percaya, pasti mas cium-cium terus cubit-cubit pipinya atau nggak hidungnya kan?"


"Sedikit kok dek, soalnya gemas"


"Nah kan"


Adam tersenyum meringis dengan tanpa rasa bersalah, tak peduli ocehannya, dia mengecup puncak kepala Dinda sebelum kemudian mengarahkan kaki menuju sofa untuk menyantap makan malam yang tadi Dinda panaskan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2