
Tiga hari setelah Prilly berhasil merayu Zidan agar secepatnya memecat Dinda, selama tiga hari pula dia mencari wanita bayaran yang mau berakting sebagai korban dari pelakor.
Semua rencana sudah Prilly atur sedemikian rupa.
Dan hari ini, wanita bayaran itu akan mendatangi Dinda di rumah sakit untuk melabrak dan mengata-ngatai Adinda sebagai pelakor yang sudah merebut suaminya, bahkan wanita itu di minta untuk mengatakan jika Dinda sudah tidur satu ranjang dengan suaminya.
"Gimana Zi, sudah memiliki alasan yang masuk akal untuk memecat dokter pelakor itu?"
"Sudah dong sayang, aku tinggal bilang kalau rumah sakitku tidak akan mempekerjakan wanita yang menyakiti sesama wanita"
Semenjak penyatuan pertama mereka, dua sejoli itu akhir-akhir ini memang sering melakukan hubungan suami istri. Tidak hanya di rumah orang tua Prilly, mereka juga melakukannya di hotel seperti siang ini.
Kalau Zidan memecat Dinda secara diam-diam, enak dong pelakor itu, harusnya selain mendapat pemecatan, dia juga harus di permalukan di muka umum.
Wanita cantik itu tersenyum licik dalam hati.
Untung saja aku sudah membayar orang untuk berpura-pura menjadi temanku yang suaminya di rebut oleh dokter sialan itu,
Hmmm... Adinda!
Setelah kamu keluar dari rumah sakit dengan image yang buruk, aku yakin rumah sakit lain pasti menolak mempekerjakanmu. Apalagi jika kamu menyandang status pelakor, selama ini para masyarakat terutama kaum hawa begitu kritis terhadap pelakor, mereka menentang keras wanita yang merebut suami orang, bukan? Dengan begitu, kamu pasti akan menjadi pengangguran. Hahaha. Dan jika kamu berhasil di terima kerja di rumah sakit lainnya, aku tidak akan tinggal diam, aku pasti akan membujuk suamiku yang kaya raya ini melobi kepala rumah sakit agar segera memecatmu. Kamu akan lontang lantung hidup dengan hari-hari di penuhi hinaan dan cacian, Dinda!"
Menarik napas panjang, Prilly kian hanyut dengan lamunannya.
Kamu memang mau menikah dengan Adam, tapi setelah menikah, kamu akan merasakan bagaimana suami hasil merampasmu menjadi pria pengangguran. Dan aku, akan senang sekali melihat kalian menderita dan hidup miskin.
"Prilly"
"Hmm" dia langsung memfokuskan netra menatap Zidan yang berada di bawahnya.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Senang aja, aku bisa menghabiskan waktu bersamamu"
"Meskipun kita sudah menikah dan punya anak nanti, kita akan sering-sering menghabiskan waktu bersama seperti ini"
"Ngomong-ngomong soal anak, Zi" kata Prilly dengan sorot serius. "Bagaimana kalau dari hubungan ini aku hamil?"
"Ya nggak apa-apa dong, dua minggu lagi kita akan menikah, itu artinya papa, mama serta ayah, nggak perlu menunggu lama untuk segera memiliki cucu"
"Kamu nggak akan ninggalin gitu aja kan?"
"Enggak lah sayang, aku cinta sama kamu, sampai kapanpun"
Padahal aku belum mencintaimu Zi, di hatiku masih ada Adam. Tapi aku janji, aku pasti akan segera mencintaimu. Apalagi merasakan bagaimana kepuasan yang ku dapat di atas ranjang. Aku selalu ingin melakukannya dengamu.
Tiba-tiba, terdengar suara ponsel dari dalam tas Louis Vuiton milik Prilly. Keduanya kompak memusatkan perhatian pada tas mewah di atas nakas.
"Itu ponselmu yang berdering?" tanya Zidan.
"Iya itu ponselku"
"Angkatlah, siapa tahu penting" Zidan bergerak memindahkan tubuh Prilly supaya rebah di sampingnya, kemudian salah satu tangannya terulur meraih tas milik wanitanya.
"Ini" Pria itu menyerahkan ponsel ke tangan Prilly.
Wanita itu?
Dengan cepat Prillya langsung menjawab panggilannya.
"Iya, ada apa?"
"Bagaimana dengan rencana hari ini, nona?"
"Tentu akan kita lakukan, temui aku jam tiga di tempat yang sudah kita meetingkan kemarin"
Selagi Prilly bicara melalui sambungan jarak jauh, tangan Zidan bergerak liar menyusuri lekuk tubuhnya, sesekali pria itu mengecup batang leher yang membuat Prilly seketika beringsut kegelian.
"Baik nona Prilly"
"Jangan menelfonku lebih dulu, aku yang akan menelfonmu nanti"
"Iya, maaf nona"
Panggilan terputus.
Berani-beraninya dia menelfonku. Kalau Zidan mendengarnya, bisa berantakan rencanaku. Semoga saja dia tidak mendengar pembicaraanku tadi.
"Siapa?" tanya Zidan penasaran.
__ADS_1
"Hmm, itu sekertaris aku" bohongnya tak ada ragu.
"Kamu ada pertemuan?"
"Iya, jam tiga"
Reflek, perhatian Zidan beralih melirik jam di dinding.
"Kita masih ada waktu sekitar satu jam, bagaimana kalau kita lakukan sekali lagi?"
Tanpa menunggu lama, Prilly menganggukkan kepala.
Setelah mendapat persetujuannya, detik itu juga Zidan kembali menjelajahi tubuh seksi tunangannya.
Dan kepuasan, kembali mereka rasakan
****
15:03...
Prilly berjalan menuju taman dekat Harquina hospital, Ia langsung melangkah menghampiri wanita yang saat ini sudah berpenampilan mewah seperti keinginannya.
Tentu saja Prilly yang sudah membiayai salon serta gaun mewah yang dia kenakan. Sebab Prilly tidak mau jika Zidan mengira teman pura-puranya berasal dari kalangan rendahan, jadi ia tak segan keluar uang banyak untuk mendandani wanita bayarannya.
"Nona Prilly" wanita yang di ketahui bernama Mawar sontak bangkit dari duduknya ketika Prilly berdiri di hadapannya.
Dia sempat merasa gugup mendapat tatapan dari wanita berkelas seperti Prillya.
"Apa ada yang salah dengan penampilan saya nona?"
"Oh, tidak. Penampilanmu cukup bagus"
Mawar tampak tersanjung. Dia duduk kembali sesaat setelah di persilakan oleh bosnya.
"Tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
"Saya tahu nona"
"Bagus" Prilly menatap arloji di pergelangan tangan. "Sekarang kamu jalan ke rumah sakit dan marah-marah sambil menyebut nama Dinda. Ingat, kamu harus bisa akting sabagus mungkin supaya mereka percaya padamu. Aku akan datang sesaat setelah kamu berakting"
"Tenang saja nona, saya akan melakukan yang nona pinta, saya bahkan sudah mempersiapkan obat tetes mata supaya mereka mengira aku menangis"
"Okay, sekarang pergilah! lakukan tugasmu dengan baik"
Pelan, Mawar bangkit lalu beranjak meninggalkan area Taman.
Sementara Prilly, ia melepas kacamata hitam dan menatap punggung Mawar yang kian jauh sembari bergumam lirih.
"Dinda, kamu tidak bisa lari dariku, siapa suruh berurusan denganku, sekarang rasakan akibatnya"
Seringai liciknya tampak jelas, sorot matanya sangat tajam, setajam kilatan Harimau liar yang hendak menerkam mangsanya.
___
"Adinda!!"
Semua orang langsung memusatkan perhatian ke arah wanita yang baru saja berteriak dengan lantang. Mereka menyorot dengan tatapan heran penuh penasaran.
"Dimana kamu? Keluar sekarang, dokter Dinda!"
"Siapa dia, kenapa berteriak seperti orang gila?"
"Itu wanita kenapa teriak-teriak?"
"Keluar kamu dokter Dinda, aku tahu kamu masih ada di sini"
"Kenapa datang-datang langsung marah-marah?"
"Mungkin dia pasiennya yang di rugikan, atau mungkin keluarganya ada yang meninggal gara-gara dokter itu"
"Bisa jadi"
Begitulah bisikan-bisikan dari orang yang saat ini berada di lobi rumah sakit. Mereka berusaha menerka apa yang sudah Dinda lakukan pada wanita yang berteriak tanpa malu.
Dinda yang baru saja selesai sholat Ashar di mushola rumah sakit, langsung di beri tahu oleh salah satu suster yang kebetulan akan menunaikan kewajibannya.
"Dokter Dinda, ada wanita marah-marah di ruang tunggu"
"Marah-marah? siapa?"
__ADS_1
"Nggak tahu dok, seorang wanita berteriak memanggil nama dokter Dinda"
Seorang wanita? Ia membatin seraya memakai alas kaki dengan gugup.
"Makasih suster"
Setelah mengatakan itu, Dinda buru-buru berlari memasuki lobi rumah sakit.
"Hai pelakor! tunjukkan wajahmu sekarang juga!"
"Mbak, tolong jangan membuat kegaduhan di sini, kalau ada masalah dengan dokter Dinda, silakan di bicarakan baik-baik, dan jangan disini"
Wanita itu menatap nyalang wajah pria berseragam satpam yang baru saja bersuara.
"Saya sudah sering menegurnya baik-baik pak, tapi dokter Dinda, dokter pelakor itu, justru semakin terang-terangan menggoda suamiku. Dia ingin merebut suamiku, apa menurut pak satpam saya harus selesaikan baik-baik?"
Dari ambang pintu masuk yang berbahan kaca tebal, Dinda menyorot nanar seakan tak percaya.
Fitnah apa lagi ini yaa Rabb!
"Dia sudah mengambil suamiku, aku tidak bisa terima itu, pak satpam" Pekiknya dengan nada tinggi.
"Oh, jadi suaminya di rebut oleh dokter Dinda"
"Iya"
"Ternyata dokter Dinda sudah merebut suami wanita itu"
"Ya ampun, dokter cantik itu pelakor?"
Bisikan para pengunjung, membuat Dinda kian meradang.
"Apa maksud anda nyonya?" Dari arah belakang punggung Mawar, suara Dinda menggema. Otomatis ratusan pasang mata termasuk staf dan karyawan rumah sakit langsung menoleh ke wajahnya.
"Oh ini dia pelakornya" Wanita itu tersenyum mengejek, menatap Dinda yang kemungkinan besar menahan geram. "Apa kamu sadar kalau apa yang kamu lakukan sama saja menghancurkan hidup anakku?"
Ucapan bernada memojokkan, kembali terlontar dari mulut wanita yang seakan tengah emosi.
"Bisa anda jelaskan, sikap atau tindakan saya yang bisa menghancurkan hidup anak anda?" Tenang, sangat tenang,
bagaimanapun, Adinda harus bisa menjaga sikap, sebab semua pegawai di sini mengenal dia.
"Hey pelakor, ucapan saya kurang jelas? jangan rebut suamiku, dari anak-anakku, masih banyak pria di luar sana yang belum menikah, kenapa harus menjadi orang ke tiga dalam rumah tanggaku?"
"Suami siapa nyonya? aku tidak pernah merebut suami siapapun" Sanggah Dinda berusaha tenang agar emosinya tak terpancing.
"Jangan munafik kamu wanita murahan! kamu bahkan sudah meniduri suamiku"
"Anda jangan memfitnah saya nyonya, saya bisa melaporkan anda ke polisi"
"Berani kamu melaporkanku ke polisi? kalau begitu, aku akan melaporkan kamu balik karena sudah berzina"
"Astaga, mereka sampai berzina"
"Ya ampun"
Dinda yang mendengar bisikan itu, wajahnya memanas ketika teringat tentang zinanya dengan Adam.
"Apa ada bukti saya melakukan itu? kalaupun ada, tunjukkan suamimu ke hadapan saya"
"Apa kamu lupa kalau sudah tidur dengan seorang pria? asal kamu tahu, aku memiliki bukti saat kamu sedang bergulat di atas ranjang"
Sepersekian detik, jantung Dinda berdetak sangat kencang, Bahkan ramainya pengunjung rumah sakit tak mampu mengalahkan debaran jantung yang kian naik iramanya. Keberanian Dinda seketika menciut saat mendengar ucapan wanita yang katanya memiliki bukti perzinahannya.
"Kenapa diam?" tatapan Mawar kian tak ramah. Bahkan terkesan meremehkan. "Takut, semua aku bongkar disini?"
"Mau aku putar video memalukanmu di sini?" tambahnya mengancam.
Padahal, Mawar sama sekali tidak memiliki video itu. Dia hanya di beritahu oleh Prilly bahwa Dinda sudah berzina.
Pikir Dinda, Prillylah yang sudah mengambil videonya mengingat wanita itu sempat memergokinya.
"Ada apa ini?" Para petinggi rumah sakit datang.
Sepasang netra Dinda serta Mawar reflek terarah pada pria yang menjabat sebagai kepala rumah sakit dan direktur utama Zidan Atmajaya.
"Pak, wanita ini sudah merebut suami saya, dia bahkan sudah tidur dengan suami saya, anda harus memecat dokter pelakor ini dari rumah sakit, pak"
Kepala rumah sakit memindai wajah Dinda.
__ADS_1
Mendapat tatapan menghujam, dengan susah payah, Dinda berusaha menelan ludahnya yang seakan tercekat.
Bersambung