Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Suami Sialan


__ADS_3

"Ada apa mas? disini ada mbak Ulva. Nanti dia lihat gimana?"


Waktu Dinda mengatakan itu, ia masih berdiri dan matanya langsung tertuju ke Adam yang tengah duduk di kantin rumah sakit dengan melipat kedua tangan di atas meja.


Pria itu tersenyum saat mendapati wajah istrinya yang terlihat panik.


"Dia lagi di kamar Della, nggak mungkin ke sini"


"Bisa saja kan mbak Ulva atau mas Very tahu-tahu nongol buat makan siang"


"Tadi mbak Ulva sudah sekalian beli makanan pas beli tisu. Duduk!"


Dinda duduk, kemudian bertanya "Mas kok bisa disini, nggak ngantor?"


"Mas habis nemuin klien di sekitar sini, ya udah mas sempatin mampir buat jenguk Della"


Jenguk Della atau_" mata Dinda agak memicing dengan sorot curiga.


Mendapat tatapan seram dari sang istri, alih-alih takut, Adam justru mengulas senyum, kemudian meraih tangan wanitanya.


"Atau apa?" Tanya Adam setelah senyumnya perlahan pudar.


"Pengin lihat aku gitu?"


"Kamu sepertinya sudah sangat mengenal suamimu" kata Adam sambil melepas pegangan tanganya. "Itu artinya nggak ada masalah kan, kalau aku pengin lihat kamu?"


Melihat Dinda meresponnya dengan hembusan napas sembari mencebik, Adam kembali tersenyum.


"Kenapa nggak balik ke kantor?"


"Masih ada waktu lima belas menit setelah istirahat" Jawab Adam dengan santainya. "Kamu belum makan siang kan?"


"Belum"


"Makan dulu, mas sudah pesankan makannan"


"Nanti mas pulang jam berapa?"


"Ba'da maghrib insya Allah keluar dari kantor"


"Mau mampir?"


"Jelas itu"


Seorang pelayan datang membawa pesanan Adam. Mereka sama-sama terdiam sampai pelayan kantin selesai meletakkan makanan di atas meja dan beranjak pergi.


"Kamu sendiri pulang jam berapa, dek?"


"Seperti biasa, pukul lima"


"Makan!" ucap Adam lebih ke memerintahkan sebenarnya.


"Mas nggak makan?"


"Sudah, tadi selesai pertemuan kami sempat makan siang"


Setelah mengatakan itu Adam bergeming dengan fokus sepenuhnya menatap Dinda yang tengah melahap makannannya.


Hingga beberapa detik kemudian, Dinda kambali bersuara "Ini sudah lima belas menit, mas nggak balik ke kantor?"


Secara reflek Adam melirik arloji yang melingkar di tangannya.


"Ya sudah, mas tinggal dulu ya?"


"Mau kembali ke kantor?"


"Hmm"


"Ya udah hati-hati"


Sebelum membiarkan sang suami bangkit, Dinda mengecup punggung tangannya, dan kali ini pria itu tak berani membalas dengan kecupan kening. Kondisi sekitar yang ramai, membuat Adam terlalu malu untuk melakukannya.


"Nanti mau di masakin apa?"


"Sayur asem, tahu dan tempe goreng, plus sambal terasi" jawab Adam tanpa banyak berfikir.


Melihat alis Dinda menukik tajam, Adam malah tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Cuma itu?"


"Hmm, tapi hidangan penutupnya kalau bisa yang spesial"


Menyadari kalau Adam tengah menggodanya, Dinda kembali mencebik. "Jangan aneh-aneh deh" katanya tanpa melihat suaminya. Wanita itu cukup kikuk untuk mempertemukan pandangan.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" Jawab Dinda kemudian menatap punggung lebar Adam yang tahu-tahu sudah menjauh.


Ia lantas kembali fokus dengan makanan di atas meja. Kepalanya reflek menggeleng dengan bibir terkulum berisi makanan di mulutnya.


****


Setelah Prilly memerintahkan para anak buahnya untuk standby di kantor Adam dan luxury apartemen, sore ini para pesuruhnya itu sudah berada di posisinya masing-masing.


Tepat pukul 18:30, mobil Adam keluar dari area kantor. Dengan gesit, dua informan itu mengekor di belakang mobil Adam.


Satu orang fokus dengan kemudi, satu orang lainnya menghubungi atasannya untuk memberitahukan bahwa Adam sudah keluar dari kantor. Orang itu juga mengatakan kalau jalan yang mereka lalui bukan arah menuju jalan pulang.


Sampai tiga puluh menit berlalu, mobil yang mereka buntuti memasuki kawasan hunian elit dengan hiasan swarovski yang memancarkan kilau seperti berlian.


Sementara pesuruh yang juga sudah standby di area apartemen, langsung menelfon sang bos jika mereka mendapati mobil dengan jenis dan nomor kendaraan yang sama persis di foto ponsel mereka.


Foto yang menampilkan mobil milik Adam kiriman dari Prilly.


Disana, Prilly yang mendengar informasi dari anak buahnya, merasakan desir-desir aneh di setiap aliran darah yang persekian detik langsung menjalar ke seluruh tubuh, menimbulkan denyutan tak kasat mata yang menerjang dadanya.


"Apa tujuanmu ke sana Dam? Apa yang sudah kamu sembunyikan dariku? kamu bilang pulang kantor sekitar pukul sepuluh, tapi sebelum pukul tujuh kamu sudah keluar dari kantormu"


"Sebenarnya, jam berapa kamu pulang?"


Hening menyeruak, tampak salah satu tangan Prilly mencengkram kuat ponsel miliknya hingga kuku-kukunya memutih. Tesirat sebuah amarah yang begitu besar dari matanya yang sudah mulai mengembun. Bahkan beribu umpatan terucap dari dalam hatinya.


Menghirup napas dalam-dalam, wanita itu menyapu sudut matanya yang berkilau, berusaha menjernihkan pikiran yang terlampau keruh.


Kalau benar kamu mengkhianatiku, aku pastikan hidupmu akan berantakan, tercerai berai hingga tak sanggup untuk membenahinya.


Tapi, siapa wanita itu kalau bukan Dinda?


Sejak kapan? sebelum menikah denganku? atau setelah menikah?


Berbagai pertanyaan singgah di benak Prilly. Lagi-lagi denyutan tak kasat mata itu kembali menyerang.


"Prilly?"


Panggilan sang ayah membuyarkan lamunannya. Ia menoleh menatap Birawa yang kini sedang melangkah memasuki kamar.


"Kita makan malam nak"


"Iya yah"


"Kamu kenapa?" tanya Birawa, dia tampak mengedarkan pandangan. "Apa Adam belum pulang?"


"Belum yah" Prillya menatap wajah ayahnya yang tengah mengerutkan kening.


"Kamu nangis?"


Tak langsung menjawab, Dia menelan ludahnya seraya mencari kata yang pas untuk menjawab pertanyaan sang ayah.


Jelas Prilly tak bisa membagi kesedihannya dengan Birawa. Takut kalau pria paruh baya itu justru akan marah pada Adam, lalu Adam meninggalkannya. Kemungkinan rahasianya juga akan terbongkar sebab Zidan masih sangat mencintainya dan masih berhubungan baik dengan Birawa semenjak tahu kalau anak itu seratus persen bukan anak Adam.


"Tidak yah, sejak hamil, mataku memang seperti ini, aku kekurangan jam tidur karena di awal kehamilan aku merasa badanku selalu tak sehat"


Birawa tersenyum, lalu duduk di sebelah putrinya sebelum kumudian berkata. "Itu wajar nak, nanti setelah tiga atau empat bulan, pasti membaik dengan sendirinya"


"Iya yah, dokter juga bilang begitu"


"Ngomong-ngomong, kenapa Adam belum pulang?"


"Dia masih ada meeting, tadi aku baru menghubunginya"


"Ayah sudah memintanya untuk resign dari kantor dan masuk ke perusahaan ayah supaya bisa pulang lebih awal, tapi katanya harus menunggu bulan depan"


"Dia setuju berarti yah?"

__ADS_1


Birawa mengangguk pelan.


"Kita makan malam dulu yuk, kasihan bayimu pasti kelaparan"


Kini gilaran Prilly yang mengangguk. Keduanya bangkit lalu bersama-sama melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


***


Hingga di pagi harinya, Prilly berusaha bersikap biasa saja meski Adam semalam pulang lewat pukul sembilan.


Dia yang tengah menyiapkan kemeja untuk Adam, pikirannya melintang menerka-nerka apa yang suaminya lakukan di apartemen itu dari pukul tujuh hingga pukul sembilan. Padahal, saat dia menanyakannya kenapa pulang malam, pria itu menjawab kalau ada banyak pekerjaan di kantor, itu artinya jawaban Adam adalah bohong.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Prillya sambil menyerahkan kemeja pilihannya. Ini pertama kalinya dia membantu Adam menyiapkan pakaian.


"Kurang tahu, nanti aku kabarin lagi"


"Apa pulang malam seperti kemarin?"


"Mungkin saja" sahut Adam sambil mengancingkan lengan kemeja.


"Aku berangkat dulu" pamitnya setelah sekian menit berlalu.


"Hati-hati" Prilly melingkarkan lengan di pinggang Adam. Dia yang tidak siap sedikit kaget dengan sikap Prilly yang menurutnya aneh.


Tak ada salahnya aku membalas pelukannya.


Batin Adam, tanganya mengusap punggung istrinya.


"Aku temani kamu sarapan"


"Nggak usah, tidurlah kalau masih mengantuk"


"Kamu nggak mau aku temani?" Selidik Prilly dengan dahi berkerut.


"Bukan seperti itu, lebih baik kamu istirahat saja! kamu pasti lemas karena selalu muntah di pagi hari. Aku maklum kok"


Adam mengecup kening Prilly sebelum beranjak dari kamar. Itu dia lakukan agar istrinya tak mencurigainya.


"Lagi pula ada ayah yang selalu menemaniku sarapan"


"Tapi mulai pagi ini aku akan temani kamu sarapan"


Pria itu mengangguk mengabaikan rasa herannya terhadap sikap tak biasa dari sang istri.


Dengan tidak meladeni emosionalku, Adam tidak akan curiga kalau aku diam-diam tahu tentang apartemen yang kemungkinan besar milik selingkuhanmu, Dam.


Selesai sarapan, dua pria beda generasi sama-sama beranjak dari meja makan. Mereka meninggalkan Prilly yang masih menyelesaikan sarapannya. Saat dua pria itu lenyap dari pandangannya, tangan Prilly meraih ponsel yang ada di samping piringnya. Ia berniat menelfon kantor Adam bagian HRD. Ia berharap, dari sana akan mendapat informasi mengenai jam kerja suaminya.


"Selamat pagi" Suara bas dari seorang pria menguar di telinganya melalui sambungan jarak jauh.


"Selamat pagi pak"


"Pagi bu, ada yang bisa di bantu?"


"Begini pak, saya Prillya, istri dari Adam Naizar"


"Iya"


"Kalau boleh tahu, apa suami saya sering lembur beberapa hari ini?"


"Betul bu, itu karena pak Adam habis menjalani cuti selama seminggu, jadi ada banyak pekerjaan yang tertunda"


Mas Adam cuti? Kapan? Apa saat dia pergi ke luar kota?


Dua kebohongan, Dam.


"Hallo bu?"


"Maaf, maaf, kira-kira lemburnya sampai pukul berapa pak?"


"pukul tujuh, bu"


"Ya sudah kalau begitu, terimakasih banyak, pak"


"Sama-sama ibu. Selamat pagi"


Menggeser ikon merah, wanita itu berusaha menelan salivanya yang agak tercekat. Giginya mengerat dengan rahang terkatup.

__ADS_1


Dasar suami sialan, kamu membohingiku Dam


__ADS_2