
Satu minggu berlalu, satu minggu sudah Dinda bekerja di family care. Dia pikir hidupnya akan baik-baik saja tanpa kabar dari Adam. Tapi tidak, wanita itu justru terus mengingat peraduannya dengan pria yang sudah mengacaukan isi hatinya. Semakin Dinda ingin melupakannya, maka semakin jelas bayangan percintaan mereka menari-nari di otaknya.
Dia yang sudah menempati apartemen Kellen semenjak bekerja di rumah sakitnya, tak tahu apakah Adam datang ke rumah untuk mencarinya atau tidak. Karena Dinda sudah memblokir nomor Adam, jelas Adam tak bisa menghubunginya lebih dulu.
Sementara Adam cukup malu untuk bertemu Dinda. Dia tidak bisa membayangkan wajah kecewa wanita yang perlahan bisa menggeser posisi Prilly di hatinya.
Setelah mendengar pengakuannya bahwa dirinya sudah meniduri Prillya, mungkin saja Dinda akan menamparnya, atau bahkan mengusirnya. Dan Adam belum siap untuk itu.
Tapi malam ini, Adam melihat aktifitas di rumah Dinda setelah berhari-hari sebelumnya rumah itu kosong tak berpenghuni.
Dinda yang berjanji pada Meta agar pulang dan menginap di rumahnya, kini dia menepati janjinya.
Sudah pasti Dinda tahu jika sang mamah tak ingin melupakan rumah peninggalan suaminya yang menyimpan begitu banyak kenangan manis, setidaknya rumah itu akan terus terawat sebab Dinda selalu datang untuk membersihkannya meski hanya satu kali dalam seminggu.
Memberanikan diri, Adam menggerakkan kendaraannya melewati gerbang. Dinda dan Meta yang tengah bercengkrama di ruang tengah kompak mempertemukan pandangan.
"Siapa Din?"
"Suara mobilnya mas Adam mah"
"Yang bijak ya, jangan emosi" celetuk Meta tiba-tiba.
Dinda tersenyum meresponnya.
"Kamu buka pintunya, Mamah ke kamar dulu"
"Iya mah"
Baru saja bangkit dari sofa, Dinda mendengar suara salam dari Adam.
"Wa'alaikumsalam, mas" jawab Dinda sesaat setelah membuka pintu.
"Din"
Mereka beradu pandang dengan tatapan sangat lekat. Ada cinta dari pancaran mata keduanya yang membuat situasi di antara mereka terasa begitu canggung.
"Masuk mas"
"Di sini saja" Adam menunjuk dua kursi teras yang saling berhadapan.
"Silahkan duduk"
Adampun duduk, di susul Dinda yang juga turut mendudukkan dirinya di kursi.
"Kamu habis dari mana Din? beberapa kali aku ke sini, rumahnya kosong"
"Aku pindah mas"
"Pindah?"
Dinda mengangguk meski pelan.
__ADS_1
Hening beberapa detik.
"Din" Panggil Adam ragu-ragu.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa menikahimu, Din. Aku harus menikahi Prilly"
Ucapan Adam barusan, memantik rasa nyeri di dalam sana. Nyeri yang begitu menusuk yang mencabik-cabik hatinya.
Sebisa mungkin, Dinda berusaha menormalkan ekspresi wajahnya meskipun sangat sulit. Ia menarik napas panjang berharap rasa sesaknya sedikit berkurang. Tapi tidak, sesak itu justru kian terasa kuat seperti ada yang menghimpitnya.
"Dia hamil, Din"
Sepersekian detik, Dinda mengangkat kepala kemudian menyoroti manik hitamnya.
Tak ada sepatah katapun yang mampu Dinda keluarkan, dia hanya bisa menatap dalam dan lekat wajah Adam yang tampak sendu.
Meskipun aku berusaha menggagalkan rencana Prilly, tapi tetap saja penjagaanku tak mampu melindungi mas Adam.
Di satu waktu, aku memang gagal membuat mas Adam meniduri Prilly, tapi wanita seperti dia, pasti akan terus berusaha menjebak mas Adam.
"Maaf, Din"
Dinda terlonjak, namun hanya sesaat.
"Dia hamil, mas?" berharap ia hanya salah dengar.
Adam mengangguk.
"Anaknya mas?" tanya Dinda menyelidik.
"Menikahlah dengannya, anaknya butuh papah"
"Bagaimana denganmu, Din?"
"Kenapa harus khawatirkan aku, aku tidak apa-apa"
"Tapi Din, aku tidak mencintai Prilly"
Adinda memalingkan wajah. Menyembunyikan raut sedih dari hadapan Adam. Benar-benar hatinya teremas dengan sangat kuat.
Bagaimana bisa mas Adam tidak mencintai Prilly, padahal dulu mas sangat mencintainya, mas bahkan tak putus asa meski berulang kali mendapat penolakan dari Birawa.
Dan bagaimana bisa mas Adam bilang tidak mencintainya kalau pada akhirnya mas menghamilinya.
Berapa kali, kalian melakukan hubungan suami istri itu?
Bagaimana bisa Prilly hamil secepat itu?
Berbagai prasangka singgah di kepala Dinda.
Hhh.. Semua bisa terjadi atas kehendak-Nya, Din. Kun fayakun. Terjadi maka terjadilah.
__ADS_1
"Kapan mas menikahinya?" tanya Prilly setelah bisa menguasai emosinya.
"Hari rabu"
Sekuat tenaga, Dinda berusaha menahan genangan air yang menghangatkan sepasang mata. Sekali saja Dinda mengerjap, mungkin embun itu akan jatuh.
"Bukannya seorang wanita hamil di larang menikah mas"
"Iya, Din. Itu hanya formalitas saja untuk menutupi kesalahan"
"Karena Birawa?" tanya Dinda ke sekian kalinya
Adam kembali mengangguk kemudian bersuara.
"Meski abi sudah memberitahu keluarga Prilly kalau dalam agama menikahi wanita hamil itu di larang, tapi tetap saja dia memaksaku untuk segera menikahinya. Bukan hanya Prilly, ayahnya juga terus menekanku sebab tak mau nama baiknya tercemar"
"Selamat kalau gitu"
Kemudian hening sesaat.
"Kalau boleh tahu, kamu pindah kemana, Din?"
"Maaf mas, sepertinya aku nggak bisa kasih tahu mas, akan lebih baik jika kita lupakan apa yang sudah terjadi di antara kita. Anggap saja kita nggak pernah saling kenal, dan maaf, aku sempat merusak hubungan mas dengan kekasih yang sangat mas cintai"
"Tapi Din_"
"Fokus saja sama istri dan calon anak mas"
Pria itu menghela napas pasrah, dalam hati membenarkan ucapan Dinda. Karena setelah menikah, Adam harus benar-benar hanya memandang Prilly sebagai satu-satunya wanita yang ia miliki. Apalagi saat ini Prilly sedang mengandung benihnya.
"Boleh aku bertemu dengan mamah?"
"Sebentar aku panggilkan"
Untung saja Adam meminta bertemu dengan Meta, kalau tidak, mana bisa dia menahan laju air dari matanya.
"Mah, Adam mau bertemu dengan mamah"
"Mau apa Din?"
"Mamah temui sebentar ya, aku ke kamar. Kalau mas Adam tanya, bilang saja aku banyak pekerjaan"
"Tapi kamu nggak apa-apa kan nak?"
"Nggak apa-apa mah"
"Ya sudah, kamu istirahat saja, biar mamah temui Adam"
Dari raut wajahnya, Meta sangat tahu kalau ada sesuatu yang membuat putrinya bersedih. Walaupun Dinda berusaha menyembunyikannya, tapi tidak darinya.
Aku benar-benar harus melupakan mas Adam
__ADS_1
Berdirilah dengan tegar Dinda! PR mu, kamu harus bisa menjelaskan mengenai kesucianmu pada pria yang hendak menikahimu nanti.
Berambung..