
Meta yang sudah tidak memiliki kemampuan untuk merahasiakan kebenaran itu, akhirnya memberitahukan pada Birawa bahwa Dinda adalah putri kandungnya.
Sementara Birawa yang masih belum percaya, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa selain Prillya, dia juga memiliki anak dari Meta. Wanita yang menjadi cinta pertamanya, cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Adam sendiri tergagap mendengar bahwa Dinda adalah kakak kandung Prillya.
Jadi Dinda dan Prilly kakak dan adik yang beda ibu?
Lantas, siapa nama pria yang ku sebut saat ijab qobul?
Bukan Birawa. Pria bernama Santoso, siapa dia?
Adam berbisik dalam hati. Punggungnya membungkuk, tangannya meraih tas yang sempat terjatuh ke lantai.
"Nanti mamah jelaskan, nak" Meta melangkah mendekati Adam yang masih termangu dengan sorot kosong.
"Dinda dan Prilly kakak beradik, mah?" Pria itu memastikan sekali lagi.
Dan anggukan kepala Meta membuat Adam cukup mengerti.
Hanya saja, ia belum tahu seperti apa kisah antara Meta dengan Birawa sehingga mereka bisa memiliki anak.
Fakta apa ini?
Anak di luar pernikahankah? atau anak hasil perselingkuhan Birawa dengan Mamah?
Apakah mamah merebut Birawa dari bundanya Prilly, yang akhirnya bundanya mengakhiri hidup karena mengetahui perselingkuhan Birawa dengan Mamah?
Kisah antara Birawa, istrinya dan mamah yang nyaris terulang olehku, Dinda dan juga Prilly?
Pria itu menarik nafas panjang.
Reaksi seperti apa jika Dinda dan Prilly tahu kalau mereka saudara?
Adam terus bertanya-tanya dalam hati. Ini benar-benar sesuatu yang sangat mengejutkan dirinya.
"Bisa tinggalkan kami, Dam" Birawa bangkit, mengeluarkan suara agak keras.
Atensi Adam yang mulanya kosong, kini hidup lalu berpindah menatap manik hitam tegas milik Birawa.
"Aku ingin bicara dengan Meta"
Tak langsung menjawab, tapi sekian detik kemudian, Adam berkata.
"Aku akan disini menjaga Dinda, kalian bicaralah di taman"
Birawa serta Meta saling pandang.
"Mamah titip Dinda sebentar"
"Iya mah"
Dua orang paruh baya pun meninggalkan Adam, langkahnya tertuju ke arah taman.
Sementara Adam, meskipun hanya bisa menunggu di luar ruangan ICU, setidaknya dia merasa lega sebab ada kaca yang mampu menembus pandang memperlihatkan wajah sang istri yang pucat lengkap dengan kain kasa yang melingkari kepala. Wajahnya pucat pasi, ada luka di bagian lengan, kaki serta kepala.
"Dek, baik-baik ya! mas di sini, papah mamahmu juga di sini"
Adam bergumam dengan suara lirih.
"Bangun dek, kamu harus tahu kalau Birawa, pria yang katamu menyebalkan itu adalah papahmu"
"Jika kamu senang mendapat kabar yang mengejutkan ini, mas akan turut senang
untukmu, dek"
__ADS_1
Adam masih bermonolog dengan tatapan penuh mengarah ke tubuh wanita yang terbaring lemah.
"Bangun ya, mas kangen kamu"
Mendadak penyesalan kembali menyerbu, mengusik-usik ketenangan otaknya.
Andai saja... halaunya yang tak berujung.
Aarrrghhh, seharusnya kamu antar Dinda setidaknya sampai depan gerbang rumah sakit, Dam.
"Assalamu'alaikum!"
Adam berbalik ketika mendengar suara yang tak asing baginya.
"Abi, Umi, mbak Ulva" Dia menyalami keluarganya satu persatu.
"Maaf Dam, kami baru bisa datang, pekerjaan mbak nggak bisa di tinggalkan"
"Nggak apa-apa mbak"
"Dinda bagaimana, Dam?" tanya Hasan, abinya.
Alih-alih menjawab, Adam malah memalingkan wajah. Otomatis ketiga pasang mata yang baru saja datang turut mengarahkan netranya ke arah Dinda.
"Astaghfirullah, Dinda" desis Santi sembari menyentuh mulut menggunakan telapak tangan kanan.
"Bagaimana bisa, nak?" kali ini suara lirih itu keluar dari mulut Hasan.
"Dinda baru saja di operasi bi, umi" kata Adam setelah terdiam beberapa saat.
"Lalu bagaimana kata dokter?"
"Ada luka memar di perut bagian bawah, um. Area rahimnya" Suara Adam terdengar sendu. "Kepalanya membentur tiang listrik karena Dinda sempat terlempar sejauh tujuh meter"
"Innalillahi" sela Hasan membayangkan betapa ngerinya kecelakaan yang di alami menantunya.
"Kenapa bisa si nak?" Santi bergumam dengan tatapan lurus.
"Semoga Dinda nggak mengalami hilang ingatan umi"
"Astaga, hilang ingatan?" Santi menoleh, mencari netra Adam untuk mencari maksud dari perkataannya barusan.
"Benturan di kepala sangat keras"
Hasan, santi serta Ulva terus beristighfar dalam hati usai mendengar kalimat Adam.
***
Di sebuah taman rumah sakit. Dua orang sedang membicarakan sesuatu yang penting mengenai masa lalunya. Meta, tak berani membalas tatapan Birawa yang begitu tajam. Tatapan yang seakan menghakimi dan menuntut penjelasan darinya. Sampai-sampai Kalimat yang Meta susun sedemikian rupa saat melangkah menuju taman ini bubar entah kemana.
Semenjak pertemuan pertamanya dengan Birawa beberapa waktu lalu, Meta memang selalu di hantui oleh sosok Birawa. Hampir di setiap malam ia memimpikan pria itu yang selalu menatap dengan tatapan marah dalam mimpinya. Sebagian dirinya merasa bersalah sudah menyembunyikan kebenaran bertahun-tahun, sebagian lagi memikirkan kebenciannya pada Birawa.
Selama beberapa hari ini, ia juga menimbang-nimbang haruskah memberitahukan Dinda mengenai ayah kandungnya, atau tetap bungkam dan merahasiakannya sampai dia tiada.
Tapi mengingat betapa akrabnya Dinda dengan Birawa, Meta menjadi khawatir, takut kalau saja ada hubungan spesial antara ayah dan anak itu. Meski dia yakin jika Dinda tidak akan pernah mengkhianati Adam. Namun, Meta berfikir bahwa waktu mampu merubah segalanya, dan ada dzat yang dengan mudahnya membolak-balikkan hati manusia.
Hingga berada di titik inilah, Meta akhirnya mengatakan kebenaran itu.
"Tatap aku dan jelaskan padaku, Meta?" Kata Birawa memecah keheningan di antara mereka.
Menghela napas panjang, Meta akhinya bersuara setelah bungkam hingga hampir satu menit.
"Perbuatanmu saat itu membuatku hamil, pak Bi"
Seperti tertampar, itulah yang Birawa rasakan, meski tak ada tangan yang mendarat di pipinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mencariku, hah?" Birawa seperti hilang kendali, ketihatan dari nada bicaranya yang meninggi.
Ada sebagian orang di area taman yang kaget dan langsung memusatkan pandangan ke arah dua orang itu. Sementara Meta menundukkan kepala menyembunyikan sorot bersalahnya.
"Kenapa Meta?" Ulangnya ketika Meta hanya diam membisu.
"Bagaimana aku mencarimu, pikiranku kalut saat itu"
"Lalu, apakah suamimu tahu kalau kamu sedang mengandung saat menikahimu? apakah dia tahu kalau Dinda adalah anakku?"
Meta meresponnya dengan bahasa tubuh. Mengangguk.
"Tega kamu Mey"
Kemudian hening. Meta benar-benar tak ada nyali untuk mempertemukan netranya dengan netra pekat milik Birawa.
"Sekarang bagaimana aku memberitahu Dinda dan Prilly kalau mereka saudara seayah? anak-anakku yang sudah saling membenci satu sama lain? dua anakku yang masih bermusuhan hingga detik ini?"
"Jika kamu setuju, kamu bisa merahasiakannya dari Dinda"
"Apa kamu bilang?" Birawa bertanya dengan alis berkerut. "Kamu memintaku merahasiakannya? kamu masih waras kan, Meta?"
"Dia putriku, kenapa aku harus merahasiakannya?"
"Karena dia anak di luar pernikahan"
"Meskipun begitu, dia tetap putriku, darah dagingku, aku tidak bisa merahasiakan ini darinya"
"Tapi bagaimana dengan Prilly? dia pasti tidak akan bisa terima kalau Dinda adalah kakaknya, selama ini mereka bermusuhan"
"Dia harus menerimanya?"
"Lalu bagaimana jika dia bertanya bagaimana Dinda di lahirkan? apa yang akan kamu katakan?"
"Apa lagi? aku akan mengatakan akulah yang sudah menghamilimu. Dinda lahir sebelum Prilly, mau tidak mau Prilly harus menerimanya"
"Tapi_"
"Biar aku yang mengurusnya" Potong birawa kilat. "Selain Prilly, Dinda juga berhak atasku, kasih sayangku, hartaku, serta perlindunganku"
"Maafkan aku" Ucap Meta yang persekian detik meluluhkan hati Birawa. "Maaf sudah memisahkanmu dari putrimu"
"Jika saja aku tidak mencintaimu, mungkin aku akan menjebloskanmu ke penjara"
Meta mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?"
"Aku bisa saja memenjarakanmu karena sudah menyembunyikan darah dagingku"
Wanita itu semakin tak mengerti.
"Karena sampai detik ini, aku masih memimpikanmu" tambah Birawa tanpa basa basi.
"M-mencintaiku?"
"Iya, semua salahmu, jika saja kamu tidak menolak cintaku, jika saja kamu mencariku saat kamu menyadari kamu telah hamil anakku, kita pasti sudah menikah dan hidup bahagia dengan Dinda"
"Apa jika aku mendatangimu dan mengatakan aku mengandung anakmu saat itu, kamu akan percaya?"
"Tentu saja. Meskipun aku mabuk, tapi aku tahu kalau aku sudah menodaimu"
"Lalu bagimana sekarang?" tanya Meta putus asa.
"Aku yang akan menjelaskan pada kedua putriku" Birawa meraih tangan Meta yang saling bertaut di atas meja. "Aku akan membuat mereka mengerti, dengan fakta ini, aku berharap tidak ada lagi permusuhan di antara mereka. Serahkan semua padaku, kamu tidak perlu khawatir"
Bersambung..
__ADS_1
Next part aku mau ke Prilly, udah kangen sama dia dan Zidan 😁😁😁. Penasaran sama rumah tangganya 😏😏