Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Shock


__ADS_3

Wanita yang kali ini rambutnya di bikin keriting menggantung dengan warna semi gold, tersenyum penuh kemenangan sesaat setelah mendengar kabar bahwa pesuruhnya, yang sudah ia bayar dua puluh juta berhasil mencelakai Dinda.


Seringai kepuasan tampak jelas di raut wajahnya yang cukup sadis. Bibirnya tak kalah sinis menampilkan senyum licik.


"Mampus kamu Dinda. Siapa suruh memamerkan kemesraan di depan mataku saat hari pernikahanku beberapa waktu lalu"


"Betapa tidak tahu malunya kamu menggandeng tangan pria hasil merampas dariku"


"Sekarang, terima akibatnya, dokter Dinda!"


Dia tersenyum miring, seakan mengejek dan meremehkan Dinda.


"Aku tidak akan pernah membiarkan pelakor hidup bahagia dengan suami hasil merebut dari wanita lain, aku akan terus membuatmu menderita karena kamu sudah main-main denganku"


Prilly belum tahu jika wanita yang dia celakai adalah kakak kandungnya sendiri.


"Dan kamu, Adam, meskipun aku masih mencintaimu, aku tidak akan sudi jika harus kembali padamu. Bagiku, kamu adalah pria sampah yang tidak pantas untuk wanita sepertiku. Apalagi sudah menjadi bekas pelakor busuk seperti Adinda. Ckkk,, tidak akan pernah"


Sibuk dengan euforia kemenangannya, tiba-tiba tubuhnya tersentak ketika ada tangan melingkar di perutnya dari arah belakang. Pria itu menyerukkan kepala di leher Prilly sambil mengecup batang lehernya dan menyesap kuat-kuat. Zidan yang baru selesai mandi, masih mengenakan handuk yang melingkari sebagian perut ke bawah hingga lutut.


"Ah, Zidan, kamu mengagetkanku"


"Kenapa kaget, apa kamu sedang melamun?"


"Hmm" dia menumpukkan tangan di lengan suaminya. "Aku membayangkan percintaan kita semalam"


"Apa kamu menginginkannya lagi"


"Tentu saja" Prilly berbalik lalu berjinjit seraya mengalungkan lengan di leher Zidan. "Tapi nggak sekarang. Kamu harus pergi ke kantor, dan aku harus bantu ayah di perusahaan"


"Tapi ingat, jika usia kandunganmu sudah berada di bulan ke tujuh, aku minta kamu berhenti kerja"


"Iya, itu masih tiga bulan lagi. Masih lama"


Wanita itu memberi kecupan di bibir Zidan. Entah kecupan tulus, atau hanya sebuah pelampiasan karena tak pernah berhasil mengecup bibir Adam baik selama pacaran maupun menikah.


"Pakai bajumu, aku tunggu di bawah, kita sarapan sebelum ke kantor"


"Okay, sayang"


Sebucin itu memang Zidan pada Prillya. Pria itu sangat mencintai Prilly bahkan semenjak mereka kecil.


Tapi sayang, di saat Zidan pergi ke luar negri untuk mengurus bisnis keluarganya, Prilly bertemu Adam, merasa nyaman dengan pria yang terkesan religius, lantas Prilly menjalin hubungan dengannya. Melupakan Zidan yang dia anggap teman masa kecilnya.


Sesaat setelah menyelenggarakan pernikahan, Prilly menyuruh orang untuk menabrak Dinda. Itu karena dia tersulut api cemburu bercampur amarah, tidak terima jika Dinda semakin menunjukkan kebahagiaan di depannya.


Rencana pun di lakukan oleh pesuruhnya setelah dua hari memata-matai aktivitas Dinda.


Bahkan Prilly memintanya agar dia menabrak Dinda hingga meninggal.

__ADS_1


Aku harus merayakan kemenanganku


Ketika langkahnya telah sampai di ruang makan, Sudah ada Birawa yang duduk di ujung meja. Pria itu tampak melamunkan sesuatu dengan kedua tangan saling menyatu menopang dagunya.


Jelas Birawa sedang merancang kata-kata yang sekiranya bisa di terima oleh putrinya tentang Dinda yang ternyata adalah sang kakak.


"Selamat pagi, yah"


"Eh, selamat pagi, sayang" Tangannya terurai sementara dahinya mengernyit sebab Prilly hanya turun sendiri tanpa sang suami.


"Zidan mana?" Tanyanya sambil menoleh ke belakang.


"Masih di kamar yah, lagi pakai baju"


Duduk di kursi makan, dia menyiduk nasi goreng ke piring ayahnya.


"Makan, yah"


"Makasih nak"


"Sama-sama"


Sebelum menyuapkan nasi ke mulut, Birawa melirik Prilly yang sedang menuangkan air bening ke dalam gelasnya.


"Nak, ayah mau bicara"


Mendengar kata bicara, secara spontan Prilly mengarahkan netranya untuk menatap Birawa.


"Dokter Adinda"


"Dokter Adinda?" ulangnya mengerutkan kening.


Birawa mengangguk meski pelan.


"Kenapa dengan dia yah?"


"Dinda kecelakaan?"


"Apa? kecelakaan?" kagetnya pura-pura tak tahu. "Kapan yah? terus sekarang kondisinya gimana?"


"Cukup parah, benturan di kepalanya sangat keras, ada kemungkinan dia mengalami hilang ingatan saat sadar nanti. Rahimnya juga memar akibat terbentur aspal"


"Oh ya ampun, Dinda"


"Tapi ada yang lebih penting dari ini"


Persekian detik alis Prilly menukik tajam. Ia menatap ayahnya dengan sorot penuh selidik.


"Apa itu?" tanyanya kian penasaran.

__ADS_1


"Sebenarnya" Lelaki itu menjeda kalimatnya, ia sedikit ragu-ragu tapi sedetik kemudian dia kembali bersuara. "Sebenarnya, Dinda adalah kakak kandungmu"


Reflek, Prilly menjatuhkan sendoknya di atas piring, hingga menimbulkan suara dentingan agak keras.


"M-maksud ayah?" Dia tergagap tak percaya.


"Dinda, adalah anak kandung ayah dari wanita yang pernah ayah cintai sebelum menikah dengan bundamu"


Dia termangu mendengar ucapan sang ayah.


"Ayah juga baru tahu. Mamahnya Dinda yang memberitahu ayah"


"Nggak mungkin" Prilly menggeleng-gelengkan kepala. "Ayah bohong kan, ayah bercanda kan?"


"Tidak Pril, ayah serius. Dinda adalah anak kandung ayah"


"Enggak, wanita itu pasti bohong, Meta pasti hanya memanfaatkan ayah untuk membiayai pengobatan dokter sialan itu, iya kan yah?"


"Meta tidak pernah membohongi ayah, nak. Ayah yakin dia berkata jujur. Karena ayah, memang pernah menidurinya"


"Enggak! aku nggak mau punya saudara seorang pelakor"


"Prillya!" Zidan tahu-tahu berdiri di samping kursi tempat Prilly duduk.


"Kamu kenapa sayang?" dia bertanya sambil melirik Prilly dan Birawa bergantian.


"Duduk nak" perintah Birawa pada menantunya.


Menarik kursi, Zidan pun duduk di samping istrinya yang tengah menahan amarah.


"Zi, sebenarnya, dokter Dinda adalah kakak kandung Prilly, anak ayah dengan bu Meta"


"A-apa yah?"


"Iya nak, dulu sebelum ayah menikah dengan bunda, ayah melakukan kesalahan dengan meniduri seorang wanita hingga hamil"


Sempat tertegun sejenak, Zidan menarik napas panjang. Dia melirik Prilly yang masih menundukkan kepala menyembunyikan raut masam.


"J-jadi Prilly dan Dinda adik kakak beda ibu?"


"Iya, nak"


"T-tapi bagaimana ayah tahu?"


"Mamahnya Dinda yang mengatakan setelah ayah mendonorkan darah kemarin, Zi"


Tanpa mengatakan apapun, Prilly bangkit dari duduknya, kemudian pergi meninggalkan sarapan yang baru masuk sekitar tiga sendok.


"Sayang" Zidan turut bangkit, lalu menyusul langkah Prillya yang kembali ke kamar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2