
Meta yang masih belum percaya dengan keberadaan Birawa di hadapannya setelah puluhan tahun tak bertemu, terus terbengong dengan kilas balik memenuhi isi kepalanya.
Sementara Dinda masih bingung, menatap dua orang yang tengah sama-sama merasa terkejut.
"Pak Birawa, mamah, kalian saling kenal?" tanya Dinda masih dengan raut heran.
"Oh, i-ya, dokter Dinda, M-Meta ini teman lama saya" jawab Birawa tergagap.
"Oh"
"J-jadi, Meta mamah anda, dokter Dinda?"
Dari pertanyaan Birawa, itu artinya rahasia Meta masih aman, Dinda belum tahu kalau Birawa adalah papah kandungnya, begitupun sebaliknya. Tapi ada beberapa pertanyaan yang berkelebat bebas di otak Meta. Seperti, bagaimana mereka bisa seakrab ini, seakan sudah saling mengenal begitu lama. Kenapa Dinda bisa duduk mengobrol dengan papah kandungnya, seperti apa awal pertemuan atau perkenalan mereka? dan berbagai pertanyaan lain yang langsung mengusik ketenangan otaknya.
"Apa kabar Meta?" Tahu-tahu Birawa mengulurkan tangan, dan itu membuat Meta tersentak.
"S-saya baik" Meta tak menerima uluran tangan Birawa, ia hanya menangkupkannya di depan dada, secara reflek, pria itupun turut menangkupkan kedua tangan dengan agak kikuk.
"Mah, pak Birawa ini adalah papahnya Prilly" ujar Dinda dengan seulas senyum.
Shock yang Meta rasakan karena pertemuannya dengan Birawa belum surut, kini ia kembali di kejutkan dengan kalimat Dinda barusan.
J-jadi Prilly adalah anaknya Birawa, artinya dia adalah adik tirinya Dinda? Wajah Meta memerah, menahan rasa yang berkecamuk di dalam benaknya.
Dinda merebut suami dari adiknya sendiri? Meta bermonolog dalam hati.
Tidak, jangan sampai mereka tahu kalau Dinda adalah anak Birawa sekaligus saudara tiri Prilly.
Dinda putrinya mas Awang, dia yang merawatnya sejak bayi. Cuma dia yang berhak di panggil papa oleh Dinda, bukan Birawa.
Serta hanya aku dan mas Awang yang tahu kalau Dinda adalah anaknya Birawa, aku tidak akan pernah membiarkan mereka mengetahuinya.
"Mamah" Dinda mengernyit, sedikit khawatir dengan perubahan raut wajah sang mamah.
"I-iya Din?"
"Mamah sakit?"
"Oh, eng-enggak nak"
"Beneran mah, baik-baik aja?"
"Iya sayang, mamah baik-baik saja, hanya sedikit tak percaya karena tiba-tiba bertemu dengan teman lama" dari gesture tubuhnya, jelas sekali kalau Meta terlihat sangat shock.
__ADS_1
"Kalian kan teman lama, kalian bisa ngobrol-ngobrol sebentar mungkin" Kata Dinda seraya melirik jam di tangannya. "Saya sudah harus kembali bekerja, jadi pak Birawa, maaf saya tinggal"
"Iya, silakan, dokter Dinda"
Dinda meresponnya dengan senyuman.
"Mah, aku tinggal dulu ya"
"I-iya sayang"
Usai berpamitan, Dinda pun pergi meninggalkan keduanya yang sama-sama menampilkan raut gugup.
Birawa dan Meta menatap punggung Dinda yang semakin menjauh, ketika wanita yang mereka tatap sudah hilang dari pandangan karena berbelok, dua orang itu kembali terjerat oleh kegugupan yang kian lebih.
"Bisa kita bicara, Meta?" tanya Birawa setelah hening beberapa menit.
Sebuah kalimat yang membuat jantung Meta seperti kehilangan ritemnya. Detakannya benar-benar kencang seperti berlari di atas treadmill.
"Berdua saja" tambah Birawa melirik Yani, ARTnya Meta.
"Maaf, saya tidak ada waktu"
"Hanya lima menit" balas Birawa cepat, dengan fokus sepenuhnya ke arah manik hitam Meta yang tak berani membalas tatapannya.
"Saya tunggu di sana ya bu" kata Yani, sambil menunjuk sebuah bangku yang tak jauh dari tempat duduk yang Dinda dan Birawa tempati.
"Saya hanya sebentar, Yan. Kamu tunggu ya"
"Baik, bu. Lama juga nggak apa-apa"
"Tak lebih dari lima menit kok Yan"
"Iya bu, kalau gitu saya tunggu di sana ya bu, saya permisi"
Meta menganggukan kepala, tidak lama setelah itu, dia duduk di tempat bekas Dinda duduk sebelumnya.
Kemudian hening, mereka kembali dalam situasi gugup campur bingung. Tapi ada sedikit rasa benci dalam hati Meta, teringat kejadian sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, dimana Birawa tiba-tiba saja datang ke tempat kost-an dalam keadaan mabuk berat.
Birawa, tanpa sadar telah menodainya meski Meta berusaha agar bisa menghindari pria itu, tapi tenaganya yang kalah kuat dengan tenaga Birawa, Meta pun menyerah hingga akhirnya keperawanannya pun terkoyak, benih itupun tumbuh di rahimnya tanpa sepengetahuan Birawa.
Setelah insiden itu, Birawa yang langsung terkulai lemas dan tertidur pulas, Meta pergi membawa kapingan hatinya yang tercabik-cabik, merasa masa depannya sudah di hancurkan oleh pria yang saat ini duduk di hadapannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, pak Birawa?" Meta menginterupsi kebisuan mereka dengan kalimat tanya.
__ADS_1
"Apa kabar, Amey" Sebuah panggilan sayang dari Birawa untuk Meta. Meta tahu kalau Birawa sangat mencintainya, tapi karena hatinya sudah jatuh pada Awang, Meta pun tak pernah membalas cintanya.
"Bukankah sudah kamu tanyakan tadi?"
"I-iya"
Setelah itu Sunyi hampir satu menit.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, saya permisi"
"Masih, ada, Meta" sambarnya kilat.
Meta yang tadinya hendak bangkit ia urungkan.
"Saya minta maaf, sudah menidurimu secara paksa, meskipun tanpa sadar, tapi saya tahu"
"Kamu tidak pernah meniduriku" balas Meta. Ucapan Birawa, seakan membuka luka lama yang kini sudah mengering kembali meleleh.
"Kamu tidak usah mengelak, Meta. Noda itu, tidak akan pernah saya lupakan"
"Noda apa maksud kamu?"
Birawa tersenyum miring. Sebuah senyuman yang di buat-buat.
"Aku mencarimu selama ini" Birawa mengabaikan pertanyaan Meta. "Setelah tahu kamu menikah dengan Awang, barulah aku berhenti mencarimu"
"Sepertinya itu adalah hal yang tidak penting untuk di bahas"
"Siapa bilang? tapi bagiku ini penting, karena aku sudah merenggut keperawananmu"
"Sudah saya maafkan, jadi pembicaraan kita selesai. Saya permisi, selamat siang"
"Meta" Panggil Birawa cepat, sebab wanita itu sudah bangkit dan melangkah pergi.
Tak mengindahi panggilan Birawa, ia terus menganyunkan kaki ke arah dimana Yani duduk.
Dari sini bisa di simpulkan, kalau kisah Prilly agak nyerempet mengulang kisah Meta. Menikah dengan Pria yang tidak menghamilinya. Perbedaannya, Prilly menikah dengan Adam yang jelas sudah tidak mencintainya, sementara Meta di nikahi oleh pria yang mencintainya.
Bersambung...
Lanjut???
dan maaf bukan maksud memutar balikkan fakta 😀😀😀
__ADS_1