
Satu jam lebih sudah berlalu, tak sadar Prilly tertidur dengan berbantalkan lengan pria di sampingnya.
Adam yang menggeliat, merasakan beban berat di lengannya.
Pelan, pria itu membuka mata, lalu mengedarkan pandangan kesetiap sudut.
Saat sepasang matanya mendapati kemeja yang ia pakai teronggok di lantai, sontak saja dia bangkit kemudian duduk dengan menempelkan dua telapak tangannya di atas kasur, tepat di sisi kanan kiri pinggangnya.
"A-apa ini, Prilly?" Sorot terkejut tampak begitu jelas di wajah Adam.
Wanita itu bangun sambil menarik selimut, menutupi tubuhnya hingga batas dada.
"Adam, a-apa yang kamu lakukan padaku?"
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu disini?"
Alih-alih menjawab, dia malah menangis sesenggukan, tepatnya hanya pura-pura menangis, dan pura-pura shock.
"Bukankah tadi aku menyuruhmu pulang?" tanya Adam dengan sorot agak murka.
"Kamu memang menyuruhku pulang, Dam, tapi saat aku hendak melangkah, kamu mencengkram tanganku dan memaksaku menemanimu, kamu menarikku lalu_"
"Lalu apa?" Tanya Adam ketika Prilly menggantung kalimatnya.
Bukannya menjawab, dia malah semakin tersedu.
"A-apa aku sudah menyentuhmu, Prilly?"
Anggukan kepala Prillya cukup membuat Adam terpukul.
Bagaimana bisa?
Dinda, maaf, maafkan aku!
Mendesah pasrah, dia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian bersuara.
"Sekarang ambil pakaianmu, pakai di kamar mandi. Selagi kamu memunguti bajumu, aku akan tutup mata"
Hening tak ada pergerakan apapun dari Prilly, sementara Adam sudah menutup matanya sejak tadi.
"Cepatlah"
Dengan wajah masam, wanita itu akhirnya beranjak dari kasur dan melakukan apa yang Adam perintahkan.
Tepat ketika terdengar suara pintu kamar mandi tertutup, Adam membuka matanya lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
Sorot terkejut kembali nampak di raut wajahnya ketika menangkap bercak darah lewat sorot irisnya.
"Darah?"
Tarikan udara yang masuk ke rongga hidung terasa begitu berat. Ada Amarah pula yang terselip dari hembusan nafas Adam.
Selang lima belas menit, Adam yang sudah mengenakan pakaian dan berdiri di dekat jendela, menoleh ke wajah Prilly yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu menunduk lesu dengan mata memerah.
Selain darah palsu, ternyata tangisan air matanya juga palsu.
"Bagaimana aku bisa menyentuhmu, Pril?" Tanya Adam dengan gesture tenang tapi menegangkan. Pria itu bersedakap sambil menatapnya dalam-dalam.
"Kamu memaksaku Dam, bahkan kamu tak mempedulikanku yang teriak kesakitan"
"Kenapa bisa Prilly? Aku merasa kalau aku mengantuk dan tak melakukan apapun"
Prillya melirik bercak darah di atas sprei. Spontan Adampun memalingkan wajah ke mana manik hitam Prilly terjatuh.
"Kamu harus menikahiku, Adam. Aku takut hamil"
__ADS_1
"Kamu tahu aku akan menikahi Dinda, bagaimana bisa aku menikahi dua wanita sekaligus?"
"Aku nggak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab"
Merasa frustasi, Adam melangkah keluar. Tak peduli dengan rengekan Prilly yang memanggil namanya. Saat langkahnya berada di ambang pintu, ia memukul daun pintu itu dengan kasar kemudian menutupnya sangat kencang.
Dari arah belakang, ada Prilly yang menyorot nanar.
"Kenapa sikapmu dingin sekali, Adam? apa kamu sudah tidak mencintaiku?" Dia mengusap pipi basahnya yang kali ini benar-benar karena efek menangis. Titik bening itu kian berjatuhan menerima sikap Adam yang tidak selembut saat berpacaran dulu.
"Enggak, kamu nggak boleh menjadi milik Dinda. kamu harus menikah denganku"
****
Malam hari di teras rumahnya, Dinda duduk di kursi teras yang menghadap ke arah jalan. Ia membayangkan sosok Adam dan Prilly saat di dalam kamar hotel. Reflek senyum miring tersungging di sudut bibirnya kemudian menggelengkan kepala.
Prilly, mungkin kamu bisa menipu mas Adam, tapi kamu tidak bisa menipuku. Hahaha, dasar kecoa, kamu pikir kamu lebih cerdik dariku?
Hanyut dalam lamunan, sepasang telinganya menangkap suara yang berasal dari ponselnya. Persekian detik, netranya memindai layar yang tengah berkedip memunculkan nama Eve.
"Eve?" Ia meraih ponselnya, menarik napas kemudian menggeser tombol terima.
"Halo, Ve!"
"Selamat malam, dokter Dinda" Bukan suara Eve, melainkan suara bas milik seorang Pria.
"Ah iya, saya Kellen Austin, suaminya Eve"
"Pak Kellen?"
"Iya, benar" sahutnya yang entah seperti apa ekspresi wajahnya.
"Sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih untuk pertolongan anda malam itu. Saya juga sangat berterimakasih pada anda karena sudah menolong istri saya"
"Sama-sama, pak"
"Baik pak, saya akan datang"
"Okay, dokter Dinda, selamat malam"
"Terimakasih banyak, Pak. Selamat malam"
Setelah menggeser ikon merah, Dinda langsung menghampiri sang mamah dan mengecup pipi serta keningnya bertubu-tubi.
Meta yang mendapat kecupan itu terbengong tak mengerti.
"Ada apa, Din?"
"Aku dapat pekerjaan mah"
"Alhamdulillah"
"Di rumah sakit yang lebih besar dari Herquina mah, meski popularitasnya masih berada di bawah Herquina, tapi rumah sakit itu cukup bagus"
Family care memang masih kalah dengan popularitas rumah sakit besar di kota ini. Termasuk dari Ar-Raudhah, Suryadaya dan Herquina, karena family care sendiri adalah rumah sakit lama yang baru beroperasi kembali setelah di tutup puluhan tahun lamanya.
"Bagaimana bisa nak?"
"Pemilik rumah sakit itu pernah ku tolong mah, dan kebetulan istrinya juga pernah aku tolong"
"Masyaa Allah, rencana-Nya sungguh luar biasa Din"
"Ok mah, aku ke kamar dulu, mau nyiapin baju buat besok"
"Pakai baju serapi mungkin nak" Meta sedikit meninggikan suaranya sebab Dinda sudah melangkah menuju kamar.
__ADS_1
"Itu pasti mah" suara Dinda juga tak kalah tinggi.
Sampai keesokan paginya, Dinda sudah duduk di ruangan Ben. Hanya menunggu kurang lebih lima menit, sosok pria tampan masuk dengan membawa map berisi CV miliknya.
"Selamat pagi, pak Ben" Dinda yang duduk seketika berdiri saat tahu kedatangan Ben.
"Selamat pagi, nona Dinda"
Ben menempatkan diri di kursi putarnya.
"Senang bertemu kembali" Pria itu mengulurkan tangan dan di sambut oleh Dinda lengkap dengan seulas senyum.
"Silakan duduk!"
"Terimakasih"
"Nona Dinda, ini surat perjanjian kerja, silakan di baca, jika anda menyutujuinya, silakan langsung tanda tangan"
"Baik pak" Dinda menerima beberapa lembar kertas.
Sepuluh menit kemudian.
"Saya setuju dengan perjanjian ini, pak Ben, tapi maaf, saya tidak paham dengan inventaris apartemen dan mobil yang tertulis di sini"
"Sebenarnya itu bukan inventaris nona, tapi nona bisa menempatinya jika berkenan, dan tuan El serta nona Eve sangat berharap nona bersedia tinggal di apartemennya secara gratis. Tuan sangat berterimakasih karena anda sudah menolong tuan dan juga istrinya. Semua itu tak sebanding dengan pertolongan anda. Sementara untuk mobil, itu fasilitas dari kami. Anda bisa menggunakannya kapanpun anda mau"
"Ada lagi yang harus saya sampaikan, pak" kata Dinda kali ini sedikit ragu.
"Sampaikanlah!"
"Saya memiliki image buruk sebelumnya_"
"Itu tidak masalah nona Dinda" Dinda yang belum menyempurnakan kalimatnya, langsung di penggal oleh Ben. "Atasan kami tidak pernah mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Kami menerima anda karena anda cukup berkompeten meskipun anda seorang dokter baru. Soal rumor anda, itu bukan urusan kami dan kami sama sekali tidak mempermasalahkannya"
"Anda juga tidak perlu khawatir, jika ada pihak yang datang mengajukan keberatan tentang anda dan meminta kami untuk mengeluarkan anda, kami akan menindak tegas orang itu. Karena kami tidak mau kehilangan dokter dengan pasien terbanyak di Herquina"
"Terimakasih banyak, pak"
Adinda merasa lega dengan tambahan kalimat Ben, setidaknya Prilly tak bisa lagi macam-macam dengannya.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda" keduanya saling berjabat tangan.
"Saya juga pak"
"Anda bisa mulai bekerja besok"
"Baik, sekali lagi terimakasih"
"Sama-sama. Anda bisa pulang sekarang"
"Baik pak, permisi"
"Silakan!"_____
"Akhirnya, aku bisa bekerja lagi. Tidak hanya itu, aku dapat fasilitas mobil dan juga apartemen"
"Sekarang percaya kan Dinda, pasti ada hikmah di balik ujian dari-Nya. Kamu cukup ikhlas, tawakal, dan berdoa. Untuk hasil serahkan pada yang kuasa"
Dinda menggumam di tengah-tengah langkahnya.
"Mas Adam, sebenarnya aku merindukan mas, ingin membagi kebahagiaanku dengan mas, tapi aku sudah memblokir nomormu"
"Tapi tidak, aku tidak mau berurusan dengan mas lagi. Karena jelas Prilly pasti tidak akan diam saja. Dia pasti akan kembali mengusikku"
"Lupakan semuanya, Din, lupakan Birawa yang licik, Prilly serta Adam"
__ADS_1
Bersambung