Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Surat perceraian


__ADS_3

Jam di lingkaran tangan Adam menunjukkan pukul 20:21 WIB, itu artinya, dia sudah 21 menit menunggu. Merasakan udara yang kian malam berhembus semakin tak nyaman, akhirnya Adam berjalan menuju lobi rumah sakit untuk menunggu sang istri di sana. Biasanya dia lebih suka menunggunya di luar seraya merokok, tapi karena seharian ini dirinya sama sekali tak menyentuh satu batangpun hingga malam ini, jadi pria itu masuk ke area lobi rumah sakit yang terdapat beberapa bangku memanjang.


Sesuai janjianya, Adam tiba tiga puluh menit lebih awal. Dinda yang biasanya pulang pukul lima sore, malam ini pulang larut sebab ada pasien yang meninggal tak wajar di bawa ke rumah sakit tempatnya bekerja. Karena pihak keluarga meminta jenazah untuk di autopsi, mau tidak mau, Dinda harus terlibat dalam prosesnya mewakili dokter yang sedang mengikuti seminar di Makasar.


Meskipun dia bukan ahli forensik, tapi tetap saja sebagai dokter yang sempat menangani pasien tersebut sebelum meninggal, dia di wajibkan ikut serta dalam mengautopsi korban.


Beberapa kali, sepasang netra Adam mendapati orang berseragam coklat, juga pria berpakaian biasa lengkap dengan jaket kulit berwarna hitam yang hilir mudik di depannya.


Dia sudah bisa menebak kalau orang-orang itu ada hubungannya dengan korban yang sedang sang istri tangani di ruang autopsi.


"Nunggu siapa mas?" tanya seorang securiti setelah hampir satu jam dirinya tak beranjak dari tempatnya duduk.


"Dokter Adinda Sofiana, pak?"


"Oh suaminya dokter Dinda?" tebaknya yang tepat sasaran.


Adam mengangguk lengkap dengan seulas senyum.


"Maaf, saya kira masnya butuh bantuan, jadi saya datangin"


Lagi, Adam tersenyum. Tak lama kemudian security itu pergi meninggalkannya di lobi bersama tiga orang pengunjung yang sibuk dengan ponselnya masing-masing.


Tepat jarum jam menunjuk di angka sembilan dan angka dua, sosok Dinda menghampiri Adam yang kali ini tengah duduk sendirian di lobi. Beberapa orang yang tadinya juga berada di sana sudah masuk ke kamar pasien, karena kemungkinan mereka sedang berjaga kerabatnya yang sedang sakit, entahlah.


Adam tersenyum, dengan tatapan masih ke layar ponsel.


Selesai mengirim balasan chat dari temannya, ia segera memasukkan benda tipis itu ke dalam saku jaket lalu menengok dan melihat sang istri yang saat ini sedang mendaratkan kepala di bahunya sambil memejamkan mata.


"Mau berdebat di sini atau dimana?" tanya Adam lembut, karena tak mau membuatnya terkejut.


Adinda sudah paham, sebab selama dua bulan menikah, mereka kerap sekali berdebat entah itu masalah handuk basah, baju kotor, bumbu dapur, termasuk saat perdebatan tadi pagi soal merokok.


"Sebentar, separuh nyawaku masih tertinggal di ruang jenazah" jawabnya yang membuat Adam tersenyum kian lebar, kemudian mengusap keningnya dengan tangan kiri.


"Kamu sudah bekerja keras hari ini, menolong pasien, dan memberikan yang terbaik untuk mereka, kamu pantas di beri penghargaan"


"Hmm" Dinda membuka mata, dan pandangan merekapun bertemu dengan kepala yang masih bersandar di bahu Adam. "Sayangnya ada saja orang yang menganggapku jahat"


Kening Adam mengernyit. "Kenapa lagi, hmm?"


Alih-alih menjawab, Dinda malah melampiaskan kekesalannya dengan menyentakkan napas kasar. "Ayo kita pulang" Ajaknya seraya menarik diri menjauhkan kepala dari bahu sang suami.


"Apa ada seseorang yang membuatmu kesal?"


Dia yang sudah berdiri membuat Adam mendongakkan kepala.


"Membicarakan urusan pribadi di rumah sakit bukan gayaku" pungkas Dinda dengan ekspresi lucu. "Ayo ah" lalu menarik tangan Adam agar mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Saat langkah mereka sudah sampai di parkiran mobil, Adam membuka pintu untuk Dinda sebelum mengisi kursinya di balik kemudi.


"Ada apa?" tanya Adam saat mereka sudah sekitar sepuluh menit meninggalkan rumah sakit.


"Kan sudah di bilangin, jangan sembunyikan apapun dari suamimu" Ucap Adam lagi ketika Dinda masih mengunci rapat mulutnya.


Awalnya, wanita itu tak menyahut ucapan sang suami, tapi akhirnya dia menyerah.


"Aku bingung mau mulai dari mana?"


"Kalau bingung dengan kalimat pembukanya, langsung saja bilang ke intinya apa yang mengusik pikiramu"


"Aku cuma heran, dia suka sekali pakai standar ganda"


"Standar ganda? siapa?"


"Mantan istri mas"


"Prilly?" sahut Adam melirik ke arah Dinda sekilas, sebelum kemudian kembali fokus dengan roda kemudi. "Ada apa dengannya?"


"Kalau dia melakukan kesalahan, dia menganggap itu hal yang wajar, tapi kalau aku yang berbuat, seakan-akan itu sesuatu yang fatal, kesannya aku jahat banget gitu"


"Dia datang ke rumah sakit?"


"Hmm" Dinda mengangguk tanpa melihat Adam.


"Ngomong apa dia?"


"Apa itu?"


"Surat perceraian dari pengadilan"


"Bagus dong, itu artinya mas sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya, dan kamu adalah istri mas satu-satunya"


"Tapi dia terus saja menyalahkanku, dan julukan pelakor sepertinya akan abadi melekat di diriku"


"Wajar kalau dia nganggapnya begitu, itukan pembenaran dari sisi dia, beda dengan pembenaran mas dan kamu, jadi lebih baik lewatkan saja, tidak perlu kamu pikirkan"


"Tapi bukan itu yang mengganggu pikiranku"


"Lalu?" tanya Adam tak mengerti.


"Dia mempermasalahkanku yang belum hamil"


"Astaga" desis Adam tak percaya. "Apa urusannya dengan dia?"


"Entahlah, tapi dia memperingatkanku kalau nggak segera punya anak, aku harus siap dengan pelakor yang akan merebut mas dariku"

__ADS_1


Mendengar perkataan sang istri, Adam malah terkekeh geli.


"Kenapa harus terusik dengan apa yang dia katakan, dek"


"Ya karena aku pelakor"


"Kalau kamu mikirnya gitu, secara tersirat, kamu meragukan suamimu"


"Meragukan gimana? ya enggaklah"


"Kalau gitu jangan mikir mas akan tergoda dengan wanita lain"


"Termasuk kalau kita belum punya anak sampai beberapa bulan bahkan tahun?" Sambar Dinda cepat.


"Iya" Adam menatap lurus ke jalanan. "Jam berapa Prilly kerumah sakit?"


"Pagi-pagi sekali tahu-tahu dia sudah di ruang tunggu"


"Apa dia tahu mas yang antar kamu?"


"Kayaknya tahu"


"Fokus saja sama pekerjaan kamu, dan jangan mikir yang enggak-enggak, okay"


"Aku coba"


"Harus itu"_______


"Oh ya dek" Kata Adam setelah mereka sama-sama terdiam. "Sebenarnya mas pengin tanya dari dulu-dulu, tapi entah kenapa selalu lupa"


"Tanya apa?" Kening Dinda mengerut menatap Adam di samping kanannya.


"Tentang kerja sama kamu dengan Birawa"


Mendengar kalimat sang suami, jantung Dinda mendadak ribut di dalam sana. Ia tergagap, berusaha menormalkan ekspresi terkejutnya.


"Bagaimana bisa kamu bertemu Birawa dan membantunya memisahkan mas dengan Prilly?"


"Emm..."


"Kita sampai sayang" potong Adam saat mobil berbelok ke arah pintu masuk apartemen. "Mas pengin tahu alasan kamu, tapi ngomongnya nanti kalau sudah di rumah ya"


Menarik napas pelan, Setidaknya Dinda mempunyai waktu untuk menyusun kata-kata yang pas agar alasannya bisa di terima oleh suaminya.


Bersambung....


Udah bosan ya?

__ADS_1


Haha, sama πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


capek ya, banyak kerjaan, banyak pikiran, banyak masalah, sayangnya nggak banyak duit😎


__ADS_2