Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Rahasia yang terkuak.


__ADS_3

Dua hari setelah pemecatan Dinda berlalu, sang mamah yang terheran karena Dinda tak masuk kerja, membuatnya semakin di rundung rasa penasaran.


Tak ingin membuat mamahnya berfikiran buruk, Dindapun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dia menceritakan kalau pihak Harquina sudah mencabut ijin prakteknya.


Menghela napas berat, wanita itu duduk di tepian ranjang usai melakukan solat isya.


Beberapa menit kemudian, setelah melepas mukenanya, dia berjalan menuju kamar Meta, menatap wajah yang sudah terlelap begitu damai.


Sedikit merunduk, Dinda menyentuh kening sang mamah lalu mengusapnya pelan.


Maaf ya mah, aku nggak bisa menceritakan alasan sebenarnya kenapa bisa di pecat dari rumah sakit. Aku nggak mau mamah kepikiran.


Aku pasti akan secepatnya mendapatkan pekerjaan lagi mah.


Suasana sangat sunyi, padahal jam baru menunjuk di angka sembilan.


Kembali ke ruang tengah, Dinda duduk seraya menatap layar ponsel, mencari nomor kontak Birawa berharap tiba-tiba namanya muncul sebagai tanda pesan atau panggilan masuk. Namun sampai sekian menit, ponselnya tetap tak mengeluarkan suara apapun. Hingga sekian detik berlalu, Dinda menimbang-nimbang menelfonnya lebih dulu untuk meminta konspensasi pada Birawa.


"Iya" gumam Dinda nyaris tanpa suara.


"Ini sangat tidak adil untukku, Birawa harus bertanggung jawab atas semua yang menimpaku, dia harus memberikan konpensasi padaku, dia harus membersihkan nama baikku atas ulah putrinya"


Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Dinda menggeser ikon dial pada kontak bernama Birawa.


Di tempat lain, Birawa yang tengah fokus menyelesaikan pekerjaan kantor yang ia bawa pulang, melirik ponselnya yang berkedip. Pria itu buru-buru meraih dan mengangkatnya karena panggilan itu dari Dinda. Wanita yang sudah dia bayar untuk memisahkan Prilly dengan kekasihnya.


Sementara Prilly yang hendak menghampiri Birawa untuk membicarakan persiapan pernikahan, urung memasuki ruang kerjanya sebab saat ia membuka pintu, ia mendengar sang ayah menyebut nama Dinda.


Dinda? Apa yang menelfon ayah tak lain adalah dokter Dinda? Tapi ada urusan apa dia sampai menelfon malam-malam begini?


Menajamkan pendengaran, Prilly memilih diam dan menguping pembicaraan Birawa melalui telfon genggamnya.


"Konspensasi apa yang anda inginkan, dokter Dinda? bukankah saya sudah membayar anda untuk pekerjaan itu? Anda sendiri yang mengatakan kerjasama kita selesai. Anda mendapatkan bayaran, dan saya mendapatkan keberhasilan anda dalam memisahkan anak saya dengan pria brengsek itu"


"Anda memang sudah membayar saya, pak Birawa, tapi putri anda sudah mencemarkan nama baik saya di hadapan umum, dan saya tidak bisa terima itu"


Prilly yang masih berdiri di ambang pintu, sontak terkejut mendengar pengakuan ayahnya bahwa sang ayah dan Dindalah yang sudah merencanakan untuk memisahkan dirinya dengan Adam.


Jadi ayah sudah membayar dokter pelakor itu? Mereka yang sudah memisahkan aku dengan Adam?


Wajah Prilly memanas, menahan api amarah yang terus berkobar.


Kira-kira apa yang Dinda katakan di telfon?


"Bukankah anda berjanji akan memuluskan karir saya di Harquina, tapi kenapa saya mendapat pemecatan itu?"

__ADS_1


"Jangan salah paham dengan apa yang pernah saya katakan, dokter. Saya memang bernjanji untuk melancarkan karir anda, dan saya sudah lakukan itu" Birawa bangkit, memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana lalu berjalan ke arah jendela. "Bayangkan saja dokter Dinda, jika anda menolak kerja sama itu, anda tidak akan bekerja di Harquina, karena saya bisa membuat Harquina menolak anda saat itu. Akan tetapi tidak saya lakukan karena anda bersedia bekerjasama dengan saya"


"licik sekali anda, pak Birawa"


"Okay, sekarang begini" kata Birawa santai sambil menatap jalanan dari balik kaca. "Saya akan menstransfer sejumlah uang sebagai konspensasi atas ulah putri saya, dan saya akan memberikan bonus untuk anda karena sebentar lagi putri saya akan menikah dengan pria pilihan saya?"


"Aku tidak mau uang, pak Birawa! aku mau nama baikku kembali" potong Dinda meninggikan nada bicara.


"Itu bukan urusan saya, dokter Dinda, dan soal pemecatan, itu di luar kerjasama kita, bukan?


"Enteng sekali anda bicara seperti itu, pak Birawa"


"Saya senang bisa bekerjasama dengan anda. Berkat anda, sekarang putri saya putus dengan Adam"


"Kembalikan nama baikku, Birawa"


"Maaf dokter Dinda, saya sangat sibuk, selamat malam!"


Pria itu secara sepihak memutus panggilannya. Kemudian segera menyentuh keyboard pada benda pipihnya untuk menstransfer uang ke nomor rekening atas nama Dinda Sofiana yang masih ia simpan.


"Sudah saya transfer konspensasi untuk anda sebesar dua ratus juta, jadi kita impas"


Satu pesan yang Birawa kirim ke ponsel Dinda sesaat setelah transfer berhasil.


Kembali ke kamar, wanita itu berencana menemui Adam untuk memberitahukan apa yang sang ayah dan Dinda rencanakan.


"Aku nggak nyangka, ayahku sendiri yang sudah membayar si kurang ajar itu"


Prillya menggelengkan kepalanya. "Tapi, apakah Dinda benar-benar mencintai Adam? sepertinya tidak, dia melakukannya demi uang, aku tidak yakin kalau Dinda mencintai Adam seratus persen"


Kini ganti dia mengangguk-anggukan kepala. "Ya, mungkin dia pura-pura mencintai Adam karena Adam sudah menidurinya"


"Ah apapun itu, aku harus temui Adam besok pagi, aku akan menceritakan semuanya. Dan aku akan bilang ke Adam kalau Dinda hanya pura-pura mencintainya. Dinda melakukan itu demi uang"


Malam kian larut, suasana kian sunyi. Perlahan, Prilly memejamkan mata hingga kesadarannya menghilang sempurna.


***


Matahari sudah bergulir ke ufuk timur, sinarnya yang memberikan efek hangat, seakan menyalurkan sebuah energi positive ke dalam tubuh Adam.


Pria yang tidak berangkat ke kantor di hari sabtu, memilih berolahraga di halaman rumah kontrakannya.


Dia memang tinggal terpisah dengan orang tua karena Adam memilih tinggal di lokasi yang tak jauh dari perusahaan tempatnya bekerja.


Saat ini, pria itu sedang melakukan olahraga Skipping, olahraga yang melibatkan lompatan dengan menggunakan tali. Olahraga ini sangat sederhana dan bisa dilakukan di mana saja termasuk di depan rumahnya. Selain untuk meningkatkan pernapasan, skipping juga baik untuk kinerja otak.

__ADS_1


Lompatan Adam terhenti saat tahu-tahu seorang wanita memanggil namanya. Otomatis, dia menoleh ke suara yang sudah dia hafal siapa pemiliknya.


"Prillya?"


Wanita itu mendekat dan langsung menghambur ke pelukan Adam.


"Apa-apaan ini Prilly?" Dia berusaha melepas tangan Prilly yang melingkar di pingangnya.


"Lepas Prilly!" sentaknya dengan nada tegas.


Dengan terpaksa, Prilly mengurai pelukannya.


"Adam, ternyata Dinda sudah bekerjasama dengan ayah untuk memisahkan kita"


"Apa maksud kamu?"


"Tenyata Dinda ada hubungan khusus dengan ayahku, Dam. Wanita tidak tahu malu itu yang sudah membuat hubungan kita berantakan"


Tersenyum miring, tatapan Adam dingin dan datar tanpa ekspresi.


"Aku nggak nyangka ternyata kamu sejahat dan setega itu pada Dinda. Pertama, kamu mendorong Dinda hingga tercebur ke kolam, air kolam yang sudah kamu campur dengan air es. Kedua, kamu memfitnahnya dengan mendatangkan wanita itu untuk mempermalukan Dinda di depan banyak orang sampai Dinda di pecat dari rumah sakit. Dan sekarang, kamu menuduh Dinda memiliki hubungan spesial dengan ayahmu?"


Adam menggelengkan kepala seakan tak percaya.


"Sebenarnya yang busuk Dinda atau kamu, Prilly!"


"Aku serius, Dam. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa cek transaksi di rekening Dinda, ayah sudah sering menstranser uang untuk biaya hidupnya, Adam"


"Lebih baik kamu pergi dari sini?"


"Buka matamu Adam, Dinda sudah menjadi sugar babbynya ayah, sampai ayah rela menyekolahkannya hingga menjadi dokter. Dia bahkan rela menuruti keinginan ayah untuk memisahkan kita. Kamu boleh tidak percaya padaku, tapi setidaknya, kamu cek dulu rekening Dinda. Kamu pasti akan menemukan transaksi pengiriman uang dari ayahku"


Adam hanya bergeming, sepertinya sudah mulai terhasut dengan perkataan mantan kekasihnya.


"Kamu tahu kan berapa biaya kuliah di fakultas kedokteran? tidak murah adam, apa menurutmu mungkin wanita miskin seperti Dinda mampu membiayai kuliahnya? Mustahil Adam" Lanjut Prilly berusaha mempengaruhi Adam.


Mendengar perkataan Prilly, Adam akhirnya terhasut dan berniat mengecek transaksi di rekening Dinda.


"Please Dam, percaya sama aku?"


"Pergi dari sini!" Pria itu lantas memasuki rumah usai mengatakan itu, mengabaikan sorot nanar wanita dari arah balik punggungnya.


Prilly sangat berharap kalau Adam benar-benar percaya padanya dan mengecek rekening Dinda.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2