Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Buku nikah


__ADS_3

Dengan tatapan nanar, Prilly terus memfokuskan pandangan ke arah suami dan selingkuhannya yang melangkah menuju mobil. Mobil mewah milik Dinda, merupakan inventaris dari rumah sakit untuk ia gunakan.


Adam yang di jemput oleh Dinda karena mobilnya mengalami kerusakan, dan saat ini mobil itu masih berada di kantor. Kemungkinan baru nanti siang tukang service panggilan akan memperbaiki mobilnya. Hal itu membuat anak buah Prilly tak menyadari kalau Adam sudah lebih dari satu jam meninggalkan kantor.


Sementara saat ini, Prilly masih bertahan memperhatikan Adam yang kini sedang membuka lalu menutup pintu mobil untuk Dinda.


"Sejak kapan, Dam?" Tanpa bisa terbendung, lelehan bening luluh dari pelupuk mata wanita cantik itu.


Terdiam dengan rahang terkatup, hati Prillya seakan hancur berkeping-keping melihat suaminya bersikap lembut pada wanita lain.


"Why, Adam?"


"Apa kamulah suami Dinda? tapi kenapa umi, abi, serta mbak Ulva tidak memberitahuku?"


"Apa mereka juga tidak tahu kalau kamu menikahi Dinda?"


"Menikah siri atau resmi?"


"Lantas kapan kalian menikah?"


Ia bermonolog dengan pikiran bercabang, tiba-tiba sekelebat ingatan Prillya jatuh pada perkataan pegawai HRD di kantor Adam yang mengatakan bahwa Adam baru saja ambil cuti selama satu minggu.


"Apa pekerjaan di luar kotamu itu untuk menikah dengan Dinda? waktu satu minggu bukan bisnis, melainkan cuti?"


"Apa itu artinya kamu menikahi Dinda sesaat setelah menikah denganku?"


"Jahat kamu, Dam" Tangannya mencengkram kuat roda kemudi.


Tak berniat membuntuti mobil Dinda, ia memilih pergi dari sana dan segera menghubungi pesuruhnya untuk mengikuti mobil yang Adam serta Dinda naiki.


Tidak, aku harus cari tahu apakah benar mereka sudah menikah. Dan awas saja kalau diam-diam berselingkuh di belakangku, aku tidak akan mengampuni kalian berdua.


Sembari menyetir, ia juga menghubungi Zidan untuk memintanya menemuinya di salah satu restauran dekat taman kota.


Entah kenapa, kali ini ia benar-benar ingin melampiaskan sisi kemanjaannya sebagai wanita hamil. Ingin sekali menghirup aroma keringat Zidan yang sudah beberapa hari ini tidak ia rasakan.


Hanya Zidanlah pria yang mencintai dan menyayangi Prillya sepenuh hati, namun sayang cintanya harus bertepuk sebelah tangan karena dia di butakan oleh cinta Adam.


"Apa kamu merindukanku, sehingga memintaku untuk menemuimu di sini?" Mereka kini tengah duduk berhadapan di sebuah ruangan VIP restauran mewah.


"Bukan aku, tapi anakmu"


"Lalu, kenapa matamu sembab?"


"Nggak usah banyak tanya, cepat ke toilet dan ganti bajumu dengan baju ini" Prilly menggeser sebuah goodie bag di atas meja. Kaos baru yang ia sempat beli sebelum menemui ayah biologis dari anaknya.


"Apa ini?"


"Cepatlah!" titahnya dengan agak sedikit cemberut.


Mengabaikan kebingungannya, akhirnya Zidan menuruti apa perintah Prilly. Iapun beranjak kemudian melangkahkan kaki menuju toilet.


Saat tengah menunggu Zidan yang sedang mengganti baju, ponsel di dalam tas mewah miliknya bergetar, sebuah pesan masuk dari anak buahnya yang sudah ia tugaskan untuk mengikuti mobil Dinda.


Informan : "Saat ini posisi kami di pondok pesantren Raudhatul Huda, nona"


"Ponpes Raudhatul Huda?" Prilly bergumam kecil, ia berusaha mengingat nama ponpes yang sepertinya tidak asing baginya.


Pesan kedua kembali masuk.


Informan :"Di jalan Semangka"


"Bukankah pondok itu dekat dengan rumah Dinda?"


Jantung Prilly kembali berdegup tak terkontrol. Satu sisi, ia ingin sekali mendatangi untuk mencaci maki Adam dan juga Dinda, namun di sisi lain, ia harus tahu hubungan apa yang mereka miliki. Dia tidak mau gegabah mengingat dirinya menyembunyikan kebenaran tentang kehamilannya.


"Aku sudah mengganti bajuku, sekarang apa lagi yang kamu inginkan?"


Suara Zidan membuat Prilly sedikit tersentak. Ia lantas mendongak menatap Zidan.


"Mana kaosmu?"


"Ada disini" sahutnya sembari meletakan goodie bag di atas meja.


Pria itu duduk kemudian menopang dagunya dengan satu tangan, satu tangan lainnya ia lipat di atas meja.


Ia menatap bingung wanita di depannya yang sedang menciumi kaos bekas miliknya sambil memejamkan kedua mata.


"Kamu kenapa?" tanya Zidan setelah hening beberapa detik. "Jorok gitu"


Prillya membuka mata, tanpa menjauhkan kaos berwarna maroon dari hidungnya.

__ADS_1


"Kamu bilang aku jorok? Anakmu yang jorok"


"Anakku?"


Zidan mengangkat sebelah alisnya. Detik itu juga ia paham kalau beberapa wanita hamil memang menyukai hal-hal konyol seperti apa yang Prilly sukai saat ini. Menciumi kaos yang menurut Zidan adalah kaos kotor sebab ia baru saja selesai ngeGym.


"Biasanya, wanita hamil menginginkan sesuatu. Makanan, minuman atau apapun itu. Kamu ingin makan apa?"


"Aku tidak ingin makan apapun"


"Kamu sudah ke dokter?"


Wanita itu merespon dengan gelengan kepala.


"Kapan jadwalnya, biar ku temani"


"Apa?" Dia tercenung begitu mendengar ucapan Zidan. "Kamu mau menemaniku menemui dokter?" Prilly berdecih. "Jangan gila kamu Zi. Kamu tahu kan aku ini istrinya Adam, mereka tahunya ini adalah anak Adam, apa jadinya kalau aku ke dokter bersamamu"


"Kalau begitu, bercerailah dengannya dan menikahlah denganku"


Cukup lama Prillya tak menjawab ucapan Zidan, bukan karena apapun, ia hanya teringat dengan apa yang baru saja di lihatnya.


"Prill?"


Persekian detik, manik hitamnya bergerak mencari manik hitam pria di depannya.


Aku mau mempertahankan rumah tanggaku, aku tidak akan bercerai dengan Adam.


"Prilly" panggil Zidan ketika Prillya hanya bergeming.


"Aku harus pulang Zi" Dia bangkit, lalu memasukkan kaos ke dalam goodie bag dan membawanya. "Permisi"


"Bukankah kita mau makan siang?"


Wanita itu tak menyahut, sementara langkahnya kian jauh.


"Prillya!"


Mendesah pelan, pria tampan itu memijit keninganya lembut.


***


Saat ini, acara sudah selesai. Adam, Dinda, Meta serta Zaki dan istrinya sedang berkumpul di ruang tamu sambil mengobrol tentang pendidikan. Sesekali Ustadz Zaki menggoda Adam dan Dinda untuk membaca doa sebelum melakukan ritual malam.


Dinda yang bingung dengan ritual malam, hanya bisa diam sambil mencari arti dari ritual malam itu.


Sholat malam mungkin?


"Kenapa nak?" Ustadz Zaki menatap Dinda penuh selidik.


"Apa sedang berfikir apa yang di maksud ritual malam?"


Tebakan ustadz Zaki benar-benar tepat sasaran. Otomatis beberapa pasang mata beralih menatap Dinda.


Adam yang sudah paham dengan bahasa absurt sang ustadz, hanya bisa menggeleng pelan.


"Jangan di pikir, Din" kata Dewi "Abah kan memang suka bercanda"


"Memangnya ritual malam itu apa um?"


"Nah kan nggak tahu dia" sahut Zaki sambil mengulas senyum. "Beri tahu istrimu, nak Adam"


"Sudah bah, jangan bahas itu kasihan Dinda dia pasti sangat penasaran" Pandangan Dewi ia alihkan pada Adam dan Dinda secara bergantian. "Oh ya, buku nikah kalian sudah jadi, sebentar ya ummah ambilkan"


Tak kurang dari dua menit, Dewi sudah kembali dengan membawa dua buku kecil bersampul merah tua dan hijau tua.


"Ini simpan baik-baik, jangan sampai hilang, ini adalah bukti kalau pernikahan kalian di akui oleh negara" Wanita paruh baya itu menyerahkan buku itu ke tangan Adam.


Adam menerimanya dengan seulas senyum.


"Makasih um" Dia kemudian menyerahkan pada Dinda untuk menyimpannya. "Kamu yang simpan dek"


Selagi Dinda mengulurkan tangan, ustadz Zaki bersuara.


"Ingat selalu nasehat abah, rumah tangga tidak akan selalu berjalan mulus, pasti akan ada kerikil tajam yang mengiringi perjalanan pernikahan kalian. Kalian harus bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin"


"Insya Allah bah" sahut Adam.


"Ingat juga nak Adam, wanita itu selalu benar, kamu jangan kaget kalau kesalahannya di limpahkan padamu"


"Aku nggak seperti itu, Bah" potong Dinda berusaha menyangkal pendapat ustadz Zaki.

__ADS_1


Pria itu tersenyum simpul. "Syukur kalau begitu, nak. Walau salah harus tetap meminta maaf pada suamimu ya! Jangan mengeraskan suaramu di depan suamimu"


"Insya Allah tidak akan, abah"


Cukup lama mereka bercengkrama, Adam, Dinda dan Meta pun pamit. Dia akan mengantar Dinda ke rumah mamahnya dan membiarkan menginap di sana untuk satu malam.


"Nggak mau mampir dulu, mas?"


"Nggak dek, ini sudah sore, Prilly pasti sudah menunggu"


Dinda mengangguk dengan bibir menekan ke dalam. "Prilly nggak akan curiga kan, mas bawa mobilku?"


"Enggak, nanti mas bisa bilang mobilnya rusak dan mas bawa mobil kantor"


Dinda melepas seat belt.


"Ingat, jangan naik taxi, senin pagi mas jemput kamu"


"Nggak apa-apa, mas dari rumah lebih pagi lagi karena harus jemput aku dulu?"


"Nggak apa-apa"


"Ya udah, mas hati-hati" wanita itu mengecup punggung tangan Adam sebelum turun. Karena Meta sudah turun sejak beberapa menit lalu, membuat Adam leluasa dan bisa menciumi wajah sang istri sepuasnya.


Ia menangkup wajah Dinda kemudian mencium pipinya dengan gemas. Bibirnya yang menempel di pipi, kini bergeser ke bibir Dinda kemudian langsung melahapnya lembut. Ketika tautannya terlepas, pria itu menekan kedua pipi istrinya hingga bibirnya mengerucut. Dengan cepat, Adam kembali mengecup, tapi kali ini tidak memberikan lum*atan.


"Sudah cukup" suaranya nyaris terbenam oleh kecupan Adam.


"Kelihatan dari luar"


"Kenapa memangnya? mas nyium istri mas sendiri kan, apa masalahnya?"


Mengabaikan godaan Adam, Dinda lalu mengucap salam.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" jawab Adam yang langsung di sambung dengan kalimat berikutnya. "Mas pasti akan merindukan ritual malam"


"Sebenarnya ritul malam itu apa si? apa sholat malam begitu?" tanya Dinda dengan tangan menempel di gagang pintu mobil. Ia yang hendak membuka pintu mobil untuk turun, mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan Adam.


"Tunggu malam selasa, nanti akan mas jelaskan"


"Ish" dia mencebik dengan sorot penasaran yang terus bergelayut mengenai ritual malam, kemudian membuka pintu mobil dan turun.


"I love you sayang"


"Mas hati-hati"


"Hmmm"


Dinda menatap mobil yang terus mengecil dari pandangannya, barulah ia masuk setelah mobil itu lenyap dan tak terlihat.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil yang Adam kendarai memasuki halaman rumah Birawa. Prillya yang berada di atas balkon menatap heran dengan mobil yang di bawa pulang oleh suaminya.


Mematikan mesin mobil, perhatian Adam tertuju pada dua buku di atas dashboard.


"Dasar ceroboh, wanita nakal itu melupakan buku nikahnya" Pria itu memasukan kedalam tas kerjanya.


Berjalan memasuki rumah, tak ada seorangpun yang Adam lihat di dalam sana. Birawa sendiri sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis sedangkan Prillya, pasti sedang ada di kamar.


"Assalamu'alaikum"


"Dari mana saja kamu?"


Alih-alih menjawab salam suaminya, dia malah mencercar sebuah pertanyaan yang memantik Adam menolehkan wajah ke arahnya.


"Dari kantor, dari mana lagi?"


"Kamu yakin?" tatapan penuh intimidasi sangat kentara di mata Prilly.


"Hmm" sahut Adam santai. Ia melanjutkan gerakan tangan melepas kaos kaki. "Aku mandi dulu"


Selagi Adam berada di kamar mandi, bergegas Prilly membuka tas Adam berniat mengambil ponsel dan memeriksa isinya. Dia berfikir kalau di dalam ponsel Adam pasti ada sesuatu tentang semua yang ia lihat.


Akan tetapi, sebelum menemukan ponsel sang suami, sepasang netranya malah mendapati dua buku nikah.


"Buku nikah?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2