
"Assalamu'alaikum" Adam memasuki rumah besar Birawa setelah sang ART membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam"
Menerobos masuk melewati ruang tamu, langkahnya terhenti saat namanya ada yang memanggil.
Pria itu langsung menoleh ke kiri dan mendapati ayah mertuanya tengah berjalan mendekatinya.
"Iya, yah?" Adam menatap Birawa penuh tanya.
"Sudah pulang?" tanyanya saat sudah berdiri di depan sang menantu.
"Sudah" Dahinya mengernyit samar. "Ada apa yah?"
"Ayah tahu kamu lelah, tapi sebelum ke kamar, ke ruang kerja ayah dulu, ayah mau bicara"
"Oh, iya" Selagi melangkah, Adam menerka-nerka kira-kira hal apa yang ingin Birawa bicarakan.
Duduk berhadapan di meja kerja, Pandangan Birawa terus tertuju pada manik hitam Adam. Pria yang tampak segar dan jauh dari kesan lelah itu membalas tatapan Birawa tanpa takut sedikitpun.
Ia berusaha keras menunjukkan kalau dirinya memang baru saja tugas dari luar kota. Padahal sebenarnya, dia mengambil jatah cuti tahunan yang memang tahun ini belum dia ambil untuk menikahi Dinda.
"Sebaiknya kamu resign dari pekerjaan kamu dan bantu ayah di perusahaan menggantikan istrimu, Dam"
Ucapan Birawa membuat Adam diam sejenak.
"Kalau kamu bekerja di perusahaan sendiri, kamu tidak perlu meninggalkan Prilly untuk tugasmu di luar kota" tambah Birawa masih dengan mimik serius.
"Maaf yah, tidak bisa, karena aku masih terikat kontrak, jika aku mengundurkan diri, maka harus membayar royalty sebagai ganti rugi perusahaan"
Ada memang perusahaan yang menerapkan peraturan seperti itu, apalagi Adam sebagai karyawan biasa. Jika mundur sebelum kontrak selesai, maka pekerja harus membayar denda sebab sudah melanggar perjanjian kontrak.
"Berapa royaltinya, biar ayah bayar"
"Tidak perlu yah, lagi pula kontrak saya tinggal sebentar lagi"
"Memang berapa lama lagi kontrakmu selesai?"
"Sekitar delapan bulan ke depan"
"Itu lama, Dam"
"Kurang dari setahun yah, kurasa tidak" Adam berusaha menolak dengan sopan.
"Pokoknya, ayah mau kamu mengundurkan diri"
Hhhh,, sama seperti putrinya, pemaksa.
Tak ada pilihan lain, Adampun akhirnya menyetujuinya.
"Aku akan resign, tapi harus nunggu bulan depan, biar aku selesaikan pekerjaanku bulan ini"
"Okey, ayah setuju" Birawa menarik laci, kemudian meraih satu lembar cek.
"Kamu tulis berapa uang untuk membayar dendanya" Dia menggeser kertas berukuran persegi panjang di atas meja.
"Tidak perlu yah" Adam kembali menggeser cek itu ke hadapannya.
__ADS_1
"Ada lagi yang mau di bicarakan?" imbuh Adam bertanya.
"Jangan terlalu lama meninggalkan istrimu, dia sedang hamil anakmu, sering-seringlah temani dia. Ingat, jika kamu tidak menghamilinya, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan kalian"
Adam hanya mengangguk meresponnya, kemudian langsung berdiri.
"Permisi" Pria itu keluar dari ruang kerja.
Asal kamu tahu Birawa, aku pun terpaksa menikahi putrimu. Asal kamu tahu juga, cucumu, bukan anakku._____
"Sayang, kamu sudah pulang?"
Prilly dan Adam berpapasan di ujung tangga.
"Sudah" Dingin tak tersentuh, lalu menerima sodoran tangan Prilly.
Wanita itu mengecup punggung tangan Adam, kemudian menggamit lengannya.
"Kamu kenapa nggak balas chat aku?"
"Sudah ku balas kan, dan aku sibuk saat itu"
Mereka kompak menaiki tangga menuju kamar.
"Bajumu kok wanginya beda?" Prilly mengendus-endus hidungnya di lengan Adam. "Kayak aroma perempuan, manis"
Dia menghentikan langkahnya, otomatis Adam pun turut berhenti.
"Kamu nggak selingkuh kan?"
Tatapan Prilly begitu mengintimidasi, membuat Adam menelan ludah dan sedikit gugup.
"Aku kan cuma nanya, Dam"
"Tapi kenapa itu-itu saja yang kamu tanyakan, itu termasuk mencurigai"
"Memangnya salah, seorang istri mencurigai suami"
"Aku nggak mau ribut, aku lelah mau langsung tidur"
Adam melanjutkan langkahnya mengabaikan Prilly yang menyorot kesal.
Setibanya di kamar, Adam langsung memasuki kamar mandi, Prilly mengganti piyamanya dengan lingerie tipis yang sudah ia siapkan selagi menunggu Adam.
"Aku pasti bisa memiliki Adam seutuhnya"
"Kamu hanya milikku, Dam. Ingat itu"
Suara decitan pintu kamar mandi membuat Prilly memalingkan wajahnya. Sosok Adam dengan rambut setengah basah, membuat hasr*atnya kian meletup-letup.
Pria itu tengah mengelap wajahnya dengan satu tangan menggunakan handuk, sementara tangan lainnya memegang knop pintu, tampak begitu mempesona. Pertahanan Prilly runtuh seketika dan ingin menghambur ke pelukannya.
Adam yang belum menyadari tatapan Prilly, tubuhnya langsung berjengit saat tahu-tahu wanita dengan lingeri coklat melingkarkan tangan di pinggangnya.
Dia berusaha melepas pelukan istrinya.
"Apa-apaan kamu Prilly?"
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Dam"
"Aku lelah Prill, lebih baik kita tidur sekarang"
"Tapi sebelum tidur" Prilly menjauhkan salah satu pipinya yang menempel di dada Adam kemudian mendongak. "Aku mau kita main-main dulu"
"Apa maksud kamu?" tanya Adam dengan kedua tangan mencengkram lengan istrinya.
Ia berusaha menjauhkan tubuh Prillya dari tubuhnya.
"Aku mau, Dam. Dan kali ini, kamu tidak boleh menolakku, aku tidak peduli tentang larangan dalam islam yang selalu kamu ucapkan itu, aku mau kamu, malam ini"
Kian hari, sikap Prilly kian membuatnya ilfil. Mungkin jika anak itu benar-benar anak Adam, dia akan menerima Prilly, tapi melihat bagaimana Prilly telah menipunya habis-habisan, rasa simpatik Adam padanya langsung hilang bahkan tak meninggalkan jejak. Selain itu, dia juga tahu dan sangat ingat penjelasan dari Ustadz Zaki. Membuatnya tak sudi menyentuh istrinya yang sudah menjadi bekas sentuhan pria lain hingga menyebabkan tumbuhnya janin di rahimnya.
"Kamu tahu aku lelah, dan kamu tahu seperti apa aku, iya kan? jadi please Prilly, menurutlah setidaknya sampai anak kita lahir"
Peraturan dari mana itu?? pikir Prilly. Rasanya peraturan Adam itu kuno, dan tidak modern.
"Kita langgar saja peraturan itu, kita ini sudah menikah, negara sudah mencatat pernikahan kita secara sah sesuai hukum yang berlaku, jadi ayo, kita lakukan, aku pasti akan memuaskanmu"
"Cinta itu butuh pengorbanan Prilly, aku mau kamu berkorban untukku setidaknya tunggu sampai kamu melahirkan, dengan begitu aku akan tahu kalau kamu benar-benar mencintaiku"
"Tapi di saat aku berkorban, bagaimana kalau kamu justru tergoda dengan wanita lain"
"Tidak akan!" Sanggah Adam dengan tegas. "Sama kamu saja yang jelas ada ikatan pernikahan aku nolak, apalagi sama wanita yang sama sekali tidak ada ikatan, jelas aku akan menolak tanpa pikir panjang"
Prilly sedikit percaya dengan ucapan Adam. Dia teringat saat dia mati-matian menggoda Adam untuk tidur bersama. Pria itu bahkan menolak Prilly dengan terang-terangan.
"Okay Dam, demi cintaku padamu, aku akan bersabar sampai aku melahirkan, tapi jangan tinggalkan aku, dan malam ini temani aku tidur dengan di peluk"
Hembusan napas Adam terasa sangat berat, dengan terpaksa ia menuruti permintaan Prilly.
"Sekarang tidurlah!"
Keduanya melangkah menuju tempat tidur.
Saat mereka sudah sama-sama berbaring, Prillya langsung merapatkan tubuhnya lalu memeluk Adam dengan mesra. Kulitnya yang hanya di lapisi lingerie, membuat Adam merasa panas dingin. Apalagi tangan Prillya berusaha meraba perut Adam dan berusaha menelusup ke dalam kaosnya.
"Prill, jangan begitu dong"
"Kenapa Dam? kalau kamu mau, cumbu saja aku"
Wanita itu menyerukkan kepalanya di dada Adam. Tangannya terus bergerilya di atas dada, hingga perut. Saat tangan halusnya hendak ke bawah lagi, Adam buru-buru meraih tangan Prilly.
"Tidurlah, delapan bulan bukan waktu yang lama Prill"
"Hemm" Wanita itu hanya menggumam lirih.
Pikiran keduanya benar-benar kacau, dan tentu saja pemikiran mereka sangat bertolak belakang.
Hai anak kecil, tenanglah. Jangan nakal. Ayo istirahat dulu!
Kamu sudah di manjakan oleh mamah Dinda, jadi sekarang tidurlah.
Adam membatin menahan gojalak yang semakin mendidih.
Sementara Prilly, dia justru sibuk mencari cara supaya Adam mau menyentuhnya.
__ADS_1
Malam ini kamu boleh menolaknya, Dam. Tapi besok, aku tidak jamin kamu bisa bertahan dengan pendirianmu. Aku masih punya sisa obat itu. Aku akan menggunakannya jika terpaksa.
Bersambung.