
Hari-hari berjalan seperti biasa, hanya saja intensitas komunikasi Dinda dengan Adam agak sedikit jarang dan tersendat. Pria itu masih terus bersikap abai dan terkesan cuek pada Dinda, sebab dia masih belum bisa menerima perbuatannya.
Sebenarnya, Dinda pun ingin sekali menjelaskan semuanya, tapi seakan Adam menutup diri dan enggan mendengarkan apa yang ingin Dinda jelaskan. Pria itu selalu saja menjawab untuk tidak membahasnya, karena dia benar-benar tidak mau mendengar apapun yang akan membuatnya sakit hati.
Apalagi saat Prilly mengatakan kalau Dinda yang memberikan obat perangsang di makanan mereka sebelum hubungan haram itu terjadi. Adam menjadi sangat marah, tetapi dia menyembunyikan kemarahannya dari Dinda.
Mengenai semua rencana Birawa, Prilly tahu kalau sang ayah yang sudah menjebak Adam dan Dinda. Anak buah Birawalah yang mengatakannya sendiri.
Saat itu Prilly curiga kalau sang ayah pasti sudah mendapat bantuan dari para pesuruhnya. Itu sebabnya wanita itu terus mencercar dua pria yang menjadi pesuruh Birawa untuk meceritakan semua rencana mereka. Tapi Prilly justru memanfaatkan dan mengatakan pada Adam jika Dindalah yang sudah menjebak Adam dengan obat itu.
Tentang pernikahan, abi dan uminya menyerahkan semua keputusan itu pada Adam. Tapi karena hasutan dari Prilly dan juga sang kakak, Adam memutuskan untuk menunda pernikahannya sampai ia benar-benar bisa menerima perbuatan Dinda.
Meski Dinda sudah mengatakan pada keluarga Adam bahwa apa yang Prilly katakan tidak semuanya benar, termasuk tentang tuduhan sugar baby untuknya, Dinda terus meyakinkan Adam beserta keluarga kalau tuduhan itu sama sekali tidak benar.
Terjadilah konfrontasi antara Prilly, Adam dan Dinda.
Prilly dengan segala tuduhannya, Adam dengan spekulasinya, Sedangkan Dinda dengan kebenaran yang tidak ingin Adam dengar.
Sementara Prilly yang masih mencintai Adam, berusaha mencari cara agar Adam tak jadi menikahi Dinda. Dia juga sudah membatalkan rencana pernikahannya dengan Zidan.
Saat wanita itu tengah berpikir keras merencanakan sesuatu, tiba-tiba dia merasa mual. Lantas langsung berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya di wastafle.
"Lambungku pasti bermasalah karena beberapa hari ini aku telat makan"
Wanita itu mengelap wajahnya menggunakan handuk kecil.
Telat makan? tidak, tidak, selain telat makan, aku juga telat datang bulan.
Keluar kamar mandi, ia meraih kalender yang ada di atas meja nakas.
A-aku sudah telat lima hari?
No, aku nggak boleh hamil, aku ingin menggantikan Dinda menikah dengan Adam.
Dia duduk di tepi ranjang, tangannya masih memegang kalender berukuran kecil.
"Aku harus cari testpack untuk memastikan"
Prilly bergegas keluar dari kamar dan pergi ke apotek yang tidak jauh dari rumah.
Tiga puluh menit berlalu, ia sudah kembali ke rumahnya dengan membawa beberapa alat tes kehamilan.
Setibanya di kamar, ia langsung mengecek tanpa menunggu besok yang katanya hasilnya akan lebih akurat jika di lakukan saat pagi hari.
Wanita itu harap-harap cemas menanti hasil pada alat itu muncul.
Dan,,,,
Dua garis membuatnya spontan duduk di atas kloset.
"G-garis dua?"
"Itu artinya aku hamil?"
Dia menggelengkan kepala.
"Enggak! ini nggak mungkin" Prilly kembali
mengecek dengan testpack yang lain. Tetap saja di testpack kedua pun hasilnya sama.
"Anaknya Zidan?"
"Tidak, aku mencintai Adam, aku hanya ingin menikah dengan Adam"
"Aku nggak rela Adam jadi milik Dinda setelah tahu kalau semuanya adalah ulah ayah"
"Ini bukan salah Adam, aku tidak boleh membencinya, dan aku yakin Adam masih mencintaiku"
Wanita cantik berambut panjang dan ikal itu terus bermolog.
"Aku harus mempertahankan cinta kami"
"Ya, aku harus berbuat sesuatu, tapi apa?"
Hening, hanya ada suara detakan jarum jam, dan sesekali terdengar kicauan cicak di langit-langit kamarnya.
Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Prilly menemukan ide untuk menjerat Adam supaya menikahinya.
Reflek, ia menerbitkan senyuman licik yang tampak begitu jelas terukir di bibirnya.
"Kalau Dinda bisa, kenapa aku enggak?"
__ADS_1
Wanita itu mengusap perutnya yang masih rata.
"Dengan jebakan itu, Adam akan mengira ini adalah anaknya, dan aku akan menuntut pertanggungjawaban darinya"
Tersenyum miring, ia menunduk menatap perutnya.
"Cerdas kamu Prilly! setelah itu Adam pasti mau menikahiku"
"Lalu untuk kamu, Zidan! aku yakin ini anakmu, tapi maaf aku tidak mencintaimu Zi"
Menatap diri di cermin, wanita itu kembali bergumam setelah beberapa saat.
"Aku harus bisa membuat Adam menemuiku"
Prilly berbalik, kemudian menyambar tas serta kunci mobil. Ia akan melancarkan aksinya di Royal Park Hotel.
*****
"Hai Din?"
Dinda yang tengah duduk di bangku taman langsung mendongak.
"Eve!"
Kedua wanita itu tersenyum seraya berpelukan.
"Ternyata dugaanku benar, kamu Dinda"
"Kamu nggak lupa wajahku, Ve?"
"Aku nggak akan lupa wajah orang yang sudah menolongku, Dinda" Kata Eve seraya duduk. "Makasih ya, waktu itu sudah nolongin aku"
"Sama-sama, Ve" senyum tipis masih terulas di bibir Dinda. "Gimana kandunganmu?"
"Baik" balas Eve. "Ngomong-ngomong, sendirian Din?"
"Iya"
"Kamu emang selalu sendirian ya, waktu pas nolong aku juga kamu duduk termenung sendiri di taman hotel. Sekarang pun juga" Eve melirik map di pangkuan Dinda.
Saat itu Dinda memang langsung lari ke taman saking frustasinya dengan apa yang terjadi. Di situlah Dinda melihat Eve melambaikan tangan lalu tidak lama setelah itu Eve pingsan.
"Ini, aku bawa curiculum vitae" melirik dokumen yang ia bawa.
"Mau melamar pekerjaan?"
Dinda mengangguk. "Tapi pas aku bela-belain datang, malah langsung di tolak"
"Di tolak? why?"
"Imageku sangat buruk karena gelar pelakor"
"Pelakor? apa itu?"
Dinda tersenyum sebelum menjawab. "Perebut laki orang"
"Perebut laki orang?" Eve masih belum mengerti.
"Karena aku di tuduh merebut suami orang, Ve, jadi mereka langsung menolakku"
"Sini CV kamu, akan aku kasihkan ke suamiku, dia pemilik family care, dan kebetulan, dia sedang ada meeting di royal park hotel" Eve mengatakannya seraya menatap gedung mewah berlantai lima.
Bukankah pemilik family care adalah pria yang pernah ku tolong malam itu? Dan royal park hotel adalah milik pria yang juga pemilik family? Berarti royal park adalah milik suaminya Eve, Kellen Austin?
"Nanti kalau di family care nggak butuh dokter, aku minta papa Aksa buat tarik kamu di Rumah sakit Ar-Raudhah, kalau enggak ya di rumah sakit Suryadaya milik kakakku"
Ternyata Eve bukan orang sembarangan.
"Din?"
Dinda yang tengah melamun terlonjak kaget.
"I-iya Ve?"
"Sepertinya aku selalu melihat wajah surammu setiap kali Bertemu, kamu mikirin soal pekerjaan? kalau iya, jangan pikirkan lagi karena kamu pasti di terima di rumah sakitku, aku akan bujuk suamiku nanti"
"Benar Ve?"
"Hmm. Kapanpun kamu siap, kamu datang saja dan cari dokter Amara di Familly care, atau cari dokter Mita di Ar Raudhah, atau kamu bisa cari kak Rena di Suryadaya, nanti aku akan melobi kakak-kakakku"
"Sekali lagi, makasih Ve"
__ADS_1
Sedikit banyak, Dinda merasa lega. Setidaknya dia langsung bisa bekerja di salah satu tiga rumah sakit itu.
"Din, aku tinggal dulu ya, suamiku sebentar lagi selesai meeting"
"Jadi, hotel itu milik suamimu, Ve?"
"Iya, Din. Kabari aku kalau ingin menghabiskan waktu dengan suami, gratis buat kamu"
"Makasih untuk semuanya Eve"
"Bye, Din"
Dinta tersenyum di iringi anggukan kepala.
"Hati-hati"
Menghela napas lega, wanita itu menatap kepergian Eve yang melangkah menuju royal park hotel.
Tiba-tiba...
Adinda menangkap suara wanita yang tak asing baginya.
"Please temui aku, Adam"
"Prilly" lirih Dinda kemudian menoleh ke belakang. Sepersekian detik, Dinda menelan ludah sambil mencuri dengar ucapan Prilly.
"Prilly mengajak mas Adam bertemu?"
"Okay Dam, aku tunggu satu jam lagi di foodcourt dekat royal park hotel, ya"
"Foodcourt dekat royal park" Dinda mengedarkan pandangan mencari di mana foodcourt itu berada.
"Apa foodcourt itu? itu satu-satunya restauran fastfood yang dekat dengan royal park" Gumam Dinda saat menemukan titik restoran bernuansa serba gelap di sebelah hotel.
Panggilan sudah terputus, Dinda buru-buru memakai masker yang selalu ada di dalam tasnya supaya Prilly tak mengenalinya.
Dia kembali menoleh ke belakang.
"Aku akan menjebakmu dengan obat ini Adam" Prilly menatap obat di tangan kanannya. "Sama seperti ayah yang sudah mencampurkan obat kuat ke dalam makanan kamu dan Dinda"
Apa?? Prilly berniat menjebak mas Adam?
Ini tidak boleh, aku harus beritahu mas Adam.
Dinda mengeluarkan ponselnya lalu berusaha menelpon Adam.
Beberapa menit kemudian,
Di rijek?
Mas Adam benar-benar masih marah, apa aku sebaiknya menyerah?
Baiklah mas, aku mundur, aku akan pergi darimu.
Dinda bergumam lirih sambil memblokir kontak bernama Adam, tak lama langsung menghapusnya.
"Sekarang, aku harus memesan kamar di royal park"
Dinda kembali mendengar gumaman Prilly yang tahu-tahu sudah bangkit dan melangkahkan kaki menuju hotel.
Tanpa pikir panjang, Dinda membuntuti langkahnya.
"Mbak, saya pesan satu kamar"
"Mau di lantai berapa, nona?"
"Lantai dua mbak"
"Baik, tunggu sebentar nona"
Tanpa Prilly sadari, percakapannya dengan resepsionis hotel di dengar oleh Dinda.
"Ini nona, cardlock kamar nomor sebelas, lantai dua"
"Makasih mbak"
"Sama-sama, nona"
Lantai dua, kamar nomor sebelas. Dinda membatin kemudian mengeluarkan ponselnya.
Bersambung.
__ADS_1