
Sebelum kembali ke rumah selepas dari perjalanan bisnisnya, diam-diam Birawa menatap rumah seseorang yang menjadi cinta pertama saat muda dulu.
Wanita yang masih berbincang-bincang di teras rumahnya dengan di temani oleh ART dan anak santri, serta beberapa cangkir kopi dan camilan di atas meja, membuat Birawa hanyut seakan terbawa arus balik ke beberapa tahun silam.
Demi wanita yang ia cintai dalam hati, dia berani membentak orang tua dan menolak perjodohan. Tapi sayang perasaanya itu tak berbalas, wanita yang ingin di jadikan seorang istri, justru mencintai pria lain.
Dalam kemarahan, akhirnya Birawa memutuskan untuk menerima perjodohan dari orang tuanya.
Namun, rumah tangga yang tidak di dasari cinta itu, justru membuat Fatma semakin tertekan, ia pun mengalami depresi atau ketakutan yang berlebihan hingga dia tanpa sadar melukai dirinya sendiri.
Andai saja Birawa bersedia menemaninya malam itu, mungkin sang istri masih ada sampai hari ini. Akan tetapi sebuah pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan membuat Birawa akhirnya meninggalkan Fatma yang berada dalam kesendirian di sebuah rumah sakit. Padahal sudah berulang kali Birawa meyakinkan bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan apalagi mengkhianatinya, ia hanya pergi sejenak untuk urusan bisnis, namun wanita itu tak mempercayai ucapan sang suami, hingga setan pun dengan mudah merasuk ke jiwa dan mempengaruhi akal sehatnya.
Sampai di pagi harinya, Birawa mendapat kabar dari rumah sakit jika Fatma telah tiada.
Dia mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat dengan tulisan tangan oleh Fatma kala itu.
Surat berisi sebuah permintaan maaf dan amanah, dimana jika Birawa tidak mampu merawat sang putri setelah kepergiannya, Birawa bisa menyerahkan Prillya pada sahabat baiknya bernama indah untuk di jadikan menantu.
Detik itu juga, setelah membaca surat dari dokter yang merawatnya, dunia Birawa seakan runtuh bahkan tak lagi berputar, suatu hal yang membuat Birawa tidak bisa berhenti menyesalinya hingga detik ini.
Puas mengingat kenangan pahit sambil memandang wajah wanita itu, Birawa menyuruh sang sopir untuk melajukan kembali kendaraannya.
Perjalanan yang cukup sunyi di malam hari, lagi-lagi wajah wanita yang beberapa menit lalu ia tatap, seolah terus bergelayut manja mengusik pikirannya. Reflek bibirnya menyunggingkan senyum sebab dirinya merasa bahagia bisa menatap kembali wajah ayu yang tidak pernah bisa ia lupakan.
Menarik napas panjang, kepalanya menggeleng merutuki dirinya sendiri karena merasa sudah bersikap aneh, kemudian menyapu pandangan pada kerlap kerlip lampu jalan serta gedung yang menjulang. Hingga tahu-tahu mobil sudah berada di area perumahan elit dengan bangunan berlantai tiga.
Kediamannya yang mewah dan besar, tampak sunyi seakan tak ada kebahagiaan di dalamnya. Tiga ART satu tukang kebun, satu sopir serta satu satpam, tak membuat rumah ini terasa hangat.
Birawa yang sudah mengalah dengan sang putri merestui hubungannya dengan kekasihnya, berharap akan ada kebahagiaan dalam waktu dekat. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebuah kalimat yang mampu membuat jantungnya di lepas secara paksa dari tempatnya.
"Aku ingin menceraikan Prillya"
Beberapa menit lalu, Birawa yang baru saja sampai di rumah dan mendapati sang menantu tidur di sofa ruang tengah, memantik rasa penasaran yang kian lebih. Diapun membangunkan Adam dan bertanya ada apakah gerangan.
Saat Adam menjawab untuk membicarakan di esok harinya, pria itu justru menolak dan memaksa Adam untuk mengatakannya malam ini juga.
Disinilah mereka sekarang, di dalam ruang kerja berukuran 4x5 meter, duduk saling berhadapan dengan di batasi sebuah meja.
"Apa maksud kamu, Dam?"
"Aku tidak mencintainya, yah?"
"Apa?" Birawa tertegun. "Bukankah kamu sangat mencintainya, kamu tak gentar meminta restuku saat itu, kamu bahkan sampai menghamilinya supaya aku merestui kalian?"
"Itu bukan anakku yah, aku sama sekali tidak pernah menghamilinya"
Perkataan Adam, persekian detik membuat Birawa terpaku dengan sorot bingung sekaligus tak percaya.
Hatinya langsung di penuhi dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Jika bukan Adam yang menghamilinya, lalu siapa?
Kalau bukan pria di hadapannya, lantas kenapa bersedia menikahinya?
Dan, kenapa baru mengatakan setelah pernikahan?
Begitulah pertanyaan-pertanyaan dalam benak Birawa yang ingin sekali mendapat jawaban.
"Aku hanya di jebak oleh Prillya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan yang tidak pernah aku lakukan"
"Dari mana kamu tahu kalau itu bukan anakmu? padahal saat itu kamu mengakui perbuatanmu"
"Prillya sendiri yang mengatakan kalau anak itu adalah anaknya Zidan"
Entah yang ke berapa kali pria paruh baya itu terkejut.
"Zidan?"
"Iya, yah" sahut Adam cepat, yang kemudian di sambung dengan menceritakan semua kejadian termasuk percakapan antara Zidan dengan Prilly pada malam setelah pernikahan.
Birawa pun mendengarkan tanpa memberi pertanyaan sampai Adam menyelesaikan ceritanya.
"Tolong jangan ceraikan Prillya, dia sangat mencintaimu, ayah menyesal sudah meminta Dinda untuk menghancurkan hubungan kalian"
"Sudah terlambat yah, lagipula aku sudah menikahi Dinda karena akulah pria yang sudah menyentuhnya. Maaf jika aku diam-diam berpoligami, itu karena aku merasa harus mempertanggungjawabkan perbuatanku padanya. Selain itu, perlahan aku jatuh cinta pada dokter itu" serangkaian kata yang Adam lontarkan dengan keraguan. Takut jika Birawa akan tersinggung atau marah.
"Pria bisa melakukannya, yah. Akupun sudah berniat menceraikan Prilly saat ayah pulang"
"Tidak bisa, Dam"
"Apa yang tidak bisa? ayah bayi itu mencintai Prillya, dia lebih berhak menikahi Prilly. Bukankah selama ini Zidan adalah menantu ideal yang ayah inginkan?"
Birawa tampak menghela napas berat. Ia memang masih berharap Zidan menjadi menantunya, bukan hanya karena pria itu adalah pria terpandang, tetapi juga ia ingin sekali memenuhi amanah almarhumah istrinya yang menginginkan Prillya menjadi menantu dari sahabatnya.
Birawa merasa tidak pernah tahu tentang keinginan sang istri di masa hidupnya, maka dari itu dia ingin sekali mengabulkan keinginannya itu.
"Zidan sangat mencintai Prily, yah. Lebih baik kita satukan mereka, dialah ayah biologis dari bayi yang ada dalam kandungan Prilly"
Adam sangat hati-hati selagi mengatakan kebenaran itu. Ia begitu was-was dan khawatir jika Birawa tidak bisa menerima fakta yang ada.
"Tolong jangan tinggalkan putriku, Adam! kamu tahu bagaimana Prillya, dia sangat nekad, jangan sampai kejadian yang menimpa bundanya menimpa dia"
"Aku dan Dinda akan membantunya, kami pun sudah berdiskusi dengan Zidan, asalkan ayah juga bersedia membantu kami"
Entah kenapa, semenjak mengetahui keberadaan wanita yang ia cintai, akal sehat Birawa seolah bisa di ajak berkompromi dengan baik.
Setelah Adam memberikan pengertian yang panjang lebar, akhirnya Birawa menerimanya dengan lapang dada. Dia merasa hidupnya tak bahagia sebab terus di hantui oleh rasa bersalah terhadap Fatma, serta ambisinya menjodohkan Pillya demi memenuhi amanahnya. Apalagi setelah dia menikahkan sang putri dengan Adam, rasa bersalah itu seakan kian lebih.
"Tolong bantu ayah memenuhi keinginan bundanya, Dam! selama ini ayah merasa terkekang karena masa lalu tentang bundanya Prillya"
__ADS_1
"Aku akan berusaha yah"
"Tapi pastikan Prillya baik-baik saja"
"Iya akan aku jaminkan itu untuk ayah"
"Terimakasih, Dam"
Adam mengangguk berulang kali kemudian berkata. "Ayah bisa temui Zidan dan keluarganya untuk membahas ini"
Ganti pria itu yang mengangguk merespon ucapan sang menantu.
****
Pagi harinya, semua berjalan seperti biasa. Birawa yang sudah pulang sejak semalam, pagi ini ikut sarapan bersama Adam dan juga Prillya.
"Semua baik-baik saja kan nak?" tanya Birawa pada sang putri.
"Iya yah"
"Setelah sarapan, bisa kita bicara?"
Prilya yang tadinya tengah menyidukkan nasi untuk sang suami, spontan berhenti lalu menatap Birawa. "Bicara soal apa yah"
"Bukan soal apa-apa, ayah hanya ingin mengajakmu ke makam bunda"
"Oh" Wanita itu kembali menyiduk nasi kali ini untuk dirinya sendiri.
Selang lima belas menit, Adam sudah menghabiskan sarapannya. Ia lantas pamit untuk pergi bekerja. Sebelum beranjak, ia memberikan kesempatan pada Prilly untuk mengecup punggung tangannya.
"Aku duluan yah"
Birawa hanya merespon dengan bahasa tubuh, mengangguk.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Perasaan Prillya merasa tercubit melihat betapa acuhnya sikap sang suami, apalagi ketika ingatannya jatuh pada leher Dinda yang di penuhi warna merah, tanda cinta dari Adam yang mampu membuat hatinya sepersekian detik hancur berkeping-keping.
Hanya melihat orang yang ia cintai memberikan kecupan pada wanita lain saja sesakit itu, apalagi jika dia melihat sendiri Adam sedang memadu kasih dengan Dinda, mungkin saja dia akan mati detik itu juga.
Di kantor, baru saja duduk di ruang kerjanya, seseorang mengetuk pintu dan meminta Adam untuk menemui atasannya.
Mengerutkan kening, Adam menerka-nerka ada hal apa yang ingin di sampaikan oleh atasannya.
Namun, sesampainya di ruangan besar milik pemimpin perusahaan, bukan soal pekerjaan yang akan di bahas, melainkan sebuah pemecatan yang Adam terima dengan tanpa penjelasan apapun.
Bersambung
__ADS_1