
Bukan malam saja yang di lalui dengan manis. Selama satu minggu ini hari-hari Dinda pun terasa penuh warna.
Mereka melakukan aktivitas berdua tanpa terlewatkan barang sejenak. Keduanya saling bekerja sama mengurus apartemen.
Jika Dinda yang menyapu, maka Adam yang akan mengepel lantai. Saat Dinda tengah memasak sayur dan lauk, Adam yang memasak nasi.
Pria itu sama sekali tak kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, ia sudah terbiasa melakukannya saat tinggal di kontrakan.
Meta yang memilih tinggal di rumahnya sendiri, membuat Dinda sedikit was-was, takut jika terjadi sesuatu pada sang mamah.
"Gimana mas, udah dapat ARTnya?"
"Sudah" Adam menyuapkan nasi dan lauk ke mulutnya. "Nanti kamu pilih sendiri ya, ada tiga kandidat. Kalau kamu sudah pilih salah satu di antara mereka, pukul sepuluh kita jemput di agensi"
Wanita itu mengangguk seraya mengambil bakwan udang, lalu menaruhnya di piring sang suami.
Dinda memang meminta Adam mencari ART untuk menemani Meta. Sebab Meta tak mau tinggal dengan sang putri, selain tidak mau mengganggu hubungan rumah tangga anaknya yang jelas butuh privasi, dia tak suka kalau harus naik turun menggunakan lift.
Meta juga merasa asing tinggal di hunian mewah yang sebagian pemiliknya adalah kelas menengah ke atas. Di tambah lagi dia selalu sendiri sepanjang hari ketika Dinda pergi bekerja.
Berbeda jika tinggal di rumahnya sendiri, ia bisa main ke rumah tetangga sejenak, hanya dengan berjalan kaki, Meta bisa mengunjungi masjid untuk sholat berjamaah. Atau kadang-kadang menghadiri berbagai kajian islami.
"Nanti pulang jam berapa?"
"Setelah makan malam ya"
"Lalu kapan kesini lagi"
"Kan sudah di bilangin, pulang kantor langsung ke sini, makan malam disini setelah itu baru pulang ke rumah Prilly"
"Apa nggak sebaiknya mas ungkapin tuh, anak yang di kandung Prilly sebenarnya anak siapa"
"Boleh?"
"Jangan-jangan" Dinda menarik kembali ucapannya. Wanita itu tersenyum meringis membuat Adam merasa gemas.
"Aku penasaran gimana nanti reaksi Birawa saat tahu kebohongan putrinya"
"Jangan di bayangin dek, pria itu pasti akan membela anaknya mati-matian"
"Lalu gimana kalau Birawa tahu mas juga menikahiku?"
"Sudah pasti akan mengamuk"
Tatapan Dinda terus terarah pada Adam yang tengah meneguk minumannya hingga tak tersisa. Dia langsung mengisi kembali gelas itu dengan air putih.
Dua minggu lebih menikah dengan Prilly, tak sekalipun Adam mendapat pelayanan seperti Dinda melayaninya saat di meja makan.
Yang sering Prilly tawarkan hanyalah kebutuhan biologis yang selalu Adam tolak.
"Perasaan dari tadi kamu makan, tapi nggak selesai-selesai"
Mendengar ucapan sang suami, Dinda menundukkan pandangan ke arah piring yang masih menyisakan nasi cukup banyak.
__ADS_1
Benar juga, Adam saja sudah menghabiskan sarapannya bahkan sampai nambah, tapi nasi Dinda belum juga habis.
"Cepat habiskan, lalu mandi! lihat sudah jam berapa sekarang"
"Kalau mas menyuruhku cepat-cepat, suapi aku"
Adam yang sudah mendaratkan kedua tangan di pinggiran meja, ia mengurungkan niat untuk bangkit dari duduknya.
"Sini sendoknya"
Dinda lantas menyerahkan sendok dari tangan kanannya.
"Buka mulutmu"
Wanita itupun membuka mulutnya.
"A" Hanya satu huruf suara yang keluar dari mulut Dinda.
Hingga di suapan terakhir, barulah Dinda meneguk minumannya.
"Kamu mandi dek, biar mas yang cuci piring"
"Nggak usah, aku saja! mas siap-siap aja atau duduk santai sambil menungguku"
"Nggak apa-apa, nanti malah kelamaan, lagian juga cuma piring beberapa saja, mas bisa kok"
"Aku saja, mas!"
"Din" Adam menoleh ke samping kanan dimana Dinda berdiri. Saat ini keduanya memang sudah sama-sama berdiri di depan wastafle.
"Nggak apa-apa mas yang cuci" Dinda mendongak agar pandangannya bisa bertemu.
"Nggak apa-apa sayangku" sahut Adam lalu membuka kran air.
"Okay, makasih sayang" tangan Dinda melingkar di pinggang Adam. Sebelum beranjak, ia memberikan kecupan di lengan suaminya kemudian menggigitnya lembut
"Sama-sama sayang"
****
"Apa kamu menepati janjimu, Pril?"
"Janji apa maksud kamu Zi" Prilly tak mengerti.
Zidan tersenyum miring sambil mengaduk jusnya. "Adam sama sekali enggak menyentuhmu kan"
"Enggak"
"Sungguh?"
"Apa kamu tidak percaya padaku?" Sepasang mata Prilly memicing.
"Aku percaya, sayang"
__ADS_1
"Jangan panggil sayang, kita sudah tidak ada hubungan apapun"
"Kamu memang tidak ada hubungan apapun, tapi bayi itu darah dagingku, hubunganku sangat erat dengan bayi yang sedang kamu kandung, ingat itu!"
"Aku nggak akan lupa Zi, bahkan jika kamu ingin ambil anak ini, akan ku serahkan padamu"
Pria itu terkejut mendengar ucapan Prilly. Ia menegang dengan wajah memanas. "Kamu nggak sayang sama anakmu, Pril?"
"Kamu pikir aku gila apa, nggak sayang sama anak sendiri"
"Lalu kenapa kamu ingin menyerahkannya padaku?"
"Kamu mau anak ini, bukan?"
"Aku mau anakmu dan juga kamu"
"Jangan gila kamu! dan jangan merusak pernikahanku, aku dan Adam saling mencintai, jadi tolong jangan merusak kebahagiaanku"
Setahu Zidan, Adam memang sangat mencintai Prilly. Namun pria itu tidak tahu kalau Adam sudah tidak mencintainya saat ini.
Percuma saja aku memperlihatkan video itu ke Adam, dia sangat mencintai Prilly. Bahkan om Birawa bilang kalau Adam terus berusaha meskipun om Birawa menolak dan menentang hubungan mereka. Karena cintanya pada Prilly yang begitu besar, aku yakin dia akan menerima segala kekurangan wanita yang ia cintai. Sama sepertiku yang sangat mencintai Prilly. Aku menutup mata kalau wanita yang ku cintai sudah menikah, dan bahkan ingin merebutnya dari suaminya.
Tenang Zidan, dan jangan gegabah, jangan terburu-buru. Lakukan dengan otak, Okey!
"Jangan minta aku menemuimu lagi" Kata Prilly dengan tatapan tajam, Membuat Zidan sedikit terlonjak. "Nanti malam suamiku akan pulang, aku harap kamu mengerti posisiku saat ini, kalau aku adalah istri dari pria lain"
"Dan aku harap, kamu tidak akan menyerahkan tubuhmu pada pria itu"
"Kenapa tidak, dia suamiku, dia berhak menikmatinya"
Usai mengatakan itu, Prilly bangkit, lalu beranjak dari hadapan Zidan.
Mereka memang janjian untuk bertemu di sebuah cafetaria. Prilly yang mengidam ingin menghirup aroma keringat Zidan, terpaksa menemuinya demi menuntaskan ngidamnya. Sementara Zidan, tak tahu menahu tentang keinginan Prilly itu.
Kalau saja aku tidak kecanduan dengan bau keringatnya yang asam, mana mau aku menemuinya.
Wanita itu melangkah keluar dari area cafe sembari menggerutu dalam hati.
Adek bayi, kamu menyiksa mamahmu tahu, kenapa ngidamnya harus cium keringat papahmu, kenapa nggak yang lainnya.
Mendesah pelan, Prilly memasuki mobilnya, kemudian melajukannya ke pusat perbelanjaan. Dia akan membeli sesuatu untuk menyambut kepulangan Adam malam ini.
Sebuah lingeri baru yang akan ia gunakan untuk menggoda suaminya.
"Satu minggu nggak ketemu Adam, aku yakin dia merindukanku. Dia pasti akan hanyut dan akhirnya mau menyentuhku"
"Aku harus bisa membuat Adam meniduriku malam ini, aku nggak peduli dengan ucapannya yang katanya wanita hamil di luar nikah nggak boleh di nikahilah, nggak boleh inilah, kandungannya masih rawan dan bisa membahayakan janinnya lah"
"Hhh, tapi malam ini aku nggak akan biarin Adam memberikan alasan lagi"
"Kamu harus menyentuhku, Dam"
Prilly bermonolog selagi mengendalikan mobilnya.
__ADS_1
Bersambung.