Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Hari pertunangan CEO Herquina


__ADS_3

Hari pertunangan Prilly dengan CEO Herquina pun tiba, para staf dan jajaran direksi rumah sakit kembali membicarakannya.


"Pasangan yang serasi, cantik dan tampan"


"Iya, beruntung mereka terlahir dari keluarga kaya raya di kota ini"


"Tapi ngomong-ngomong, nggak nyangka calon istrinya itu yang pernah marah-marah pada dokter Dinda"


"Hustt, jangan bahas itu, kepala rumah sakit sudah mengingatkan kita untuk tidak membahasnya"


"Iya-iya, maaf"


"Nanti malam kita datang sama-sama ya"


"Iya, biar ada temannya"


Begitulah sekilas obrolan para karyawan. Bahkan masih ada lagi yang mereka bicarakan terutama mengenai sosok Zidan. Pria tampan pewaris tunggal keluarga Atmajaya.


Karena mereka mendapat undangan termasuk Dinda, dokter Zaskia mengajak Dinda untuk berangkat bersama usai tugasnya yang berakhir pukul tujuh malam.


"Pulang jam berapa nanti dokter Dinda?" tanya Zaskia saat lunch di kantin rumah sakit.


"Jam tujuh dok"


"Kita berangkat sama-sama ke acara pertunangan pak Zidan, gimana?"


"Ide yang bagus dokter Kia" Dinda tersenyum ramah.


"Okay, nanti kita janjian di lobi rumah sakit lantai dua ya"


"Siap, dok"


Sejujurnya ada keraguan dalam benak Dinda mengingat dia memiliki keterlibatan urusan dengan Birawa, dan juga masalah dengan Prilly. Namun wanita itu mencoba untuk bersikap senormal dan setenang mungkin karena dia tidak mau menimbulkan masalah di acara besar milik atasannya.


Dia berharap tidak akan bertemu dengan Prilly saat di pesta nanti.


Jam istirahat pun usai, Dinda serta dokter Zaskia kembali menjalankan tugasnya sebagai dokter. Mereka berpisah karena ruangan mereka berbeda. Saat ruangan Adinda masih


lurus, dokter Zaskia harus belok ke kiri untuk bisa sampai ke ruangannya.


"Duluan ya dokter Dinda" katanya sebelum membelokkan langkahnya.


"Silakan dokter"


Baru dua langkah setelah berpisah, ponsel di dalam snelly Dinda bergetar, ia langsung meraihnya kemudian menggeser ikon hijau.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" suara bas dari seorang pria terdengar begitu lembut di telinga Dinda.


"Ada apa mas?"


"Lagi sibuk?"


"Ini habis makan siang, masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum sibuk banyak-banyak"


"Kenapa?" tambah Dinda bertanya.


"Apa kamu dapat undangan ke acara pertunangan Prillya dengan atasanmu?"


"Jelas dapat mas, bahkan semua staf rumah sakit mulai dari cleaning servicepun di undang"


Hening sesaat.


"Apa mas juga dapat?" tanya Dinda menyelidik.


"Hmm"

__ADS_1


Kini Dinda sudah sampai di ruangannya.


"Birawa yang mengundangku langsung, dia bilang ini permintaan Prilly"


"Mas akan datang?"


"Kamu sendiri gimana?"


"Insya Allah datang, semua rekanku akan menghadirinya, aneh kalau aku nggak datang sendiri"


"Kamu nggak apa-apa, Din?"


"Kenapa memangnya?" selidik Dinda dengan alis berkerut.


"Prilly agak sedikit pemarah soalnya, aku takut dia mempermalukanmu nanti"


"Ini acara pertunangannya, banyak dewan penting yang menghadirinya, kayaknya nggak mungkin dia berbuat konyol di acaranya sendiri" kata Dinda yang sudah beberapa detik lalu duduk di kursi kerjanya. "Lagi pula, aku hanya orang biasa dari sekian banyak orang yang luar biasa, aku pasti akan tenggelam di acara itu karena mereka pasti akan menyapa orang-orang penting saja"


"Kamu yakin?"


"Hmm. Bagaimana dengan mas, apa mau datang?"


"Sebenarnya nggak mau, tapi karena kamu berniat datang, aku putuskan akan datang juga"


"Tapi nanti tolong jangan dekat-dekat denganku ya mas, aku nggak mau jarak kita menciptakan kegaduhan"


"Okay"


"Ya sudah, aku mau lanjut kerja"


"Iya Din, hati-hati"


"Mas juga, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Dinda segera berkemas dan berganti pakaian dengan gaun yang sudah ia bawa. Gamis yang tidak terlalu mewah lengkap dengan hijab senada, membuat penampilan Dinda terlihat sederhana, namun tampak cocok melekat di tubuhnya.


Para staf rumah sakit sudah bersiap untuk menghadiri acara meriah yang di adakan oleh Atmajaya dan Birawa Adiwiguna. Sebagian dari mereka memang berangkat dari rumah sakit sebab jam kerja yang baru berkhir.


"Din" Zaskia mengangkat tangannya kode supaya Dinda tak kesulitan mencarinya. Karena ada sekian staf yang juga janjian di sana.


"Mbak Kia" Dinda dan Zaskia memang sepakat memanggil tanpa embel-embel dokter di depan namanya jika situasinya sudah berada di luar jam kerja atau di luar rumah sakit. Zaskia yang lebih tua lima tahun, membut Adinda memanggilnya 'mbak' agar terkesan lebih sopan.


"Sudah siap Din?"


"Sudah"


"Ayo berangkat"


Dinda akan ikut mobil Zaskia sebab dirinya tidak ada mobil. Tapi meskipun tidak memiliki mobil, Dinda bisa mengendarainya dengan baik.


"Kamu nggak apa-apa kan Din?"


"Maksudnya mbak?"


"Tentang masalah waktu itu, kalian sudah baik-baik saja kan?"


"Semua nggak akan baik-baik saja kalau sudah menyangkut pelakor mbak. Tapi, aku berusaha untuk menganggap semua fine fine saja"


"Tapi bagaimana kamu dengan si Adam?" Zaskia memang tahu segalanya, itu karena Dinda mempercayai Zaskia sebagai teman curhatnya. Dokter itu juga tahu mengenai obat perangsang yang di konsumsi Dinda serta Adam.


"Mungkin tudingan pelakor untukku memang tepat, tapi setidaknya aku merebut pria yang belum memiliki ikatan sah di mata hukum agama dan negara. Dan kalau boleh jujur, aku juga nggak mau berbuat seperti itu. Benar-benar di luar kendaliku"


"Tentang merebut, kalau belum ada ikatan yang sah itu biasa si, menurut aku loh ya Din, toh kan nggak ada yang di rugikan, beda kalau pria yang kamu rebut itu statusnya suami orang, apalagi ada anak, kayaknya aku juga bakal benci sama kamu, bakal jauhin kamu juga"


"Iya, kalau itu jelas aku nggak akan melakukannya, mbak"

__ADS_1


"Terus, gimana tentang siklus datang bulanmu? nggak positif kan?"


"Enggak si mbak, soalnya semenjak kejadian itu, aku langsung konsumsi apa saja yang bisa merangsang menstruasi. Meskipun kemungkinan hamil itu ada, aku sedikit lega karena saat itu aku nggak dalam masa subur. Dan beberapa hari setelahnya, aku datang bulan"


"Syukurlah, apa jadinya kalau kamu hamil, aku ikut merasakan tegang Din"


Larut dalam obrolan, tahu-tahu mobil yang Zaskia lajukan sudah sampai di lokasi pesta.


Suasana yang begitu menakjubkan, dengan hiasan lampu dan bunga-bunga yang sangat indah, tampak megah dengan kerlap-kerlip lampu dan suara air dari pancuran buatan, menambah kesan glamour di pesta malam ini.


Para hadirin sudah menempatkan dirinya masing-masing. Adam yang juga datang, sepasang matanya terus mengedarkan pandangan mencari keberadaan Dinda.


Ekor matanya pun sesekali melirik Prilly yang tampil begitu anggun dengan balutan kebaya mewah memperlihatkan belahan dada. Dengan rambut yang di sanggul dan ada sigger di atas kepala, menambah aura kecantikannya. Sang pria yang tampak tengah memasangkan cincin di jari manis Prilly pun tak kalah memukau.


Serangkaian acara berjalan lancar, usai dua sejoli saling bertukar cincin, sang host pun mempersilakan para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.


"Din, aku ke toilet dulu ya" cicit Zaskia lirih. 


"Iya mbak"


Seperginya Zaskia, Dinda berniat mengambil minum di stand minuman ringan. Tapi tanpa di duga, tiba-tiba Prilly menarik tangan Dinda lalu membawanya ke area dekat kolam.


Pandangan Adam yang sedari tadi melirik Prilly, akhirnya menangkap tubuh Dinda yang tengah di tarik lembut oleh mantan kekasihnya.


"Kamu mau membawaku kemana Prilly?"


"Tempat yang akan membuatmu malu" sahutnya lirih, namun penuh penekanan. Adanya teman-teman dan juga para kolega, membuat Prilly harus pura-pura bersikap manis kepada Dinda.


"Jangan macam-macam kamu Pril"


"Kamu menyuruhku untuk jangan macam-macam, tapi kamu sendiri macam-macam denganku"


Sikap Prilly tak lepas dari pandangan Adam barang sebentar.


"Sini kamu, aku ingin bicara denganmu" Geramnya berdiri di tepi kolam.


"Pakai pelet apa kamu, bisa membawa Adam sampai ke ranjang?"


"Astaghfirullah Prilly, apa yang kamu katakan?"


"Nggak usah sok astaghfirullah, kamu itu udah kotor, aku aja jijik lihat kamu, sok alim, berhijab tapi cuma buat nutupin kebusukanmu doang"


Dinda bergeming seraya menatap Prilly dengan sorot kelam.


"Aku saja, hampir dua tahun pacaran dengan Adam, tak pernah sekalipun berhasil membawanya ke hotel, tapi kamu?" Prilly berdecih dengan sorot benci, "Aku yakin pasti kamu pakai pelet kan?"


"Enggak"


"Halah jangan munafik kamu, Adam itu pria yang anti dengan hal begituan, berulang kali aku meminta dan mengajaknya tidur bareng tapi dia terus menolakku"


Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata Adam yang terus memperhatikan dua wanita itu.


"Terserah kamu Prilly, yang jelas aku nggak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan" 


Usai mengatakan itu, Dinda langsung beranjak, namun baru saja akan melangkah, pergelangan tangannya di cekal.


"Aku belum selesai bicara, dokter pelakor"


 


Pandangan mereka langsung kembali bersirobok.


Sementara senyum sinis Prilly kian tajam, setajam sorot matanya yang menyiratkan kebencian pada Dinda.


"Aku bersumpah, akan membuatmu menderita" desis Prilly penuh penekanan. Lalu tanpa aba-aba dia mendorong tubuh Dinda hingga tercebur ke kolam renang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2