
"J-jatuh?" Dinda melirik ke arah tangga.
"Iya mbak, tolongin mbak! ada banyak darah bersimbah di lantai"
"Darah?"
ART itu mengangguk penuh ketakutan.
"Panggilkan satpam sekarang juga, kita bawa Prilly ke rumah sakit. Aku akan ke atas cek kondisinya"
"Iya, mbak. Kamarnya ada di atas yang pintunya terbuka"
Adinda langsung berlari menaiki tangga setelah mengiyakan. Sementara ART berlari ke pos satpam.
Begitu langkahnya sampai di kamar, dengan gerak cepat Dinda menuju ke kamar mandi.
Sepasang netranya mendapati Prilly terduduk di lantai dan bersandar pada lemari kamar mandi. Wanita itu tengah mengerang kesakitan dengan wajah yang pucat pasi. Keringat dinginpun bercucuran membasahi sekujur tubuh.
"Astaghfirullah, Prilly?"
"D-Dinda"
Dokter itu menerobos masuk ke kamar mandi dengan tergesa dan langsung bersimpuh memeluk Prilly, lantas memeriksa denyut jantung di tangan kanannya.
Detak jantungnya sangat lemah, berlawanan dengan detakan jantung Dinda yang justru berpacu cepat efek menahan panik.
Tak berapa lama, Art beserta satpam datang.
"Innalillahi, non Prilly"
"Pak cepat kita angkat tubuh Prilly dan bawa ke mobil!"
"B-baik mbak"
Satpam menempatkan diri di bagian kaki, sang ART di bagian kepala sementara Dinda di bagian tengah menyangga pinggang Prillya.
Susah payah menuruni anak tangga, akhirnya langkah mereka sampai juga di samping mobil Dinda. ART lainnya bergegas membuka pintu mobil untuk nona mudanya.
Saat Dinda sedang mendudukan tubuh Prilly di bangku belakang, ada sebuah mobil yang sepertinya membunyikan klakson dari balik pintu gerbang.
ART yang tadi membukakan pintu mobil, lantas berlari ke arah gerbang.
Birawa mengernyit keheranan saat melihat aktivitas satpam dan ARTnya, karena Prillya sudah berada di dalam mobil, dia tak menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan putrinya.
"Ada apa ini, pak Gun?" Birawa bertanya pada sang sopir saat sopir itu masih melajukan mobilnya menuju garasi.
"Mungkin ada sesuatu yang terjadi, pak Bi"
__ADS_1
Rasa ingin tahu, Birawa segera membuka pintu mobil begitu mobil terhenti.
Sang ART langsung menghampirinya dan hendak memberitahu soal Prilly.
"Ada apa, Ning?" Tanya Birawa seraya menghempaskan pintu mobil.
"Non Prilly jatuh pak?"
"Apa? jatuh?"
Tanpa menunggu anggukan ARTnya, Birawa langsung melangkah lebar menuju mobil milik Dinda.
"Prilly!"
"Pak Bi!" ucap Satpam dengan nafas tersengal lalu memberikan celah agar Birawa bisa masuk ke mobil.
Sepasang mata Birawa melihat Dinda berada di dalam mobil.
"A-da apa dengan Prilly?"
"Jangan banyak bertanya pak" Kata Dinda menahan lelah. "Tolong bapak duduk di samping Prilly, aku akan memberikan pertolongan pertama"
"Pak Gun, cepat bawa mobil Dinda" Birawa memerintahkan sopirnya untuk mengendarai mobil Dinda menuju rumah sakit.
Begitu Pak Gun sudah menempatkan diri di kursi kemudi, mereka langsung pergi ke rumah sakit.
Dinda yang memang selalu menyediakan peralatan medis seperti infus beserta selangnya, jarum suntik, beberapa kain kasa dan obat antibiotik di mobilnya, langsung menancapkan jarum infus di tangan kanan.
"Baik, mbak"
"Agak cepat nyetirnya ya pak, tapi tetap hati-hati"
"Baik, Non" Sang sopir tahu kalau Dinda adalah putri Birawa.
Masih dengan wajah panik, Dinda segera menghubungi Zaskia rekan kerjanya saat di Harquina, sebab Dinda akan membawa sang adik ke rumah sakit milik Zidan.
"Dokter Zaskia, tolong sediakan brangkar di depan pintu utama Harquina, siapkan meja operasi sekarang juga" Dia bicara melalui ponsel.
"Ada apa ini, Din?" tanya Zaskia tak mengerti.
"Istri pak Zidan mengalami pendarahan hebat, kita harus lakukan operasi secepatnya"
"Aku mengerti Din, akan segera ku persiapkan"
"Terimakasih dokter, Zaskia"
Panggilan terputus. Dinda kembali memeriksa denyut jantung Prilly yang kian lemah. Tak hanya itu, mata Dinda menangkap kondisi bagian bawah sang adik yang tak hanya basah karena darah, tetapi juga cairan yang agak keruh dan amis.
__ADS_1
Bahkan pakaian Dinda pun tertular cairan serta bau anyir yang begitu menyengat, sebab ia sempat membopong tubuh Prilly bagian pinggang.
"A-yah"
"Kenapa? kamu merasakan sesuatu?"
"S-sakit, yah"
"Kamu tenang, ya! sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Ada kakakmu juga di sini yang memantau kondisimu, jadi singkirkan rasa takutmu, okay" ujar Birawa dengan wajah khawatir yang sangat kentara.
Sementara kepanikan Dinda kian memuncak melihat bagian kaki Prilly terus di lumuri cairan keruh bercampur darah.
Sambil mengatur napas, Dinda berusaha membuat Prilly tenang.
Rasa sakit yang luar biasa hebat membuat keringat dingin bercucuran.
"Jangan tidur Prilly" pinta Dinda ketika perlahan mata Prilly terpejam. "Tetap terjaga ya, kuasai kesadaranmu"
Prilly mengangguk dengan sangat pelan.
"Kuat nak! dengar dan patuhi perintah kakakmu". Entah kenapa Birawa begitu frontal menyebut Dinda sebagai kakak untuk Prilly.
"Nggak kuat, yah. S-sakit sekali"
"Menangislah Prilly, kalau memang sakit" Hibur Dinda tulus, agar Prilly tak sampai tertidur. "Jangan di tahan, teriak kalau memang perlu"
Prilly sangat tahu, betapa cemasnya raut wajah Dinda, wanita yang selalu dia hina, kini berusaha menenangkan dirinya di tengah-tengah rasa sakit yang ia rasakan.
Harquina Hospital,
Karena salah satu ART yang tidak ikut serta sudah di pesan oleh Dinda untuk menghubungi Zidan, Pria itu pun dengan cepat berjalan mencari dokter kandungan untuk menyiapkan ruang operasi. Langkahnya berpapasan dengan dokter Zaskia yang juga tengah berlari tergopoh menyiapkan segalanya.
"Dokter Zaskia!" ucap Zidan
"Ruang operasi sudah siap, pak"
Zidan heran dengan Zaskia yang malah sudah mempersiapkan semuanya.
Melihat raut wajah atasannya yang tampak bingung, Zaskia kembali berucap.
"Dokter Dinda yang sudah memberitahu saya beberapa menit lalu"
"Dokter Dinda?" gumam Zidan lirih. Manik hitamnya bergerak gelisah memikirkan sesuatu.
Kenapa dokter Dinda?
Apa dia sedang di rumah ayah, atau jangan-jangan dia yang sudah membuat Prilly jatuh?
__ADS_1
Pikiran buruk itu menguasai isi kepala Zidan.
Bersambung