Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Pernikahan dan Rahasia tentang janinnya


__ADS_3

081××× : "Bisa kita bertemu dokter Dinda?"


Sebuah pesan masuk ke ponsel Dinda. Dia yang sedang melayani pasien di ruangannya, sejenak menoleh ke arah kiri kemudian meraih gawainya.


Nomor baru, siapa dia? Apa ini mas Adam dengan nomor baru?


Dinda melirik kalender di samping komputernya.


Hari ini mas Adam menikah.


Saat pikirannya malang melintang ke berbagai arah, pesan kedua dari nomor yang sama kembali masuk.


081××× : "Saya Zidan, jika bersedia, temui saya di restauran Khanzalium, pukul tiga sore ini "


Zidan? mau apa dia ingin bertemu denganku?


Apa aku harus menemuinya?


Manik hitam Dinda bergerak gelisah seakan tengah menimbang-nimbang apakah harus menemui Zidan.


Wanita itu menekan bibirnya ke dalam kemudian menarik napas panjang sebelum kemudian menuliskan pesan balasan.


"Baik, saya akan datang"


Rasa penasaran yang sangat tinggi, membuat Dinda ingin sekali menemui mantan bosnya.


Sampai jarum panjang menunjuk di angka sembilan dan jarum pendek nyaris di angka tiga, Dinda meminta ijin sebentar karena di jam itu sudah tidak ada pasien yang harus dia tangani. Ia menyerahkan tugasnya sementara pada suster yang ia tunjuk menjadi asistennya.


Dengan mengendarai mobil inventaris dari rumah sakit, dia sedikit ngebut agar cepat sampai di lokasi tujuan.


Dinda begitu ingin tahu apa yang akan Zidan sampaikan.


Memasuki restauran, kedua netranya menangkap pria berpakaian kantor lengkap dengan jas dan dasi yang menggantung di krah kemeja.


"Selamat sore, pak Zidan"


Pria yang tengah menyeruput kopi seketika mendongak.


"Silakan duduk dokter Dinda" Perintahnya seraya meletakkan cangkir.


Wanita itu menarik kursi, lalu duduk. ekspresinya datar dan tak ada senyum sama sekali di bibir tipisnya.


"Ada perlu apa anda meminta saya menemui anda, pak Zidan?"


"Begini dokter Dinda" Zidan menegakkan posisi duduknya, ia berdehem sebelum mengeluarkan suaranya. "Apa dokter Dinda tahu hari ini Adam dan Prilly akan menikah?"


"Tahu atau tidak, tapi sepertinya itu bukan urusan saya, pak"


Zidan tersenyum miring. Mungkin dia menertawakan sorot gengsi Dinda yang tersirat dari gestur tubuhnya.


"Bukankah anda sangat mencintainya? maksud saya, saya tahu kisah segitiga antara anda, Adam, dan juga Prilly"


"Apa maksud anda? katakan ke intinya"


"Mari kita gagalkan pernikahan mereka demi cinta kita, maksud saya, demi cintaku pada Prilly, juga cintamu pada Adam. Saya memang belum ada bukti kalau anak yang Prilly Kandung adalah anak saya, tapi saya yakin itu adalah anak saya"


Terkejut, itulah yang tengah menyelimuti diri Dinda detik ini.


"Saya benar-benar tidak mengerti apa maksud anda"


"Selain berhubungan dengan Adam, sebelumnya dia juga berhubungan dengan saya, dokter Dinda"


Apa?


j-jadi darah perawan itu sengaja Prilly sediakan karena Zidan sudah lebih dulu menyentuhnya? Prilly tahu kalau dirinya sudah tidak perawan, dan darah perawan itu untuk meyakinkan mas Adam, kalau mas Adamlah yang pertama kali menyentuh Prilly.


Tidak, aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengan mas Adam. Apalagi saat ini Birawa sudah menerima mas Adam. Apa jadinya kalau aku berani membatalkan pernikahan anaknya. Aku pasti akan mendapat masalah, dan mungkin masalah ini akan kembali mengacaukan karirku.


"Maaf pak, saya tidak bisa"


"Ayolah dokter Dinda, aku menemukan alat tes kehamilan di kamar Prilly sebelum mereka tidur bersama"


"Mungkin anda memang menemukan alat itu sebelum mereka tidur bersama, tapi apakah anda tahu kalau mereka sudah sering tidur bersama sebelumnya? Bisa saja kan, mereka sudah jauh lebih sering tidur bersama?"


"Tapi dokter Dinda_"


"Maaf pak, jam istirahat saya sudah selesai, jika bapak ingin menggagalkan pernikahan mereka, silakan lakukan sendiri. Karena saya sudah tidak peduli dengan Adam dan juga Prilly"


"Selamat sore, permisi"

__ADS_1


Wanita itu langsung pergi meninggalkan Zidan.


Ternyata anda sangat keras kepala, dokter Dinda.


Menyandarkan punggung pada sandaran kursi, kepalanya menggeleng lalu melirik arloji di pergelangan tangannya.


Satu jam lagi mereka akan sah, sementara aku tidak berdaya untuk menggagalkan pernikahan itu.


Dia menyugar rambutnya kasar, merasa frustasi sekaligus putus asa. Tiba-tiba ia melihat sebuah benda berada di atas meja.


"Ponsel? Ponsel siapa ini?" ia membolak-balikan benda itu seraya menoleh ke kanan dan kiri. "Apa milik dokter sialan itu?"


Pria itu membuka layar ponsel yang tak terkunci, ia memilih menu galeri untuk mengecek siapa pemiliknya.


Pelan, Zidan menggeser ibu jarinya ke atas. Dia mendapati banyak foto yang berkaitan dengan medis, ada juga beberapa foto menampilkan wajah ayu Dinda dengan Adam.


"Jadi ini milik Dinda?"


Saat matanya melirik file yang berisi video, pria itu segera membukanya.


Atensinya tiba-tiba tertarik untuk membuka video yang menampilkan sosok Adam dan Prilly di sebuah kamar hotel.


"Adam, Prilly"


Penasaran, ia akhirnya membuka video itu.


Baru beberapa menit di putar, Zidan teringat jika ponsel ini bukan miliknya. Lantas ia mengirimkan video dengan durasi satu jam lima belas menit ke ponselnya. Takut kalau Dinda akan kembali ketika menyadari ponselnya tertinggal.


Setelah berhasil terkirim, ia buru-buru menghapus berita pengiriman video ke nomornya. Tepat ketika ia baru meletakan ponsel itu di tempat semula. Dinda kembali dengan ekspresi yang sangat sulit di tebak.


"Apa anda berubah pikiran?" tanya Zidan spontan.


"Jangan salah sangka, saya hanya mengambil ponsel saya yang tertinggal"


Usai mengatakan itu, Dinda langsung berbalik.


Ada senyum mengejek yang Zidan terbitkan seraya menatap punggung Dinda yang keluar menerobos pintu restauran.


Karena rasa penasaran yang tak bisa lagi ia tahan, Zidan kembali memutar video itu.


"Video apa ini?"


Menit berlalu,,


Menit pun berganti jam,,


"J-jadi mereka_?"


Pria itu menggantung kalimatnya sendiri setelah selesai melihat rekaman itu.____


"Semoga saja Adam belum mengucapkan ijab" Dia berusaha melajukan mobilnya secepat kilat.


Sesampainya di kediaman Birawa, Zidan mendengar kata sah terucap dari para saksi dan hadirin yang membuat Prilly justru berjingkrak.


Prilly yang sangat mencintai Adam, rasanya ingin melonjak girang dengan takdir ini. Takdir yang sudah menyatukannya dalam ikatan pernikahan yang sah secara hukum.


Berbeda dengan Adam yang menampilkan gurat tak senang.


Aku hanya terlambat sedikit saja.


Zidan membatin dengan sorot penuh luka. Tak sadar, ia sudah berlutut di atas lantai teras rumah Prilly.


Tidak Zidan, kamu tidak terlambat. Prilly memang sudah sah menjadi istri Adam, tapi kamu tetap bisa memilikinya.


Kamu bisa mengancam Prilly dengan video itu. Iya, jika Prilly berani menyerahkan tubuhnya pada Adam, detik itu juga akan aku bongkar rahasianya.


Ya, semoga saja Adam hanya sekali tidur satu ranjang dengan Prilly.


**


Malam telah tiba. Saat Prilly tengah fokus menatap diri di cermin, ia merasa dirinya sangat seksi dengan balutan lingerie tipis, ia yakin kalau Adam pasti akan tergoda.


Tiba-tiba, ia di kejutkan dengan bunyi notif pesan yang mampu membuyarkan fokusnya.


Ia berbalik, kemudian melangkah menuju nakas.


Prilly langsung membuka pesan yang di kirim atas nama Zidan.


Ketika pesan video terbuka, wanita itu membelalakan matanya.

__ADS_1


"B-bagaimana bisa Zidan mendapatkan video ini?"


"Apa dia ada di kamar itu juga?"


Dia menoleh ke arah pintu untuk memastikan kalau Adam tidak cepat-cepat memasuki kamarnya selagi dia menyaksikan video yang Zidan kirimkan.


Dia tersentak ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Zidan : "Temui aku di taman belakang rumahmu, Prilly" (21:26) Wib.


Menelan ludah, mendadak keringat dingin membasahi tubuhnya. Prilly kembali melepas lingeri tipisnya dan mengenakan baju yang sedikit tertutup untuk menemui Zidan.


Selang sekitar lima menit setelah Prilly keluar dari kamar, Adam masuk. Namun, alih-alih menemukan Prilly di kamarnya, ia justru mendapati kamar itu kosong.


"Pril?"


Pintu kamar mandi yang terbuka dan tak ada suara apapun, jelas menandakan tak ada Prilly di dalam sana.


"Dimana dia?"


Berniat mencari sang istri, Adam kembali turun dari lantai dua.


"Bik, lihat Prilly?" tanya Adam pada asisten rumah tangganya.


"Oh tadi saya lihat ke arah belakang, mas Adam"


Suasana setelah pernikahan memang sudah sepi, karena Adam tak senang dengan pernikahan ini, dia memutuskan untuk menikah secara sederhana.


Hanya keluarga inti yang datang menghadirinya. Bahkan sama sekali tak ada resepsi karena Adam ingin menghargai keluarga Zidan.


Sementara para kerabat sudah kembali pulang ke rumah masing-masing.


Tepat ketika langkah Adam sampai di taman belakang, ia mendapati Prilly dan Zidan tengah mendebatkan sesuatu.


Tangan Adam reflek menyingkap ranting pohon. Dari jarak sekitar lima meter pria itu menguping pembicaraan mereka.


"Mengakulah Prilly kalau itu bukan anaknya Adam, tapi anakku"


"Apa yang kamu bicarakan Zi, jangan ngaco kamu"


Pria itu tersenyum sinis menanggapi kalimat Prilly.


"Kamu hanya perlu mengatakan kalau anak itu adalah anakku. Kalau tidak, aku akan kirim video itu ke ponsel Adam"


"Jangan macam-macam kamu Zi!"


"Ayolah Prilly, jangan biarkan jariku mengetuk tombol send"


Menelan ludahnya dengan susah payah. Prilly tak percaya jika malam indahnya akan berganti dengan malam yang mengejutkan.


"Kamu nggak mau kan, Adam tahu tentang Video ini, jadi cepat katakan di hadapanku kalau anak yang kamu kandung bukanlah anak Adam"


"Ku hitung sampai tiga" imbuh Zidan sarkas.


Apa maksud Zidan kalau bayi yang Prilly kandung bukan anakku?


Adam bergumam dalam hati.


Lalu video apa yang Zidan maksud? kenapa Prilly sangat takut video itu sampai ke ponselku?


"Satu" ucap Zidan dengan penuh penekanan.


"Dua"


"Okay Zi, aku menyerah. Ini memang anakmu, bukan anaknya Adam"


Ucapan Prilly, membuat Adam sepersekian detik menahan napas untuk sesaat.


Jadi anak itu bukan anakku?


"Benarkah itu Prill?" Zidan menyentuh kedua lengan wanita di hadapannya.


"Iya seratus persen ini anakmu, Zidan"


Pria itu tertawa dan langsung merengkuh tubuh Prilly.


Sementara di balik tanaman, ada Adam yang tengah menahan amarah. Ia lalu pergi memasuki rumah Birawa.


Menyambar kunci mobil, pria itu berniat melampiaskan kecewa serta amarahnya dengan berkendara.

__ADS_1


"Aahh,,, Sh iitt, brengsek kamu Prilly, kamu menipuku, kamu menjebbaku" Pekiknya sambil memukul roda kemudi.


Bersambung.


__ADS_2